Loading...
Logo TinLit
Read Story - Kutu Beku
MENU
About Us  

    Derap langkah terdengar perlahan  diantara gemericik air hujan yang mulai membasahi bebatuan hitam legam.  Kecipuk angin bertiup, melambai-lambaikan ranting pohon yang lemah gemulai. Terlihat di langit, tampak kawanan awan hitam berselimut kelabu mulai berkumpul. Musim kemarau telah berlalu, meninggalkan beberapa serpihan debu yang usang, tak pelak lagi, semua keadaan pasti berubah, secepat kilat. Lihatlah itu, tak jauh di ujung seberang sana, empat puluh lima derajat bujur timur dan lima derajat lintang selatan, sudah bermunculan tunas baru dari famili Gramineae, disusul munculnya kuncup bunga Helianthus annus, cukup populer dikalangan tanaman hias. Namun, gara-gara mendengar ini, semua perubahan yang kurasakan seakan sirna, raib bin lenyap saat keluar beberapa patah kata darinya, meluncur deras dengan frekuensi resonansi yang tinggi, tiba-tiba mengejutkanku.
      "APA YANG KAU LAKUKAN, KUTU BEKU?"
      Aku diam saja, sambil memejamkan mata. Darahku kini mendidih, meluap-luap panas. Kalau saja aku tak punya kesabaran tingkat dua belas, pasti sudah kutanamkan ranting pohon ke dalam mulutnya yang tak berperasaan itu. Ah, lupakan itu, tak boleh, tak boleh. Ganti saja dengan kulit durian, aku yakin sekali, ia pasti sadar. Enak saja, kau sebut aku dengan kutu beku. Belum pernah sekalipun aku mendengarnya. Yang aku tahu, hanya ada kutu buku, dan tak ada istilah ini. Sialan. Aku geram sekali. Ingin kulontarkan kalimat tajam yang telah kusiapkan khusus untuknya.
"Ku ... Ku ... Ku?!"
        Sebenarnya aku mau menyebut kutu tandus, tapi kata-kataku macet, tersangkut di dalam kerongkongan. Sudah kucoba berulangkali, tapi masih saja gagal. 
        "Apa? Apa? Ku ... Apa?!"
        "Ada apa kutu beku ..?"
        Ia terus mendesak, dan aku kehilangan kata-kata. Kalau saja bukan karena urusan cinta, sudah pasti kusikat habis dia. Berada dalam situasi sulit ini, mau tak mau aku harus berpikiran jernih, tak usah terbawa emosi. Rasa-rasanya tidak masuk akal, sulit untuk dipercaya, aku harus berurusan dengan dia, Rendi sang playboy cinta cap teripang. Ia sangat terkenal dan menyandang semua julukan, mulai dari pangeran liliput, pembual cap kardus, kelinci ekor lima dan yang paling terkenal playboy cap teripang. Berdasarkan informasi yang baru saja kudapat, ia baru saja naik kelas dari playboy cap teri menuju playboy cap teripang. Aneh!
        Sebenarnya aku benci sekali bila berada didekatnya. Posturnya sedikit lebih pendek dariku, kulitnya gelap, rambutnya seperti sarang lebah yang kebakaran dan mulutnya kecil tapi memiliki dentuman suara menggelegar, melebihi meriam.
         "Pilih huruf dari mana saja, A sampai Z!" Lagaknya sok hebat.
       Aku terpancing. Inilah tantangannya. Segera saja kupilih tiga huruf ... beriringan, meletus saja dari mulutku ini.
        "A .. C .. P .. !" kataku penuh percaya diri.
      Sengaja aku mengacaknya, dengan tujuan tak lain dan tak bukan hanya untuk mengecohnya, sampai seberapa jauh ingatannya tentang nama perempuan yang pernah lengket di hatinya.
     "Aylarini .. Canona .. Poloviu"
      Aku terkejut mendengar jawaban itu. Belum sempat aku menangkis, menyebutkan huruf lanjutannya lagi, dia langsung nyerocos, tak peduli.
     "Guccita .. Fujitsusila .. Lenovoira"
      Luar biasa. Inilah suatu kelebihan dari mantan playboy cap teri ini. Mereka cantik-cantik, tapi ..., aku merasa janggal. Sepertinya ada yang kukenal. Entahlah. Tingkat percaya dirinya begitu besar hingga dengan mudah ia menguasaiku.
      Ia memang pembual dan benar saja, bila berada di dekatnya, sudah pasti aku menjadi objek kambing hitamnya dari yang paling hitam. Gara-gara urusan dimabuk asmara ini, aku tak punya pilihan lain. Aku harus menimba ilmu dari pembual cap kardus ini.
       "Begini tuanku ...?!"
       "Begini ...!?"
         Terpaksa aku harus memujinya setinggi langit demi urusan cinta, rindu dan kroni-kroninya itu, nyaris membuatku terkena insomnia akut. Biarlah sekarang ini, aku menjelma dulu menjadi kurcacinya.     
        Jujur saja, aku selalu teringat dengan perempuan istimewa itu, senyum manisnya, tingkah lakunya dan yang paling indah adalah matanya. Tak berlebihan kukatakan bahwa ia adalah cinderella tercantik sedunia. Maka dari itulah aku harus berguru kepada playboy nyentrik ini. Ia berkelit, memalingkan muka, lalu menarik nafas panjang. Lama ia mematung, kemudian ia berkata lantang.
        "SEMUANYA ADA TIGA SYARAT!!!"
      Sepertinya saat ini, kami sedang terlibat transaksi penting. Tanpa basa basi, langsung kujawab.
        "Apa saja ... ? Apa saja itu? Pasti kupenuhi!"
       Aku tak sabar menunggu jawaban langsung yang meluncur dari bibirnya. Semangatku kini, jelas sudah berapi-api. Bila sudah terucap kata itu, meskipun aku harus menyeberangi lautan dengan kapal, masuk kota keluar hutan, naik turun bukit dengan sepeda sampai harus berenang dikolam air hangat, aku siap. Akan kukerahkan seluruh tenaga dan pikiranku, semaksimal mungkin demi sang pujaan hati, tambatan jiwa, belaian purnama.
        "Syarat pertama ... Cokelat!!!"
        "Apa?"
      Aku tak salah dengar. Kukira ia akan meminta sesuatu yang barangkali saja, waktu tujuh bulan pun takkan mampu aku memenuhinya. Cokelat, hanya cokelat saja, it's easy, cincai lah.
        "Aku minta sekarang, siapkan puding cokelat!"
        "SEPULUH MENIT!"
        "Hah ... Harus sekarang, tak bisa esok?"
        "Mau atau transaksi ini batal?"
      Huh, dasar. Sepertinya, keadaanku sekarang menjadi mainan barunya. Namun aku tak peduli. Aku sudah terlanjur cinta. Akan kulabuhkan kemana cinta yang tulus nan berkilau ini. Hanya untuk engkau seorang Dilla, cintaku. Waktu pun menjelang sore. Tentu hal ini tak mudah.
      Tak membuang waktu, pontang panting aku berlari, lari dan lari demi mencari puding cokelat itu. Hampir sepuluh toko sudah kuselami. Hasilnya nihil. Tinggal satu toko lagi. Beruntung, kali ini, kemenangan sudah berada dipihakku. Berhasil. Aku gembira, sangat bahagia.
      Misi pertama selesai. Tinggal dua syarat lagi. Segera saja kuburu dia.
      "Apa dua syarat lainnya?"
     Seolah tak peduli dan tak mendengar, ia membuang muka, lalu berjalan menjauhiku. Terlihat punggung tangannya melambai-lambai yang artinya "Besok saja".
      Menunggu hari esok rasanya seperti setahun. Sungguh besar sekali pengaruh cinta  ini. Tak berapa lama, hari esok pun tiba. Aku kembali memburunya. Tak mudah aku menemukannya. Ia cerdik nan pandai dalam urusan menghilang. Ia memiliki kemampuan berkamuflase spesies gurita. Bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami. Sekali lagi, tak mudah aku menemukannya. Pantas saja ia mendapat julukan pangeran liliput. Menyebalkan. Tiba-tiba saja aku teringat satu hal. Aha ... Mungkin ini bisa memancing dirinya keluar dari tempat persembunyiannya.
       "Canona ... Fujitsusila ... Lenovoira ..."
        Benar saja, dalam hitungan sepuluh detik dimulai dari sekarang, tiba-tiba saja ia muncul bak elang sedang apel pagi. Tertangkap basah kau, teripang ekor lima. Namun, ternyata aku salah. Ia masih saja berkilah. Dasar pembual.
        "Bagaimanapun dan apapun situasiku, sungguh lebih mulia jika aku menolong orang yang fakir cinta!"
        "APAA!"
        Keterlaluan. Kemarin kutu beku, sekarang kau sebut aku fakir cinta. Tak tahu lagi apa selanjutnya, yang pasti, tingkat dua belas kesabaranku langsung roboh. Rasa-rasanya ingin kucabut semua gigimu, teripang. Aku geram sekali. Berhadapan dengan pangeran liliput ini, situasiku jadi serba salah. Aku menghirup nafas panjang, lalu ingat satu hal "Semua akan indah pada waktunya".
         "IKUT AKU ...!"
         Tanpa basa basi dan tanpa menghiraukanku, ia langsung memerintah. Seakan aku tak peduli, seakan aku mau, namun aku tak punya pilihan lain, dialah satu-satunya kompas eksentrik cintaku.
        Aku berjalan mengikutinya dengan perasaan menggerutu. Benar-benar kesal berlipat. Entah apa lagi yang bakal dilakukannya, isi kepalanya sangat sulit ditebak. Kami berjalan memasuki sebuah perkampungan, meliuk-liuk melewati jalan yang lebarnya tak lebih dari setapak. Hampir satu jam sudah aku mengekor dibelakangnya. Di ujung jalan itu, aku melihat sebuah keramaian. Ternyata ini adalah pusat pasar tradisional.
       Ia terus berjalan dan aku was-was mengikutinya. Secuil pun tak bisa kutebak kemana jalan pikirannya itu. Hingga akhirnya perjalanan kami pun terhenti di sebuah toko kelontong, di pinggir kali dan diapit oleh gudang kopra dan ratusan peti ikan laut. Luar biasa aromanya, beradu, berebutan masuk kedalam lubang hidungku. Belum lama, rasanya perutku sudah mual. Kepalaku pening dan langkahku sudah sempoyongan. Ini adalah siksaan yang paling mengerikan. Tapi, sedikitpun aku tak patah arang. Biarpun keadaanku begini, aku tak peduli, akan kubuktikan pada dunia "Aku Deni Gunadi, Pasti Bisa".
        Lihatlah semangatku itu sudah berapi-api. Aku takkan surut melangkah, aku akan terus maju, apapun resikonya. Belum genap hitungan menit, tiba-tiba saja playboy cap teripang ini mengeluarkan beberapa petuahnya.
       "Selamat Datang di istanaku, Kutu beku!"
       "Apa ..!"
       Aku tak salah dengar, ia sebut tempat ini adalah istananya. Kalau komunitas teripang, iya aku setuju. Yang ada hanya gudang reyot dan hampir roboh, mana ada istana. Berkali-kali aku menepuk dahiku, tak beres, tak beres ini. Belum sempat aku menanyakan sisa syaratnya, tiba-tiba ia main perintah lagi.
       "Kau adalah asistenku sekarang!"
       "INILAH SISA SYARATNYA ..!"
       "ANGKAT INI .. BAWA KE SANA!"
       Sebenarnya aku sudah muak, sangat muak. Dari awal aku sudah curiga, tapi sekali lagi aku tak punya pilihan. Asisten Apa? Tak jelas. Yang pasti, dalam sekejab, aku sudah menjadi kuli disini. Semula aku hanya berpikir, mungkin saja dalam dua hari ini, tugasku akan selesai karena hanya tinggal dua syarat saja. Hanya dua hari saja, apa susahnya. Tak perlu dirisaukan. Sampai akhirnya, pembual cap kardus ini buka suara, dan jantungku dibuatnya melompat terkejut.
        "Selama dua minggu, kau tetap disini!"
        Astaga, dua minggu lamanya aku berada disini, tak tertahankan. Demi cinta, mau tak mau, suka tidak suka, rela tak rela, apapun itu, aku harus bisa. Maka aku pun sungguh-sungguh menikmati profesi baru ini. Walaupun aku harus berjibaku dengan aroma menyengat yang hampir membuatku klimpungan, aku bahagia. Hingga pada suatu ketika, dihari ketiga belas, petang sebelum senja, saat aku mengantar barang spesial, diluar dugaan, aku terperanjat bukan kepalang. Aku bertemu secara langsung dengan pujaan hatiku, Dilla. Matanya sangat indah, adabnya luar biasa dan senyum manisnya, sulit untuk kulupakan. 
      "Sederhana orangnya, sederhana kata-katanya, sederhana perilakunya, sungguh luar biasa kilau pesonanya"
        Bagiku ia adalah mutiara dari seluruh muara definisiku tentang cinta. Dari kejauhan, Rendi sang playboy cap teripang, memantau. Rupa-rupanya inilah rencananya yang berbuah manis, sangat gemilang. Mengejutkanku dengan keindahan tiada tara. Rasa-rasanya seribu terima kasih pun tak cukup. Oh, dunia, aku jatuh cinta, sungguh jatuh cinta.
 

(Palembang, 19 Jan' 2019; 17:30 WIB)

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Menyemai Cinta, Menuai Luka
268      31     1     
Romance
Awal mula kau bermanis Menjanjikan perjalanan kasih tanpa batas Menghidupi nyala romansa Tapi kau mengkhianatinya Memberi luka Dan menyesalinya dengan semena-mena Cinta kita terluka Tak seperti cinta mereka Yang utuh dan abadi Cinta kita hancur berkeping-keping Menyayat jiwa, mengiris sukma Tapi kau tak pernah tahu Dan tak pernah mau tahu Cinta kita sebatas kata Luka yang jadi ...
Lebih dari Cinta Rahwana kepada Sinta
7462      3148     2     
Romance
Pernahkan mendengarkan kisah Ramayana? Jika pernah mendengarnya, cerita ini hampir memiliki kisah yang sama dengan romansa dua sejoli ini. Namun, bukan cerita Rama dan Sinta yang akan diceritakan. Namun keagungan cinta Rahwana kepada Sinta yang akan diulas dalam cerita ini. Betapa agung dan hormatnya Rahwana, raksasa yang merajai Alengka dengan segala kemewahan dan kekuasaannya yang luas. Raksas...
HEARTBURN
434      326     2     
Romance
Mencintai seseorang dengan rentang usia tiga belas tahun, tidak menyurutkan Rania untuk tetap pada pilihannya. Di tengah keramaian, dia berdiri di paling belakang, menundukkan kepala dari wajah-wajah penuh penghakiman. Dada bergemuruh dan tangan bergetar. Rawa menggenang di pelupuk mata. Tapi, tidak, cinta tetap aman di sudut paling dalam. Dia meyakini itu. Cinta tidak mungkin salah. Ini hanya...
Ineffable class
461      308     12     
Mystery
Seluruh penghuni kelas XII IPS E rata-rata tidak waras. Di mana ketua bucin menjadi wakil ketua dan ketua kelas sendiri adalah musuhnya guru BK. Dari 15 siswa separuhnya kerapkali hilang saat jam pelajaran, 5 lainnya tidur, sisanya pura-pura menyimak guru. 15 kepribadian berbeda yang jarang akur ini, harus bersatu mencari wali kelas dikabarkan menghilang selama seminggu. Gawatnya, tuduhan tidak...
Yakini Hatiku
245      225     1     
Romance
Setelah kecelakaan yang menimpa Fathur dan dinyatakan mengidap amnesia pasca trauma, Fathur mulai mencoba untuk mengingat segala hal seperti semula. Dalam proses mengingatnya, Fathur yang kembali mengajar di pesantren Al-Ikhlas... hatinya tertambat oleh rasa kagum terhadap putri dari pemilik pesantren tersebut yang bernama Tsania. Namun, Tsania begitu membenci Fathur karena suatu alasan dan...
Dialog Tanpa Kata
22225      7046     19     
Romance
Rasi mencintai Sea dalam diam Hingga suatu hari Sea malah dinikahi oleh Nolan kakak dari Rasi Namun pernikahan Sea dan Nolan yang terlihat aneh Membuat Rasi bebas masuk ke kehidupan Sea Bahkan selalu menjadi orang pertama saat Sea membutuhkan bantuan Akankah Sea berpaling pada Rasi atau lagilagi perasaan Rasi hanya sebuah dialog dalam hati yang tak akan pernah terucap lewat kata Sea pada Rasi Ras...
Dua Sisi
9208      2341     1     
Romance
Terkadang melihat dari segala sisi itu penting, karena jika hanya melihat dari satu sisi bisa saja timbul salah paham. Seperti mereka. Mereka memilih saling menyakiti satu sama lain. -Dua Sisi- "Ketika cinta dilihat dari dua sisi berbeda"
Sweet Like Bubble Gum
5605      3102     2     
Romance
Selama ini Sora tahu Rai bermain kucing-kucingan dengannya. Dengan Sora sebagai si pengejar dan Rai yang bersembunyi. Alasan Rai yang menjauh dan bersembunyi darinya adalah teka-teki yang harus segera dia pecahkan. Mendekati Rai adalah misinya agar Rai membuka mulut dan memberikan alasan mengapa bersembunyi dan menjauhinya. Rai begitu percaya diri bahwa dirinya tak akan pernah tertangkap oleh ...
Yang Terukir
925      624     6     
Short Story
mengagumi seorang cowok bukan lah hal mudah ,ia selalu mencurahkan isi hatinya melalui sebuah pena,hingga suatu hari buku yang selama ini berisi tentang kekagumannya di temukan oleh si cowok itu sendiri ,betapa terkejutnya ia! ,kira kira bagaimana reaksi cowok tersebut ketika membaca buku itu dan mengetahui bahwa ternyata ada yang mengaguminya selama ini? Yuk baca:)
A CHANCE
2435      1174     1     
Romance
Nikah, yuk!" "Uhuk...Uhuk!" Leon tersedak minumannya sendiri. Retina hitamnya menatap tak percaya ke arah Caca. Nikah? Apa semudah itu dia mengajak orang untuk menikah? Leon melirik arlojinya, belum satu jam semenjak takdir mempertemukan mereka, tapi gadis di depannya ini sudah mengajaknya untuk menikah. "Benar-benar gila!" 📌📌📌 Menikah adalah bukti dari suatu kata cinta, men...