Loading...
Logo TinLit
Read Story - 27th Woman's Syndrome
MENU
About Us  

Five month before...

“Siang, Pak...” sapaku pelan.

“Oh Kinara, sudah sampai kau rupanya, duduk sini...” Pak Jamil berdiri dari kursinya dan beralih ke sofa tamu yang ada di ruangannya, “langsung saja Kinara...”

“Sebelumnya saya mau meminta maaf memanggilmu di saat kau sedang sibuk untuk kuliah. Tapi Bapak tidak punya opsi lain yang lebih baik terkait dengan masalah ini”, Pak Jamil menatapku tajam, mencoba membaca reaksiku, “saya membaca makalah tesismu, dan kebetulan kita dimintai tolong untuk kegiatan edukasi dimasyarakat dan juga sekolah-sekolah terkait dengan kebencanaan. Menurut saya, ini akan sangat membatu tesismu. Kau tidak perlu ke luar Jogja, ganti saja lokasi penelitianmu di sini.”

“Saya memilih ke Tambora bukan hanya karena saya pengen liburan loh, Pak. Tapi karena memang lokasinya dan kondisi gunungnya. Kalau di Merapi, sudah banyak sekali kajian dan penelitian yang dilakukan di sana, jadi...” aku berusaha untuk menguatkan pendapat.

“Ya, Bapak paham sekali, tapi toh kebermanfaatan itu yang paling utama kan? Nanti kalau memang metode dan penelitianmu itu berguna, tinggal kita alih terapkan di sana. Ini sudah jelas sekali kau dibutuhkan di sini dan materinya sangat cocok dengan tesisimu. Kau akan mudah untuk pengambilan sampling datanya...” Pak Jamil masih kekeuh dengan penujukkan tim ini. Aku tahu beliau sudah menyiapkan berbagai macam amunisi yang membuatku tidak bisa menolaknya. Beliau tahu benar bagaimana karakterku dan sebaliknya.

“Baiklah Pak...” aku menyerah, dengan begitu mudah.

“Baguslah, saya sudah membicarakan ini dengan dosenmu sebenarnya. Mereka bilang kalau saya mendapatkan persetujuanmu maka tidak masalah kau yang mengambil kewajiban ini...” Pak Jamil berdiri dari kursinya dan mengambil beberapa berkas yang diserahkan padaku, “ini proposal yang masuk dan juga tim yang akan bekerja bersamamu selama enam bulan, mohon maaf Kinara, tidak ada yang single. Bapak sudah berusaha mencari tapi tidak dapat...”

Ah, come on, Sir. Please...” aku mengeluh. Atasanku di lap penelitian ini memang sudah merencanakan dari awal dan beliau suka sekali menggodaku, "Bapak sudah merencanakan semuanya ya dengan dosen saya sebelum saya dipanggil ke sini?"

Alright... itu juga benar. Maklumlah Kirana, sedikit sekali orang lapangan yang mampu berkomunikasi dengan masyarakat awam. takutnya menimbulkan presepsi lain yang membahayakan. Apa lagi ini urusannya dengan anak-anak,” aku bisa dengan jelas melihat beliau menahan tawanya. Beliau berdeham sebelum melanjutkan, “di sana ada nomor yang bisa kau hubungi Kinara. Terserah kapan, tapi lebih cepat lebih baik. Bapak percaya padamu.”

“Baik Pak, seperti biasa, Anda juga bisa mengandalkan saya...” aku pamit dan menyapa beberapa temanku. Aku merindukan pola kerja ini namun karena aku harus kuliah lagi aku meninggalkan beberapa pekerjaan pada temanku dan menjadi jarang ke kantor.

“Oh, mohon maaf dan terimakasih...” aku menundukkan kepalaku pada seseorang yang menahan pintu lift untukku. Aku berlari masuk ke lift tepat beberapa detik sebelum pintu tertutup.

“Tidak masalah...” laki-laki itu menjawab dengan suaranya yang berat namun terdengar lembut di teling. Sangat tidak cocok dengan tubuhnya yang tinggi dan kecil, ya walau tidak bisa dibilang kurus tapi dia cukup kecil. Mengingatkanku pada manekin. Aku memukul kepalaku sendiri karena berfikiran macam-macam.

“Ah, sebentar, Saya sepertinya pernah melihat Anda”, aku mencoba mengingat-ingat di mana aku melihatnya.

“Yang jelas saya tidak Nona, ini pertama kalinya saya bertemu dengan Nona”, jawabnya masih dengan menggunakan suaranya yang rendah itu. Nona? Apa aku terlihat begitu muda?

“Aku ingat! Anda tim mitigasi kan? Yang akan ke sekolah-sekolah akhir tahun ini?” aku hampir berteriak mengatakannya. Terlalu excited mungkin.

“Bagaimana Nona bisa tahu...” belum selesai ia menjawab pintu lift terbuka.

“Saya juga ada di tim itu. Baru hari ini saya bergabung...”

“Oh jadi Nona yang akan mewakili lab penelitian?” aku mengikutinya keluar dari lift dan mengangguk.

“Kenalkan nama saya Kinara dan jangan panggil saya nona...” aku mengulurkan tanganku.

“Saya Krisnawan Wijaya, kalau begitu saya panggil Nyonya?” ia menyambut tanganku. Tangannya terasa kokoh saat menjabat tanganku.

“Enak saja, saya belum menikah!”

“Ah begitu kah? Anda masih terlalu muda untuk menikah...”

“Oh Anda terlalu menghina...” aku beranjak dan menoleh, “Kalau tidak ada kegiatan lain, apa bisa kita membicarakan beberapa detail kegiatan sambil makan siang?”

“Boleh, saya ke sini untuk memastikan siapa yang akan bergabung dengan tim dan kebetulan sekali bertemu dengan Anda, Kinara”, ia menyetujuinya dan menjajari langkahku.

“Anda bisa lebih rileks berbicara dengan saya. Saya jauuuh lebih muda...”

“Oke...” dia tersenyum, membuat garis tipis dengan bibirnya yang mungil, “berapa usiamu Kinara?”

“Panggil saja Nara. Usiaku? 27 tahun bulan ini... Pak Krisna?” tanyaku tidak yakin. Dia pantasnya dipanggil mas atau bapak sih? Aku teringat Pak Jamil yang mengatakan bahwa tidak ada yang single di dalam tim.

“27? Aku tidak mengira akan sebanyak itu. Aku? Tebak berapa?” ia menaikkan alisnya.

“34 ehmm 36 atau....?” jawabku asal dan kesal.

“36 cukup bagus. Yah segitu umurku...” ia kembali tersenyum. Kini lebih lebar sehingga aku bisa melihat lesung pipitnya. Ah manis sekali. Aku diam-diam mencubit lenganku. Ada apa coba denganku?

“Kita makan di sana aja gimana? Biar enak tinggal nyebrang jalan saja...” aku melihat kafe yang ditunjukkan oleh Pak Krisna. Kafe itu cukup sering aku datangi karena lokasinya yang dekat dengan Lab. Makanannya cukup bervariasi dengan model angkringan yang kini menjamur di Jogja. Cukup nyaman tempatnya dan yang jelas tidak terlalu mahal.

“Bang, kopi susu sama nasi goreng ya? Kaya biasanya, pedes...” aku menyebutkan pesananku.

“Sama, kopinya nggak pakai susu...” jawab Pak Krisna saat penjual menoleh padanya.

“Hoi, Krisna kan ?” seseorang di sampingku menepuk pundak Pak Krisna.

“Eh, bener. Bagaimana kabar lo Res!” Pak Krisna menyambutnya dengan jabat tangan.

“Baik, ini anak lo udah segede ini?” orang itu menoleh padaku. Aku menatapnya terkejut, “kenalkan saya Restu. Saya temen bapak kamu dulu waktu SMU...” ia meraih tanganku dan menjabatnya.

“Ehm...” Pak Krisna menoleh padaku dengan tatapan tidak enaknya.

“Yah, Nara tunggu di kursi ya. Capek. Kalau ayah sudah selesai ngobrolnya nanti bisa nyusul Nara di sana...” aku menujuk kuris kosong dekat kaca yang menghadap jalanan.

“Oh iya...” Pak Krina terkejut sekaligus gugup saat melihat tingkahku. Aku tertawa dan berjalan menjauhi mereka. Aku melihat bayanganku sendiri di cermin dan maklum. Aku tidak memakai baju formal dan hanya menggunakan kemeja dibalut jeans dan snekers. Pantas saja kalau aku telihat seperti anak-anak.

“Maaf, tadi temanku ngaco...” Pak Krisna duduk dihadapanku setelah temannya pamit.

“Tidak apa-apa...” aku terkikik geli saat membayangkan ekspresinya tadi, “memang usia Bapak berapa sih?”

“Aku? 45...”

“Apa...uhuk, uhuk...” aku tersedak oleh air liurku sendiri. Setua itu kah? Tapi kenapa wajahnya tidak telihat setua itu? Aku berdiri dan menundukkan badanku, “maafkan kelancangan saya...”

“Apa-apaan sih...” ia tertawa sebelum mengacak rambutku pelan dan menyuruhku kembali duduk, “bener-bener deh temenku bikin kacau...”

“Memang Bapak berniat menggoda saya dengan berbohong tentang umur Bapak?” aku menatapnya tajam. Sialan, hatiku sempat berdesir saat dia mengacak rambutku tadi. Ah, ini bukan pertanda baik.

“Nggak lah, emang orang sepertimu bisa digoda oleh bapak-bapak anak satu?” tanyanya balik.

Oh anaknya satu.

“Memang Bapak pikir saya orang seperti apa?”

“Ehm, kau beda, aneh dan yang jelas kau bukan orang yang gampang baper”, jawabannya membuatku menyeritkan dahi.

“Iya sih, tapi Bapak tahu nggak, Bapak terlalu santai...” protesku.

“Aku bukan orang kantoran Nara, dan kau juga bukan kan? Kita sama-sama orang lapangan, santai saja, yang serius-serius banyak...” dia tersenyum saat pesanannya datang dan mulai melahap habis pesanannya.

Aku mengangkat bahuku pelan, yah terserahlah. Setidaknya aku punya teman yang bisa dan gampang di ajak untuk mengobrol bersama.

 

Next...

 

Nb: ada yang tahu tempat makan yang biasa di sebut angkringan?

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (17)
  • aiana

    @renicaryadi terimakasih, ini ada skuelnya, Kinara saat remaja, namun masih ongoing. Iyaaa. masih ditnnggu kelanjutan storynya. Semangat

    Comment on chapter Prolog ; My Biggest Question
  • renicaryadi

    Kakkk bagus ceritanya kusave dulu yaa. Deskripsi kakak bener banget soal depresi.

    Semangat terus. Makasih juga udah dateng ke The Perfect Brother 😉

    Comment on chapter Prolog ; My Biggest Question
  • aiana

    @dreamon31 terimakasih kakak, masih terus belajar

  • aiana

    @atinnuratikah terimakasih, dibaca lanjutannya kakak

  • aiana

    @Riyuni betul, banyak sekali yang sebenarnya pusing ketika di tanya masalah ini

  • aiana

    @Ervinadyp selalu, dalam proses, jangan lupa di baca lagi... terimaksih

  • aiana

    @ikasitirahayu1terimakasih, sering-sering baca kelanjutannya. sudah mau selesai ini

  • ikasitirahayu1

    Hai kak, bagus ceritanya. Btw, aku ini single :)

    Comment on chapter Prolog ; My Biggest Question
  • nuratikah

    keren kak ceritanya.

    Comment on chapter Prolog ; My Biggest Question
  • dreamon31

    bagus pemilihan katanya...semangat yaa...

    Comment on chapter Prolog ; My Biggest Question
Similar Tags
DariLyanka
3238      1184     26     
Romance
"Aku memulai kisah ini denganmu,karena ingin kamu memberi warna pada duniaku,selain Hitam dan Putih yang ku tau,tapi kamu malah memberi ku Abu-abu" -Lyanka "Semua itu berawal dari ketidak jelasan, hidup mu terlalu berharga untuk ku sakiti,maka dari itu aku tak bisa memutuskan untuk memberimu warna Pink atau Biru seperti kesukaanmu" - Daril
Drama untuk Skenario Kehidupan
11626      2788     4     
Romance
Kehidupan kuliah Michelle benar-benar menjadi masa hidup terburuknya setelah keluar dari klub film fakultas. Demi melupakan kenangan-kenangan terburuknya, dia ingin fokus mengerjakan skripsi dan lulus secepatnya pada tahun terakhir kuliah. Namun, Ivan, ketua klub film fakultas baru, ingin Michelle menjadi aktris utama dalam sebuah proyek film pendek. Bayu, salah satu anggota klub film, rela menga...
Teman Khayalan
1933      913     4     
Science Fiction
Tak ada yang salah dengan takdir dan waktu, namun seringkali manusia tidak menerima. Meski telah paham akan konsekuensinya, Ferd tetap bersikukuh menelusuri jalan untuk bernostalgia dengan cara yang tidak biasa. Kemudian, bahagiakah dia nantinya?
Lukisan Kabut
630      466     4     
Short Story
Banyak cara orang mengungkapkan rasa sayangnya kepada orang lain. Hasilnya tergantung bagaimana cara orang lain menerima perilaku ungkapan sayang itu terhadap dirinya.
Mengejarmu lewat mimpi
2397      1032     2     
Fantasy
Saat aku jatuh cinta padamu di mimpiku. Ya,hanya di mimpiku.
Sisi Lain Tentang Cinta
944      577     5     
Mystery
Jika, bagian terindah dari tidur adalah mimpi, maka bagian terindah dari hidup adalah mati.
April; Rasa yang Tumbuh Tanpa Berharap Berbalas
1744      832     0     
Romance
Artha baru saja pulih dari luka masa lalunya karena hati yang pecah berserakan tak beraturan setelah ia berpisah dengan orang yang paling ia sayangi. Perlu waktu satu tahun untuk pulih dan kembali baik-baik saja. Ia harus memungut serpihan hatinya yang pecah dan menjadikannya kembali utuh dan bersiap kembali untuk jatuh hati. Dalam masa pemulihan hatinya, ia bertemu dengan seorang perempuan ya...
Unending Love (End)
19308      3835     9     
Fantasy
Berawal dari hutang-hutang ayahnya, Elena Taylor dipaksa bekerja sebagai wanita penghibur. Disanalah ia bertemua makhluk buas yang seharusnya ada sebagai fantasi semata. Tanpa disangka makhluk buas itu menyelematkan Elena dari tempat terkutuk. Ia hanya melepaskan Elena kemudian ia tangkap kembali agar masuk dalam kehidupan makhluk buas tersebut. Lalu bagaimana kehidupan Elena di dalam dunia tanpa...
Snazzy Girl O Mine
628      416     1     
Romance
Seorang gadis tampak berseri-seri tetapi seperti siput, merangkak perlahan, bertemu dengan seorang pria yang cekatan, seperti singa. Di dunia ini, ada cinta yang indah dimana dua orang saling memahami, ketika dipertemukan kembali setelah beberapa tahun. Hari itu, mereka berdiam diri di alun-alun kota. Vino berkata, Aku mempunyai harapan saat kita melihat pesta kembang api bersama di kota. ...
Pahitnya Beda Faith
544      403     1     
Short Story
Aku belum pernah jatuh cinta. Lalu, aku berdo\'a. Kemudian do\'aku dijawab. Namun, kami beda keyakinan. Apa yang harus aku lakukan?