“Waktu terbaik!”
Sunyi tanpa cahaya rembulan. Suara dengkuran Bapak terdengar bagaikan backsong menutupi ketakutan suara-suara misterius tengah malam. Sesekali ringtone ponsel Amar masih berkicau mengharapkan sahutan yang tak kunjung datang. Aku berani taruhan kalau si pengirim pesan akan terkagum dengan posisi tidurnya saat ini. Tegak lurus terhadap posisi kasur dengan raut wajah kehausan.
Paku yang bengkok 100 derajat menjadi andalan untuk terus bebas di ruangan pribadi. Sejak kunci pintu itu rusak, bapak belum sempat menggantinya apalagi toko besi jauh dari rumah. Tidak ada rotan akar pun jadi, tidak ada kunci paku pun bisa jadi.
Segela susu hangat, keripik kentang dan suasana sunyi yang menenangkan adalah waktu terbaik untuk menikmati berbagai macam cerita. Malam ini sudah aku jadwalkan untuk menelusuri kehidupan Kaori dan Kousei yang banjir air mata.
“Ah, pasti dia bohong” ujarku di menit-menit awal perkenalan Kaori. Bukan tanpa alasan, menimbang dari judul dan tokoh utamanya sudah bisa dipastikan kalau akan ada kebohongan di cerita ini.
Beethoven, Mozart, Chopin. Aku mulai mengerti beberapa alunan musik yang sering terdengar di mainan piano jaman dulu hingga yang ada di kotak musik. Lembut, hangat, kekacauan dan amarah di tiap nadanya mengalir menarik emosi untuk tiap adegannya.
Seharusnya pecinta musik klasik berterimakasih pada para staf yang mengerjakan cerita ini. Berkat mereka, aku yang selalu berpikir “apa bagusnya musik tanpa lirik” ini jadi mengerti emosi tiap alunan tangga nada dan ingin tahu lebih banyak lagi.
“Menjadi tidak peka itu menyedihkan”.
Sifat tokoh utama yang klasik selalu berhasil membuatku geram dan berteriak agar mereka segera sadar. Parahnya Kousei justru terus terhanyut dalam keseharian dan perasaannya, baik sebelum hingga setelah dia menyadari kehadiran seseorang yang ternyata lebih penting dari traumanya sendiri.
Romansa yang membingungkan dimana orang lain tahu apa yang diinginkan kedua tokoh utama sedangkan mereka terus menyangkalnya. Mengapa manusia selalu melakukan sesuatu yang menyakiti diri mereka sendiri? Pertanyaan itu bagaikan sebuah misteri dunia yang belum terpecahkan. Teoriku adalah karena manusia ingin menjadi pahlawan yang mengorbankan diri senidiri walaupun mereka sadar dengan ketidakmampuan mereka.
Konflik cerita terus memuncak hingga mereka berterus terang satu sama lain. Air mata dari dalam dan dari luar layar bercucuran di tiap detiknya. Sejujurnya, jika aku berperan sebagai pengarang cerita ini aku tidak tahu bagaimana cara mengakhiri kisah yang tepat.
Keputusan Kaori Miyazono untuk hidupnya sendiri berhasil menyentuh banyak hati penonton, begitulah hasil survey yang aku lakukan sebelumnya. Hal itu juga cukup berhasil padaku, namun masih ada perasaan mengganjal yang aku pendam.
“Kenapa dia memilih itu padahal dia masih bisa melihat Kousei lebih lama”
Banyak yang bilang kalau ini adalah sad ending, pendapatku ini adalah sad ending yang memaksa jadi happy ending. Masa depan Kousei juga sulit diprediksi kalau petunjuknya hanya seperti ini.
Your Lie in April menambah daftar cerita yang menurutku harus diubah akhir ceritanya. Sebelumnya sudah ada Death Note dan Akame ga Kill! yang masih menempati posisi teratas daftar yang ku buat sendiri.
Setidaknya kisah hidup Kaori benar-benar sukses menguras air mata. Cerita dalam animasi Jepang atau lebih sering dissebut anime memang sulit ditebak. Aku harap produksi anime terus berkembang dan tidak berhenti karena alasan biaya ataupun upah pekerja yang sedang menjadi topik hangat sekarang ini.
Anime, cerpen, novel, film dan cerita hubungan antar manusia selalu memberi berbagai macam nasehat. ‘Katakan selagi ada kesempatan’ adalah salah satu yang paling sering bahkan selalu muncul sebagai nasehat tersirat ataupun tidak. Kalimat itu adalah yang paling mengganggu untukku yang sulit jujur pada orang lain dan terus berusaha mengelabui diri sendiri.
Orang-orang di sekitarku selalu berkata bahwa aku adalah orang yang jujur karena selalu mengatakan hal-hal yang mungkin tidak bisa dikatakan orang lain dalam kondisi tertentu. Misalnya saat ada anggota dalam tim yang tidak mau bekerja, orang Indonesia umumnya akan kesulitan untuk menegur mereka terkadang malah kesuiitan untuk sekedar mengajak mereka bekerja.
Aku tidak begitu peduli dengan tanggapan orang lain tentangku, jika aku sedang berada dalam kasus itu aku biasanya akan mendekati si pelaku dan berkata “Eh, tolong angkatin barang itu dong! Kan kamu laki-laki pasti kuat”. Atau saat ada yang ingin menegur mereka dengan sindiran halus, aku justru langsung mengatakannnya dengan kalimat yang mudah dipahami misalnya “Makan terus, pantesan aja gemuk. Bantu sini sekalian olahraga ”. Aku juga sering menggunakan kalimat yang menusuk tajam walaupun tidak menggunakan kata-kata kasar dan umpatan, begitu pendapat mereka.
Aku anggap itu sebagai suatu anugrah, tapi selalu ada kekurangan dibalik kelebihan seseorang. Walaupun bisa berterus terang untuk berbagai macam hal, aku juga memiliki sesuatu yang tidak bisa kukatakan pada orang lain. Terutama tentang romansa.
Seorang teman pernah berkata aku seperti robot yang bekerja di depan komputer. Aku rasa itu sindiran halus tentang pribadiku sebagai manusia karena aku bisa langsung megatakan sesuatu yang aku lihat tapi tidak pernah mengatakan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan. Ada juga yang mengira aku tidak pernah jatuh cinta apalagi menangis. Ada keyakinan dalam diriku kalau mereka tak pernah menganggapku spesial karena aku tak pernah menunjukkan perhatian, kasih sayang dan emosi pada mereka.
Aku tidak menyalahkan mereka untuk pendapat itu karena itulah yang aku mau, awalnya. Aku selalu bersembunyi ketika akan menangis, menahan bahagiaku yang meluap-luap, menyangkal amarah terhadap tindakan seseorang padaku, tidak pernah membahas mengenai cinta, tidak pernah mengatakan rindu dan sayang.
Sejujurnya, aku hanya malu untuk menunjukkan sikapku yang seperti itu. Aku juga ingin menghindari konflik sia-sia yang mungkin terjadi dengan menutupi perasaanku sendiri, kadang aku sampai membohongi diriku dengan kemungkinan lain. Misalnya saja saat hari kelulusan sekolah, teman-temanku pasti mengatakan kalau mereka sedih dan akan sangat kesepian tanpaku. Tapi aku selalu berpikir bahwa itu hanya basa-basi, aku yakin dalam beberapa bulan mereka sudah menemukan sesuatu yang lebih berharga dan segera melupakan tentangku.
Sikap dan pemikiran seperti itu sudah ada sejak aku SMP setelah aku mendapat perlakuan yang membuatku sakit hati. Kala itu, aku yang masuk di kelas khusus diperlakukan seperti pesuruh karena status ekonomi yang berbeda. Setelah satu tahun, aku yang tidak sadar dengan perlakuan mereka diperingatkan oleh murid kelas lain. Karena itu sikap dan pemikiranku yang polos mulai aku ubah. Aku ingin terlihat kuat dan tanpa celah dihadapan orang lain, aku juga tak ingin mereka terlalu bergantung dengan keberadaanku.
Cara itu berhasil dan semakin berguna di tahun terakhirku di SMP. Mereka yang dulunya bersikap layaknya penguasa berubah menjadi pengemis ilmu saat berhadapan denganku. Ketakutan tidak lulus ujian sekolah dan ujian masuk SMA menghantui mereka setelah hasil uji coba keluar. Berada di kelas khusus memang tak menjamin apapun walau sudah diberi segalanya. Aku juga mulai menikmati perubahan baru dalam diriku.
Semuanya berubah ketika dia datang dalam hidupku. Tiba-tiba datang sebagai penyelamat sekaligus pelukis hidup yang monoton saat aku mulai kehilangan emosiku. Dia seperti Kaori untukku,mewarnai hidup Kousei Arima yang monoton.
Tubuhnya pendek dan berisi, aku kira dia gemuk tapi ternyata itu adalah otot seseorang yang rajin olahraga. Cara bicaranya aneh karena giginya tidak pernah terlihat, wajah yang pas-pasan bahkan tidak masuk dalam kategori tampan dan manis. Dia termasuk laki-laki yang pintar diantara orang-orang bodoh namun paling bodoh diantara orang-orang pintar. Dia adalah orang yang selalu bangga dengan dirinya dan apapun yang dia punya.
Latar belakang dan fisik yang sama sekali tidak berpotensi menjadi idola, tapi auranya unik hingga seluruh sekolah mengenalnya. Jika menyebutkan nama Hendri, semua orang akan merespon baik itu guru, murid, tukang kebun, ibu kantin, satpam hingga alumni . Benar-benar keberadaan manusia yang unik.
Aku mengenalnya saat di SMA, kami berada di kelas dan lima organisasi/ekskul yang sama. Ekstrakulikuler di sana memang tidak terlalu sibuk namun punya agenda yang terjadwal, bukan hal yang mustahil untuk bergabung dengan banyak ekskul sekaligus.
Aku yang tidak tertarik dengan Hendri juga terkejut dengan berbagai kebetulan yang terjadi. Aturan masuk ekskul yang tidak begitu ketat membuat beberapa anggota bisa masuk kapan saja. Misalnya aku yang bergabung menjadi anggota Pramuka sebulan setelah Hendri atau Hendri yang masuk ekskul Jurnalistik dua bulan setelah aku resmi mendaftar.
Singkat cerita aku jadi tertarik pada Hendri setelah kebersamaan yang seolah tak berujung itu. Kami jadi semakin akrab setiap harinya, banyak yang mengira kalau kami adalah sepasang kekasih. Perasaanku jadi lebih berwarna berkatnya, aku akui aku menyukainya. Tapi aku tidak tau bagaimana Hendri memandangku karena sikap ramahnya itu sering dia tunjukkan pada siapapun. Aku jadi tak mengerti apakah aku pantas menganggap diriku spesial untuknya.
Waktu yang aku habiskan bersama Hendri menciptakan pribadi yang lebih manusiawi dan penuh energi. Setidaknya aku ingin berterimakasih dan menjelaskan jasanya pada hidupku selama ini. Namun aku tidak pernah bisa mengatakannya.
Tiga tahun sejak kelulusan SMA, sesekali aku masih bertemu dengan Hendri karena kami menempuh jalan yang berbeda sekarang. Setiap melihat Hendri aku terkagum dengan pertumbuhannya yang lambat, dia tidak bertambah tinggi sejak SMA. Sekitar lima sentimeter lebih tinggi dariku, tidak berubah sama sekali.
Layaknya tinggi Hendri tidak ada yang berubah dengan hubunganku denganya, justru terkesan menurun karena jarang bertemu. Aku belum juga mengatakan perasaanku padanya, bahkan berterima kasih saja sulit aku lakukan. Status Hendri yang sedang menjalin hubungan dengan orang lain terus menjadi alasanku untuk tidak berterus terang.
“Katakan selagi ada kesempatan”
Kalimat yang terus menusukku. Aku terus mengutuk sifatku yang tidak bisa jujur ini. Hidup penuh warna yang Hendri berikan dulu kini bagaikan mimpi yang terus memudar keberadaannya. Aku sadar kalau aku harus segera berterimakasih padanya tak peduli bagaimanapun ending-nya nanti. Namun keraguan dan ketakutan terus menghantuiku tiap aku ingin membulatkan tekad itu.
Aku takut dengan efek jangka panjang yang akan menanti jika aku berterus terang pada Hendri. Bagaimana jika pernyataanku justru memperumit masalah pribadinya, beban pikirannya? Jika ditolak, bagaimana sikap yang harus aku tunjukkan saat bertemu dengan Hendri ke depannya? Apakah kami masih bisa bertema tanpa beban? Apakah dia bisa terus menganggapku sebagai teman?
Aku iri dengan Kaori yang bisa berbohong unuk mengatakan semua kebenaran itu. Kalau jelas akan mati setelahnya, pasti akan lebih mudah untuk jujur. Kalau hanya itu satu-satunya kesempatan yang dimiliki karena akan segera mengakhiri hidup, aku tak perlu mencemaskan masa depan lagi.
‘Take a moment and make it best’
Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan moment itu? Bagaimana aku bisa tahu kalau dia siap dengan apa yang akan aku katakan? Bagaimana aku tahu kalau itu adalah cara terbaik untuk membuat moment yang sempurna untuk berterimakasih padanya?
Efek jangka panjang karena kemungkinan masih bisa hidup sampai tua menjadi ketakutanku untuk berterus terang dan hidup lebih jujur. Namun kemungkinan hidup yang tidak panjang terus mendorongku untuk menemuinya.
Begitulah narasi panjang yang masuk dalam pikiranku saat menonton, mendengarkan dan membaca cerita romansa hubungan antara manusia. Satu cinta yang belum aku selesaikan sampai saat ini, aku sudah membulatkan tekad untuk memberitahukan pada dunia tentang apa yang aku mau dan apa yang aku rasakan. Sejujurnya aku malu terus-terusan berkutat dengan konflik masa muda saat usia yang sudah menginjak kepala dua.
Keraguan melakukan sesuatu dan mengurung diri karena takut tersakiti, padahal masih ada kemungkinan lain yang pasti akan membuat hidupmu lebih berarti. Aku benar-benar harus berterimakasih pada pengarang cerita yang tidak henti menyadarkanku untuk mengambil tindakan dan berhenti berdiam diri, untuk menghadapi dan berhenti melarikan diri.
Senja yang berjalan lebih lama mendukungku untuk mengungkapkan segalanya. Lima Mei saat ulang tahun Hendri yang ke-21, bersamaan dengan kejutan ulang tahun yang sudah direncanakan ini aku selipkan sebuah video dalam kado Hendri. Aku memintanya untuk menonton video itu seorang diri dengan alasan malu. Walau sebenarnya aku hanya ingin menghindari konflik dengan wanita yang menggandeng tangannya saat ini.
Wajah tak bisa membendung kebahagiaan terpancar dari Hendri, aura uniknya terasa sangat hangat menyambut kejutan kami. Aku memberinya kado berupa kolase foto yang aku buat sendiri, saat berjabat tangan aku berbisik pada Hendri “di dalamnya ada CD berisi rekaman rahasia”.
Persahabatanku dengan Hendri sejak SMA bukan sekedar omong kosong belaka, aku tahu jika dia akan menerima permintaanku ini. Bau telur dan terigu yang menumpuk di rambutnya membuatku lapar dan ingin segera memakannya. Hasratku terhenti saat kekasihnya melirik ke arah kami. Segera aku memoles wajah Hendri dengan tepung terigu yang sejak tadi aku genggam di tangan kiriku.
Selepas adzan Maghrib, aku dan ketiga orang temanku yang lain berpamitan meninggalkan Hendri di kosnya untuk berbenah diri. Singkat namun menyenangkan, pertemanan yang aku dapatkan ini juga datang dari Hendri. Dia satu-satunya yang terus-terusan berani berurusan denganku saat orang lain tak tahan denganku, berkat aura uniknya mereka juga mengerti dan bisa berhadapan denganku. Aku seolah ditarik ke dalam lingkaran mereka.
Aku memutuskan untuk menerima efek jangka panjang yang menantiku, apapun itu meski mempermalukan diriku sendiri, walau harus merelakan posisiku di hidup mereka. Video tigapuluh menit yang sudah aku ringkas untuk menyampaikan rasa terima kasih dan kegelisahan yang menghantui setiap aku bergesekan dengan romansa anak muda.
Sekarang aku hanya tinggal menunggu reaksi apa yang akan diberikan Hendri setelahnya.
KILLOVE
6140
2228
0
Action
Karena hutang yang menumpuk dari mendiang ayahnya dan demi kehidupan ibu dan adik perempuannya, ia rela menjadi mainan dari seorang mafia gila. 2 tahun yang telah ia lewati bagai neraka baginya, satu-satunya harapan ia untuk terus hidup adalah keluarganya.
Berpikir bahwa ibu dan adiknya selamat dan menjalani hidup dengan baik dan bahagia, hanya menemukan bahwa selama ini semua penderitaannya l...
Be Yours.
3660
1806
4
Romance
Kekalahan Clarin membuatnya terpaksa mengikuti ekstrakurikuler cheerleader. Ia harus membagi waktu antara ekstrakurikuler atletik dan cheerleader. Belum lagi masalah dadanya yang terkadang sakit secara mendadak saat ia melakukan banyak kegiatan berat dan melelahkan. Namun demi impian Atlas, ia rela melakukan apa saja asal sahabatnya itu bahagia dan berhasil mewujudkan mimpi. Tetapi semakin lama, ...
Perahu Waktu
533
386
1
Short Story
Ketika waktu mengajari tentang bagaimana hidup diantara kubangan sebuah rindu. Maka perahu kehidupanku akan mengajari akan sabar untuk menghempas sebuah kata yang bernama rindu
Antara Rasa
2
2
1
Mystery
P.S: Edisi buku cetak bisa Pre-Order via One Peach Bookstore (Shopee & Tokopedia). Tersedia juga di Google Play Books. Kunjungi blog penulis untuk informasi selengkapnya https://keeferd.wordpress.com/
Menjelang hari pertunangan, Athifa meratap sedih telah kehilangan kekasihnya yang tewas tertabrak mobil. Namun jiwa Rafli tetap hidup dan terperangkap di alam gaib. Sebelum Grim Reaper akan memba...
Perhaps It Never Will
7559
2814
0
Romance
Hayley Lexington, aktor cantik yang karirnya sedang melejit, terpaksa harus mengasingkan diri ke pedesaan Inggris yang jauh dari hiruk pikuk kota New York karena skandal yang dibuat oleh mantan pacarnya. Demi terhindar dari pertanyaan-pertanyaan menyakitkan publik dan masa depan karirnya, ia rela membuat dirinya sendiri tak terlihat.
William Morrison sama sekali tidak pernah berniat untuk kem...
Dikejar Deretan Mantan
628
400
4
Humor
Dikejar Deretan Mantan
(Kalau begini kapan aku bertemu jodoh?)
Hidup Ghita awalnya tenang-tenang saja. Kehidupannya mulai terusik kala munculnya satu persatu mantan bak belatung nangka. Prinsip Ghita, mantan itu pantangan.
Ide menikah muncul bagai jelangkung sebagai solusi. Hingga kehadiran dua pria potensial yang membuatnya kelimpungan. Axelsen, atau Adnan. Ke mana hati berlabuh, saat ken...
Praha
374
248
1
Short Story
Praha lahir di antara badai dan di sepertiga malam. Malam itu saat dingin menelusup ke tengkuk orang-orang di jalan-jalan sepi, termasuk bapak dan terutama ibunya yang mengejan, Praha lahir di rumah sakit kecil tengah hutan, supranatural, dan misteri.
LOVEphobia
490
340
4
Short Story
"Aku takut jatuh cinta karena takut ditinggalkan”
Mengidap Lovephobia? Itu bukan kemauanku. Aku hanya takut gagal, takut kehilangan untuk beberapa kalinya. Cukup mereka yang meninggalkanku dalam luka dan sarang penyesalan.
If Is Not You
12371
3124
1
Fan Fiction
Kalau saja bukan kamu, mungkin aku bisa jatuh cinta dengan leluasa.
***
"Apa mencintaiku sesulit itu, hmm?" tanyanya lagi, semakin pedih, kian memilukan hati.
"Aku sudah mencintaimu," bisiknya ragu, "Tapi aku tidak bisa melakukan apapun." Ia menarik nafas panjang, "Kau tidak pernah tahu penderitaan ketika aku tak bisa melangkah maju, sementara perasaank...
whafsahm








