Loading...
Logo TinLit
Read Story - BANADIS 2
MENU
About Us  

XL

Ruang istirahat raja,

Beberapa pasukan khusus tampak berjaga – jaga di depan pintu ruangan.

Terlihat sangat waspada dan tegang para pasukan itu.

Tak ada senyuman nan manis ataupun percakapan – percakapan ringan di antara pasukan – pasukan elit.

Prioritas mereka hanya satu, menjaga keselamatan dan keamanan selama Tuan Rakat belum dikatakan normal pikirannya.

 

Tayar berjalan mantap menuju ruangan itu.

Dirinya hendak melihat keadaan Tuan Rakat.

Sejak Yoslin dinyatakan hilang dari kerajaan Banadis, Tuan Rakat tidak melakukan tugasnya sebagai seorang raja.

Banyak pengiriman menjadi tertunda, Juga dokumen – dokumen menumpuk di meja kerja raja Banadis.

 

“Bagaimana keadaan tuan?”

“Siap,! Tuan Rakat sedang tertidur di sofa,”

Menghela nafas. “Panggil tukang pijat untuk mengobati tuan.”

“Siap,!” Seseorang itu segera menuju ruangan spa.

“Kalian berlima ikut saya untuk mengangkat Tuan Rakat ke ranjangnya.”

“Siap,!”, ucap mereka, kompak.

Tayar dan kelima pasukan itu masuk ke dalam ruangan.

 

Sungguh mengenaskan, tampilan Tuan Rakat benar – benar sudah hilang akal.

Laki – laki itu terbaring di sebuah sofa sambil mengigau, memanggil – manggil nama seseorang dengan lirih.

Jari jemari kanan beliau menggenggam rapuh satu botol minuman keras. Sedangkan pada tangan kirinya menggenggam sebuah pedang.

Pedang itu tampak dihunus – hunuskan ke arah depan beliau. Sambil Tuan Rakat berucap, “Mana Yoslin ku,? Kamu menculik Yoslinku ya?, Awas kamu jangan berani – berani nyulik Yoslinku!”

Saat Tuan Rakat melihat beberapa orang mendekat padanya.

“He, kalian siapa?!, Berani – beraninya kalian masuk ke kamar saya,!” Sambil beliau coba berdiri. “Awas ya, saya ini raja Banadis, raja paling hebat se Nusantara,! Kalo kalian berani maju selangkah saja, kalian semua akan mati,”

Tuan Rakat tampak sempoyongan.

 

“Bagaimana ini, pak Tayar?”

“Haduh, Sudah keluar saja, nanti kalo tuan sudah tertidur lagi baru kita pindah ke ranjang.”

“Siap,”

Tayar dan kelima pasukan itu tidak jadi memindahkan Tuan Rakat dari sofa.

 

 

 

XLI

Ruang kerja raja Banadis,

Beberapa bos distrik tampak duduk – duduk tegang di dalam ruangan.

Mereka terlihat tidak tenang.

Khawatir dengan paket – paket yang harus segera ditandatangani dokumennya.

 

Minuman keras menjadi tidak berasa.

Juga camilan lezat itu didiamkam saja oleh mereka.

 

Tayar masuk ke ruangan itu.

Dengan wajah yang tidak kalah tegang dengan para bos distrik.

 

“Gimana, Yar?”

“Masih belum sadar,”

“Aduhh,”

“Lha trus ini gimana, Yar?”

“Aku juga bingung,”

“Kamu saja lah Yar yang tanda tangan.”

“Lha gimana? Tuan Rakat nggak ngasih perintah,”

“Ini kalo nggak segera kita kirim kita bakal rugi banyak banget lo, Yar.”

Jedeng tampak hampir frustasi.

Berucap, “Iya, Yar,, Apalagi pengiriman ke Patic harusnya udah sampe sore tadi.”

“Lha gimana? Ntar kalo aku kena tebas gimana?”

“Kita tanggung bareng – bareng lah, Paling Tuan Rakat juga mikir kalo bos – bos distriknya mati semua, yang bisa ngatur pengiriman siapa?”

“Bener ya,? Awas nanti kalo nggak ada yang mau bantu, tak hajar semua kalian,”

“Iya, iya,, Kita bakal bantu kok, Tenang aja,”

Menghela nafas. “Iya deh,”

Tayar mengambil stempel kerajaan Banadis dari tempat penyimpanan.

 

 

 

XLII

Esok harinya,

 

Tuan Rakat sudah normal lagi.

Tapi keseimbangan mentalnya belum sempurna.

Kabut pekat pun masih menutupi kesadaran laki – laki terhormat itu.

 

Tuan Rakat masuk ke ruang kerja.

Para bos distrik yang sedang santai – santai terkesiap.

Mereka segera berbaris rapi di depan meja kerja.

Tuan Rakat duduk di kursi itu. “Mana dokumen yang harus saya tanda tangani?”

Para bos distrik saling pandang. Mereka tampak sedikit ketakutan.

Sambil takut – takut Tayar berucap, “Maaf, Tuan Rakat,, Semua dokumen itu sudah saya tanda tangani.”

“Apa?!, Lancang kamu, Tayar!”

Seketika pedang di tangan kiri Tuan Rakat dihunuskan.

Tayar tampak pasrah.

Para bos distrik pun terlihat pucat pasi.

“Bahkan kepala kamu itu tidak berharga sama sekali dengan stempel Banadis, Tayar!”

Pedang itu tampak sudah siap memotong leher manusia.

“Ma, ma, maaf, tu, tu, tuan,”

“Apa kamu, Jedeng?! Kamu mau membela orang yang lancang ini!?”

Masih tergagap – gagap. “Sa, sa, saya yang me, me, maksa Ta, Tayar, tuan,”

“Bodoh!” Pedang itu ditebaskan ke arah meja.

Sontak meja kayu itu tertancap dalam oleh bilah pedang.

Saking marahnya Tuan Rakat sampai membentak orang kesayangannya.

“Kamu tahu tanpa perintah raja stempel itu tidak bisa digunakan sembarangan,!”

“Sa, sa, saya salah, tu, tuan,”

“Iya, tuan,, Kami semua juga ikut andil,”

“Huuhh,,!, Bodoh semua,! Bodoh,!”

Tuan Rakat meninggalkan ruangan dengan marah.

 

 

 

XLIII

Tuan Rakat keluar dari gerbang istana.

Sebuah palu besar tampak dibawa di pundak kanan beliau.

Pandangan mata laki – laki itu terlihat kejam.

Seolah – olah kesadaran Tuan Rakat sedang dikendalikan makhluk lain.

 

Dengan melangkah penuh kemarahan beliau berjalan ke arah timur istana.

 

Orang – orang yang melihat Tuan Rakat tampak ketakutan.

Mereka segera berlari menghindar, masuk ke rumah.

Beberapa pemilik bar tampak menutup lagi tempat usahanya yang baru buka.

Orang – orang yang sedang berjudi pun menghentikan permainannya.

 

Tuan Rakat terus melangkah ke timur istana.

 

Alun – alun Banadis,

Tanpa basa – basi Tuan Rakat mengerahkan segenap tenaganya.

Diporakporandakan tiang – tiang peringatan itu dengan kemarahan beliau.

Panggung pertunjukan tampak berlubang di sana sini oleh hantaman palu besar.

Bahkan patung berlambang logo Banadis tampak retak – retak oleh amarah Tuan Rakat.

 

Beliau tampak tersengal – sengal, kelelahan.

Tanpa pikir panjang palu besar itu dilemparkan begitu saja olehnya.

Untung palu besar itu hanya melubangi sebuah pintu toilet.

Setelah itu Tuan Rakat meninggalkan alun – alun Banadis, menuju dalam istana lagi.

 

 

 

XLIV

“Kayaknya kita harus segera menemukan Yoslin, biar keadaan bisa terkendali lagi,”

“Iya, aku setuju dengan Jedeng,, Kita harus mencari Yoslin,”

“Tapi kita mau cari Yoslin kemana? Orang tiba – tiba aja dia ngilang gitu,”

“Eh, Yar,, Apa Siren nggak tau kemana Yoslin perginya? Biasanya Yoslin kan sama Siren terus,”

“Terakhir Siren lihat Yoslin tu pas pagi – pagi, kayaknya Yoslin menuju rumahnya bu Tuborsi,”

“Hah? Ngapain Yoslin ke rumahnya bu Tuborsi? Apa Yoslin hamil?”

“?? Tapi kan Yoslin sama Tuan Rakat terus ngelayaninya,”

“Mm,, Aku tau nih, kayaknya dia ketakutan sama omongan kamu itu deh Yar makanya dia mungkin kabur dari Banadis,”

“Heh? Apa hubungannya sama aku?”

“Kamu kan sering bilang ke Yoslin kan supaya nggak terlalu deket sama Tuan Rakat, trus mungkin, ini mungkin ya Yoslin hamil anaknya Tuan Rakat, makanya itu Yoslin ketakutan trus kabur dari Banadis.”

“Logikanya Nawang betul juga, Yar,, Menurutmu gimana?”

“Iya juga sih, Aku juga baru ngeh,, Mungkin juga Yoslin hamil anaknya Tuan Rakat, Makanya trus dianya kabur,”

“Kamu juga sih, Yar,, Coba kamu nggak ngancem Yoslin kayak gitu, Ini nggak bakalan terjadi,”

“Eh, gila,, Apa kalian nggak malu kalo punya raja ada main sama cewek penghibur sampai ceweknya hamil gitu?”

“Ya malu juga sihh, tapi cara kamu nggak elegan gitu, Yar,, Kamu kan bisa mengenalkan cewek – cewek bangsawan gitu yang tingkatnya sederajat sama Tuan Rakat.”

“Udah, Ingg,, Udah,, Aku udah kenalkan semua cewek – cewek bangsawan ke Tuan Rakat, tapi Tuan Rakat kayaknya udah seneng banget sama Yoslin, Yaa,, untuk jaga – jaga aja sih maksudku, aku ngancem gitu ke Yoslin,”

“Nha, ini kan ,,”

 

“Bokk,!” Tiba – tiba sebuah kepalan tangan mendarat telak pada pipi kanan Tayar.

 

Sontak, “Hekh, Mampus,! Tuan Rakat,”, ucap Nawang.

“Aduh,! Gesrek ki,”

“Mati beneran ki dewe,”

 

Dengan marah Tuan Rakat mendorong Tayar ke arah meja kerjanya.

“Apa benar yang kamu katakan itu, Tayar?! Apa benar yang kamu katakan itu,!?”

“Jawabb,!!”

“A, a, ampun, Tuan Rakat, Ampun,, Saya ha, ha, hanya menjalankan tugas saja,”

“Tugas apaa!?, Tugas apa, Tayar?!, Tugas apa?! Saya tidak pernah memberikan kamu tugas seperti itu, Apalagi mengatur – ngatur kehidupan pribadiku,”

“Ampun, Tuan,, Ampunn,,”

Dengan penuh amarah Tuan Rakat mencabut pedang yang tertancap di meja.

Para bos distrik tampak tercekam.

Pedang itu tepat diarahkan ke jantung Tayar.

“HAAHH,,!!”, teriak Tuan Rakat.

Sontak, “Tuan Rakat,,! Tolong hentikan, Tuan Rakat,, Saya, saya akan mencari Yoslin untuk tuan, Tolong hentikan, tuan,” Sambil Jedeng menahan lengan Tuan Rakat.

“Mau kamu cari kemana?!, Cepat, jawab,! Kemana kamu mau mencari?, Mungkin saja orang brengsek ini sudah membunuhnya,”

“Saya yakin Yoslin masih hidup, tuan,, Saya yakin itu,, Izinkan saya mencari kekasih tuan itu demi tuan,”

“Huh,” Tuan Rakat membebaskan cekikannya ke Tayar.

Lalu beliau juga membuang pedangnya jauh ke samping kanan.

“Sana, Kamu ikut bersama Jedeng mencari Yoslin, Dan jangan kembali ke sini jika kalian belum menemukan kekasih saya itu, Cepat, pergi,!”

“Iya, tuan, Iya,,”, sahut bos – bos distrik, ketakutan.

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (2)
  • showmat

    @SusanSwansh hahaha,, iya,,

    Comment on chapter Penglihatan Masa Depan
  • SusanSwansh

    Keren ceritanya. Cuma EBI masih cukup berantakan. (Kayak saya) hehe. Semangat.

    Comment on chapter Penglihatan Masa Depan
Similar Tags
My X Idol
17788      3801     5     
Romance
Bagaimana ya rasanya punya mantan yang ternyata seorang artis terkenal? Merasa bangga, atau harus menutupi masa lalu itu mati-matian. Seterkenal apapun Rangga, di mata Nila ia hanya mantan yang menghilang ketika lagi sayang-sayangnya. Meski bagi Rangga, Nila membuat hidupnya berwarna. Namun bagi Nila, Rangga hanya menghitam putihkan hatinya. Lalu, apa yang akan mereka ceritakan di kemudian hari d...
A & O
1843      936     2     
Romance
Kehilangan seseorang secara tiba-tiba, tak terduga, atau perlahan terkikis hingga tidak ada bagian yang tersisa itu sangat menyakitkan. Namun, hari esok tetap menjadi hari yang baru. Dunia belum berakhir. Bumi masih akan terus berputar pada porosnya dan matahari akan terus bersinar. Tidak apa-apa untuk merasakan sakit hati sebanyak apa pun, karena rasa sakit itu membuat manusia menjadi lebih ma...
TeKaWe
1272      735     2     
Humor
bagaimana sih kehidupan seorang yang bekerja di Luar Negeri sebagai asisten rumah tangga? apa benar gaji di Luar Negeri itu besar?
I'm Possible
7343      2205     1     
Romance
Aku mencintaimu seiring berjalannya waktu, perasaanku berubah tanpa ku sadari hingga sudah sedalam ini. Aku merindukanmu seiring berjalannya waktu, mengingat setiap tatapan dan kehangatanmu yang selalu menjadi matahariku. Hingga aku lupa siapa diriku. -Kinan Katakan saja aku adalah separuh hidupmu. Dengan begitu kamu tidak akan pernah kehilangan harapan dan mempercayai cinta akan hadir tepat ...
Like Butterfly Effect, The Lost Trail
6886      2134     1     
Inspirational
Jika kamu adalah orang yang melakukan usaha keras demi mendapatkan sesuatu, apa perasaanmu ketika melihat orang yang bisa mendapatkan sesuatu itu dengan mudah? Hassan yang memulai kehidupan mandirinya berusaha untuk menemukan jati dirinya sebagai orang pintar. Di hari pertamanya, ia menemukan gadis dengan pencarian tak masuk akal. Awalnya dia anggap itu sesuatu lelucon sampai akhirnya Hassan m...
Intuisi Revolusi Bumi
1251      671     2     
Science Fiction
Kisah petualangan tiga peneliti muda
Panggil Namaku!
9565      2792     4     
Action
"Aku tahu sebenarnya dari lubuk hatimu yang paling dalam kau ingin sekali memanggil namaku!" "T-Tapi...jika aku memanggil namamu, kau akan mati..." balas Tia suaranya bergetar hebat. "Kalau begitu aku akan menyumpahimu. Jika kau tidak memanggil namaku dalam waktu 3 detik, aku akan mati!" "Apa?!" "Hoo~ Jadi, 3 detik ya?" gumam Aoba sena...
Konstelasi
1042      577     1     
Fantasy
Aku takut hanya pada dua hal. Kehidupan dan Kematian.
Too Sassy For You
1775      885     4     
Fantasy
Sebuah kejadian di pub membuat Nabila ditarik ke masa depan dan terlibat skandal sengan artis yang sedang berada pada puncak kariernya. Sebenarnya apa alasan yang membuat Adilla ditarik ke masa depan? Apakah semua ini berhubungan dengan kematian ayahnya?
Abay Dirgantara
8079      2181     1     
Romance
Sebenarnya ini sama sekali bukan kehidupan yang Abay inginkan. Tapi, sepertinya memang semesta sudah menggariskan seperti ini. Mau bagaimana lagi? Bukankah laki-laki sejati harus mau menjalani kehidupan yang sudah ditentukan? Bukannya malah lari kan? Kalau Abay benar, berarti Abay laki-laki sejati.