Loading...
Logo TinLit
Read Story - Janji-Janji Masa Depan
MENU
About Us  

Berbeda dengan alasan putrinya.

Aku menjawab, “Sedang ingin bertemu orang Pak, jenuh di rumah bertemu sepi terus.”

Pak Bah tertawa, ia bolak-balik dari rumah menuju bengkel elektronik ini, sejenak menemuiku dan menemui putrinya. “Bisa kebetulan berkebalikan seperti itu ya.

Ah! Atau bisa jadi obat dari sesuatu yang tengah kita derita adalah kebalikannya. Semisal kita sedang kepanasan, kita mencari dingin untuk meredakannya.

Ketika kita terlanjur naik terlalu tinggi, kita akan turun untuk merendahkannya, atau ketika merasa sempit kita perlu luas untuk melegakannya.

Termasuk kalian, putriku tengah jenuh dengan ramai alhasil ia mencari sepi, juga kau yang lelah dengan sepi, mencoba bertemu sedikit ramai agar tidak merasa sendirian. Lucu sekali, aku baru sadar di usia setua ini.”

Aku juga baru menyadarinya.

“Pak, silakan menemui putri Pak Bah terlebih dulu tidak apa-apa. Saya bisa nanti-nanti saja.” Aku tak ingin mengganggu pertemuan anak dan ayah ini.

“Oh tidak. Tidak perlu, ia punya banyak teman di sini.”

Tak selang beberapa lama, kulihat beberapa anak kecil ramai masuk dari pintu samping rumah Pak Bah.

“Mereka adalah tetangga yang sudah aku anggap sebagai cucu dan keponakanku. Entah kapan mereka dengar kabar Sena pulang. Aku tak memberi tahu siapa pun soal ini. Sena jarang sekali pulang, jadi anak-anak akan berkumpul semua jika momennya tepat.”

Aku lebih banyak mengangguk seperti biasanya, rupanya nama gadis itu Sena.

“Jangan kau pandangi anak gadisku terus menerus, nanti habis.” Candaan Pak Bah membuat wajahku merah.

Aku tak bermaksud memandang seperti itu.

“Apa Sena berkunjung untuk waktu yang lama?” tanyaku tiba-tiba. Lidahku kikuk menyebut namanya, sedikit canggung, sok kenal padahal baru kali ini dengar.

“Entah, ia harus kembali bekerja dan sekolah. Tapi ia sudah dewasa jadi sudah bukan tugasku lagi untuk mengaturnya.”

Seperti biasa, aku disuruh-suruh untuk mengambilkan perkakas yang dibutuhkan Pak Bah saat membetulkan barang.

Kali ini ia tengah mengoperasi mesin water-heater. Aku ragu mesin ini akan bisa betul kembali, dilihat dari casing-nya sudah tidak meyakinkan.

Di sisi meja tergeletak Sigaret State Express Blend 555 Gold yang masih utuh dengan bungkusnya.

Aku mencoba untuk tidak terlalu kaget, pelan-pelan meraba bagaimana sebenarnya Pak Bah ini.

Dengan datangnya Sena hari ini, melihat penampilannya, dan mengetahui sifat riangnya saat menyambutku tadi, aku mulai terbiasa dengan hal-hal yang di luar dugaan.

Seperti Pak Bah bisa menebak isi kepalaku ia pun membahasnya, “Itu punya tamuku kemarin sore. Entah ia terlupa atau sengaja meninggalkannya untukku. Meskipun harganya mahal, ia keliru, karena aku dari muda tidak merokok. Hanya pernah sesekali mencoba.”

“Aku juga belum pernah menghisap barang berasap itu, pak. Bahkan tidak bisa mengarang harganya, tapi terlepas benar atau tidak, aku percaya untuk kemasan yang satu ini pasti isinya mahal.”

Wadahnya jarang aku temui di warung atau di Koperasi Toserba sekalipun. Mewah.

“Kau cuti lagi? Dalam rangka apa?”

“Cuti sampai waktu yang tidak ditentukan, Pak.”

“Maksudnya?” Bola matanya melirik keluar frame kacamata yang ia kenakan.

“Dua hari yang lalu, aku dipecat.”

Pak Bah sampai menghentikan pekerjaannya sesaat dan menatapku. “Mengapa mereka memecatmu? Kurasa kau anak muda yang ulet dan tekun. Kesalahan apa yang kau atau mereka buat sampai-sampai dipecat begitu?”

Aku masih diam, bingung bagaimana cara mengatakan.

Sejenak hening, hanya samar-samar terdengar suara tawa anak-anak dari dalam rumah.

“Jika itu berarti bagimu, kau pasti berat menceritakannya. Aku paham. Aku yakin mereka telah membuat keputusan yang keliru karena memecatmu.”

“Pak Bah berlebihan, memang aku yang salah. Kerjaku tidak betul, semenjak Zahwa pergi. Awalnya aku memang tidak mau mengakui, selembek itukah aku. Tapi semakin aku tidak mengakui, semakin pernyataan tadi terdengar memang begitu kejadiannya. Aku juga bertengkar dengan sejawat yang dulunya sangat akrab denganku. Ia tak mengatakan apa pun saat Bos memintaku menghadap.” Aku bicara dengan nada emosional, kejadian ini masih hangat-hangatnya di kepalaku.

“Nak, kehilangan pekerjaan tidak menandakan kau kehilangan masa depan. Aku contohnya, tidak terhitung berapa puluh kali aku ganti pekerjaan, mungkin ratusan surat lamaran ditolak perusahaan. Tapi lihat aku kini, masih hidup dan tidak bingung perkara finansial. Apa pekerjaan itu berarti untukmu? Apa kau senang menjalaninya?”

Aku diam sejenak, menatap jauh, kemudian mengangguk, meskipun pekerjaannya hanya penjaga toko tapi aku senang menjalaninya.

Bertemu banyak orang, menghitung uang, akrab dan bercanda dengan anak-anak sekolah.

Itu membuat hariku tidak terlewati begitu saja, ada bumbu-bumbu penyedap yang riang untuk diceritakan.

“Lalu apa yang kau lakukan pasca dipecat kemarin?”

Aku menggeleng, tidak ada yang kulakukan. Terbaring di kasur sepanjang hari dan hanya bangkit untuk makan dan sembahyang.

“Nah! Nah! Itu kesalahannya. Kau tidak salah karena dipecat, salahmu yang terlalu sedih dan berlarut-larut saat menghadapinya. Dengar, kau memang tidak bisa menolak musim kemarau, tapi kau bisa ciptakan semi bagi tanamanmu sendiri.”

Aku belum paham, tidak menangkap arah pembicaraan ke mana.

“Maksudku, perkara kau dipecat, kini sudah bukan kesalahanmu. Kau tak bisa menolak kalau kau dipecat, tapi hal yang bisa kau lakukan adalah mencari pekerjaan lagi, bukannya malah murung dan tidak melakukan apa pun. Tidak harus yang langsung berwujud sebuah pekerjaan, bisa kau bantu-bantu ibumu di dapur, atau tetanggamu di sawah. Yang penting jangan menganggur. Dengan menganggur kau akan kesepian, dan kesepian adalah pupuk terbaik bagi rasa benci dan perasaan ingin menyalahkan, entah pada diri sendiri atau bisa jadi orang lain.”

Aku mengangguk dalam.

Aku pun sadar dengan kemurunganku yang kemarin. “Pak, tapi mengapa Sena kemari mencari sepi? Apa ia mencari pupuk itu juga?”

“Adalah dua hal yang berbeda antara sepi dan kesepian, Nak.”

Pak Bah sudah kembali sibuk dengan relay dan thermostat water-heater, aku sedikit-sedikit membantunya merapikan badan mesinnya kembali.

“Nak, ketahui dan peganglah hal ini betul-betul. Berjalanlah, kau akan selalu dapat ganti dari apa-apa saja yang kau tinggalkan. Berjalan di sini bukan untuk artian sesungguhnya, maksudnya hanya agar kau tidak diam saja di satu tempat. Untuk urusan pekerjaan, cobalah untuk membantu tetangga sambil teliti mencari pekerjaan yang kiranya cocok. Bisa jadi memang sudah bukan waktumu lagi untuk menjadi penjaga toko, seberapa pun pekerjaan itu kau nikmati. Selanjutnya, mungkin kau akan dapat yang jauh lebih baik, jauh lebih bermanfaat. Tidak ada yang tahu.”

“Terima kasih, Pak Bah. Kata-katamu mengisi sekali.” Dan ini alasan mengapa aku kemari, Pak Bah punya kata-kata ajaib yang berlaku bagi diriku.

“Belum selesai,” sahutnya, “satu lagi, hendak ke mana pun kakimu akan melangkah, perpindahan yang pertama adalah dari kaki sendiri. Tidak mungkin meminjam kaki teman, benar?”

Aku mengangguk penuh.

“Kau paham maksudnya?”

“Paham Pak.”

“Nah, sekarang aku tanya bagaimana kabar gadis matahari terbitmu itu?”

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (3)
  • mesainin

    I wish I can meet Nadif & Pak Bah in real life :'

    Comment on chapter Epilog
  • cimol

    ayoo !!!

    Comment on chapter Prolog
  • wfaaa_

    next chapter!

    Comment on chapter Prolog
Similar Tags
Mari Collab tanpa Jatuh Hati
5627      2337     2     
Romance
Saat seluruh kegiatan terbatas karena adanya virus yang menyebar bernama Covid-19, dari situlah ide-ide kreatif muncul ke permukaan. Ini sebenarnya kisah dua kubu pertemanan yang menjalin hubungan bisnis, namun terjebak dalam sebuah rasa yang dimunculkan oleh hati. Lalu, mampukah mereka tetap mempertahankan ikatan kolaborasi mereka? Ataukah justru lebih mementingkan percintaan?
Kamu
6270      2612     1     
Romance
Dita dan Angga sudah saling mengenal sejak kecil. Mereka bersekolah di tempat yang sama sejak Taman Kanak-kanak. Bukan tanpa maksud, tapi semua itu memang sudah direncanakan oleh Bu Hesti, ibunya Dita. Bu Hesti merasa sangat khawatir pada putri semata wayangnya itu. Dita kecil, tumbuh sebagai anak yang pendiam dan juga pemalu sejak ayahnya meninggal dunia ketika usianya baru empat tahun. Angg...
Love is Possible
206      188     0     
Romance
Pancaroka Divyan Atmajaya, cowok angkuh, tak taat aturan, suka membangkang. Hobinya membuat Alisya kesal. Cukup untuk menggambarkan sosok yang satu ini. Rayleight Daryan Atmajaya, sosok tampan yang merupakan anak tengah yang paling penurut, pintar, dan sosok kakak yang baik untuk adik kembarnya. Ryansa Alisya Atmajaya, tuan putri satu ini hidupnya sangat sempurna melebihi hidup dua kakaknya. Su...
Langkah yang Tak Diizinkan
599      517     0     
Inspirational
Katanya dunia itu luas. Tapi kenapa aku tak pernah diberi izin untuk melangkah? Sena hidup di rumah yang katanya penuh cinta, tapi nyatanya dipenuhi batas. Ia perempuan, kata ibunya, itu alasan cukup untuk dilarang bermimpi terlalu tinggi. Tapi bagaimana kalau mimpinya justru satu-satunya cara agar ia bisa bernapas? Ia tak punya uang. Tak punya restu. Tapi diam-diam, ia melangkah. Dari k...
From You
452      326     4     
Romance
Hanna George, hanyalah seorang wanita biasa berumur 25 tahun yang amat cantik. Ia bekerja sebagai HRD di suatu perusahaan. Hanna sudah menikah namun di saat yang bersamaan ia akan bercerai. Di tengah hiruk pikuknya perceraian yang berakhir dengan damai—mungkin, Hanna menyempatkan diri untuk pergi ke sebuah bar yang cukup terkenal. Di sanalah Hanna berada. Dalam ruang lingkup dunia malam, ber...
MANITO
5767      3633     14     
Romance
Dalam hidup, terkadang kita mempunyai rahasia yang perlu disembunyikan. Akan tetapi, kita juga butuh tempat untuk menampung serta mencurahkan hal itu. Agar, tidak terlalu menjadi beban pikiran. Hidup Libby tidaklah seindah kisah dalam dongeng. Bahkan, banyak beban yang harus dirasakan. Itu menyebabkan dirinya tidak mudah berbagi kisah dengan orang lain. Namun, ia akan berusaha untuk bertahan....
Meteor Lyrid
671      494     1     
Romance
Hujan turun begitu derasnya malam itu. Dengan sisa debu angkasa malam, orang mungkin merasa takjub melihat indahnya meteor yang menari diatas sana. Terang namun samar karna jaraknya. Tapi bagiku, menemukanmu, seperti mencari meteor dalam konstelasi yang tak nyata.
Chrisola
1405      888     3     
Romance
Ola dan piala. Sebenarnya sudah tidak asing. Tapi untuk kali ini mungkin akan sedikit berbeda. Piala umum Olimpiade Sains Nasional bidang Matematika. Piala pertama yang diraih sekolah. Sebenarnya dari awal Viola terpilih mewakili SMA Nusa Cendekia, warga sekolah sudah dibuat geger duluan. Pasalnya, ia berhasil menyingkirkan seorang Etma. "Semua karena Papa!" Ola mencuci tangannya lalu membasuh...
Bullying
597      375     4     
Inspirational
Bullying ... kata ini bukan lagi sesuatu yang asing di telinga kita. Setiap orang berusaha menghindari kata-kata ini. Tapi tahukah kalian, hampir seluruh anak pernah mengalami bullying, bahkan lebih miris itu dilakukan oleh orang tuanya sendiri. Aurel Ferdiansyah, adalah seorang gadis yang cantik dan pintar. Itu yang tampak diluaran. Namun, di dalamnya ia adalah gadis rapuh yang terhempas angi...
Untitled
507      290     0     
Romance
This story has deleted.