Loading...
Logo TinLit
Read Story - Ngaku
MENU
About Us  

Kinta menerawang keluar jendela. Lampu jalan masih menerangi kota sibuk ini. Hiruk pikuk sepertinya belum mau pergi meskipun jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sama seperti suasana hati perempuan berbaju merah muda itu. Dari tadi jantungnya berdentam-dentam tak karuan. Hal yang selalu terjadi setiap ia berada dekat cowo yang sekarang sedang mengemudikan setir di sampingnya, Jo. Wajah tenang dengan dagu runcing dan mata tajam dibingkai alis tipis itu selalu membuatnya merasakan sensasi yang dibencinya tetapi sekaligus juga dinikmatinya. Sesekali, Kinta menghembuskan nafasnya ke kaca jendela dan menggambar beberapa emo kecil dengan jarinya. Hal yang sering dilakukannya ketika ia sedang grogi.

“Lu masih aja ya kayak gitu,” Jo memperhatikan Kinta sekilas sembari terkekeh.

Cepat-cepat tangan mungil Kinta menggosok “mahakaryanya” dengan asal-asalan. “Nggak kok. Iseng doang.”

Jo nyengir. Iseng? Ia sudah melihat Kinta melakukan hal tersebut berpuluh-puluh kali. Mungkin itu lebih tepat disebut hobi.

“Oh iya, si Ray ngambek ya lu pulang sama gue?” Jo memutar setirnya ke kanan. Masih terbayang di benaknya ketika Ray akhirnya terpaksa merelakan Kinta pulang dengannya karena rumah mereka yang tidak searah. Biar efektif dan efisien (itu alasan Kinta) akhirnya diputuskan Kinta pulang bersama Jo. Walaupun sebenarnya ia yakin, Ray seratus satu persen rela bolak-balik demi mengantar cewe manis tersebut.

“Ah, biarin ajalah. Lagian gue males, Ray itu suka ngebut plus nyelip-nyelip kalo nyetir. Gue udah sering kasih tau dia kalo mobil dia itu gak sekurus mobil lainnya. Eh, tetep ngeyel.”

Jo tertawa kecil. “Jahat lu. Masih bagus dia mau nganterin.”

“Gue gak minta.”

“Tetep aja.”

“Dianya yang maksa.”

Jo meringis. “Nah kan, sama aja lu kayak dia. Ngeyel.”

Kinta melengos. "Bukan gitu. Tapi nanti gue disangkain php lagi."

"Dia suka sama lu?"

"Katanya sih begitu."

“Hm, ” Jo mengangguk-angguk kecil. "Keliatannya sih begitu..."

"Gue udah bilang kalo gue cuma nganggep dia itu temen. Partner dance. Tapi dia gak mau ngerti. Terus gue mesti gimana? Dibaikin salah, dijutekin juga salah."

"Banget." Jo memamerkan giginya.

Hening sejenak, Jo tiba-tiba melanjutkan. "Tapi… Apa salahnya dicoba?"

"Apa?" Kinta menoleh.

"Pacaran sama Ray."

Kinta bengong. Pertanyaan macam apa ini?

"Iya gue tau, lu gak suka. Tapi mungkin bisa dicoba." Jo langsung menambahkan ketika melihat reaksi Kinta.

"No way," Kinta mengibaskan tangan. "Lu kan tau prinsip gue."

"Ya ya. I know. Abisnya, dia kayaknya suka banget sih sama lu,” Jo berkata santai.

"Ah, Ray kan emang lebay. Lagian ngapain dia cemburu sama lu. Kan lu udah punya pacar. Haha," Kinta menanggapi dengan tawa getir.

Tidak seperti biasa, kali ini Jo terdiam. Kinta memandang heran ketika sampai belokan kedua masih tidak ada suara yang keluar dari mulut cowo itu.

"Jo?"

"Ya?" Jo mengerjap sekilas seperti baru tersadar dari sesuatu.

"Kenapa lu tiba-tiba diem? Gue ada salah ngomong ya?"

“Nggak,” Jo terdiam lalu melanjutkan. "Gue udah putus, Kin."

"Putus?"

Jo mengangguk.

"Sama Lena?"

Tatapan malas Jo langsung terhunus ke muka Kinta.

"Ya iyalah, sama siapa lagi," Jo menatap cewe itu dengan muka tak terima. Memangnya Kinta pikir,  dia punya pacar berapa sih.

Kinta meringis. "Sori Jo, reflek."

Jo hanya nyengir. Ia menimbang-nimbang sebelum akhirnya melanjutkan.

"Ini pertama kalinya gue ngaku kalo gue udah putus."

Kinta terhenyak. Raut mukanya menunjukkan kebingungan. Kenapa?

"Gue masih sayang sama Lena," Jo diam sejenak. "Setiap temen gue nanyain gimana kabar gue sama dia, gue selalu bilang kalau kami baik-baik aja. Gue selalu meyakinkan diri sendiri kalau hubungan gue sama Lena masih bisa diperbaiki. Tapi akhirnya gue sadar kalau semuanya sia-sia."

Kinta terdiam. Kesibukan kuliah yang membuat mereka putus hubungan satu sama lain ternyata menumpuk banyak cerita yang belum sempat tersampaikan.

"Lena gak bisa lupain mantannya. Pacar pertamanya selama tiga tahun itu akhirnya pulang. Dia udah berusaha buat mencintai gue tapi ternyata gak berhasil,” cerita mengalir begitu saja dari mulut Jo. Rasanya sedikit lega karena akhirnya ia bisa memuntahkan kebenaran yang selama ini disimpannya rapat-rapat.

"Well. Seenggaknya dia udah berusaha," Kinta akhirnya berhasil berkata-kata setelah bingung mau menanggapi apa. Kalimat seperti "Mungkin dia emang gak tepat buat lu." kedengarannya terlalu menghakimi.

"Ya. Seenggaknya dia berusaha."

Kinta menempelkan pipinya di kaca mobil yang berembun. Dingin.

"Cinta pertama emang susah pergi," Kinta mendesah, lebih kepada dirinya sendiri.

Suasana kembali hening sampai mobil itu mengarah ke sebuah gang kecil. Jo memelankan laju kendaraannya ketika sebangun rumah minimalis berpagar emas mulai terlihat di depan mereka.

"Thanks ya, Jo," kata Kinta setelah mobil akhirnya berhenti.

"Thanks juga udah mau pulang sama gue,” Jo menanggapi sambil tertawa kecil.

Kinta hanya mencibir. Ia sibuk mengusir desiran-desiran aneh di hatinya akibat lelucon itu sampai-sampai tidak sempat memikirkan balasan yang tepat.

“Bye. Hati-hati ya.”

B 1209 QV. Nomor plat itu mulai menjauh dari pandangan Kinta tapi bayangan pengendaranya tidak sedikitpun lepas dari otaknya. Setelah beberapa detik, gadis itu masih mematung di depan pagar.

Jo sudah putus. Kinta mengulang-ulang kalimat itu dalam pikirannya. Apakah ini berarti kesempatan kembali terbuka untuknya? Akankah ia mencoba lagi setelah berulang kali gagal dan kecewa?

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • dear.vira

    bagus ceritanya iren, jika berkenan tolong Like ceritaku juga ya https://tinlit.com/read-story/1436/2575
    terima kasih , smoga sukses selalu :)

Similar Tags
My Silence
754      523     2     
Inspirational
Seseorang pergi bukan hanya karena kalah ataupun bersalah, tapi karena dia tahu bahwa sudah tidak ada hal berharga yang harus dipertahankan disana.”
Tyaz Gamma
2304      1468     1     
Fantasy
"Sekadar informasi untukmu. Kau ... tidak berada di duniamu," gadis itu berkata datar. Lelaki itu termenung sejenak, merasa kalimat itu familier di telinganya. Dia mengangkat kepala, tampak antusias setelah beberapa ide melesat di kepalanya. "Bagaimana caraku untuk kembali ke duniaku? Aku akan melakukan apa saja," ujarnya bersungguh-sungguh, tidak ada keraguan yang nampak di manik kelabunya...
Ketika Cinta Bertahta
1042      669     1     
Short Story
Ketika cinta telah tumbuh dalam jiwa, mau kita bawa kemana ?
Diantara Cinta dan Dendam
11      3     1     
Romance
Alma satu minggu lagi hendak menikah dengan Davin, keduanya telah berpacaran selama satu tahun. Davin sangat mencintai Alma, bahkan pria itu akan menyelenggarakan pesta pernikahan yang sangat megah dan akan dipuji seluruh warga kota demi membuktikan cintanya pada Alma. Beberapa hari sebelum pesta pernikahan digelar Alma mendatangi kantor Davin dan tak sengaja mendengar percakapan tunangannya d...
One-room Couples
1275      655     1     
Romance
"Aku tidak suka dengan kehadiranmu disini. Enyahlah!" Kata cowok itu dalam tatapan dingin ke arah Eri. Eri mengerjap sebentar. Pasalnya asrama kuliahnya tinggal dekat sama universitas favorit Eri. Pak satpam tadi memberikan kuncinya dan berakhir disini. "Cih, aku biarkan kamu dengan syaratku" Eri membalikkan badan lalu mematung di tempat. Tangan besar menggapai tubuh Eri lay...
Serigala penjual stocking (Puisi)
494      347     1     
Mystery
Sebuah puisi seseorang yang menyamar menjadi penjual stocking
Secangkir Kopi dan Seteguk Kepahitan
649      384     4     
Romance
Tugas, satu kata yang membuatku dekat dengan kopi. Mau tak mau aku harus bergadang semalaman demi menyelesaikan tugas yang bejibun itu. Demi hasil yang maksimal tak tanggung-tanggung Pak Suharjo memberikan ratusan soal dengan puluhan point yang membuatku keriting. Tapi tugas ini tak selamanya buatku bosan, karenanya aku bisa bertemu si dia di perpustakaan. Namanya Raihan, yang membuatku selalu...
Luka dan Dendam
11      8     0     
Inspirational
Note: masih banyak typo dan hanya akan direvisi setelah cerita selesai. Sejak kecil, Aurel selalu merasa dirinya tak pernah cukup. Ayahnya lebih sayang pada sang adik, sementara kasih sayang ibu hanyalah fatamorgana. Hingga pertemuan dengan sang tante membuka rahasia kelam: wanita yang ia panggil “ibu” bukanlah ibu kandungnya, melainkan selingkuhan ayahnya di masa lalu—dan dialah yang me...
Gossen, Master Of Blades
1020      644     1     
Short Story
Gossen was a master of blades that grows up in a small village. To be the strongest creature in the world he must find the 5 magic swords.
Kisah di Langit Bandung
4651      2219     0     
Romance
Tentang perjalanan seorang lelaki bernama Bayu, yang lagi-lagi dipertemukan dengan masa lalunya, disaat ia sudah bertaut dengan kisah yang akan menjadi masa depannya. Tanpa disangka, pertemuan mereka yang tak disengaja kala itu, membuka lagi cerita baru. Entah kesalahan atau bukan, langit Bandung menjadi saksinya.