Loading...
Logo TinLit
Read Story - Warna Untuk Pelangi
MENU
About Us  

Peristiwa mengenaskan itu sanggup merenggut bahagianya dalam sekejap. Revi terpuruk. Ia tidak dapat memaafkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi.

Saat Reva mengajak Aldi ke rumahnya dan mengatakan bahwa ada kejutan untuk cowok itu, Aldi bersedia saja. Lagipula, Revi pasti belum pulang dari sekolah di siang itu, pikirnya. Dan benar saja, cewek itu memang belum kembali ke rumah. Aldi pun tidak perlu khawatir karenanya.

Namun, hal itu ternyata tidak mampu membuat detak jantungnya berpacu cepat selama obrolan dengan Reva dan juga ibu cewek itu berlangsung. Aldi sanggup dibuat cemas oleh pembahasan yang kedua perempuan itu bicarakan. Tentang hubungan yang lebih serius.

“Jadi, kapan kira-kira Nak Nara lulus dan siap melamar Reva?” tanya Marisa, dibumbui nada bergurau.

Tapi Aldi tidak menangkap nada itu! Ia terlalu panik hingga mrnganggap pertanyaan Marisa adalah serius. Bahu cowok itu bahkan tampak menegang. Sementara itu, Reva justru tengah menunduk. Tersenyum malu-malu hingga kedua pipinya bersemu, menunggu respons Aldi menanggapi gurauan Marisa.

Dering telepon rumah menyelamatkan Aldi dari situasi yang ia tidak inginkan. Marisa pun bergegas meninggalkan keduanya untuk mengangkat telepon.

Terlalu sibuk mengobrol dengan temannya di seberang, Marisa sampai tidak menyadari kepergian Aldi yang disusul oleh Reva.

“Nara, kamu mau kemana?” tanya Reva, menahan lengan Aldi yang tampak gusar. “Mama masih mau ngobrol tau.”

Aldi menggeleng. “Aku nggak bisa.”

“Ha?” Reva mengernyit, tidak mengerti. “Nggak bisa apa?”

“Aku nggak bisa ngelamar kamu,” ungkap Aldi seraya membuang pandangan.

Meskipun kecewa mendengarnya, Reva tetap mengulas senyum. Menutupi keterkejutannya. “Mama, kan, tadi cuma bercanda, Nara. Aku ngerti kalau kamu nggak pengin buru-buru soal ini.”

“Ini bukan masalah waktu, tapi aku sendiri!”

Senyum Reva perlahan memudar. “Maksudnya gimana?”

Aldi memberanikan diri membalas tatapan kedua mata Reva yang berkilat sedih. “Sampai kapan pun, aku nggak bisa ngelamar kamu. Aku nggak bisa, Reva. Bukan kamu yang aku mau,” lirih cowok itu, kejam.

Setetes air mata Reva pun terjatuh, mendarat mulus di pipinya. Reva bersusah payah menelan ludah. Membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. “K-kok, kamu ngomongnya gitu?”

“Aku ngomong apa adanya,” tukas Aldi. “Maaf kalau aku udah jahat sama kamu. Aku pacarin kamu bukan karena aku suka sama kamu, tapi karena aku pengin ngerasain pacaran sama Revi dalam versi dewasa,” aku cowok itu lantas menunduk.

Reva kontan mundur beberapa langkah. Tercengang mendengar pengakuan Aldi yang sanggup menghunus jantungnya. “Revi…? K-kamu kenal adik aku?” tanya Reva, tak percaya.

Aldi mengangkat wajahnya, menatap Reva dengan rasa bersalah lantas mengangguk. “Aku Aldipha Binara, Reva…” lirihnya. “Kamu pasti pernah dengar nama itu, kan?”

Reva tertegun. Ia memang tidak tahu apa-apa mengenai pacar adiknya, tapi bukan berarti buta akan nama itu. Aldipha adalah nama tokoh utama cowok dalam novel-novel Pelangi Putih. Tokoh yang membuat banyak pembacanya tergila-gila. Tokoh yang membuat Langi jatuh semakin dalam di setiap halamannya.

Dan Reva tersentak. Langi adalah Revi. Artinya, cowok di hadapannya sekarang ini adalah sang Pangeran di balik novel tulisan adiknya.

Kini, wajah Reva telah basah oleh air mata. Kilat penuh kebencian pun mulai tersirat di kedua matanya. “Kamu jahat! Kamu bukan cuma bohongin aku, kamu juga curangin Revi!” pekik Reva tertahankan.

Reva ingin melepaskan amarahnya saat ini juga, tapi ia masih tahu diri untuk tidak membuat keributan yang mengganggu para tetangga. Terlebih, ia tidak ingin Marisa—yang masih sibuk dengan teleponnya di dalam rumah—mendengarkan pertengkaran ini. Ia tidak ingin membuat mamanya itu cemas melihat keadaannya yang saat ini tampak kacau.

Aldi hanya menunduk dalam, membiarkan Reva mengguncang-guncangkan lengannya dengan kuat. “Kenapa kamu bisa setega itu sama aku dan Revi? Kamu ngehancurin kepercayaan dua orang sekaligus!”

“Kamu tau, sesayang apa kami sama kamu, Nara?” Reva langsung mendengus. “Atau perlu aku panggil kamu Aldi sekarang, huh?!” sindirnya dengan bibir menipis.

Reva benar-benar mencintai Aldi. Di setiap malamnya, Reva selalu memikirkan Aldi dan hubungan mereka ke depannya. Karena usianya yang juga tidak lagi remaja, Reva tidak jarang berpikir kapan Aldi akan melamarnya. Reva selalu menanti akan hal itu karena ia merasa sudah tidak perlu lagi mencari. Bahagianya sudah di depan mata.

Tapi ternyata, bahagia itu bukan diperuntukan untuknya. Reva hanya diizinkan untuk mencicipi permukaan bahagia adiknya sendiri. Reva hanya dipersilahkan untuk merasakan bahagia tersebut, bukan memiliki.

***

Reva sangat menyayangi Revi. Begitupun sebaliknya. Apa pun untuk adik tercinta, termasuk melepaskan Aldi meskipun ia telanjur mencintai cowok itu begitu dalam.

Tapi bukan berarti Reva bodoh. Merelakan Aldi, bukan berarti ia memberikan cowok itu kesempatan untuk berbahagia kembali bersama adiknya.

Tidak. Reva tidak jahat. Ia hanya tidak ingin Revinya berhubungan dengan orang yang pernah mempermainkan keduanya. Reva tidak ingin Aldi kembali membodohi Revi di setiap kesempatan tanpa adiknya itu ketahui. Reva hanya tidak mau Revi melanjutkan hubungan bersama orang yang pernah mencuranginya.

Terlalu bahagia bersama Aldi dulu, ternyata sedikit membutakan Reva akan dunia sekitar. Ia sampai tidak menyadari jika Revi tengah bersedih dan menjadi lebih pendiam saat itu. Namun, saat ini semua kembali seperti sediakala. Perasaan Revi kini justru berbanding terbalik dengan Reva.

Saat itu, Reva yang berbahagia dan Revi yang murung. Saat ini, Revi yang kembali berbahagia dan Reva yang luluh lantak.

Walaupun Aldi mengatakan ribuan kali jika cowok itu mencintai Revi dengan sepenuh hati, tapi hal tersebut sama sekali tidak mampu menghapus kekhawatiran Reva. Ia tetap waswas pada Aldi karena kepercayaannya pernah dihancurkan. Ia tidak ingin adik tersayangnya menjadi korban patah hati seperti dirinya. Reva tidak ingin kehancuran menggerogoti hati adiknya.

Maka dari itu, saat Reva tahu jika Revi akan bertemu dengan Aldi untuk kembali memperjelas hubungan mereka yang sebelumnya sudah di ujung tanduk, Reva pun berniat mengekori Revi tanpa adiknya tersebut ketahui.

Namun, semua tidak semudah yang dibayangkan. Ia berpikir jika Revi akan menggunakan angkutan umum dan memudahkan Reva untuk mengikutinya. Tapi tidak. Begitu Revi sampai di depan gang rumah, adiknya tersebut langsung dijemput oleh Aldi dengan motor sport cowok itu. Reva pun kelabakan di tempat. Takut kehilangan jejak, Reva lantas menghentikan taksi yang kebetulan lewat. Ia bersyukur karena ternyata takdir tidak begitu mempersulitnya.

Reva menyuruh sang supir untuk bergegas mengekori kendaraan beroda dua yang belum jauh dari jangkauannya tersebut.

Sang supir tidak menjawab. Pikir Reva, pria itu telah menangkap maksud dan tujuannya dengan jelas hingga tidak sempat merespons karena terlalu fokus dalam menyetir. Akan tetapi, dugaannya salah. Keberuntungannya saat ini hanyalah kamuflase. Takdir tidak sedang mempermudahnya, melainkan menjerumuskannya ke dalam hal yang tidak terduga.

***

“Nih, ambil.”

Revi mengernyit, memandangi susu kotak beku di tangan Rain yang masih berembun. “Buat apa?”

“Buat dimakanlah,” jawab Rain, gemas.

Bel masuk bahkan belum berbunyi. Artinya, ini masih terlalu pagi untuk meminum es seperti itu. Bukannya merasa segar, yang ada Revi bisa merasa pusing!

“Nggak deh. Makasih,” tolak Revi, halus.

Rain cemberut mendengarnya. “Terima dong, biar misi halaman dua puluh delapan tercapai!”

“Ha?” Revi mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti. “Misi apa?”

Rain segera memutar bangku di depan meja Revi dan duduk menghadap cewek itu lantas membuka novel di tangannya. Ia bersyukur karena murid yang duduk di depan Revi belum datang. Bahkan, teman-teman Revi yang sudah datang baru beberapa orang saja. Ia memang sengaja datang lebih pagi demi mengantar susu.

“Nih. Di halaman dua puluh delapan, si Hujan ngasih susu beku rasa stroberi ke Langi,” jelas Rain seraya menunjukkan halaman yang dimaksud pada Revi. “Tapi, berhubung yang rasa stroberi udah dimakan adik gue, jadi tinggal rasa cokelat yang ada di kulkas. Itu pun tinggal satu!” lanjutnya kesal, sambil membayangkan wajah menyebalkan Raya yang dengan tidak tahu diri mencuri susu-susu beku milik Rain!

Revi yang tadinya tengah sibuk menyalin tugas dari buku Anya pun, kini menutup buku tulisnya dan menyimpan benda bersampul cokelat itu di laci meja.

Revi berdeham kecil. “Bukannya, si Hujan juga ikut makan susu beku, ya? Lagian, Langi, kan, lebih suka stroberi dibanding cokelat.”

Rain manggut-manggut. “Harusnya. Tapi, kan, adanya tinggal ini di kulkas gue.”

“Berarti misinya gagal,” ucap Revi lantas mengangkat bahu, tak acuh. “Nggak sesuai soalnya.”

Meskipun terlihat kejam, diam-diam batin Revi tertawa. Jika memang permainan seperti inilah yang dilakukan Rain demi mengembalikan warna Revi layaknya Hujan pada Langi, Revi pun akan bersikap seolah-olah dirinya adalah Langi—yang pada bab-bab awal bersikap jutek dan tidak jarang menghardik Hujan.

Rain mencebik. “Padahal gue udah buru-buru berangkat ke sekolah biar ini nggak meleleh di jalan,” lirihnya, menatap susu beku tersebut dengan kecewa.

Revi mengalihkan pandangan, berpura-pura tidak menyaksikan penderitaan Rain.

Sesungguhnya, cowok itu tidak perlu mempratikkan apa yang Hujan lakukan untuk Langi karena Revi sudah membaik. Aldi tidak lagi datang mengusik hidupnya sejak saat itu. Revi pun telah menggunakan cukup waktu untuk menenangkan diri.

Kini, harapan Revi hanya satu. Aldi tidak akan pernah datang lagi dan merusak misi Rain.

“Yaudah deh,” lanjut Rain pasrah, sebelum akhirnya bangkit dan berbalik badan, ingin berlalu. Namun, Revi segera menahannya. “Kenapa?” tanya cowok itu kening berkerut samar.

“Mau lo makan susunya?”

Rain menggeleng kecil. “Mau gue buang aja.”

“Sayang…”

Lirihan lembut cewek itu entah mengapa terasa ambigu di telinga Rain. Meskipun ia tahu kalau “sayang” yang dimaksud adalah mubazir. Tapi tetap saja hal tersebut mampu membuat jantung Rain berdebar tak keruan.

“T-terus mau diapain susunya?” tanya Rain, gugup.

Menyadari kegugupan itu, Revi menyipitkan sebelah matanya. “Kok lo gugup gitu? Mikir jorok, ya?”

Tuduhan tidak terduga itu pun membuat wajah Rain matang. “Ih, apaan sih!” kilah Rain, kesal.

“Itu tuh, muka lo merah kayak Nemo,” goda Revi. “Pasti dari tadi kita bahas susu, lo mikir susu yang lain!”

“Nemo itu warna oranye!” balasnya, sewot. “Lagian, susu siapa yang bisa gue bayangin kalau ketemunya sama yang rata begini terus?!”

Skak mat! Memangnya hanya Revi yang bisa menggodanya? Rain juga bisa. Rasakan!

Rain lantas berlalu, membiarkan otak Revi yang masih mencerna sindirannya bekerja dengan baik. Sampai cewek itu menyadari maksud Rain dan menunduk, menatap badannya yang datar tanpa lekukkan dan tonjolan dimana-mana.

“Sialan!” desis Revi pada pintu kelas dimana Rain berlalu.

***

Aldi belum menyerah. Tidak. Usahanya tidak sekecil itu! Ia masih menyayangi Revi. Ia masih membutuhkan cewek itu untuk kembali mengisi kekosongan hatinya.

Aldi tahu, dirinya memang salah. Namun, apa yang terjadi di masa lalu bukan seutuhnya kesalahan cowok itu. Aldi tidak pernah menduga jika sang takdir turut bermain dan membuat segalanya menjadi runyam. Membuat Aldi kehilangan Revi dalam sekejap.

Hari ini, seperti biasa, ia datang ke sekolah Revi saat jam pulang. Mengamati sosok Revi yang keluar dari gerbang dalam jarak yang cukup jauh.

Ia pun tersenyum mendapati Revi yang sudah terlihat baik-baik saja. Namun, senyum di wajahnya tidak bertahan lama. Aldi justru membeku di tempat begitu menyadari Revi tidak sendiri.

Meski tidak tahu pasti siapa nama cowok jangkung yang berjalan beriringan dengan Revi, tapi Aldi sangat yakin jika cowok itu merupakan sosok asli di balik sang Hujan.

Ya, Aldi telah membaca novel Warna di Balik Hujan dengan saksama, dan ia masih mengingat betul bagaimana ciri-ciri Hujan yang dideskripsikan dengan jelas di buku tersebut.

Kemudian, akhir kisah dalam novel tersebut tiba-tiba saja terlintas di benaknya.

Tidak. Aldi tidak akan menyerah dan membiarkan Langi berakhir dengan Hujan. Aldi tidak sudi merelakan Langi untuk pendatang baru. Aldi tidak sudi membuat kisah yang sebenarnya, berakhir sama dengan epilog dalam Warna di Balik Hujan.

Apa pun akan ia lakukan, demi menciptakan akhir kisah seperti ending pada novel pertama.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Comfort
1451      693     3     
Romance
Pada dasarnya, kenyamananlah yang memulai kisah kita.
Utha: Five Fairy Secret
1760      914     1     
Fantasy
Karya Pertama! Seorang pria berumur 25 tahun pulang dari tempat kerjanya dan membeli sebuah novel otome yang sedang hits saat ini. Novel ini berjudul Five Fairy and Secret (FFS) memiliki tema game otome. Buku ini adalah volume terakhir dimana penulis sudah menegaskan novel ini tamat di buku ini. Hidup di bawah tekanan mencari uang, akhirnya ia meninggal di tahun 2017 karena tertabrak s...
PurpLove
537      445     2     
Romance
VIOLA Angelica tidak menyadari bahwa selama bertahun-tahun KEVIN Sebastian --sahabat masa kecilnya-- memendam perasaan cinta padanya. Baginya, Kevin hanya anak kecil manja yang cerewet dan protektif. Dia justru jatuh cinta pada EVAN, salah satu teman Kevin yang terkenal suka mempermainkan perempuan. Meski Kevin tidak setuju, Viola tetap rela mempertaruhkan persahabatannya demi menjalani hubung...
Cadence's Arcana
7033      2108     3     
Inspirational
Cadence, seorang empath, tidak suka berhubungan dengan orang lain. Ketika dia kalah taruhan dari kakaknya, dia harus membantu Aria, cewek nomor satu paling dihindari di sekolah, menjalankan biro jasa konseling. Segalanya datar-datar saja seperti harapan Cadence, sampai suatu saat sebuah permintaan klien membawanya mengunjungi kenangan masa kecil yang telah dikuburnya dalam-dalam, memaksanya un...
Metamorfosis
3529      1395     3     
Romance
kehidupan Lala, remaja usia belasan monoton bagaikan air mengalir. Meskipun nampak membosankan Lala justru menikmatinya, perlahan berproses menjadi remaja ceria tanpa masalah berarti. Namun, kemunculan murid baru, cowok beken dengan segudang prestasi mengusik kehidupan damai Lala, menciptakan arus nan deras di sungai yang tenang. Kejadian-kejadian tak terduga menggoyahkan kehidupan Lala dan k...
Rasa Cinta dan Sakit
593      352     1     
Short Story
Shely Arian Xanzani adalah siswa SMA yang sering menjadi sasaran bully. Meski dia bisa melawan, Shely memilih untuk diam saja karena tak mau menciptakan masalah baru. Suatu hari ketika Shely di bully dan ditinggalkan begitu saja di halaman belakan sekolah, tanpa di duga ada seorang lelaki yang datang tiba-tiba menemani Shely yang sedang berisitirahat. Sang gadis sangat terkejut dan merasa aneh...
Sebuah Penantian
2848      1098     4     
Romance
Chaca ferdiansyah cewe yang tegar tapi jauh didalam lubuk hatinya tersimpan begitu banyak luka. Dia tidak pernah pacaran tapi dia memendam sebuah rasa,perasaanya hanya ia pendam tanpa seorangpun yang tau. Pikirnya buat apa orang lain tau sebuah kisah kepedihan.Dulu dia pernah mencintai seseorang sangat dalam tapi seseorang yang dicintainya itu menjadi milik orang lain. Muh.Alfandi seorang dokt...
Kita Yang Tenggelam Dalam Gelap
107      18     0     
Romance
Satoshi, seorang remaja yang hidup dalam bayang-bayang trauma masa kecil, terperangkap dalam pusaran hubungan yang gelap dan ambigu dengan seorang gadis bernama Misakisosok yang memadukan kelembutan, rahasia, dan kegilaan dengan cara yang begitu memikat. Pertemuan mereka bukanlah awal kisah cinta biasa, melainkan awal dari keretakan realitas, pembusukan moral, dan bangkitnya sisi gelap yang selam...
Until The Last Second Before Your Death
599      452     4     
Short Story
“Nia, meskipun kau tidak mengatakannya, aku tetap tidak akan meninggalkanmu. Karena bagiku, meninggalkanmu hanya akan membuatku menyesal nantinya, dan aku tidak ingin membawa penyesalan itu hingga sepuluh tahun mendatang, bahkan hingga detik terakhir sebelum kematianku tiba.”
Pahitnya Beda Faith
544      403     1     
Short Story
Aku belum pernah jatuh cinta. Lalu, aku berdo\'a. Kemudian do\'aku dijawab. Namun, kami beda keyakinan. Apa yang harus aku lakukan?