Loading...
Logo TinLit
Read Story - Perjuangan Yang (Tidak) Sia-Sia
MENU
About Us  

10 Agustus 2005. Siang itu hujan turun dengan deras, diiringi oleh angin yang bertiup sangat kencang. Lapangan parkir di bawah langit yang dipenuhi oleh awan hitam terlihat kosong, nampaknya orang-orang tidak begitu senang berpergian di hari hujan.

            Seorang pria tua berdiri sambil bersandar pada pintu masuk museum yang terbuka lebar, memandang keluar, kedua mata abu-abunya nampak kosong. Mata yang dulunya selalu bersinar dengan semangat ketika membela tanah airnya, kini sama redupnya dengan tempat parkir yang hanya mendapat sedikit penerangan dari pijaran lampu kuning museum. Semangat yang dulunya membakar di dalam jiwanya kini sudah hangus, terbakar habis, membuatnya sama sekali tidak mengharapkan untuk tinggal lebih lama lagi di dunia ini. Kepalanya hanya dihiasi beberapa helai rambut putih, padahal dulunya ia memiliki rambut hitam legam yang bersinar ketika matahari berada di atas kepalanya. Kulitnya yang telah sangat mengeriput masih menyisakan beberapa luka bekas perjuangannya, apalagi luka di bagian wajahnya masih terlihat jelas, walaupun bentuknya sudah tidak terlihat.

            Tatapan kosongnya bergerak mengikuti sebuah motor dengan dua orang penumpang lelaki yang baru saja keluar dari perkarangan museum.  Kedua pemuda tersebut merupakan pegawai museum lainnya, mereka pergi untuk mengambil istirahat lebih awal padahal waktu istirahat sebenarnya adalah jam satu, yaitu bersamaan dengan jam pulang mereka. Tetapi dikarenakan mereka berdua yakin tidak akan ada pengunjung lagi di saat seperti ini, mereka pun memutuskan untuk meninggalkan tanggung jawab mereka sementara.

            Pria tua tersebut terus memandangi kendaraan tersebut sampai lampu seinnya tidak terlihat lagi. Ia berdiam dalam posisinya selama beberapa  saat sebelum kemudian memutar badannya dan memasuki museum dengan langkah tertatih-tatih.

            Pandangannya menyapu seluruh bagian dari museum sewaktu kakinya bergerak pelan, dan meski ia sudah sering sekali mengelilngi ruangan ini,  ekspresinya terlihat ganjil, seperti ia sama sekali belum pernah melihat semua pajangan di dinding. Tangannya bergerak-gerak menyentuh sebuah luka sobek di lengannya, mengelus-elusnya perlahan.

            Namun ia berhenti begitu pandangannya jatuh pada sebuah foto hitam-putih tentara-tentara muda yang gagah. Ia melangkah mendekati foto tersebut, memandangnya dengan tatapan yang menyiratkan suatu kepiluan, dan tidak lagi kosong tak bernyawa. Matanya bergerak pelan-pelan menelusuri foto tersebut, seperti mencoba untuk mencari sesuatu yang sangat kecil, dan tangan yang tadinya menyentuh kulit, kini menyentuh kaca pelapis foto tersebut.

            Kaca itu memantulkan bayangan dirinya sendiri, ia mengenakan seragam yang persis sama dengan yang ada di foto tersebut. Namun dirinya tak lagi gagah dan bersemangat seperti para tentara di foto itu. Walaupun sudah tua, ia masih ingat siapa saja pejuang-pejuang yang berada di dalam foto tersebut, karena bagaimanapun ia termasuk bagian dari mereka dan itu merupakan masa-masa terbaiknya.

            Ya, memang zaman dahulu banyak darah bertumpahan, dan tubuh tak bernyawa bergelimpangan dimana-mana, tetapi setidaknya pada zaman-zaman itulah ia merasa benar-benar hidup. Begitu masa-masa tersebut berubah menjadi sejarah bersamaan dengan berkembangnya zaman, ia merasa tidak lagi mengenali dirinya maupun dunia di sekitarnya. Ia dan teman-temannya tidak diperlakukan seperti mantan pejuang selayaknya.  Mereka yang tidak terbunuh di medan perang,  meninggal dalam keadaan sengsara dan miskin.  Sedangkan yang masih hidup sampai sekarang, tidak hidup begitu sejahtera, adapun mereka yang diingat oleh pemerintah juga hanya diberi seadanya.

            Ia sendiri juga hanya tinggal di sebuah bangunan kecil reyot bersama istrinya, tanpa keturunan. Saat masih muda pun, kehidupan mereka tidak pernah lebih baik, ia sulit menemukan pekerjaan tanpa tiba-tiba merasa sensitif dan kemudian meledak dikarenakan tiba-tiba teringat akan memori-memori pahit saat perang. Dan ia selalu berganti-ganti pekerjaan sampai usianya 50 tahun, kemudian 15 tahun selanjutnya berlangsung mengerikan, sampai akhirnya ia mendapat pekerjaan sebagai pegawai museum sejarah perjuangan bangsa tercintanya. Meski gajinya tidak banyak, ia menyukai pekerjaan ini, karena di dalam ruangan-ruangan museum ini, ia dapat merasakan dirinya lebih hidup.

            Tatapannya tertuju pada satu pejuang. Teman baiknya yang gugur di peperangan. Itu merupakan salah satu memori terburuknya, memori yang menghantuinya setiap kali ia mengingat hari-hari kemenangannya. Kemudian mata abu-abunya bergerak ke figur lainnya, yang juga tersenyum dengan gagah. Ia mengingat betul betapa ramah dan baiknya pria tersebut, tetapi sayang sekali, walaupun ia selamat dari peperangan, ia tidak kuat akan kepahitan perang yang terus memburunya. Dan ia meninggal dengan tragis. Ia membunuh dirinya sendiri dengan senjata bekas peperangan yang masih dimiliki olehnya.

            Hari ini seharusnya hari untuknya dan mereka, para veteran. Memori buruk mengalir dengan deras di kepalanya, kejadian-kejadian tersebut bermain di kepalanya bagaikan film yang dipercepat. Ia tidak tahan lagi. Pada masa mudanya, ia mungkin akan menghantam kaca di hadapannya sampai hancur berkeping-keping, tetapi sekarang kekuatannya telah berkurang, dan emosinya keluar dalam bentuk air mata. Air mata menetes turun dari pipi keriputnya ke seragam yang dulunya bewarna terang dan kini telah memudar menjadi kusam.

            Perasaannya kini sama dengan langit diatas. Sedih, tetapi juga marah. Ia marah mengingat betapa orang-orang tidak menghargai perjuangannya dan teman-temannya, betapa mereka kini lebih mementingkan hal-hal duniawi daripada bangsanya yang telah diperjuangkan dengan susah payah. Tidak adil. Tetapi setelah dipikir-pikir, selama hidupnya rasanya tidak pernah ada keadilan.

            Perasaan tersebut masih bergolak di dadanya, ketika tiba-tiba sebuah suara muncul dari arah belakang.

“Permisi, ada orang?” Suara tersebut disambut kemunculan seorang wanita dan seorang anak lelaki ke dalam ruangan tersebut. Pria tua tadi langsung menghapus air matanya dengan tangan yang sama berkerutnya dengan pipinya, lalu menoleh untuk melihat sebuah pemandangan tak terduga.

Kedua pengunjung itu basah oleh hujan. Mereka mengenakan bandana merah putih, dan sang wanita menggunakan celana bermotif tentara, sementara anaknya menggunakan seragam tentara sambil menggenggam sebuah bendera tanah airnya di tangannya. Bendera tersebut berkibar begitu tangan kecilnya bergerak dengan bersemangat menunjuk semua benda yang terdapat di museum tersebut. Mantan pejuang itu teralu terpana untuk menjawab.

“Oh, maaf mengganggu, pak. Anak saya,” wanita tersebut meminta maaf, sambil menggerakan kepalanya ke arah anaknya yang sedang berlari-lari mengitari ruangan dengan bersemangat, “ingin sekali datang kemari. Dari kemarin-kemarin ia sudah tidak sabar, dan saya telah berjanji untuk membawanya hari ini. Oleh karena itu walaupun cuaca tidak mendukung saya harus tetap menepati janji saya.” Ia memberikan penjelasan tanpa diminta.

“Tidak apa-apa,” sang pejuang berkata dengan pelan, kini matanya mengikuti pergerakan anak kecil yang bersemangat tersebut. Tetapi wanita tadi kembali membuka mulutnya.

 “Ibu! Lihat itu ada tentara!” seru anak kecil tadi, mendahului ibunya, ketika ia menyadari kehadiran sang veteran. Senyum lebar tersungging di wajahnya, dan matanya berbinar-binar, ekspresi yang biasanya ditunjukkan oleh anak kecil seumurannya saat melihat mainan.  Pejuang tua itu makin kesulitan dalam berkata-kata, sementara anak kecil itu mulai mendekatinya dengan wajah penasaran.

“Hei!” Ia melambaikan  bendera tadi tepat di depan muka sang veteran, yang masih terdiam kaku. “Selamat hari veteran, ya!” Ujarnya bersemangat, sebelum ia kemudian berlari kembali pada ibunya, sama sekali tidak mengetahui efek dari ucapannya. Si pejuang tertegun, ia merasa air mata lagi-lagi mengenangi matanya.

“Bu! Foto, foto!” pinta anak kecil tadi, memaksa ibunya yang belum menyelesaikan pembicaraannya. Ia mengambil kamera dari dalam tas ibunya, lalu memberikannya dengan paksa pada ibunya. Ketika si anak berlari dengan girang di samping pria yang masih tampak terkejut, ibunya memberikan tatapan meminta maaf padanya sambil memegang kamera tersebut.

Anak itu meraih tangan penuh luka milik pria bekas tentara itu sambil menatapnya penuh kekaguman. Hal tersebut sepertinya menyadarkan sang veteran, karena secara reflek ia menarik tangannya, namun kembali mengenggam tangan anak kecil itu.

“Aku kalau sudah besar ingin menjadi seperti bapak juga!” Anak kecil itu berkomentar dengan bersemangat sambil membetulkan bandananya, beberapa saat sebelum ibunya menekan tombol untuk mengambil gambar.

Hasil foto tersebut sangat menakjubkan. Karena mantan pejuang itu tersenyum pada detik-detik terakhir, meski kaku karena sudah jarang sekali ia melakukannya, tetapi senyum itu tulus. Perasaan hangat masih menjalari tubuhnya ketika anak tadi kembali pada ibunya untuk melihat hasil foto tadi.

“Keren ya, bu? Eh, ayo sekarang kita lihat-lihat lagi!” Kini ia menarik-narik lengan ibunya, berusaha membawanya ke ruangan-ruangan lain, tetapi ibunya tidak bergeming.

“Terima kasih ya, pak. Sekali lagi maaf menganggu,” ujar wanita itu, terlihat tidak enak.“Oh, dan saya juga belum membeli tiket. Tadi tidak ada orang—Aduh, sebentar dong, nak!”

“Tidak, seharusnya saya yang berterima kasih. Dan anda tidak perlu membayar tiket. Selamat menikmati kunjungan anda!” balas pria tua itu dengan nada paling ramah, sudut-sudut mulutnya masih membentuk suatu senyuman.

“Oh, baiklah. Selamat hari veteran, pak!” ibu itu tersenyum kembali, berjalan melewatinya untuk mengejar anaknya yang memilih untuk menjelajah sendirian.

Mendengarnya senyuman bangga lagi-lagi tersungging di wajah sang veteran. Kemudian ia mengalihkan pandangannya kembali pada fotonya dan para mantan pejuang lainnya. Ekspresi wajah dan tatapannya terlihat jelas mengartikan bahwa perjuangan kita tidak sia-sia. []

How do you feel about this chapter?

1 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Mahar Seribu Nadhom
5657      2155     7     
Fantasy
Sinopsis: Jea Ayuningtyas berusaha menemukan ayahnya yang dikabarkan hilang di hutan banawasa. Ketikdak percayaannya akan berita tersebut, membuat gadis itu memilih meninggalkan pesantren. Dia melakukan perjalanan antar dimensi demi menemukan jejak sang ayah. Namun, rasa tidak keyakin Jea justru membawanya membuka kisah kelam. Tentang masalalunya, dan tentang rahasia orang-orang yang selama in...
SAMIRA
462      323     3     
Short Story
Pernikahan Samira tidak berjalan harmonis. Dia selalu disiksa dan disakiti oleh suaminya. Namun, dia berusaha sabar menjalaninya. Setiap hari, dia bertemu dengan Fahri. Saat dia sakit dan berada di klinik, Fahri yang selalu menemaninya. Bahkan, Fahri juga yang membawanya pergi dari suaminya. Samira dan Fahri menikah dua bulan kemudian dan tinggal bersama. Namun, kebahagiaan yang mereka rasakan...
The Fall of The Blade
527      389     1     
Short Story
At a time when people live in clans looking for power. A famous warrior by the name of "Swordsmaster" have to pass several obstacles and fight for his clan to the very end.
Hunch
45830      9337     121     
Romance
🍑Sedang Revisi Total....🍑 Sierra Li Xing Fu Gadis muda berusia 18 tahun yang sedang melanjutkan studinya di Peking University. Ia sudah lama bercita-cita menjadi penulis, dan mimpinya itu barulah terwujud pada masa ini. Kesuksesannya dalam penulisan novel Colorful Day itu mengantarkannya pada banyak hal-hal baru. Dylan Zhang Xiao Seorang aktor muda berusia 20 tahun yang sudah hampi...
Surat 2
320      268     1     
Short Story
Kepada suami terimakasih untuk semua cintamu Karena mu aku kuat karena mu aku tegar kerenamu aku bertahan satu saja harapku tetaplah begitu sayangiku hingga ujung waktu sungguh hal itu lah kekuatan hidupku cobaan apapun yg membuat aku terpontal pontal aku akan jadi tabah aku akan jadi sabar karena tau kau di situ selalu ada, kapan pun siap merengkuh rapuh ku ada untuk menikmati be...
Cinta untuk Yasmine
3037      1450     17     
Romance
Yasmine sama sekali tidak menyangka kehidupannya akan jungkir balik dalam waktu setengah jam. Ia yang seharusnya menjadi saksi pernikahan sang kakak justru berakhir menjadi mempelai perempuan. Itu semua terjadi karena Elea memilih untuk kabur di hari bahagianya bersama Adam. Impian membangun rumah tangga penuh cinta pun harus kandas. Laki-laki yang seharusnya menjadi kakak ipar, kini telah sah...
Sunset in February
1151      679     6     
Romance
Februari identik dengan sebutan bulan kasih sayang. Tapi bagi Retta februari itu sarkas, Februari banyak memberikan perpisahan untuk dirinya. Retta berharap, lewat matahari yang tenggelam tepat pada hari ke-28, ia dapat melupakan semuanya: cinta, Rasa sakit, dan hal buruk lain yang menggema di relung hatinya.
Ruang, Waktu Dan Cinta
6811      2698     0     
Romance
Piya Laluna, Gadis yang riang itu berubah kala ia ditinggal ayahnya untuk selama-lamanya. Ia kehilangan semangat, bahkan ia juga jarang aktif dalam komunitas sosialnya. Selang beberapa waktu, ia bertemu dengan sosok laki-laki yang ia temui di beberapa tempat , seperti toku buku, halte, toko kue, dan kedai kopi. Dan di ruang waktu itulah yang memunculkan rasa cinta diantara keduanya. Piya yang sed...
Tumbuh Layu
2349      1440     4     
Romance
Hidup tak selalu memberi apa yang kita pinta, tapi seringkali memberikan apa yang kita butuhkan untuk tumbuh. Ray telah pergi. Bukan karena cinta yang memudar, tapi karena beban yang harus ia pikul jauh lebih besar dari kebahagiaannya sendiri. Kiran berdiri di ambang kesendirian, namun tidak lagi sebagai gadis yang dulu takut gagal. Ia berdiri sebagai perempuan yang telah mengenal luka, namun ...
A Star Between Us
1      1     0     
Romance
Kami sudah saling mengenal sejak kami duduk di bangku sekolah dasar. Di sana semuanya bermula. Tapi ini bukanlah tentang masa-masa saling mengenal, ini tentang bagaimana aku menjalani hari-hari dengannya meski dia sangat menjengkelkan. Meski begitu, terbiasa dengannya membuatku berat untuk melepasnya. Semua kata-kata yang aku rangkai sedemikian rupa bahkan tak terucap saat di hadapannya. ...