Loading...
Logo TinLit
Read Story - JURANG
MENU
About Us  

Donita tidak dapat tidur nyenyak malam itu. Peluh di dahinya mengucur dan kerah bajunya basah. Cuaca kemarau membikin hawa malam semakin terasa engap. Donita semakin gelisah; meracau tidak karuan.

            “Apa yang Dedek lakukan?”

            “Gak mungkin!”

            “Ahh…”

            Nafas Donita tersengal, matanya belum berkedip hampir 1 menit terakhir sejak terkesiap sadar dari mimpinya. Setelah puas memandang kosong ke depan, Donita sengaja melihat ranjang tidur adiknya yang bersebelahan. Pada sekeliling ranjang adiknya, dipasang balok-balok kayu yang menjadi alat untuk menjaga sang adik agar tidak terjatuh.

            Betapa terkejut Donita melihat ranjang adiknya yang kosong.

            “Dedek ke mana? Dek?” Donita beringsut turun dari tempat tidur, menyingkap gorden kamar sembari berteriak memanggil adiknya.

            “Praaang!!!” Suara berisik dari dapur mengalihkan kekhawatiran Donita saat ini, lalu segera menghampiri sumber suara.

            “Dedek!!!” Donita memeluk adiknya yang beberapa saat lalu telah memotong ruas jari telunjuk kirinya dengan pisau.  

            Dengan bersimbah air mata, Donita menyambar ujung kain bajunya dan menyobeknya untuk menutup tangan adiknya yang sudah dilumeri oleh darah yang kental dan banyak. Namun, tidak ada suara menjerit kesakitan atau air mata yang keluar dari mata adiknya yang pucat menghitam di sekitar kantung matanya.

            Donita tidak bisa berkata apa-apa saat ini. Air matanya kini semakin deras keluar. Yang hanya bisa dilakukan yaitu memeluk adiknya erat-erat dan melawan rasa takutnya kuat-kuat untuk terus bertahan demi adiknya, Kanya.

            Sampai pukul 02.00 dini hari, Donita belum bisa memalingkan wajahnya dari Kanya yang sudah tertidur pulas. Seperti yang pernah dipesan oleh almarhum orang tuanya agar mengikat kaki serta tangan Kanya pada balok tempat tidur. Terutama ketika malam tiba—saat hendak tidur. Tetapi Donita telah menyadari bahwa ia lupa untuk mengikat tangan dan kaki Kanya malam ini. Akhirnya, kali ini Donita lengah sampai-sampai adik tercintanya itu mengiris ruas jari telunjuknya sendiri.

            Dengan sisa tenaga yang ada, Donita berusaha berpikir keras bagaimana akan menangani adiknya dengan perilaku-perilaku anehnya tersebut. Ini sudah menjadi hal biasa bagi Donita. Dokter hanya mampu memvonis kalau Kanya menderita kelainan Autisme, yaitu suatu gangguan perkembangan pada anak yang berakibat tidak mampu berkomunikasi dan mengekspresikan perasaan dan keinginannya sehingga perilaku hubungan dengan orang lain terganggu.

            Hari semakin pagi, tak terasa Donita tertidur pulas bersandar pada tempat tidur adiknya.

***

Bunyi pada jam beker membangunkan tidur nyenyak Donita. Ini sudah pukul 07.00 pagi. Saatnya melepas tali pengikat pada pergelangan tangan dan kaki Kanya.

            “Semoga Dedek gak berulah, ya, hari ini. Kakak sayang Dedek.” Donita mengecup pipi Kanya dengan penuh kasih sayang.

            Ini adalah hari Minggu di akhir pekan pertama pada bulan Februari. Perkuliahan libur. Saatnya bagi Joshua, calon suami Donita, datang ke rumah untuk menjemput Donita pergi mencari perlengkapan untuk pernikahan.

            “Akhirnya kamu datang juga, Sayang.” Donita memeluk Joshua yang tersenyum semringah.

            “Ayo kita berangkat!” Ajak Joshua kepada Donita.

            “Aku harus ajak Kanya hari ini. Boleh, ‘kan? Bibi gak bisa datang; sakit flu berat, katanya.” Jelas Donita.

            “Gak bisa. Kamu mau buat aku malu dengan tingkah ‘Dedek-mu’ yang aneh itu?” Tegas Joshua dengan matanya yang nanar.

            Donita menatap ke arah sepatu sneakers-nya yang berwarna merah muda, sembari menghela nafas.

            “Gak bisa, Joshua. Kanya gak bisa aku tinggal sendiri. Semalam dia…”

            “Dengar, ya. Sejak awal aku hubungan sama kamu, aku gak pernah sudi lihat ‘Dedek-mu’ yang menjijikan itu ada di hadapan aku. Biarlah setelah nikah nanti kita hidup bahagia. ‘Kan kamu bisa taruh dia di panti asuhan atau rumah sakit jiwa sekalian.” Joshua memotong pembicaraan Donita dan semakin mempertajam tatapan nanarnya.

            “Tapi, Jo…”

            “Kita batal untuk ke butik hari ini. Tunggu kabar dari aku saja kapan kita akan pergi ke butik.” Joshua membalikkan badannya begitu saja. Sikap dinginnya semakin menjadi-jadi sejak kepergian kedua orang tua Donita. Sebab Joshua merasa bahwa Donita menjadi lebih sibuk mengurus adiknya yang “sakit” ketimbang mengurus hubungannya dengan Joshua.

            Setelah mengunci pintu depan rumah, Donita dibuat terkejut saat mendapati Kanya tengah berdiri sambil bersandar pada daun pintu kamar sambil tertawa-tawa melihat kea rah Donita. Anehnya kali ini mulut Kanya penuh dengan darah. Apa yang terjadi?!

            “Dek, mulutmu kenapa?” Tanya Donita dengan panik. “Dek, ini kenapa lagi? Kakak udah minta kamu jangan berulah, Dek. Kamu kenapa gak nurut, sih?!” Wajah Donita tampak memelas menyadari nasibnya harus serba kerepotan dengan ulah Kanya yang memang selalu aneh. Tapi tidak seperti biasanya, Kanya yang penurut dan tidak banyak bicara. Sewaktu masih ada Mama dan Papa, Mama rajin membelikan Kanya majalah anak-anak yang isinya penuh dengan gambar kartun dan permainan. Kanya suka dengan gambar-gambar kartun.

            Saat Donita tengah mengambil segelas air putih untuk Kanya, terdengar suara Kanya.

            “Dia itu Iblis. Harus mati. Kakak harus di sini.” Suara Kanya yang tidak terlalu jelas artikulasinya, sontak membuat Donita terdiam sejenak untuk mendengar apa yang Kanya katakan. Apa maksud dari ucapan Kanya? Donita segera menghiraukannya dan menganggapnya sebagai hal yang tidak penting.

            Malam harinya, Donita pergi keluar rumah untuk membeli beberapa persediaan makanan di swalayan. Jarak rumah dengan swalayan cukup jauh, yaitu sekitar 5 – 6 kilometer. Sebelum berangkat, sudah barang tentu Donita mempersiapkan diri agar bisa pergi keluar rumah dengan leluasa. Barang-barang berbahaya dan tajam di rumah sudah dimasukkannya ke dalam lemari yang telah dikunci ganda olehnya, khawatir Kanya akan menggunakannya lagi untuk menyakiti dirinya.

            Satu jam berlalu, akhirnya Donita selesai berbelanja di swalayan. Sekitar jarak 50 meter ke arah kanan swalayan, ada sedikit keributan. Ada beberapa pria mabuk dengan botol alkohol di tangannya. Sedangkan pada tubuh-tubuh mereka, terdapat gadis-gadis malam yang sedang merangkul dibalut hanya dengan bikini. Memalukan!

            Donita memicingkan matanya. Sungguh lampu yang lumayan berpendar. Hawa malam ini sungguh dingin. Donita merapatkan mantel yang dikenakan. Setelah beberapa saat, Donita semakin tampak mengenali salah satu pria yang tengah mabuk di sana. Joshua!

            Air mata Donita pun keluar banyak-banyak. Ini di luar dugaan. Donita segera masuk ke dalm mobilnya. Setelah memasang sabuk pengaman, tangisan Donita terhenti saat melihat di depan ada sosok Kanya dengan pakaian lusuhnya yang sangat kotor, dan rambutnya berantakan. Berada di balik tiang dekat Joshua berada. Mata Kanya tampak marah dan menyeramkan.

            “Dedek? Mustahil kamu bisa keluar rumah, Dek?” Donita terheran dengan apa yang dilihatnya.

            Sial! Joshua terhuyung-huyung menjauhi kerumunan di sana. Kini ia berjalan sendirian menuju jembatan penyebrangan. Ternyata Kanya mengikuti Joshua dari belakang. Mata Donita terbelalak melihat di tangan kiri Kanya terdapat pisau.

            “Kenapa bisa? Pisau di tangan Kanya?” Donita semakin takut dan panik. Tubuhnya sekarang keringat dingin.

            Joshua yang berada di tepi jembatan, mengarahkan wajahnya ke arah jurang. Joshua muntah-muntah. Sedangkan di belakangnya tepat ada Kanya dengan pisau teracung. Donita bergegas keluar dari mobilnya da berlari menghampiri Kanya. Ini sangat berbahaya.

            “Dedeeekkkkk!!!” Donita berteriak pada Kanya. Tapi, sayang sekali, Kanya tidak mendengar sama sekali.

            Joshua membalik badan dan terkejut melihat Kanya di belakangnya. Kanya memukul kepala Joshua. Joshua terjungkal, kehilangan kendali. Tubuh Joshua terhempas, tetapi tangannya masih memegang besi penyangga pada jembatan. Kini Joshua mulai tersadar dari pengaruh alkoholnya.

            “Kanya ini aku, Joshua!”

            “Mati kamu, Iblis!” Kanya menghantam kepala Joshua dengan pisau.

            “Joshuaaaa!!!” Lutut Donita melemas dan tersungkur tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria yang dicintanya dibunuh oleh adik kesayangannya sendiri dan jatuh ke jurang. Nafas Donita semakin sesak. Impiannya untuk menikah telah hilang. Meskipun beberapa saat Joshua telah menyakiti hatinya dengan berhura-hura dengan gadis jalang.

            “Dedek sudah usir Iblis agar kehidupan kita tenang. Kakak gak akan tinggalin dedek. Selamanya bersama dedek.” Tetiba Kanya sudah berada di hadapan Donita.

            “Apa yang Dedek lakukan? Kenapa Dedek bisa ada di sini? Joshua itu calon suami Kakak. Kamu kenapa selalu suka merepotkan kehidupan Kakak. Selalu buat Kakak takut dengan keanehan-keanehan yang kamu lakukan, Dek. Kamu itu sakit apa, sih, Dek?” Donita merasa kesal dengan beban hidupnya dan menangis.

            “Dedek gak berguna.” Suara Kanya lirih. “Terima kasih Kakak sudah baik sekali mau urus Dedek yang gila ini. Dedek hanya mau Kakak terus bersama Dedek.” Kanya berjalan menuju tepi jurang, tempat di mana Joshua terjatuh.

            Donita mengusap air matanya. Aneh melihat bekas pisau yang dipegang Kanya telah berada di ujung lututnya, adapun potongan jari telunjuk. Jari telunjuk? Kanya? Kanya ke mana? Donita berlari ke arah tepi jembatan tempat Joshua terjatuh.

            “Dedeeek!!!”

            Malam itu ‘kan menjadi terakhir kali Donita melihat calon suaminya dan adik kesayangannya. Donita semakin sakit.

 

 

Tags: horror romance

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Undefined variable: comment_list

    Filename: story/read_view.php

    Line Number: 523

    Backtrace:

    File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/application/views/story/read_view.php
    Line: 523
    Function: _error_handler

    File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/application/controllers/Story.php
    Line: 1745
    Function: view

    File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/m.php
    Line: 331
    Function: require_once

    A PHP Error was encountered

    Severity: Warning

    Message: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable

    Filename: story/read_view.php

    Line Number: 523

    Backtrace:

    File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/application/views/story/read_view.php
    Line: 523
    Function: _error_handler

    File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/application/controllers/Story.php
    Line: 1745
    Function: view

    File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/m.php
    Line: 331
    Function: require_once

    No comment.

    A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Undefined variable: comment_list

    Filename: story/read_view.php

    Line Number: 528

    Backtrace:

    File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/application/views/story/read_view.php
    Line: 528
    Function: _error_handler

    File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/application/controllers/Story.php
    Line: 1745
    Function: view

    File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/m.php
    Line: 331
    Function: require_once

    A PHP Error was encountered

    Severity: Warning

    Message: Invalid argument supplied for foreach()

    Filename: story/read_view.php

    Line Number: 528

    Backtrace:

    File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/application/views/story/read_view.php
    Line: 528
    Function: _error_handler

    File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/application/controllers/Story.php
    Line: 1745
    Function: view

    File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/m.php
    Line: 331
    Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: comment_list

Filename: story/read_view.php

Line Number: 575

Backtrace:

File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/application/views/story/read_view.php
Line: 575
Function: _error_handler

File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/application/controllers/Story.php
Line: 1745
Function: view

File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/m.php
Line: 331
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable

Filename: story/read_view.php

Line Number: 575

Backtrace:

File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/application/views/story/read_view.php
Line: 575
Function: _error_handler

File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/application/controllers/Story.php
Line: 1745
Function: view

File: /home/u298225656/domains/tinlit.com/public_html/m.php
Line: 331
Function: require_once

Similar Tags
Once Upon A Time: Peach
1306      799     0     
Romance
Deskripsi tidak memiliki hubungan apapun dengan isi cerita. Bila penasaran langsung saja cek ke bagian abstraksi dan prologue... :)) ------------ Seorang pembaca sedang berjalan di sepanjang trotoar yang dipenuhi dengan banyak toko buku di samping kanannya yang memasang cerita-cerita mereka di rak depan dengan rapi. Seorang pembaca itu tertarik untuk memasuki sebuah toko buku yang menarik p...
SURAT CINTA KASIH
676      505     6     
Short Story
Kisah ini menceritakan bahwa hak kita adalah mencintai, bukan memiliki
WALK AMONG THE DARK
920      549     8     
Short Story
Lidya mungkin terlihat seperti gadis remaja biasa. Berangkat ke sekolah dan pulang ketika senja adalah kegiatannya sehari-hari. Namun ternyata, sebuah pekerjaan kelam menantinya ketika malam tiba. Ialah salah satu pelaku dari kasus menghilangnya para anak yatim di kota X. Sembari menahan rasa sakit dan perasaan berdosa, ia mulai tenggelam ke dalam kegelapan, menunggu sebuah cahaya datang untuk me...
PEREMPUAN ITU
644      469     0     
Short Story
Beberapa orang dilahirkan untuk membahagiakan bukan dibahagiakan. Dan aku memilih untuk membahagiakan.
The Story of Fairro
3394      1604     3     
Horror
Ini kisah tentang Fairro, seorang pemuda yang putus asa mencari jati dirinya, siapa atau apa sebenarnya dirinya? Dengan segala kekuatan supranaturalnya, kertergantungannya pada darah yang membuatnya menjadi seperti vampire dan dengan segala kematian - kematian yang disebabkan oleh dirinya, dan Anggra saudara kembar gaibnya...Ya gaib...Karena Anggra hanya bisa berwujud nyata pada setiap pukul dua ...
Praha
412      281     1     
Short Story
Praha lahir di antara badai dan di sepertiga malam. Malam itu saat dingin menelusup ke tengkuk orang-orang di jalan-jalan sepi, termasuk bapak dan terutama ibunya yang mengejan, Praha lahir di rumah sakit kecil tengah hutan, supranatural, dan misteri.
Mengejar Cinta Amanda
2963      1668     0     
Romance
Amanda, gadis yang masih bersekolah di SMA Garuda yang merupakan anak dari seorang ayah yang berprofesi sebagai karyawan pabrik dan mempunyai ibu yang merupakan seorang penjual asinan buah. Semasa bersekolah memang kerap dibully oleh teman-teman yang tidak menyukai dirinya. Namun, Amanda mempunyai sahabat yang selalu membela dirinya yang bernama Lina. Selang beberapa lama, lalu kedatangan seora...
Lost in Drama
2226      977     4     
Romance
"Drama itu hanya untuk perempuan, ceritanya terlalu manis dan terkesan dibuat-buat." Ujar seorang pemuda yang menatap cuek seorang gadis yang tengah bertolak pinggang di dekatnya itu. Si gadis mendengus. "Kau berkata begitu karena iri pada pemeran utama laki-laki yang lebih daripadamu." "Jangan berkata sembarangan." "Memang benar, kau tidak bisa berb...
Vandersil : Pembalasan Yang Tertunda
523      395     1     
Short Story
Ketika cinta telah membutakan seseorang hingga hatinya telah tertutup oleh kegelapan dan kebencian. Hanya karena ia tidak bisa mengikhlaskan seseorang yang amat ia sayangi, tetapi orang itu tidak membalas seperti yang diharapkannya, dan menganggapnya sebatas sahabat. Kehadiran orang baru di pertemanan mereka membuat dirinya berubah. Hingga mautlah yang memutuskan, akan seperti apa akhirnya. Ap...
Drifting Away In Simple Conversation
557      403     0     
Romance
Rendra adalah seorang pria kaya yang memiliki segalanya, kecuali kebahagiaan. Dia merasa bosan dan kesepian dengan hidupnya yang monoton dan penuh tekanan. Aira adalah seorang wanita miskin yang berjuang untuk membayar hutang pinjaman online yang menjeratnya. Dia harus bekerja keras di berbagai pekerjaan sambil menanggung beban keluarganya. Mereka adalah dua orang asing yang tidak pernah berpi...