Loading...
Logo TinLit
Read Story - Hati dan Perasaan
MENU
About Us  

Bicara tentang hati, adalah hal yang paling sulit aku mengerti. Memahami banyak hati yang ada disekitar kita. Berusaha mencoba untuk lebih baik dari hari ke hari, belajar melihat apa yang sedang terjadi. Aku memahami, bahwa sebuah perasaan tidak bisa dipaksakan bagaimanapun cara dan keadaannya. Bisa jadi apa yang menurut kita baik menjadi buruk bagi orang lain.

Aku memahami perasaan orang-orang yang “hidup” dalam hatiku. Mengamati dan mempelajari apa-apa saja yang mereka rasakan. Mencoba berlaku baik dan mengindari kekecewaan. Namun, dalam perjalanannya, telah banyak yang terjadi. Aku tak bisa bilang bahwa aku selalu benar dan selalu berlaku baik pada perasaan-perasaan itu. Seringkali aku berlaku buruk dan meninggalkan kekecewaan pada mereka.

Aku bertemu dengannya, dibawah sinar pagi yang membutakan. Sebuah hati yang diam dalam keremangan. Dia melamun, aku hanya menyunggingkan senyum, sekilas. Dia tak bergeming. Dari kejauhan, sinar matahari mencoba menerobos hatinya, berusaha memberikan kehangatan lewat kata-kataku. Hatinya sungguh dingin, mungkin perasaan telah mati membeku didalammnya. Aku berusaha mencari dan meraba, mengangkat sepotong perasaan dan menghangatkannya dibawah sinar matahari.Dia mulai leleh, bernapas satu-satu dan bercerita. Satu kata, dua kalimat, dan sepanjang hari akhirnya dia bercerita. Aku mulai senang, perlahan tapi pasti.Dia adalah si Diam.

Musim semi segera berlalu, yang kulihat hanyalah tumpukan daun kuning dan cokelat. Kadang-kadang mereka juga diterbangkan angin, mendarat di berbagai tempat. Ada yang dipekarangan, di lampu-lampu taman, bahkan diujung jendela rumahku.

Aku berharap bisa menemukannya, menemukan hati lain yang sedang kedinginan. Hati-hati yang rapuh dan ditinggalkan. Kadang mereka ada di beberapa orang yang lewat didepan rumah. Tentu saja aku selalu mengamati dari balik jendela sembari meminum secangkir kopi. Mereka sungguh unik, ya, perasaan-perasaan itu hinggap pada hati yang sendiri dan kesepian. Perlahan menumpuk kesedihan dan airmata dari kehilangan, hingga akhirnya perlahan mati.

Ohya, kali ini aku akan bercerita tentang si Cemburu. Ia berkenalan denganku, mungkin dua bulan yang lalu. Dia ramah, dan senang dengan segala ceritaku. Kadangkala ia tak suka bila aku menyebut si Diam. “Bicarakan aku saja”, ucapnya. “Oh, kukira kau senang dengan cerita si Diam”, ujarku pelan.

Cemburu selalu datang setiap malam, terlebih bila hujan turun. Aku sering terbangun dan melihatnya sedang duduk di dekat perapian. Melihatnya yang sedang membuka album foto, atau membaca buku diary yang baru selesai aku tulis. Biasanya dia selalu menyambutku dengan protes kecil. Aku ingat itu.

“Hey, kenapa tak ada fotoku disini?”, dia cemberut.

“Kenapa kau menulis tentang si Diam Lagi?”, dia menaikkan alisnya.

“Oh, kau menemuinya lagi?, kuharap jangan seterusnya”, kali ini mungkin dia marah.

Begitulah Cemburu, kadang aku terlalu senang dengan dirinya, kadang pula aku merasa sebal. Namun Cemburu tak juga mengerti, ia selalu saja bertanya dan melarang akan sesuatu. Seperti malam ini, ia melarangku untuk mendekati jendela. Ia tak suka bila aku terus mengamati hati-hati itu.

Aku lelah.

Sampai suatu hari, ia tak datang lagi. Ia tak akan duduk didekat perapian atau menggenggam diary-ku lagi. Ya, karena malam sebelumnya aku telah membunuhnya. Meninggalkan dirinya tak berdaya di bangku taman. Tentu saja aku telah mengucapkan selamat tinggal.

Hari berlalu, kali berikutnya aku bertemu si Rindu. Ia sedikit tertutup dan pemalu. Kami berkenalan diatas Bus yang sedang menuju rumah. Oh, rumahnya hanya satu blok saja dari rumahku. Akhir pekan, ia selalu mengundangku minum teh. Kadang di kedai teh seberang jalan, namun lebih sering di rumahnya sendiri. Teh buatan si Rindu sungguh harum, ada melati dan beberapa butir cengkeh.

Di bulan pertama semenjak aku kenal dengannya, hampir setiap pekan ia memintaku datang. Lagi-lagi untuk meminum teh buatannya. Bulan kedua masih sama, namun ia mulai memintaku datang setiap tiga hari sekali. Aku senang, ia begitu baik hati dan ramah. Bulan selanjutnya, ia memintaku untuk datang setiap sore. Kami biasa duduk diberanda rumah, mengobrol dan tentunya sembari meminum secangkir teh.

Perlahan, dia mulai sering meneleponku. Menanyakan kabar dan sebagainya. Aku mulai jengah dan tak sabar. Hingga kapan ia akan berlaku seperti itu?

Tuhan tahu mungkin aku salah. Namun Tuhan juga tahu bahwa semua terjadi karena ada sebabnya. Sore itu aku mengiriminya se-paket teh mawar, dan memintanya untuk menungguku di beranda rumahnya.

Menjelang malam, aku meninggalkannya yang masih duduk di beranda. Meninggalkannya yang takkan pernah membuatku meminum teh-nya lagi. Dia sudah mati. Aku membunuhnya, tentu tidak sekejam seperti si Cemburu. Aku hanya menyuruhnya minum teh mawar yang aku kirimkan. Bukan sepenuhnya salahku. Seharusnya dia tahu, bahwa tak ada teh mawar jika kau mau meminum durinya.

Hari ini dingin, aku tak meminum kopi lagi. Karena aku lebih suka teh melati si Rindu. Ia mengajariku meracik teh sebelum aku membunuhnya. Hmmm, kenapa ia tak protes?

Salju mulai turun satu-satu, memutihkan jalanan dan atap rumah tetangga termasuk rumahku juga. Dari hari ke hari, semakin sedikit saja orang yang lewat. Mereka lebih senang menghangatkan hati dirumah. Aku bosan. Tak ada yang bisa kuamati.

Sejauh ini, aku tak bertemu siapapun. Tidak dengan Cemburu atau Rindu, tentu saja mereka sudah mati. Bagaiman dengan si Diam?, sudah kubilang dia pergi, membawa hujan dan angin di musim semi yang lalu. Ah, betapa dulu dia begitu dingin. Tapi, kini ia bertambah beku bertemu denganku, melupakanku begitusaja. Aku kesal, terlalu sakit untuk menerima. Ya, seperti yang lain. Aku juga membunuhnya. Menimbun Diam dalam tumpukan salju. Berharap salju dapat mendinginkan hatinya yang dingin, hingga takkan bangun lagi untuk menyapaku. Seperti namanya, aku membuatnya Diam di pekarangan rumahku.

Sulit kuterima, betapa mudahnya aku membunuh perasaan-perasaan itu. Namun aku juga tak bisa bertahan lagi dengan sifat mereka. Jadi, lebih baik bila aku membunuhnya.

Hari ini, tepat dengan hari dimana aku bertemu dengan si Diam. Setahun yang lalu, di bawah pohon mapple, pada musim semi. Aku bertemu dengan hati yang lain.

Ia hanya tersenyum bila kutanyakan namanya. Tak membenarkan atau menyalahkan tebakanku.

“Apa kau si Cemburu?”

“Si Diam?”

“Atau si Rindu?”

Aku bingung. Akhirnya aku memanggilnya “Si Perasaan Misterius” saja. Lagi, dia hanya tersenyum.

Hari demi hari, dia selalu menemaniku berkeliling taman. Mendengarkan setiap ceritaku, dan akupun juga mendengarkan setiap ceritanya. Entah mengapa, seperti namanya, aku penasaran dan sulit menebak siapa dirinya. Dia begitu berbeda dan memiliki pesona aneh yang membuatku berkelakuan seperti si Rindu. Selalu ingin menemuinya, menelpon dan menanyakan hal-hal yang tidak perlu, hanya untuk mendengar suaranya.

Tak kusadari juga, perlahan aku meniru si Cemburu. Selalu merasa sebal saat ia tak mengangkat telepon. Protes bila ia menemui hati lain. Bertanya banyak hal tentang dirinya, dan memastikan tak ada hati lain yang sedang bersamanya.

“Jangan pergi sore ini, kau harus bersamaku”, ujarku.

“Aku harus menghadiri rapat, kau tahu itu”, suaranya di ujung telepon.

“Ya, tapi menjauhlah dari hati itu. Aku tak suka dengannya”, aku menutup telepon.

Adakalanya aku rindu, mencemburui angin yang sedang bersamanya. Cemburu pada hujan yang selalu menemaninya. Aku cemburu padanya yang bahagia tanpaku.

Cemburu, sebuah kata baru yang kupelajari. Sebuah perasaan yang tak bisa dinalar, terjadi begitu saja pada siapa saja. Aku jadi ingat si Cemburu. Ah, Sial.

Belakangan ini aku juga sering diam. Tak merespon apa yang dikatan oleh si “Perasaan Misterius”. Tak berselera menyapanya lagi di sambungan telepon. Akhir bulan, ia mengajakku ke kantornya. Aku menggamit lengannya, dan melangkah masuk kedalam.

Diujung ruangan aku melihat sebuah hati, hati itulah yang selalu berada dekat dengan si Perasaan Misterius.

“Dia tunanganku, minggu depan kami akan menikah”, ucapnya ringan.

“Ya, namaku si Kasih”, ujarnya mengulurkan tangan.

“Oh”, jawabku datar.

“Kau sering bertanya namaku, kini kau tahu. Akulah si Cinta”, si Perasaan misterius tersenyum.

Aku benci senyumnya. Senyum yang awalnya aku sukai.

Hari senin Cinta dan Kasih menikah. Undangan telah dikirim kerumahku. Tak ada yang bisa kubaca. Karena surat itu akan tetap berada di kotak surat. Aku takkan bangun dan melihat pernikahan mereka. Karena malam sebelumnya, Diam, Cemburu dan Rindu membunuhku.

Memaksaku untuk tetap tinggal dirumah. Dan menutup jendela.

How do you feel about this chapter?

0 0 1 0 0 0
Submit A Comment
Comments (4)
  • dear.vira

    CERITANYA BAGUS BANGET, KUNJUNGI CERITAKU YUK https://tinlit.com/read-story/1436/2575, BANTU LIKE DAN CMMENT NYA YAA.. :)

  • dinda136

    Mampir yuk ke cerita ku, makasih
    https://tinlit.com/story_info/2957

  • PriyayiChina

    keren kak!

  • ikasitirahayu1

    Ceritanya bgus bgt ....buat lagi dong kak... :)

Similar Tags
Kamu, Histeria, & Logika
73627      13503     58     
Romance
Isabel adalah gadis paling sinis, unik, misterius sekaligus memesona yang pernah ditemui Abriel, remaja idealis yang bercita-cita jadi seorang komikus. Kadang, Isabel bisa berpenampilan layaknya seorang balerina, model nan modis hingga pelayat yang paling berduka. Adakalanya, ia tampak begitu sensitif, tapi di lain waktu ia bisa begitu kejam. Berkat perkenalannya dengan gadis itu, hidup Abriel...
Strange Boyfriend
365      296     0     
Romance
Pertemuanku dengan Yuki selalu jadi pertemuan pertama baginya. Bukan karena ia begitu mencintaiku. Ataupun karena ia punya perasaan yang membara setiap harinya. Tapi karena pacarku itu tidak bisa mengingat wajahku.
Kenzo Arashi
2326      1035     6     
Inspirational
Sesuai kesepakatannya dengan kedua orang tua, Tania Bowie diizinkan melakukan apa saja untuk menguji keseriusan dan ketulusan lelaki yang hendak dijodohkan dengannya. Mengikuti saran salah satu temannya, Tania memilih bersandiwara dengan berpura-pura lumpuh. Namun alih-alih dapat membatalkan perjodohannya dan menyingkirkan Kenzo Arashi yang dianggapnya sebagai penghalang hubungannya dengan Ma...
Premium
Cheossarang (Complete)
25244      3947     4     
Romance
Cinta pertama... Saat kau merasakannya kau tak kan mampu mempercayai degupan jantungmu yang berdegup keras di atas suara peluit kereta api yang memekikkan telinga Kau tak akan mempercayai desiran aliran darahmu yang tiba-tiba berpacu melebihi kecepatan cahaya Kau tak akan mempercayai duniamu yang penuh dengan sesak orang, karena yang terlihat dalam pandanganmu di sana hanyalah dirinya ...
Katanya Buku Baru, tapi kok???
707      532     0     
Short Story
Hoping For More Good Days
622      460     7     
Short Story
Kelly Sharon adalah seorang gadis baik dan mandiri yang disukai oleh banyak orang. Ia adalah gadis yang tidak suka dengan masalah apapun, sehingga ia selalu kesulitan saat mengahadapinya. Tapi Yuka dan Varel berhasil mengubah hidup Sharon menjadi lebih baik dalam menghadapi segala rintangan.Jujur dan saling percaya, hanya itu kunci dari sebuah tali persahabatan..
Rasa Cinta dan Sakit
669      399     1     
Short Story
Shely Arian Xanzani adalah siswa SMA yang sering menjadi sasaran bully. Meski dia bisa melawan, Shely memilih untuk diam saja karena tak mau menciptakan masalah baru. Suatu hari ketika Shely di bully dan ditinggalkan begitu saja di halaman belakan sekolah, tanpa di duga ada seorang lelaki yang datang tiba-tiba menemani Shely yang sedang berisitirahat. Sang gadis sangat terkejut dan merasa aneh...
The Red String of Fate
748      534     1     
Short Story
The story about human\'s arrogance, greed, foolishness, and the punishment they receives.
Ku Jaga Rasa Ini Lewat Do\'a
645      492     3     
Short Story
Mozha, gadis yang dibesarkan dengan pemahaman agama yang baik, membuatnya mempunyai prinsip untuk tidak ingin berpacaran . Namun kehadiran seorang laki -laki dihidupnya, membuat goyah prinsipnya. Lantas apa yang dilakukan mozha ? bisakah iya tetap bertahan pada prinsipnya ?
Potongan kertas
1229      701     3     
Fan Fiction
"Apa sih perasaan ha?!" "Banyak lah. Perasaan terhadap diri sendiri, terhadap orang tua, terhadap orang, termasuk terhadap lo Nayya." Sejak saat itu, Dhala tidak pernah dan tidak ingin membuka hati untuk siapapun. Katanya sih, susah muve on, hha, memang, gegayaan sekali dia seperti anak muda. Memang anak muda, lebih tepatnya remaja yang terus dikejar untuk dewasa, tanpa adanya perhatian or...