Loading...
Logo TinLit
Read Story - She's (Not) Afraid
MENU
About Us  


Kuda besi itu melaju di antara riuhnya kota yang semakin padat setiap tahun. Aku melingkarkan lenganku di sekitar perut Val dengan kepala bersandar di bahunya, menikmati angin yang perlahan membawa segala kekesalanku hari ini. Di sekitar kami, pohon-pohon berdaun lebat mulai terlihat berjajar di sepanjang jalan, mengiringi kami sebelum motor Val berhenti di sebuah rumah dengan halaman ditumbuhi berbagai macam bunga mawar. 

Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya aku membiarkan Val mengantarku pulang. Pemuda itu berdalih masalah Vio sudah ia selesaikan. Ia juga berkata, aku tidak perlu mencemaskan semua kata orang tentang kami saat aku menceritakan padanya perihal pertengkaranku dengan Gita.

"Udahlah, tau sendiri lo sama Gita dari dulu nggak pernah akur, masih aja mikirin apa kata dia."

Ketika Val mengatakannya, aku belum memberitahu pemikiran musuh terbesarku itu tentang hubungan kami. Aku hanya mengungkit masalah campur tangan pemuda itu hingga aku bisa menjadi bagian dari AGT. Namun seperti yang sudah-sudah, jawaban Val selalu sama.

"Karna lo orang terdekat gue, dan gue akan pastiin lo dapatin apa yang lo mau."

Meskipun terkadang aku tidak puas dan ingin protes, tapi alasan tersebut memang benar terjadi dalam kasus kami. Aku dan Val disatukan oleh ketidakpercayaan akan banyak hal. Orang lain mungkin berpikir aku hanya debu di sekitar pemuda itu, parasit yang harus disingkirkan, tapi ... mereka tidak mengerti masa di mana Val berada di titik terendahnya dan aku di sana untuk mengeluarkannya dari keterpurukan.

Val adalah duniaku, dan aku adalah dunia Val.

Kembali, aku menyandarkan kepalaku di bahunya, sementara netra coklatku memandang langit-langit ruang tamu berukuran 5 x 6 meter tempat kami berada saat ini. Pemuda itu menyelipkan jari-jari tangan kananku di antara celah jemarinya, membuatnya terisi satu sama lain. Aku terdiam dalam durasi panjang, sedangkan Val sudah sibuk menekuni rentetan kata yang tercetak dalam buku setebal ensiklopedia di tangannya.

Tidak ada lagi perbincangan yang tercipta. Kami menyukai momen ini lebih dari siapa pun duga. Sederhana tapi bermakna.

"By the way, Vio nggak ngambek lo anterin dia pulang cepat kayak tadi?" Aku mulai membuka suara ketika pemuda itu jemu dengan rutinitasnya.

Val tersenyum lebar. "Dia nggak kayak yang lo pikir, Mikayla."

Bola mataku berputar pelan, sedikit terkejut mengetahui pemuda itu memuji gadis yang dikencaninya.

"Oh ya, gue lupa kasih tau lo, satu atau dua minggu ke depan gue bakal jarang nemenin lo latihan. Gue ada bimbingan buat olimpiade fisika. Ada Vio juga di sana, jadi kemungkinan gue lebih gampang deketin dia."

"Emangnya lo yang maju? Tumben," ucapku sambil mengingat-ingat lomba apa saja yang biasa Val ikuti, dan fisika tidak termasuk di dalamnya.

Pemuda itu mengacak rambutku pelan dan berkata, "Kebiasan banget, sukanya ngeremehin orang. Tapi ya lo bener sih, sebenernya ini masih seleksi. You know lah, Akmal juga ikutan nanti."

"Ya ya, kita liat aja nanti. Lo bakal serius ikut seleksi apa serius PDKT sama Vio aja."

"Kayaknya lo sensi banget sih sama Vio. Cemburu ya?"

Aku mendaratkan bantal sofa di punggungku ke atas kepalanya. "Just in your wildest dream."

Bibir lebar Val menyerupai bulan sabit di mataku saat dia memandangku serius. Aku menyisir rambutku dengan tangan ke belakang kepala kemudian pura-pura sibuk dengan ponsel.

"Lo tau nggak, La, lo itu keliatan cute banget kalau lagi blushing gini," tuturnya di dekat telingaku seraya menangkup kedua sisi wajahku di genggaman besarnya yang refleks buru-buru kutepis.

"Eh, denger ya Brian Rivaldo! Gue nggak akan mempan sama rayuan basi lo, jadi mending lo nggak usah berisik, baca lagi tuh buku!"

Val menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berkata, "Gue tau. Tapi emang lebih bagus lo kayak gini sih, soalnya kalau lo gampang kemakan rayuan orang, mungkin sekarang banyak cowok di sekolah kita yang ngejar-ngejar elo. Terus lo berubah jadi cewek—"

Lagi, aku menyambar bantal sofa di dekat kakiku dan menghujani Val dengan pukulan kecil di lengan serta punggungnya. Pemuda tersebut mengaduh, meminta ampun yang sama sekali tak kuhiraukan.

"Ledek aja terus, mentang-mentang punya cewek baru yang lebih baik terus lo nyamain gue sama fans lo, norak tau nggak," kataku yang disambut derai tawa Val.

"Suatu saat lo bakal jadi cewek manis, La,"gumamnya lagi.

***

Seperti kata Val, selama seminggu ini pemuda itu mulai sibuk dengan segala bimbingan yang dilakukannya untuk pemilihan kandidat olimpiade fisika tahun ini. Kedekatannya dengan Vio pun tampak lebih kontras sekarang. Kedua muda-mudi tersebut sering terlihat menghabiskan waktu bersama di sekolah. Entah ketika bimbingan berlangsung, maupun saat istirahat tiba.

Aku sempat melihat mereka duduk berdua di salah satu bangku taman dekat area parkir hari ini. Aku melihat cara mereka berinteraksi dan bagaimana orang-orang mulai mengidolakan hubungan mereka. Gunjing tentangku dan Val berangsur hilang, begitu pula pemikiran Gita tempo hari. Semuanya hampir hilang tak bersisa. Untuk kedua kalinya aku bisa bernapas lega saat menginjakkan kaki di sekolah. Tidak ada lagi desas-desus menyebalkan yang membuat mood-ku buruk, atau tatapan mengerikan para gadis Alamanda lainnya.

Seminggu ini pula, aku fokus pada latihan basket seusai sekolah. Bukan hanya bersama tim basket putri, tapi juga tim putra yang selalu berhasil masuk ke babak semi final.

Hari ini, lapangan outdoor jauh lebih ramai dibanding kemarin. Pelatih memang sengaja meminta kami berkumpul untuk membahas perubahan jadwal latihan dan metode yang akan kami gunakan nanti. Total sekitar dua puluh orang menyempatkan hadir. Sementara itu, tak jauh dari tempat kami berada, tim cheerleader Alamanda juga tengah menyiapkan koreo baru mereka untuk menyemarakkan pertandingan yang akan digelar sebulan lagi.

Namun, dengan adanya mereka, netraku justru tidak diam pada satu titik di depan sana, di mana Pak Danang—coach kami—menjelaskan peraturannya. Beberapa kali aku menangkap basah salah satu gadis pemandu sorak melirikku terang-terangan. Dia Anindya, salah satu penggemar berat Val. Jangan tanya apa alasannya, semua orang di Alamanda tahu dia tidak menyukai keberadaanku di sisi pemuda itu selama ini.

Bisa dibilang, Anindya adalah salah satu musuhku.

Beruntung Val pun menjaga jarak dari gadis tersebut, entah apa alasannya. Aku cukup bersyukur, dengan begitu aku tidak perlu memengaruhi Val agar menjauh darinya. Pemuda itu sudah melakukannya lebih dulu.

"Lo ngeliatin apaan sih, Mik?"

Aku berpaling dan mendapati Leon—ketua ABT² sekaligus satu-satunya orang yang dekat denganku dalam klub ini—berada tak jauh dari tempatku berdiri. Bahuku terangkat sedikit. Kuyakin pemuda itu tahu jawabannya.

"Kirain Anin udah nggak bakal jealous lagi sama lo." Pemuda itu terkekeh seraya memasukkan tangannya ke dalam saku celana.

"Who knows. Yah biasalah, anak cheers emang kayak gitu, 'kan?"

"Ya nggak semua kali, buktinya Windi nggak kayak gitu," katanya sambil menerawang langit biru di atas kami.

Mau tidak mau aku menarik sudut-sudut bibirku ke atas. Tentu saja, Windi adalah kekasihnya. Meskipun aku tidak punya masalah dengan gadis berambut sebahu itu, tapi aku tetap tidak menyukainya. Bagiku, Windi bagai refleksi gadis populer di Alamanda lainnya. Cantik dan menyebalkan.

Setelah kalimat pembelaan Leon tersebut, kami sama-sama terdiam dan kembali memfokuskan pikiran pada nasihat Pak Danang. Baik aku atau Leon tahu, membicarakan para haters-ku tidak akan ada habisnya, sementara di sisi lain kami memiliki hal besar yang menunggu untuk digapai.

Setengah jam berlalu ketika coach menyudahi kalimat panjangnya. Aku dan semua anggota tim basket inti dipersilakan meninggalkan lapangan. Namun, beberapa dari kami memilih tetap di sana sekadar duduk atau iseng berlatih demi meningkatkan skill individu. Sementara itu, aku harus rela duduk melingkar bersama anggota AGT yang lain untuk membahas perihal usaha mengalahkan tim lawan.

"Besok Cempaka tanding sama SMA 37, gue udah sempat diskusi sama Pak Danang buat izinin kita nonton pertandingan mereka. Jadi, gue mau ngajak kalian bertiga pergi sama gue," kata gadis itu sambil menunjukku, Dian, serta Icha.

Sejenak, aku memandang Gita dengan alis terangkat dan kedua tangan terlipat di depan dada. Dalam hatiku bertanya, mengapa gadis itu memilihku yang notabene adalah musuhnya. Aku hendak protes ketika diskusi kami selesai, tapi Gita lebih dulu menyela dan mengatakan bahwa ia memperhitungkan keberadaanku dalam tim.

"Well ... gue cuma berpikir lo bisa fokus buat pertandingan nanti. Yah, you know ...." Gita berdeham sambil mengedikkan bahunya sebelum melangkah meninggalkanku di sini.

Aku cukup tahu apa maksudnya. Pemikiran Gita tidak pernah berubah. Ini masih tentang Val dan bagaimana pemuda itu memengaruhi lingkungan sekitar kami. Aku tersenyum miris, mengemasi barang-barang, lantas mengayunkan kakiku ke gedung utama untuk mencapai area parkir yang terletak di bagian depan bangunan tua Alamanda.

Kadang, aku sempat berpikir bagaimana jadinya bila Val tidak pernah ada di dekatku. Apa pendapat orang tentangku masih sama seperti bertahun-tahun sebelum ia hadir? Apa aku akan baik-baik saja dan hidup tenteram? Aku sendiri tidak tahu. Selama dua tahun aku bersekolah di sini, pemuda itu mengurus beberapa hal untukku.

Meski begitu, Val hanya mengambil bagian kecildari jalan yang kulalui. Kami memiliki privasi masing-masing di mana satu samalain tidak mengetahuinya. Tidak ada kata kami. Hanya ada aku dan dia. Aku tidakperlu menjelaskannya pada orang lain tentang jenis hubungan ini, yang pasti ...Val dan aku memiliki kehidupan masing-masing untuk dijalani. Baik orang laintahu, atau tidak. Senang atau justru benci. Ini bagian dari perjanjian kami. Tidak lebih.


 

² ABT : Alamanda Boys Team (Nama tim basket putra SMA Alamanda)

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Behind the Camera
2164      930     3     
Romance
Aritha Ravenza, siswi baru yang tertarik dunia fotografi. Di sekolah barunya, ia ingin sekali bergabung dengan FORSA, namun ternyata ekskul tersebut menyimpan sejumlah fakta yang tak terduga. Ia ingin menghindar, namun ternyata orang yang ia kagumi secara diam-diam menjadi bagian dari mereka.
30 Hari Mengejar Cinta
0      0     0     
Romance
( Novel Spesial Ramadan ) Allah SWT. Selalu menguji hamba-Nya, salah satunya melalui kekayaan. Apakah dengan kekayaan yang dimiliki seseorang itu bisa lebih dekat dengan-Nya? Atau malah sebaliknya? Doddy contohnya seorang pemuda yang memiliki kekayaan atau kehidupan yang lebih baik dibandingkan dengan yang lain, namun ia lupa mensyukuri semua itu. Ia semakin jauh saja dari zat penciptanya hing...
Of Girls and Glory
5508      2503     1     
Inspirational
Pada tahun keempatnya di Aqiela Ru'ya, untuk pertama kalinya, Annika harus berbeda kamar dengan Kiara, sahabatnya. Awalnya Annika masih percaya bahwa persahabatan mereka akan tetap utuh seperti biasanya. Namun, Kiara sungguh berubah! Mulai dari lebih banyak bermain dengan klub eksklusif sekolah hingga janji-janji yang tidak ditepati. Annika diam-diam menyusun sebuah rencana untuk mempertahank...
Kala Senja
39074      6946     8     
Romance
Tasya menyukai Davi, tapi ia selalu memendam semua rasanya sendirian. Banyak alasan yang membuatnya urung untuk mengungkapkan apa yang selama ini ia rasakan. Sehingga, senja ingin mengatur setiap pertemuan Tasya dengan Davi meski hanya sesaat. "Kamu itu ajaib, selalu muncul ketika senja tiba. Kok bisa ya?" "Kamu itu cuma sesaat, tapi selalu buat aku merindu selamanya. Kok bisa ya...
P.E.R.M.A.T.A
2093      1071     2     
Romance
P.E.R.M.A.T.A ( pertemuan yang hanya semata ) Tulisan ini menceritakan tentang seseorang yang mendapatkan cinta sejatinya namun ketika ia sedang dalam kebahagiaan kekasihnya pergi meninggalkan dia untuk selamanya dan meninggalkan semua kenangan yang dia dan wanita itu pernah ukir bersama salah satunya buku ini .
DariLyanka
3238      1184     26     
Romance
"Aku memulai kisah ini denganmu,karena ingin kamu memberi warna pada duniaku,selain Hitam dan Putih yang ku tau,tapi kamu malah memberi ku Abu-abu" -Lyanka "Semua itu berawal dari ketidak jelasan, hidup mu terlalu berharga untuk ku sakiti,maka dari itu aku tak bisa memutuskan untuk memberimu warna Pink atau Biru seperti kesukaanmu" - Daril
Tepian Rasa
1519      786     3     
Fan Fiction
Mencintai seseorang yang salah itu sakit!! Namun, bisa apa aku yang sudah tenggelam oleh dunia dan perhatiannya? Jika engkau menyukai dia, mengapa engkau memberikan perhatian lebih padaku? Bisakah aku berhenti merasakan sakit yang begitu dalam? Jika mencintaimu sesakit ini. Ingin aku memutar waktu agar aku tak pernah memulainya bahkan mengenalmu pun tak perlu..
Jawaban
483      323     3     
Short Story
Andi yang digantung setelah pengakuan cintanya dihantui penasaran terhadap jawaban dari pengakuan itu, sampai akhirnya Chacha datang.
Renata Keyla
7302      1859     3     
Romance
[ON GOING] "Lo gak percaya sama gue?" "Kenapa gue harus percaya sama lo kalo lo cuma bisa omong kosong kaya gini! Gue benci sama lo, Vin!" "Lo benci gue?" "Iya, kenapa? Marah?!" "Lo bakalan nyesel udah ngomong kaya gitu ke gue, Natt." "Haruskah gue nyesel? Setelah lihat kelakuan asli lo yang kaya gini? Yang bisanya cuma ng...
Rindu
474      360     3     
Romance
Ketika rindu mengetuk hatimu, tapi yang dirindukan membuat bingung dirimu.