Loading...
Logo TinLit
Read Story - Tuan Landak dan Nona Kura-Kura
MENU
About Us  

Denting piano mengalunkan nada Here Comes the Bride pelan memenuhi ruang pemberkatan gereja pagi itu. Para tamu undangan pemberkatan pernikahan mulai berdiri, sebagai tanda penghormatan untuk mempelai wanita yang sebentar lagi akan memasuki gereja. Dari arah pintu, seorang bocah perempuan pembawa bunga mulai menabur bunga dari keranjang di tangan kirinya. Di sebelahnya, seorang bocah laki-laki yang membawa cincin pernikahan kedua mempelai dan tersenyum menggemaskan pada para tamu.

Frans berdiri di sana, di depan altar dengan setelan tuksedo dan rambut klimis, menanti mempelai wanitanya. Seorang wanita anggun pilihannya yang akan menjadi teman hidupnya sampai maut memisahkan. Seorang wanita tangguh dan mandiri yang sudah dikenalnya saat sama-sama duduk di bangku kuliah master di Jerman. Namun, baru dua tahun belakangan ini Frans menyandang status sebagai kekasihnya. Tidak mudah mendapatkan wanitanya—Yura—butuh usaha ekstra untuk berhasil mendapatkan hatinya, dan tambahan bumbu keberanian untuk mengajaknya naik ke pelaminan.

Meluluhkan hati Yura bukan satu-satunya masalah yang dihadapi Frans mencapai kebahagiaannya. Restu Sang Mama baru diberikan enam bulan sebelum hari pernikahan Frans. Bukan karena Mama tidak menyukai Yura, beliau sangat menyukai Yura—hanya sebagai teman Frans. Alasannya, karena Mama memiliki calon istri idaman sendiri untuk Frans. Hanya sampai di situ perjuangan Frans? Salah! Halangan besar terakhirnya dan yang paling menyebalkan adalah kehadiran seorang wanita—bukan, dia masih bocah—yang setiap hari dengan senyum lebar berdiri di depan Frans dan mengucapkan mantra …

“Aku suka sama Om Frans”; “Aku cinta sama Om Frans”; “Aku mau jadi istrinya Om Frans”;

Untung saja bocah itu sudah pergi, entah kemana. Tidak hanya itu, menjelang hari pernikahan, sebuah pertikaian-pertikaian kecil tidak dapat dihindari kedua mempelai. Namun, ketika semua halangan itu berhasil dilalui, yang tersisa hanyalah here comes the bride!

Setidaknya, itu yang ada di pikiran Frans.

Sepuluh menit sudah pianis gereja menekan tuts himne pernikahan yang sering bergema mengiringi langkah Sang Mempelai Wanita melangkah menuju altar. Bahkan sepasang bocah cilik sudah selesai menabur bunga, dan sekarang berdiri di sebelah Frans. Menanti pengantin wanita memasuki gereja—seharusnya dari sepuluh menit yang lalu.

Suara berbisik mulai terdengar dari para tamu undangan. Saling bertanya-tanya, apakah gerangan yang terjadi. Mengapa pengantin wanitanya belum juga memasuki ruangan? Apakah ada yang salah dengan baju pengantinnya? Ataukah sepatunya hilang sebelah—bak Cinderella? Ataukah lisptiknya kurang tebal? Entahlah, semuanya menanti cemas.

Kendra—istri Satria, sahabat Frans—yang tidak sabaran, langsung beranjak menuju ruang tunggu yang disediakan gereja. Langkah lebarnya terhenti saat mendapati ruang ganti itu kosong. Tidak ada Yura di sana. Ken menyisir seluruh sudut ruangan, nihil.

“Ck! Kemana lagi ini Yura!?” kesal Ken, lalu pandangannya tanpa sengaja tertuju pada sepucuk amplop biru yang ditindih sebagian dengan buket bunga pengantin. Diraihnya amplop itu, dan netranya melebar mengetahui apa yang ada di dalamnya.

Ken langsung berlari kembali, lalu menyerahkan amplop biru itu pada Frans tanpa sepatah kata pun.

“Kamu dari mana, sih?” bisik Satria yang langsung menarik mundur Ken dari hadapan Frans.

“Ck! Emangnya aku keliatan lagi abis jogging? Tentu aja nyari Yura! Kamu ini bestman-nya malahan diem aja ngelihat keadaan aneh begini!”

----------------------------------------

“Bang, ayo makan!” panggil Tama—adik Frans—dari luar kamar.

“Hush! Kamu ini yang sopan dikit kenapa sih, Dek? Abang kamu itu lagi patah hati, kamunya malahan teriak-teriak.”

“Ma, biasanya juga Tama manggil Bang Frans kayak gini,” sewot Tama, yang langsung menyendok nasi.

Mama Karina menghela napas pelan melihat tingkah anak bungsunya yang benar-benar tidak peduli dengan kondisi kakaknya. Sudah lebih dari seminggu Frans hidup seperti robot, lebih tepatnya sejak Yura membiarkannya berdiri di depan altar sendirian. Wifeless.

Pagi-pagi buta, Frans sudah berangkat menuju kantor. Lalu menghabiskan sepanjang hari di ruangannya untuk bekerja. Baru pulang ke rumah saat jam menunjukan pukul delapan malam, itupun langsung masuk kamar.

“Nggak bisa dibiarin ini! Abang kamu lama-lama bisa sakit!”

“Sakit ya tinggal ke dokter. Ribet amat.”

“Ck! Kamu ini, suka meremehkan orang patah hati. Mama ini sedih lihat abang kamu kayak gitu.”

“Halah! Sedih apaan? Mama pasti banyakan bahagianya daripada sedihnya pas tahu Yura kabur dan batalin pernikahan. Itu artinya, Mama bis—”

“Diem kamu! Ngoceh mulu, kayak burung beo! Ini bukan saatnya Mama bahagia,” ujar Mama, lalu terduduk di kursi makan sebelah Tama. “Tapi yang kamu bilang itu bener juga. Dengan begini, Mama jadi punya kesempatan wujudin impian Mama,” lanjut Mama Karina dengan senyum lebarnya.

Sedangkan Tama memutar matanya malas, melihat Mamanya sudah mulai berhalusinasi dengan mimpinya. Mimpi yang sudah diidamkannya semenjak pertama kali Mama Karina menggendong seorang bayi perempuan mungil di tangannya—21 tahun yang lalu. 

“Ngimpi teroosss! Anaknya aja sekarang hilang entah kemana, nggak ada yang tahu!” cibir Tama.

“Eh, Dek! Sekarang zamannya udah moderen! Ada yang namanya internet, Mbah google. Apa sih yang nggak bisa dicari di sana. Semuanya pasti ketemu.”

“Halah, sok-sokan main internet. Kuota abis aja masih teriak suruh beliin. Di ponsel aja isinya juga whatsapp grup reuni paling banter,” ejek Tama.

Mama Karina menyeringai lebar, jangan lupakan matanya yang memicing tajam menatap Tama.

“Mau taruhan? Kalau Mama bisa nemuin dia, kamu harus mau bantuin abang ngurus kantor.”

“Kalau Mama kalah?”

“Kamu minta apa?”

“Aku mau tinggal di apartemen. Sendiri. Deal?”

Deal!

--------------------------------------

Hari kekalahan immune Frans akhirnya datang juga. Setelah dua minggu menjadi pecandu kerja untuk mengalihkan sakit hatinya, Frans tumbang. Membuatnya harus istirahat total di rumah, di bawah pengawasan Mama yang super ketat.

“Buburnya dimakan, Sayang.”

Frans menggeleng, menolak tawaran suapan bubur dari Mama.

“Kamu ini jangan kayak anak kecil, Frans. Kamu butuh makan, kamu mau sakit kayak gini terus.”

“Salah Frans apa sih, Ma?” tanya Frans tanpa memedulikan nasihat Mama.

“Kamu nggak salah, Yura yang salah. Bikin malu aja! Kamu juga stop pergi ke rumahnya! Mama nggak suka.”

Frans menoleh cepat menatap Mama. Bingung, bagaimana Mama bisa tahu kalau selama ini Frans pergi ke rumah orangtua Yura setiap hari, untuk menanyakan keberadaan pujaan hatinya. Padahal, setelah Mama marah besar di hari—yang seharusnya—pernikahannya, karena larinya Yura, Frans sudah setuju dengan ultimatum Mama, bahwa dirinya tidak akan lagi berhubungan dengan Yura ataupun keluarganya.

“Kamu bingung kenapa Mama bisa tahu?”

Frans tidak menjawab.

“Bukan Tama yang kasih tahu. Jadi kamu jangan salahin dia.”

Frans masih diam.

Mama menghela napas sebelum berucap, “Mamanya Yura telepon ke rumah. Dia minta maaf atas semuanya. Dia juga cerita kalau kamu setiap hari datang ke sana buat nanya keberadaan Yura. Padahal orangtuanya juga saat ini nggak tahu dimana Yura.”

Mama meletakan nampan makanan untuk Frans di nakas. Lalu beringsut mendekati anak sulungnya, memeluknya.

“Kamu udah dewasa. Tapi hidup kamu masih panjang. Kamu boleh bersedih karena patah hati, tapi jangan sampai itu membuat hidup kamu berhenti di satu titik.”

“Tapi, Ma—”

“Mama tahu, kamu sayang banget sama Yura. Tapi mungkin kalian memang nggak jodoh.”

“Ini semua salah Frans, Ma. Frans seharusnya lebih memahami perasaan Yura. Kalau aja Frans mau berubah buat Yura, pasti semuanya akan baik-baik saja.”

Mama mengurai pelukannya, mengelus lembut pipi Frans yang mulai berjambang. Lelaki itu tidak lagi memperhatikan pernampilannya yang parlente semenjak hari nahas itu.

“Kamu jelek banget sih! Cukuran dong!” ujar Mama sembari menepuk pipi Frans pelan. “Kalau Farah ada di sini, pasti dia—”

“Udah beli cukuran sama foam dan duduk di tempat Mama sekarang. Terus maksa aku buat cukuran,” potong Frans. “Farah udah pergi, Ma. Nggak usah diinget-inget lagi, emang anaknya nggak mau ditemuin. Makanya nggak pernah sekalipun kasih kabar.”

“Itu kamu bisa ngomong begitu tentang Farah. Kamu nyuruh Mama buat nggak inget-inget Farah lagi. Sendirinya kamu malahan sampai jatuh sakit mikirin Yura.”

Frans tersenyum mendengar kalimat Mama. Benar juga apa yang dikatakan wanita dengan rol rambut di kepalanya ini. Frans selalu menasihati Mama agar melupakan ‘putri’nya yang tiba-tiba pergi tanpa kabar. Namun, dirinya sendiri malah sampai terpuruk sakit memikirkan calon istrinya yang jelas-jelas dalam suratnya mengatakan bahwa dia tidak lagi mencintai Frans.

Surat tulisan tangan Yura yang ditinggalkannya di hari bahagia itu, mengingatkan Frans pada hari-hari sebelum pernikahan. Seharusnya Frans bisa melihat tanda-tanda bahwa Yura akan meninggalkannya. Bahwa Yura sudah muak terhadapnya. Bahwa Yura tidak sanggup lagi berada di sisinya.

--------------------------------

Satu minggu sebelum pernikahan …

“Frans, kateringnya ada yang perlu ditambah lagi nggak?” tanya Yura sembari membaca kembali daftar menu dari pegawai katering.

“Apa aja, kamu bisa tambah semuanya yang kamu mau,” jawab Frans, lalu kembali sibuk dengan ponselnya.

Yura menghela napas pelan, lalu menyerahkan kembali daftar menu di tangannya.

“Saya rasa sudah cukup.”

Pegawai katering mengangguk, “Untuk kue pernikahannya, tetap seperti rencana?”

“Iya.”

“Baiklah, semua perubahan sudah saya catat. Ada lagi yang mau ditambahkan?”

Yura menggeleng, lalu beranjak dari duduknya, dan menyalami pegawai katering. Setelahnya, tanpa memedulikan Frans yang masih tertunduk memperhatikan ponselnya, Yura melangkah keluar meninggalkan toko kue pernikahan dan katering.

“Yura,” panggil Frans, ketika berhasil menyusul langkah Yura. “Kamu kenapa, sih? Ninggalin aku gitu aja?”

“Frans! Ini sebenarnya siapa sih yang nikah?” tanya Yura retoris, “Kita atau aku sama boneka?”

Frans mengernyit bingung mendengar pertanyaan Yura, lalu memasukan ponselnya ke saku jas. Diraihnya kedua lengan Yura, berusaha menenangkannya.

“Kamu tenang dulu, dong. Semuanya kan udah diurus sama WO, kita tinggal terima beres.”

“Frans! Kamu tahu kan, kalau dari dulu, aku itu pengen ngurus pernikahan aku sendiri.”

“Iya, sekarang kamu ngurus juga, kan? Kita emang pake WO, tapi untuk katering dan venue kamu yang urus. Aku nggak mau kamu terlalu capek mikirin itu semua. Kita udah setuju ini dari awal.”

“Tapi bukan it—”

Frans merogoh kembali saku jasnya ketika teleponnya berdering.

“Sebentar, Sayang.”

Frans beranjak dari tempatnya berdiri, berjalan sedikit menjauh dari Yura yang menahan kesal melihat tingkah Frans.

“Sayang, kayaknya aku nggak bisa temenin kamu ke venue. Ada kerjaan yang mesti diselesaiin sekarang.”

Yura mencebik kesal.

“Kamu itu nggak pernah berubah! Selalu aja sibuk sama pekerjaan. Nggak pernah punya waktu sama aku. Kamu ngajak aku pacaran, terus nikah, buat jadi pajangan aja di rumah? Aku ini bakal istri kamu, Frans!”

“Aku kerja juga buat kita, Sayang,” ucap Frans dengan emosi tertahan. “Memangnya kamu mau hidup kekurangan kalau kita udah nikah nanti?”

“Kerja ya kerja, tapi juga harus tau waktu dan prioritas!”

“Kamu prioritas utama aku,” yakin Frans untuk Yura.

“Bullshit! Prioritas utama kamu itu ya pekerjaan kamu, Mama kamu, sama … siapa itu? Cewek SMA yang entah minggat kem—”

“Farah. Namanya Farah.”

“Yeah, whatever! Kamu nggak pernah peduliin aku. Aku ini pacar sekaligus calon istri kamu, tapi selalu jadi yang paling akhir!”

“Bukan begitu, Ra.”

“Bukan begitu apa?! Kamu itu nggak pernah ada kalau aku lagi butuh kamu! Apalagi sekarang kita udah mau nikah, kamu juga nggak mau tahu tentang persiapannya.”

“Ya aku udah bayar WO buat ngurus keperluan kita. Aku nggak mau kamu terlalu mikirin persiapannya. Jadinya kamu capek sendiri, stress sendiri, marah-marah karena alesan nggak jelas gini.”

“Nggak jelas kamu bilang? Kamu itu yang nggak jelas!” bentak Yura, lalu berlalu meninggalkan Frans yang masih merutuki dirinya sendiri.

 

 

Continuará

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
ARSELA: Perjodohan si Syar'i dan Ketua Geng Motor
267      219     3     
Romance
Memiliki hutang budi dengan keluarga Dharmendra, Eira mau tidak mau menyetujui perjodohan dengan putra sulung keluarga itu, Arsel, seorang ketua geng motor tersohor di kampusnya.
Benang Merah, Cangkir Kopi, dan Setangan Leher
343      285     0     
Romance
Pernahkah kamu membaca sebuah kisah di mana seorang dosen merangkap menjadi dokter? Atau kisah dua orang sahabat yang saling cinta namun ternyata mereka berdua ialah adik kakak? Bosankah kalian dengan kisah seperti itu? Mungkin di awal, kalian akan merasa bahwa kisah ini sama seprti yang telah disebutkan di atas. Tapi maaf, banyak perbedaan yang terdapat di dalamnya. Hanin dan Salwa, dua ma...
Sebuah Kisah Tentang Dirinya
1329      805     0     
Romance
Setiap orang pernah jatuh cinta dan mempunya ekspetasi tinggi akan kisah percintaannya. Namun, ini adalah kehidupan, tak selalu berjalan terus seperti yang di mau
Under The Darkness
120      111     2     
Fantasy
Zivera Camellia Sapphire, mendapat sebuah pesan dari nenek moyangnya melalui sebuah mimpi. Mimpi tersebut menjelaskan sebuah kawasan gelap penuh api dan bercak darah, dan suara menjerit yang menggema di mana-mana. Mimpi tersebut selalu menggenangi pikirannya. Kadangkala, saat ia berada di tempat kuno maupun hutan, pasti selalu terlintas sebuah rekaman tentang dirinya dan seorang pria yang bah...
For One More Day
620      447     0     
Short Story
Tentang pertemuan dua orang yang telah lama berpisah, entah pertemuan itu akan menyembuhkan luka, atau malah memperdalam luka yang telah ada.
Bersua di Ayat 30 An-Nur
1053      558     3     
Romance
Perjalanan hidup seorang wanita muslimah yang penuh liku-liku tantangan hidup yang tidak tahu kapan berakhir. Beberapa kali keimanannya di uji ketaqwaannya berdiri diantara kedengkian. Angin panas yang memaksa membuka kain cadarnya. Bagaimana jika seorang muslimah seperti Hawna yang sangat menjaga kehormatanya bertemu dengan pria seperti David yang notabenenya nakal, pemabuk, pezina, dan jauh...
Confession
671      506     1     
Short Story
Semua orang pasti pernah menyukai seseorang, entah sejak kapan perasaan itu muncul dan mengembang begitu saja. Sama halnya yang dialami oleh Evira Chandra, suatu kejadian membuat ia mengenal Rendy William, striker andalan tim futsal sekolahnya. Hingga dari waktu ke waktu, perasaannya bermetamorfosa menjadi yang lain.
Roger
2362      1070     2     
Romance
Tentang Primadona Sial yang selalu berurusan sama Prince Charming Menyebalkan. Gue udah cantik dari lahir. Hal paling sial yang pernah gue alami adalah bertemu seorang Navin. Namun siapa sangka bertemu Navin ternyata sebuah keberuntungan. "Kita sedang dalam perjalanan" Akan ada rumor-rumor aneh yang beredar di seluruh penjuru sekolah. Kesetiaan mereka diuji. . . . 'Gu...
LUCID DREAM
641      468     2     
Short Story
aku mengalami lucid dream, pada saat aku tidur dengan keadaan tidak sadar tapi aku sadar ketika aku sudah berada di dunia alam sadar atau di dunia mimpi. aku bertemu orang yang tidak dikenal, aku menyebutnya dia itu orang misterius karena dia sering hadir di tempat aku berada (di dalam mimpi bukan di luar nyata nya)
Loading 98%
691      434     4     
Romance