Loading...
Logo TinLit
Read Story - Itenerary
MENU
About Us  

Perjalanan mereka lanjutkan lagi dengan jalan yang terus menanjak. Disisi kiri dan kanan tak jarang terlihat ladang-ladang penduduk lokal di lereng bukit yang seolah tertata sedemikian rupa sehingga terlihat amat cantik. Seperti lukisan yang hidup saja.

"Kapan sampainya?" Maya mulai gelisah.

Juang memandang ke luar jendela sekilas. "Sebentar lagi, kita sampai Pos Ranupani."

"Lo kenapa, May?" tanya Boy, tampak mengerti akan kegelisahan yang Maya utarakan melalui raut wajahnya.

"Nggak apa-apa," jawab Maya.

Juang terkekeh. "Cewek, kalau bilang nggak apa-apa, pasti aslinya ada apa-apa."

"Nggak usah sok tau lo!" timpal Maya.

Caca tersenyum tipis. Ia tau benar arti ekspresi Maya. Jalanan yang naik turun dan udara dingin menusuk tulang sudah pasti membuat seorang Maya masuk angin.

"May," panggil Caca.

Maya hanya menjawab dengan tolehan, tanpa suara. Bagi seorang Maya, bicara pada seorang Caca adalah hal tak penting, yang tak seharusnya dilakukan.

Berbeda dengan Caca. Meski selalu sakit hati dengan perilaku Maya, namun itu tak membuat Caca ingin menghentikan niat baiknya pada Maya. Karena bagaimanapun juga, Maya adalah sahabat baiknya, hingga sekarang, meski Maya tak menganggapnya sama.

"Lo mual?" Dan dengan segera, Caca merogoh minyak kayu putih dan tolak angin dari dalam tasnya, kemudian menjulurkannya kearah Maya.

"Nggak perlu. Gue bisa tanganin sendiri," balas Maya, tetap cuek, bahkan hanya melirik sekilas kearah obat-obatan--yang sebenarnya ingin Maya terima, tetapi gengsinya super duper tinggi--kemudian, membuang wajahnya lagi membelakangi Caca.

"Maya... Perjalanan kita masih jauh, loh." Caca mencoba membujuk. Tapi bujukan ini ada maksudnya, yaitu agar Maya selalu sehat dan bisa menikmati segala proses perjalanan.

"Ya gue tau. Emangnya, siapa yang bilang perjalanan tinggal satu kilo?!" tandas Maya.

Caca diam. Nada tinggi Maya, selalu berhasil menggores hatinya.

Juang melerai kedua gadis itu. "Apa-apaan sih kalian?!" Namun Juang menolehkan kepalanya kearah Maya. "Caca tuh berniat baik ke lo, May. Hargain, kek."

"Pertama, gue nggak sudi terima barang apapun dari dia!" tegas Maya, sambil menunjuk Caca dengan jari telunjuknya. "Kedua... Gue nggak selemah itu! Gue belum butuh obat-obatan itu. Karena apa? Karena gue tau kapasitas gue sendiri!"

Boy menatap kearah Caca, memastikan gadisnya baik-baik saja.

Juang menggeleng. "May, jangan teriak-teriak.. Nggak enak sama penumpang yang lainnya."

Benar. Rupanya perdebatan singkat itu mengundang para penumpang lain. Dan dalam hitungan detik, Maya menghembuskan nafas, dan menundukkan kepalanya.

Boy mendekat ke telinga Caca, dan berbisik, "Lo nggak apa-apa?"

Dan tanpa suara, Caca menjawab dengan sebuah anggukan penuh makna.

**

Sekitar pukul 12 siang, rombongan mereka tiba di Pos Ranupani, pos pertama dalam rangkaian pendakian Gunung Semeru. Pos Ranupani berada diketinggian 2100 mdpl. Udara dingin mulai begitu terasa, kabut tipis menutup beberapa bagian.

"Dingin, asli," ucap Juang, memeluk tubuhnya sendiri.

Boy mengangguk setuju. "Gimana di atas, ya?" Atas yang Boy maksud adalah 'puncak'.

"Nggak tau, deh. Perasaan, dulu, nggak sedingin ini."

Maya melipat tangannya, sama, mengalami nasib kedinginan yang serupa. "Kita ngapain nih?"

"Pertama, kita harus daftar dan lengkapin dokumen-dokumen perjalanan kita," kata Boy, menjelaskan. "Ayo."

Keempat manusia itu berjalan menuju tempat pendaftaran. Karena kebetulan pendakian ini mereka lakukan bukan di libur panjang--dengan curi-curi waktu kuliah--maka pendakian kali ini nampaknya tak terlalu ramai, seperti jika di hari-hari libur panjang.

Di pos ini, setiap pendaki, harus mendaftar dulu dan melengkapi dokumen-dokumen persetujuan, fotokopi identitas, check list peralatan rombongan. Proses tersebut dinamakan Simaksi.

Proses tersebut berjalan dengan lancar untuk empat kepala manusia ini. Dan setelah Simaksi, mereka di briefing oleh petugas tentang aturan-aturan dan larangan selama pendakian Gunung Semeru. Dan petugas sedikit membagikan tentang hal-hal yang pernah terjadi di Semeru. Salah satunya cerita tentang temen pendaki yang meninggal di atas.

"Ya rata-rata gitu.. Saking ngototnya mereka ingin sampai puncak, saking ambisiusnya, nggak jarang mereka memaksakan diri. Efeknya ya mereka nggak peduli sama keselamatan mereka," kata Boy, setelah petugas memberi briefing singkat.

Boy menegaskan lagi. "Kita harus utuh. Berangkat empat orang, pulang empat orang."

Ketiga teman di sekeliling sama-sama meng-amin-kan ucapan Boy.

"Kok gue takut, ya," ucap Maya.

Boy menggeleng, mencoba menguatkan. "Wajar takut. Tapi anggap aja ini pengingat untuk kita, agar tetap berhati-hati dan tetap dalam rule."

Juang menambahkan. "Dan kalau nggak kuat, mundur, jangan ragu-ragu, jangan dipaksakan."

Maya melirik Caca. "Tuh, Ca. Dengerin."

Caca hanya menanggapinya dengan seulas senyum. Malas berdebat dengan Maya dan malas menyimpan rasa sedih karena nada tinggi Maya, karena kali ini ia harus menyimpan energi.

"Jadi, mendaki jam tiga?" tanya Juang.

"Boleh deh. Kita istirahat dulu di sini." Boy menjawab.

"Ngerokok dulu, yuk," Juang menjulurkan sebatang rokok ke arah Boy.

"Djarum Super?" tanya Boy.

"Iya. Suka, kan?"

"Sebenernya gue lebih suka Dji Sam Soe, sih. Tapi okelah, karena rokok gue di dalem tas dan gue males buka tas, jadi rokok lo tue terima," kata Boy, sambil menerima rokok yang Juang julurkan.

Juang terkekeh. "Nih korek."

"Thanks, bro!"

Caca mengibaskan tangannya. "Kalian mau pada ngerokok, ya?"

"Keberatan, Ca?" Boy menatap Caca tak enak.

Maya memutar bola matanya. "Ya kalau lo nggak suka asap, minggir lah! Masa mereka kudu pergi hanya karena satu orang kayak lo?!" Maya meluapkan emosinya. Sebenarnya, Maya tidak emosi. Hanya saja rasa sebalnya pada Caca, membuatnya bahagia jika ia berhasil berbicara dengan nada tinggi--atau membentak--pada Caca.

Juang yang memang sudah pernah menjalin hubungan dengan Caca, dan paham betul sifat Caca, mengalah. "Sorry, Ca. Gue sama Boy pergi bentar deh. Cari tempat ngerokok."

"Jangan, jangan!" sahut Caca cepat.

"Kenapa?"

Maya melirik sinis. "Lo aja yang pergi, Ca."

"Iya, gue mau ke mushola." Caca menunjuk satu mushola di dekat pos tersebut. "Mau sholat dhuhur."

Dan tanpa basa-basi, Caca langsung pergi meninggalkan ketiga temannya yang ternganga.

Bagi Caca, kewajiban ibadah adalah segalanya. Jantung dari hidupnya. Tak peduli bagaimana pendapat orang lain tentangnya--yang katanya banyak mantan, suka make up, dan lain-lainnya--ia tetap mengutamakan ibadahnya.

**

Usai shalat dhuhur, Caca melipat mukena yang ia bawa. Dan setelahnya, Caca melangkahkan kaki keluar dari bangunan yang selalu berhasil membuatnya tenang, yaitu masjid ataupun musholla.

"Caca?"

Caca menoleh, tepat saat Caca akan mengenakan sepatunya. "Loh, Boy? Sejak kapan disitu?"

"Daritadi. Gue barusan sholat juga."

Caca tersenyum. Ada rasa bahagia membuncah di hatinya. "Alhamdulillah.."

"Gue kok seneng ya, lihat lo sholat," kata Boy.

"Gue juga seneng lihat lo sholat. Gue kira, lo tadi ngerokok sama Juang."

"Nggak jadi. Mendingan sholat, lah. Ngerokoknya nanti-nanti aja, masih banyak waktu." Boy menghela nafas. "Gue sadar, ibadah gue masih payah. Gue perlu banyak perbaiki hal itu. Apalagi gue suka berpetualang, kebayang nggak sih, kalau gue meninggal pas petualangan?"

"Ssst! Jangan bilang gitu, ah."

"Ya kan siapa yang tau, Ca..."

Caca menghela nafas. "Ya makanya, dimanapun, harus ibadah dan hati-hati. Setidaknya kalau meninggal, kita punya bekal."

Keduanya hening sejenak. Mereka memikirkan sesuatu di benak mereka masing-masing, tanpa bicara.

Hingga salah satu dari mereka, memulai lagi.

"Gue kangen ibu," kata Caca.

Disitulah, Boy paham, bahwa sorot sedih yang selalu tampak dari wajah Caca, adalah bentuk kerinduannya pada Ibunya.

"Ibu gimana sekarang?" tanya Boy, penasaran.

Caca menghela nafas berat. "Udah tinggalin gue dan Ayah.. Dan udah menikah sama laki-laki lain."

"Astaga.. Sorry, Cha.."

"Nggak apa-apa.."

Boy bertanya lagi, kali ini dengan wajah lebih serius. "Terus.. Lo nggak apa-apa? Ayah lo, gimana?"

"Ayah gue kena stroke ringan. Tapi sekarang udah pulih lagi, alhamdulillah.. Tapi, ya, gue harus pastikan Ayah selalu senang, supaya nggak kumat lagi."

Boy diam. Kehidupan Caca tak seperti yang orang-orang bilang. Hidup Caca, sejujurnya miris, tak seperti penampilan Caca yang terlihat selalu cantik dan menarik.

"Makanya gue pengen cepet-cepet lulus. Biar bisa kerja, banggain Ayah.. Bentar lagi Ayah pensiun. Biar gantian gue yang cari uang.." Caca menggigit bibirnya. Tiap kali mengingat Ayahnya, selalu sedih dan rindu yang ia rasa.

Boy menepuk pundak Caca. "Gue akan ada buat lo, Ca."

Caca menggeleng, "Jangan janji, kalau nggak bisa buktiin.."

"Gue bisa, Ca.."

Gadis itu diam lagi. Kemudian, terlintas sesuatu di pikiran Caca. "Boy?"

"Kenapa, Ca?"

Caca merogoh saku tasnya, mengambil beberapa bungkus tolak angin dan minyak kayu putih, lalu menyerahkannya kearah Boy. "Ini... Tolong kasihin Maya. Dia nggak akan mau menerima kalau gue yang kasih."

Boy menerima obat-obatan tersebut. "Maya sebenarnya butuh. Tapi dia gengsi."

Keduanya tertawa. Tawa pilu, tepatnya, bagi seorang Caca yang menginginkan persahabatannya dengan Maya kembali.

"Lo baik banget sama Maya, deh.."

Caca tersenyum tulus. "Kan dia sahabat gue.."

"Ya udah, yuk balik. Bentar lagi briefing sama petugas, nih," ajak Boy.

"Ayo."

Dan Boy mengulurkan tangannya kearah Caca, tuk membantunya berdiri. Namun saat Caca sudah berdiri sempurna, Boy belum juga melepas tangannya dari tangan Caca. Yang terjadi justru Boy tetap membawa tangan Caca terkait dengan tangannya--mereka bergandengan--tanpa peduli bahwa karena hal sepele seperti itu, perasaan mereka bisa tumbuh tak terkendali.

*bersambung*
 

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (28)
  • Chaa

    Ini menarik sih.
    Sedikit saran, mungkin bisa ditambah deskripsinya. Jadi, biar pembaca lebih bisa membayangkan situasi yang terjadi di dalam cerita :D

    Comment on chapter Pos Ketan Legenda, Saksi Hening Mereka
  • indriyani

    Seruu nih, aku suka. Apalagi tentang persahabatan dan petualangannya dapet. Keren 👍

    Comment on chapter Rencana Mereka
  • nowaryo_

    bagus sebetulnya. hanya saja terlalu banyak dialog. tp bagus, krn bisa membawa pembaca masuk dalam cerita

    Comment on chapter Persiapan Kilat
  • aiana

    @Ervinadypudah meyakinkan kok ceritanya. Eh tp di bab 19 kok ada pengulangan dr narasi bab 16. Pas momen makan ronde dan buat perjanjian kencan 1 hari.

    Comment on chapter Epilog: Narasi Enam Kepala Manusia
  • imagenie_

    selesai baca ini pas masih ngantor. huaaa bagus

    Comment on chapter Epilog: Narasi Enam Kepala Manusia
  • imagenie_

    wah pendakian. aku siap lanjut baca bab selanjutnya nih

    Comment on chapter Rencana Mereka
  • Ervinadyp

    @aiana makasihhh ya udahh bacaa💚💚 iyanihhh pgn banget naikgunung, doakan smoga kesampaian ya kakkk.. Aamiin yaAllah

    Comment on chapter Rencana Mereka
  • Ervinadyp

    @suckerpain_ makasiii banyakk sarannya ya kaak💚

    Comment on chapter Rencana Mereka
  • dear.vira

    Ceritanya bagus, sarannya coba agak kurangi bagian percakapannya ya, strusnya udah bgus banget semangat ya

    Comment on chapter Rencana Mereka
  • aiana

    seru nih, tentang perjalanan. saya baru baca beberapa bab. kalau sudah selesai saya review deh. Siap-siap nostalgia. Belum penah ke Semeru sih tapi pernah menggembel sampai ke G.Gede saya dulu dan beberapa Kerucut di Jateng. Penulis perlu coba naik gunung. seru dan bikin rindu loh.

    Comment on chapter Rencana Mereka
Similar Tags
Story Of Me
4215      1749     6     
Humor
Sebut saja saya mawar .... Tidaak! yang terpenting dalam hidup adalah hidup itu sendiri, dan yang terpenting dari "Story Of me" adalah saya tentunya. akankah saya mampu menemukan sebuah hal yang saya sukai? atau mendapat pekerjaan baru? atau malah tidak? saksikan secara langsung di channel saya and jangan lupa subscribe, Loh!!! kenapa jadi berbau Youtube-an. yang terpenting satu "t...
Trainmate
3285      1622     2     
Romance
Di dalam sebuah kereta yang sedang melaju kencang, seorang gadis duduk termangu memandangi pemandangan di luar sana. Takut, gelisah, bahagia, bebas, semua perasaan yang membuncah dari dalam dirinya saling bercampur menjadi satu, mendorong seorang Zoella Adisty untuk menemukan tempat hidupnya yang baru, dimana ia tidak akan merasakan lagi apa itu perasaan sedih dan ditinggalkan. Di dalam kereta in...
The Bet
19583      3833     0     
Romance
Di cerita ini kalian akan bertemu dengan Aldrian Aram Calton, laki-laki yang biasa dipanggil Aram. Seperti cerita klise pada umumnya, Aram adalah laki-laki yang diidamkan satu sekolah. Tampan? Tidak perlu ditanya. Lalu kalau biasanya laki-laki yang tampan tidak pintar, berbeda dengan Aram, dia pintar. Kaya? Klise, Aram terlahir di keluarga yang kaya, bahkan tempatnya bersekolah saat ini adalah mi...
Secrets
4728      1706     6     
Romance
Aku sangat senang ketika naskah drama yang aku buat telah memenangkan lomba di sekolah. Dan naskah itu telah ditunjuk sebagai naskah yang akan digunakan pada acara kelulusan tahun ini, di depan wali murid dan anak-anak lainnya. Aku sering menulis diary pribadi, cerpen dan novel yang bersambung lalu memamerkannya di blog pribadiku. Anehnya, tulisan-tulisan yang aku kembangkan setelah itu justru...
OUR PATH | MinYoon
427      294     1     
Fan Fiction
"Inilah jalan yang aku ambil. Tak peduli akan banyaknya penolakan masyarakat, aku akan tetap memilih untuk bersamamu. Min Yoongi, apapun yang terjadi aku akan selalu disimu." BxB Jimin x Yoongi Yang HOMOPHOBIC bisa tinggalkan book ini ^^
Love Dribble
11365      2434     7     
Romance
"Ketika cinta bersemi di kala ketidakmungkinan". by. @Mella3710 "Jangan tinggalin gue lagi... gue capek ditinggalin terus. Ah, tapi, sama aja ya? Lo juga ninggalin gue ternyata..." -Clairetta. "Maaf, gue gak bisa jaga janji gue. Tapi, lo jangan tinggalin gue ya? Gue butuh lo..." -Gio. Ini kisah tentang cinta yang bertumbuh di tengah kemustahilan untuk mewuj...
Stuck In Memories
17161      4060     16     
Romance
Cinta tidak akan menjanjikanmu untuk mampu hidup bersama. Tapi dengan mencintai kau akan mengerti alasan untuk menghidupi satu sama lain.
Got Back Together
402      332     2     
Romance
Hampir saja Nindyta berhasil membuka hati, mengenyahkan nama Bio yang sudah lama menghuni hatinya. Laki-laki itu sudah lama menghilang tanpa kabar apapun, membuat Nindyta menjomblo dan ragu untuk mempersilahkan seseorang masuk karna ketidapastian akan hubungannya. Bio hanya pergi, tidak pernah ada kata putus dalam hubungan mereka. Namun apa artinya jika laki-laki hilang itu bertahun-tahun lamanya...
Run Away
9124      2465     4     
Romance
Berawal dari Tara yang tidak sengaja melukai tetangga baru yang tinggal di seberang rumahnya, tepat beberapa jam setelah kedatangannya ke Indonesia. Seorang anak remaja laki-laki seusia dengannya. Wajah blesteran campuran Indonesia-Inggris yang membuatnya kaget dan kesal secara bersamaan. Tara dengan sifatnya yang terkesan cuek, berusaha menepis jauh-jauh Dave, si tetangga, yang menurutnya pen...
Pensil Kayu
427      296     1     
Romance
Kata orang cinta adalah perjuangan, sama seperti Fito yang diharuskan untuk menjadi penulis buku best seller. Fito tidak memiliki bakat atau pun kemampuan dalam menulis cerita, ia harus berhadapan dengan rival rivalnya yang telah mempublikasikan puluhan buku best seller mereka, belum lagi dengan editornya. Ia hanya bisa berpegang teguh dengan teori pensil kayu nya, terkadang Fito harus me...