Loading...
Logo TinLit
Read Story - Under The Same Moon
MENU
About Us  

Feya menggosokkan kedua telapak tangan, berharap dingin segera hengkang dari tubuh mengigilnya. Suhu sore itu menyentuh angka -14 derajat celcius, angka yang cukup untuk bisa membekukannya. Sekali lagi, ia rapatkan mantel musim dingin hijau tua sambil mengembuskan napas beruap.

Batu hitam yang tertutup salju di depan Feya terlihat seperti lorong cakrawala gelap yang indah dengan lampu-lampu bercahaya kuning di sekitar sebagai bintangnya. Beberapa pasangan terlihat bergandengan tangan, berjalan bersisian, dan saling menghangatkan dengan tawa. Di dalam lorong batu hitam yang disebut Stone Church itu, tampak siluet orang-orang yang berciuman layaknya adegan film.

Pipi Feya berdenyut risih sebagai tanggapan. Normalnya, pengunjung yang datang ke sini berpasang-pasangan. Lain halnya dia; datang dengan harapan tanpa keyakinan bahwa seseorang akan datang menepati janjinya. Napasnya berembus lagi, lebih dalam dan menyesakkan.

“Ini yang terakhir ...” suara bass di ujung telepon terdengar memohon. Feya menghela napas berat. Seketika itu pula pertahanan yang coba ia banguna selama berhari-hari, runtuh begitu saja. Ia tidak tahu ke mana pendiriannya berlarian tunggang langgang.

“Sungguh ini yang terakhir?”

Laki-laki di ujung telepon mengangguk mantap walaupun ia tahu, wanita itu takkan bisa melihatnya. Setelah itu, mereka terdiam cukup lama, hingga laki-laki itu memutuskan tempat pertemuan mereka.

“Sabtu sore jam empat di Stone Church Naka-Karuizawa. Bagaimana?”

Feya berpikir sejenak. Menimang apakah lelaki yang dicintainya selama tiga tahun belakangan itu bersungguh-sungguh mengatakannya. Namun pada akhirnya, ia kalah oleh perasaannya sendiri. Sambil memutar cincin bertatahkan berlian biru mungil di tangan kanannya, ia mengangguk. Mengambil keputusan. “Oke.”

***

“Kau selalu mengingkari janji!”

Suatu waktu, gadisnya berteriak di telepon. Teriakan yang menyembunyikan isak tertahan. Alfa menggigit bibir. Hal yang paling dibencinya di dunia ini adalah mendengar tangisan seorang wanita, meskipun Feya tidak benar-benar menampakkannya. Ia merasa bersalah. Sungguh, tapi ia tidak bisa melakukan apapun ketika bos di tempatnya bekerja paruh waktu memberikan kerja lembur padanya.

“Maafkan aku.” Hanya itu yang sempat diucapkan Alfa dengan penuh penyesalan. Gadisnya mulai tergugu.

“Kau tahu ini sudah yang keberapa kali?” Feya bertanya sarkastik.

“Maafkan aku, Feya,”

“Pertama,” Feya tak menggubris permintaan maaf Alfa yang sudah kadaluarsa di telinganya. “kau berjanji menemuiku di Tokyo tower di musim semi, tapi kau tidak datang. Kedua, kau berjanji pergi ke Disneyland bersamaku di musim yang sama, kau juga tidak datang. Musim gugur bulan lalu pun kau mengajakku ke Shirakawa, tapi lagi-lagi kau mengingkarinya. Sebenarnya ...” Feya berhenti sejenak, menyeka air mata dengan punggung tangan, “apa yang kau mau?”

Alfa mendengar suara Feya yang putus asa. Wanita yang telah membuatnya kalang kabut karena cinta itu, ia sakiti. Separah ini. Ia menyesal karena berulang kali mengingkari janji, tapi sekali lagi bukan itu yang dia mau.

“Feya—“

“Sudah, Fa. Jangan hubungi aku lagi. Kita ... tidak ada hubungan apapun lagi.”

Sambungan telepon terputus. Tubuh Alfa perlahan merosot ke lantai kayu indekosnya. Ia menggenggam gagang telepon dengan erat, berharap amarahnya bisa terkonduksi. Sayangnya, hatinya begitu sakit. Dari sekian makian yang mungkin ia dapatkan dari Feya atas kesalahannya, kalimat itulah yang paling tidak ingin didengarnya. Ia punya alasan untuk segala keingkarannya, tapi mulut itu hanya mengatup, kemudian bergetar tanpa mampu menjelaskan apapun. Ia memang salah, mungkin ia hanya terlalu mencintai wanita yang dua tahun lebih muda darinya itu.

***

Feya melirik jam tangan. Pukul empat lewat lima belas menit. Ia mendengus. Setelah setahun berada di Jepang untuk melanjutkan studi dengan beasiswa, ia masih tidak habis pikir Alfa masih tidak bisa menepati waktu. Feya memasukkan tangannya ke saku mantel. Tanpa sengaja, jemarinya menyentuh sebuah benda bulat kecil yang keras.

“Janji kau tidak akan marah?”

Feya menatap sahabat sekaligus tempat curahan hatinya itu dengan pandangan jenaka.

“Marah soal apa?” Tangan Feya sibuk memotret Kota Tokyo dari ketinggian. Yukio terlihat gelisah, memandang ke segala arah asal bukan pada mata Feya.

Sudah lama Yukio menantikan momen itu. Saat ia dan Feya hanya berdua di dalam Big O, sebuah bianglala di Kota Tokyo. Ia ingin setidaknya hal yang ingin dilakukannya akan menjadi kenangan untuk Feya. Ia tahu mungkin ini bukanlah waktu yang sangat tepat. Feya baru saja menumpahkan kekesalannya soal Alfa pada Yukio dan pernyataan bahwa mereka baru saja putus.

Bukan kesempatan dalam kesempitan yang coba ia ambil di situasi itu, tapi perasaan yang dipendamnya selama beberapa bulan belakangan. Ia menyadari bahwa Feya lebih dari sekedar sahabat untuknya dan ia ingin Feya tahu itu. Sebentar lagi, kapsul mereka akan berada di titik puncak bianglala. Yukio mempersiapkan perasaannya, ia meraih tangan kiri Feya yang bebas dari kamera dan mendekapnya dalam genggaman.

Dada Yukio bergejolak. Ia berasa ingin muntah, tapi ia tahan. Ia tidak mau kenangan itu menjadi kenangan yang menjijikkan bagi Feya.

“Eh, ada apa? Kau takut? Sejak tadi sepertinya kau sangat gugup.” Feya memandangi telapak tangannya yang seolah tersembunyi di balik jemari besar Yukio. Feya usil. Ia arahkan bidikan lensanya tepat ke muka Yukio yang terlihat seperti orang menahan kentut. “Cheese!”

“Apa kamu mau membuatkan sup miso setiap hari untukku?” Yukio bertanya cepat. Hampir-hampir Feya tidak menangkap bahasa Jepangnya.

Ckrik.

Tangan Feya tidak sengaja memencet tombol kamera karena kaget. Tepat setelah Yukio menyelesaikan kalimat tanyanya. Perlahan, Feya menurunkan kamera dari bingkai mata. Ia tercekat, tidak menyangka Yukio akan melamarnya dengan kalimat lama seperti itu. Di saat itu.

***

Alfa bergegas. Ia berlarian demi mengejar shuttle bus di Stasiun Karuizawa. Ia sudah terlambat lima belas menit dari waktu yang dijanjikan. Alfa terengah ketika ia berhasil duduk di dalam bus yang akan membawanya ke Stone Church. Uap napasnya mengepul seperti asap rokok.

Ia terpaksa kembali ke indekosnya ketika menyadari bahwa ia meninggalkan barang paling penting yang harus ia bawa untuk pergi ‘berperang’. Benda yang sudah susah payah ia dapatkan dengan mengorbankan seluruh waktunya hanya untuk belajar dan bekerja. Alfa memasukkan tangan ke saku kanan mantel hitam berbulu coklatnya untuk memastikan bahwa benda itu masih ada di sana. Ia mengibaskan beberapa salju yang menempel di sepatunya.

Sebentar lagi, ia pasti bisa menepati janjinya. Ia takkan mengingkari lagi. Tak ada kerja paruh waktu yang membuatnya lembur atau bos yang sering berteriak padanya setiap kali ia melakukan kesalahan. Dan Feya, ... Alfa tersenyum tipis. Menyembunyikan rasa malunya dengan menggaruk kepala.

***

Feya tidak bisa begitu saja menerima lamaran Yukio. Ia tahu benar perasaannya pada Yukio adalah perasaan sayang pada sosok sahabat. Tapi hatinya jutsru tertambat pada orang seperti Alfa. Feya menundukkan wajahnya. Menyusuri salju putih yang mulai menimbun kedua kakinya yang berbalut sepatu hitam. Feya mengangkat kaki, mengenyahkan tumpukan salju yang membebani.

Ini yang terakhir. Ini yang terakhir.

Feya terus menerus mengulang kalimat itu di dalam hati. Ia sudah bertekad, kalau sampai Alfa mengingkari janjinya lagi, tidak ada alasan baginya kembali pada lelaki itu. Apapun keadaannya. Jika selama ini ia bersikap terlalu lunak, itu karena cinta yang membutakannya. Tapi cinta tidak bisa dipermainkan. Perasaannya bukan padam karena marah, melainkan karena kecewa. Sedangkan Yukio datang dan menjanjikan sebuah pernikahan!

Ia lupa sudah berapa lama sejak ia mendengar lelaki muda yang ingin menikah di Jepang, khususnya di kota besar seperti Tokyo. Dan bukankah adegan lamaran seperti itu yang diimpikan oleh setiap wanita sebelum tidur, termasuk dirinya? Bahwa suatu saat akan ada seorang lelaki, dengan tatapan penuh keyakinan, mengatakan kalau ia ingin menghabiskan hidupnya denganmu?

Puh, Feya terkekeh dalam senyap. Satu hal mudah yang belum pernah ia dapatkan dari Alfa. Dulu, ia mengenal Alfa di negara asal mereka, Indonesia. Mereka mengejar mimpi yang sama yaitu bisa mendapatkan beasiswa ke Jepang. Mimpi yang membawa mereka pada jurang bernama jarak. Membiaskan kekhawatiran mengenai sosok lain di seberang sana yang mungkin membelokkan perasaan salah satu dari mereka atau justru keduanya.

Ia tidak pernah merasa bersahabat dengan jarak, tapi kian hari kata itu kian akrab. Membawakannya janji-janji penuh ingkar dari Alfa.

Feya mendongak lagi, berusaha tak terganggu dengan pasangan-pasangan yang hilir mudik di depannya. Tak jarang ia mendapatkan tatapan aneh karena hanya berdiri mematung, bersandar di sebuah pohon sambil memandang warna hitam Stone Church yang kontras dengan salju.

***

Sial! Alfa mengumpat. Kakinya bergerak-gerak tidak sabar. Stone Church sudah tidak seberapa jauh, tapi mengapa di saat seperti ini, di antara ribuan hari lainnya, shuttle bus yang ditumpangi Alfa mengalami mogok? Mengapa di antara shuttle bus yang bisa ditumpangi, ia menaiki bus yang mogok di tengah jalan?

Alfa bergegas turun dari shuttle bus. Sudah tidak dapat menahan diri. Ia sudah telat lebih dari setengah jam! Jika ia tidak buru-buru, Feya bisa saja meninggalkannya untuk selamanya. Alfa menengok kiri dan kanan begitu keluar dari pintu Bus. Ia berlari sekuat tenaga tanpa mempedulikan teriakan sopir bus yang memintanya kembali ke dalam karena suhu di luar sangat dingin.

Berkali-kali, Alfa melirik jam hitam di pergelangan tangan kirinya. Tampak nama Alfa terukir tepat di tengah. Jam itu adalah hadiah ulang tahun dari Feya untuknya. Alfa tidak bisa tidak berlari walaupun gerakannya semakin melambat karena dingin dan lelah, serta medan yang cukup sulit dengan salju setebal tujuh sentimeter.

“Ini yang terakhir?”

Suara Feya terngingang di kepalanya. Membuatnya menggertakkan gigi untuk melawan dingin.

Kalau Feya pergi, habis sudah riwayatnya. Sia-sia perjuangannya mengumpulkan uang dari paruh waktu selama ini. Alfa merogoh saku kiri mantelnya dan mengeluarkan handphone dengan layar gelap. Berulang kali Alfa memencet tombol pada layar. Nihil. Layar itu masih memantulkan bayangannya sendiri. Sial! Alfa mengumpat lagi.

Alfa sibuk memperhatikan handphone-nya hingga ia tidak fokus pada jalan yang dilaluinya. Ia terpeleset, tepat saat sepatunya menginjak bagian yang licin. Tubuhnya menabrak pagar pembatas jalan dan terjungkal ke jalan raya.

Tiiin Tiiinn!

Alfa sempat menangkap suara yang memekakkan telinga itu. Sebuah mobil tanpa kendali melaju kencang ke arahnya.

***

Feya menggigil. Hari sudah beranjak semakin sore. Feya mendongak, memandang bula yang seolah menertawakannya. Pukul enam sore. Dua jam lamanya Feya menunggu. Ia sudah berusaha menelpon Alfa, tapi handphone lelaki itu sepertinya dimatikan.

“Maaf, Nona. Tempat ini akan segera ditutup.” Seorang petugas tempat itu menghampiri dan berkata dengan nada menyesal.

Feya tersenyum kecut. “Baiklah. Terima kasih.” Begitu Feya mengucapkan itu, petugas itu pergi. Tanpa disuruh dua kali, Feya melangkahkan kaki dengan gontai. Meninggalkan jejak-jejaknya di salju. Bahkan, tumpukan salju di tempat sedari tadi ia berdiri, terlihat lebih tipis daripada yang lain. Mengisyaratkan keteguhan wanita itu menunggu dua jam di tempat yang sama demi seseorang yang tidak akan pernah datang.

Ini yang terakhir.

Air mata telah menggenang di pelupuk mata Feya. Di bawah bulan yang sama, Alfa mengingkari janji. Tidak ada lain kali setelah ini.

Ini yang terakhir.

Air mata itu menganak sungai. Semakin deras ketika dengan pelan, Feya memasukkan cincin bertatahkan berlian biru kecil dari Yukio, ke jari manis tangan kirinya.

***

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 1
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
God's Blessings : Jaws
2067      1006     9     
Fantasy
"Gue mau tinggal di rumah lu!". Ia memang tampan, seumuran juga dengan si gadis kecil di hadapannya, sama-sama 16 tahun. Namun beberapa saat yang lalu ia adalah seekor lembu putih dengan sembilan mata dan enam tanduk!! Gila!!!
BORU SIBOLANGIT
692      435     8     
Short Story
Dua pilihan bagi orang yang berani masuk kawasan Hutan Sibolangit, kembali atau tidak akan keluar darinya. Selain citra kengerian itu, Sibolangit dikaruniakan puncak keindahan alami yang sangat menggoda dalam wujud Boru Sibolangit -Imora dan Nale, tidak sembarang orang beruntung menyaksikannya.
Rain, Maple, dan Senja
1134      721     3     
Short Story
Takdir mempertemukan Dean dengan Rain di bawah pohon maple dan indahnya langit senja. Takdir pula yang memisahkan mereka. Atau mungkin tidak?
Faith Sisters
4355      2361     4     
Inspirational
Kehilangan Tumbuh Percaya Faith Sisters berisi dua belas cerpen yang mengiringi sepasang muslimah kembar Erica dan Elysa menuju kedewasaan Mereka memulai hijrah dari titik yang berbeda tapi sebagaimana setiap orang yang mengaku beriman mereka pasti mendapatkan ujian Kisahkisah yang relatable bagi muslimah muda tentang cinta prinsip hidup dan persahabatan
Dear Diary
1336      936     1     
Short Story
Barangkali jika siang itu aku tidak membongkar isi lemariku yang penuh buku dan tumpukan berkas berdebu, aku tidak akan pernah menemukan buku itu. Dan perjalanan kembali ke masa lalu ini tidak akan pernah terjadi. Dear diary, Aku, Tara Aulia Maharani umur 25 tahun, bersedia melakukan perjalanan lintas waktu ini.
Will Gates
1340      827     7     
Short Story
Persamaan Danang dan Will Gates: Sama-sama didrop-out dari sekolah. Apa itu artinya, Danang bisa masuk ke dalam daftar salah satu dari 100 orang terkaya di dunia versi majalah Corbes?
The Maiden from Doomsday
11500      2901     600     
Fantasy
Hal yang seorang buruh kasar mendapati pesawat kertas yang terus mengikutinya. Setiap kali ia mengambil pesawat kertas itu isinya selalu sama. Sebuah tulisan entah dari siapa yang berisi kata-kata rindu padanya. Ia yakin itu hanya keisengan orang. Sampai ia menemukan tulisan tetangganya yang persis dengan yang ada di surat. Tetangganya, Milly, malah menyalahkan dirinya yang mengirimi surat cin...
The Black Hummingbird [PUBLISHING IN PROCESS]
26394      4774     10     
Mystery
Rhea tidal tahu siapa orang yang menerornya. Tapi semakin lama orang itu semakin berani. Satu persatu teman Rhea berjatuhan. Siapa dia sebenarnya? Apa yang mereka inginkan darinya?
Hey, I Love You!
1432      725     7     
Romance
Daru kalau ketemu Sunny itu amit-amit. Tapi Sunny kalau ketemu Daru itu senang banget. Sunny menyukai Daru. Sedangkan Daru ogah banget dekat-dekat sama Sunny. Masalahnya Sunny itu cewek yang nggak tahu malu. Hobinya bilang 'I Love You' tanpa tahu tempat. Belum lagi gayanya nyentrik banget dengan aksesoris berwarna kuning. Terus Sunny juga nggak ada kapok-kapoknya dekatin Daru walaupun sudah d...
Phi
2373      1045     6     
Science Fiction
Wii kabur dari rumah dengan alasan ingin melanjutkan kuliah di kota. Padahal dia memutus segala identitas dan kontak yang berhubungan dengan rumah. Wii ingin mencari panggung baru yang bisa menerima dia apa adanya. Tapi di kota, dia bertemu dengan sekumpulan orang aneh. Bergaul dengan masalah orang lain, hingga membuatnya menemukan dirinya sendiri.