Loading...
Logo TinLit
Read Story - Unending Love (End)
MENU
About Us  

Hai...

Dengan banyaknya pertimbangan *gak juga sih*. Jadi, UNENDING LOVE akan up date setiap HARI RABU, catat waktunya ya. Karena ini cerita fantasi pertamaku, mungkin universe-nya cukup ancur dan aneh, tapi semoga temen-temen menikmati cerita ini. Jangan lupa klik jempol ke atas, komen bagian mana yang di rasa kurang atau ternyata bagian favorit, juga bagikan cerita ini ke temen-temen kalian.

Salam hangat,

SR

.

.

.

.

Kamar yang lebih gelap dari biasanya itu membuatku sedikit kesusahan untuk menghampiri ranjang besar beserta seseorang yang sedang berbaring dengan gelisahnya. Ada asap hitam mengepul yang muncul dari tubuhnya. Asap itu seperti menyiratkan rasa perih, sedih, dan perasaan tidak nyaman. Aku sedikit terbatuk-batuk ketika menghirup asap itu. Tidak tercium apapun, tapi sangat menusuk ke pernafasan. Aku duduk di sampingnya, wajah laki-laki itu terlihat gelisah, keringat dingin bercucuran di sekujur wajahnya juga tubuhnya.

Aku menempelkan punggung tanganku pada keningnya, panas, sungguh panas. Berbeda sekali dengan keringat dingin yang terus saja mengalir hingga membasahi pakaiannya. Lengan yang sempat terluka itu masih terbungkus perban.

Vampir ini sedang demam.

Aku membuka setiap gorden agar cahaya dari luar bisa menyinari ruangan gelap ini. Lalu aku berlari keluar mengambil wadah dan air dingin juga handuk kecil. Aku kembali dan segera mengompres Axel yang sedang demam. Dan setelah itu, aku menjaga kompresan dan suhu udara Axel kembali normal dan keringat dinginnya mulai menghilang.

Menjelang malam, Axel akhirnya bisa membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah diriku, dan kemudian ia terkejut melihatku sedang mengganti kompresannya.

“Kenapa kau di sini?!” tanyanya tajam, dingin, dan cukup membentak.

Aku mengerjapkan mataku sekilas lalu kembali mengompres Axel yang terlihat marah. Sudah kukatakan bukan, aku memang mulai gila tinggal di tempat ini.

“Kau demam,” kataku dengan tenangnya.

“Aku tahu!”

“Kalau kau tahu seharusnya kau meminta Grine atau yang lain untuk menjagamu!”

“Aku tidak butuh!”

“Kenapa?”

Axel kemudian bangkit, lalu duduk menghadap ke arahku.

“Dimana Grine dan semua pelayan? Aku akan memecat mereka.”

“Hei!!!”

Aku menahan tubuh Axel yang sepertinya akan pergi menemui Grine dan para pelayan.

“Kenapa kau memecat mereka?”

“Karena mereka tidak becus menjagamu dan justru masuk di saat aku sedang demam.”

“Loh, memangnya apa yang salah dengan hal itu?”

“Kau bisa terbunuh olehku.”

Aku menatap kedua mata tajam itu, tidak ada sebaris kebohongan di dalamnya. Yang kurasa justru perasaan cemas dan kalut yang tergambar dalam tatapannya.

“Kenapa?”

Axel menghela nafasnya, kemudian ia menyandarkan tubuhnya.

“Keadaanku belum seratus persen normal, jadi simpan pertanyaanmu itu nanti. Aku cukup lelah sekarang.”

“Kalau begitu kau makan bubur ini. Biasanya jika aku sakit, aku selalu membuat bubur. Makanlah selagi masih hangat.”

Aku merasa tidak enak, pertolonganku sepertinya tidak menolong apapun padanya.

“Kau membuatnya sendiri?”

“Iya.”

Terdengar helaan nafas darinya.

“Aku akan benar-benar memecat seluruh pelayan, termasuk Grine.”

“Axel!!! Mereka tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini. Aku yang keras kepala ingin membuatkanmu bubur, aku sendiri yang memaksa masuk ketika semua orang melarangku, aku yang berinisiatif untuk menjagamu. Aku hanya tidak bisa baik-baik saja mendengar seseorang kesakitan, terlebih kau sudah mau mencari keberadaan ayahku. Aku hanya ingin membalas budi.”

Aku menunduk. Aku tidak tahu harus bagaimana, aku hanya tidak tahan, tapi justru lagi-lagi aku mengacaukan tempat ini.

“Tolong jangan salahkan mereka. Mereka sudah bekerja keras. Kumohon!”

Aku mendengar suara desahan panjang nafas Axel.

“Suapi aku.”

“Hah?”

“Suapi aku. Tubuhku benar-benar kelelahan sekarang.”

Jika itu bisa menarik kembali keputusannya, akan kulakukan.

Setelah perdebatan kami, Axel hanya menyantap suapan demi suapan bubur yang kuberikan. Dalam keheningan yang lagi-lagi melewati takdir kami.

Ada yang berubah darinya, wajah Axel terlihat semakin tegas, dan suaranya menjadi lebih berat dari biasanya.

“Ini ulangtahunmu yang keberapa? 528?” tebakku.

“533.”

Sepertinya aku memang ahli menebak usia bangsa vampir.

“Apa aneh jika aku mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu?” tanyaku.

“Vampir melewati ulang tahunnya dengan rasa sakit, seperti ditusuk ribuan jarum di setiap selnya. Perubahan tubuh kami yang tidak sesuai dengan usia kami, juga energi yang semakin besar sementara tubuh sedang berusaha beradaptasi dengan usia yang semakin tua, membuat energi tersebut tidak terkendali dan bisa membunuh siapapun yang berada di sekitarnya.”

“Energi? Maksudmu seperti asap hitam yang tadi keluar dari tubuhmu?”

“Itulah energi yang tidak terkendali. Kau bisa terbunuh jika berdekatan dengan asap itu.”

Tapi aku baik-baik saja tadi.

“Maafkan aku,” kataku menyesal.

Seharusnya ulang tahun seseorang dirayakan dengan suka cita bersama orang-orang tersayang, tapi yang terjadi padanya justru pengorbanan dan rasa sakit.

Setelah bubur itu kandas isinya, aku mengambil barang-barang yang kubawa dan keluar dari kamarnya. Namun Axel menahanku.

“Ulang tahunmu kapan?” tanyanya.

Waktu di dunia manusia dan di dunia vampir ini memang sama. Jika hari ini, 2 Desember adalah ulang tahun Axel, maka dua puluh satu hari kemudian adalah ulang tahunku.

“23 Desember. Dua hari sebelum perayaan Natal. Umm, kurang lebih dua minggu lagi.”

“Bagaimana perayaan ulang tahun manusia?”

Aku kembali meletakkan barang-barangku, lalu kembali duduk di sampingnya.

“Aku tidak benar-benar merayakan ulang tahunku seperti kebanyakan orang. Tapi biasanya orang yang berulang tahun akan meniup lilin di atas kue ulang tahun yang penuh dengan dekorasi cantik dan manis. Lalu orang-orang yang menyukainya datang memberikan selamat dan kado yang berisi barang-barang yang biasanya diinginkan oleh orang yang berulang tahun. Intinya, di hari itu, orang tersebut menjadi sangat dispesialkan.”

“Terdengar menyenangkan.”

“Sangat menyenangkan.”

“Lalu kau sendiri bagaimana?”

“Aku? Bagaimana ya? Setiap hari yang kulalui adalah aktivitas yang menyibukkan sampai-sampai aku lupa merayakan ulang tahunku sendiri. Biasanya aku merayakan ulang tahunku dengan menonton film yang sedang tayang di bioskop sendirian. Rasanya tak kalah menyenangkan juga.”

“Film romansa seperti Me Before You atau Fifty Shade,” tebak Axel dengan nada meremehkan.

Aku terkejut mendengar Axel menyebutkan beberapa film yang pernah tayang tersebut. Apalagi film tersebut baru-baru ini diputar. Aku menyanggah ucapannya dengan penuh semangat.

“Tidak!!! Aku tidak pernah menonton film semacam itu. Lagipula kenapa kau tahu film-film manusia?”

“Ada dua hal yang membuatku tertarik pada manusia. Pertama, senjata yang mereka buat. Kedua, film yang mereka putar.”

“Sekali lagi kau membuatku terkejut.”

“Marvel adalah yang terbaik.”

“Sepanjang masa. Menurutku begitu,” kataku menambahkan kalimatnya.

“Kau menonton itu juga?”

“Hampir semua populasi manusia mengetahui film-film Marvel. Setidaknya satu atau dua judul filmnya.”

“Iron Man luar biasa. Kostum buatan manusia yang bisa terbang dan menembakkan senjata.”

“Tony Stark sangat, sangat, sangat luar biasa!!!”

Axel seperti bangsa vampir elegan yang tak acuh dan tidak memiliki ketertarikan terhadap suatu hal, kecuali darah mungkin. Tapi melihat bagaimana kami bisa menceritakan kekaguman kami pada film-film di dunia manusia, membuat perasaan canggung yang sempat kurasakan menguar begitu saja. Dan waktu berlalu tanpa permisi.

Dari obrolan mengenail perfilman, bagaimana caranya kami mulai membahas buku-buku yang kami baca. Axel ternyata sering membaca koleksi buku-buku yang dimiliki Grine dari dunia manusia.

“Grine bahkan punya buku William Shakespears cetakan pertama.”

“Mustahil?” Aku tidak percaya dengan ucapannya.

“Romeo dan Juliet, cerita cinta klasik yang kini banyak orang yang terinspirasi darinya. Tapi yang terbaik adalah Hamlet”

“Romeo dan Juliet adalah maestro.”

Axel tidak membalas ucapanku. Ia justru memandangiku terus menerus, membuatku jadi salah tingkah.

“Ada apa?” tanyaku.

“Bukankah Grine memberitahumu ruang perpustakaan.”

“Ruang perpustakaan?”

“Ada sebuah ruang perpustakaan di dalam ruangan kerjaku. Grine tidak memberi tahumu?”

“Tidak, kami tidak memasuki ruanganmu. Kukira kau tidak suka tempat pribadimu di datangi seseorang yang tak diundang.”

“Seperti kamarku yang kedatangan seorang perempuan?”

Axel menatapku lekat-lekat. Aku tahu maksudnya adalah menyindir keberadaanku.”

“Maaf jika aku seenaknya datang ke tempat pribadimu!”

Kali ini aku benar-benar mengambil barang-barang yang kubawa lalu pergi meninggalkannya. Tapi lagi-lagi Axel menahanku.

“Ada apa lagi?!” tanyaku ketus.

“Malam ini kau tidur di sini lagi. Aku belum selesai bercerita.”

Aku menelan ludah. Axel sepertinya tahu jika aku pernah bermalam bersamanya.

“Memangnya… apalagi yang ingin kau ceritakan?”

“Kupikir kau akan tertarik mendengar semua buku yang dikumpulkan Grine beratus-ratus tahun lamanya.”

Waktu itu aku panik karena berakhir di kamar seorang pria. Lalu kini pria itu membuatku ragu-ragu untuk keluar dari kamarnya.

“Kita berdua pasti akan begadang. Dan kondisiku bisa saja kembali demam, aku ingin kau merawatku lagi.”

“Baiklah. Tapi jangan berbuat hal yang tidak-tidak,” ancamku. Menyerah dengan bujukannya.

“Kau sudah terlanjur merawaktu. Kenapa tidak melakukannya sampai akhir? Aku tidak suka orang yang bekerja setengah-setengah.”

Lagi pula ia mengikrarkan jika kami akan menghabiskan malam kami dengan berbincang sekaligus merawatnya. Aku mungkin bisa memegang janjinya itu.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (3)
  • ShiYiCha

    Whoaa ... Seruu ini. Aku suka😍. Minim typo juga. Liked

    Comment on chapter #1 Hari Perjumpaan
  • cintikus

    @YantiRY Hai, makasih ya udah membaca tulisanku. Chapter-chapter selanjutnya sudah siap menanti :)

    Comment on chapter #1 Hari Perjumpaan
  • YantiRY

    Like. Ditunggu chapter2 berikutnya.

    Comment on chapter #1 Hari Perjumpaan
Similar Tags
Because Love Un Expected
34      31     0     
Romance
Terkadang perpisahan datang bukan sebagai bentuk ujian dari Tuhan. Tetapi, perpisahan bisa jadi datang sebagai bentuk hadiah agar kamu lebih menghargai dirimu sendiri.
Gray November
4554      1810     16     
Romance
Dorothea dan Marjorie tidak pernah menyangka status 'teman sekadar kenal' saat mereka berada di SMA berubah seratus delapan puluh derajat di masa sekarang. Keduanya kini menjadi pelatih tari di suatu sanggar yang sama. Marjorie, perempuan yang menolak pengakuan sahabatnya di SMA, Joshua, sedangkan Dorothea adalah perempuan yang langsung menerima Joshua sebagai kekasih saat acara kelulusan berlang...
KESEMPATAN PERTAMA
635      443     4     
Short Story
Dan, hari ini berakhir dengan air mata. Namun, semua belum terlambat. Masih ada hari esok...
Palette
7723      3292     6     
Romance
Naga baru saja ditolak untuk kedua kalinya oleh Mbak Kasir minimarket dekat rumahnya, Dara. Di saat dia masih berusaha menata hati, sebelum mengejar Dara lagi, Naga justru mendapat kejutan. Pagi-pagi, saat baru bangun, dia malah bertemu Dara di rumahnya. Lebih mengejutkan lagi, gadis itu akan tinggal di sana bersamanya, mulai sekarang!
Delilah
10003      2368     4     
Romance
Delilah Sharma Zabine, gadis cantik berkerudung yang begitu menyukai bermain alat musik gitar dan memiliki suara yang indah nan merdu. Delilah memiliki teman sehidup tak semati Fabian Putra Geovan, laki-laki berkulit hitam manis yang humoris dan begitu menyayangi Delilah layaknya Kakak dan Adik kecilnya. Delilah mempunyai masa lalu yang menyakitkan dan pada akhirnya membuat Ia trauma akan ses...
RUANGKASA
69      63     0     
Romance
Hujan mengantarkan ku padanya, seseorang dengan rambut cepak, mata cekung yang disamarkan oleh bingkai kacamata hitam, hidung mancung dengan rona kemerahan, dingin membuatnya berkali-kali memencet hidung menimbulkan rona kemerahan yang manis. Tahi lalat di atas bibir, dengan senyum tipis yang menambah karismanya semakin tajam. "Bisa tidak jadi anak jangan bandel, kalo hujan neduh bukan- ma...
Pesona Hujan
1241      703     2     
Romance
Tes, tes, tes . Rintik hujan kala senja, menuntun langkah menuju takdir yang sesungguhnya. Rintik hujan yang menjadi saksi, aku, kamu, cinta, dan luka, saling bersinggungan dibawah naungan langit kelabu. Kamu dan aku, Pluviophile dalam belenggu pesona hujan, membawa takdir dalam kisah cinta yang tak pernah terduga.
The World Between Us
2716      1250     0     
Romance
Raka Nuraga cowok nakal yang hidupnya terganggu dengan kedatangan Sabrina seseorang wanita yang jauh berbeda dengannya. Ibarat mereka hidup di dua dunia yang berbeda. "Tapi ka, dunia kita beda gue takut lo gak bisa beradaptasi sama dunia gue" "gue bakal usaha adaptasi!, berubah! biar bisa masuk kedunia lo." "Emang lo bisa ?" "Kan lo bilang gaada yang gabis...
PROMISE
718      532     2     
Short Story
ketika sebuh janji tercipta ditengah hubungan yang terancam kandas
Noterratus
3022      1362     4     
Mystery
Azalea menemukan seluruh warga sekolahnya membeku di acara pesta. Semua orang tidak bergerak di tempatnya, kecuali satu sosok berwarna hitam di tengah-tengah pesta. Azalea menyimpulkan bahwa sosok itu adalah penyebabnya. Sebelum Azalea terlihat oleh sosok itu, dia lebih dulu ditarik oleh temannya. Krissan adalah orang yang sama seperti Azalea. Mereka sama-sama tidak berada pada pesta itu. Berbeka...