Loading...
Logo TinLit
Read Story - Rumah yang Tak Pernah Disinggahi Kembali
MENU
About Us  

Pria itu berdiri di bibir jembatan, menghadap ke arah gemuruh laut yang memecah kesunyian. Malam telah bertengger, membisukan riuh manusia, membekap setiap tanda tanya yang belum terpecahkan, melenyapkan segala intensitas kehidupan. Hanya ada sepotong bulan purnama bercahaya temaram tertutup beberapa awan legam dan seorang pria dengan api rokok  yang terlihat seperti seekor kunang-kunang yang kesepian.

“Pulanglah, kami merindukanmu,” ucap pria itu lamat-lamat membacakan sebuah pesan singkat di telepon genggamnya. Dia terlihat tak cukup senang. Sekilas kebingungan tersirat di wajahnya.

Dia menghadap ke arah jalan. Kemudian dihentikannya bus yang mendekat. Dia masuk, lalu duduk di bangku paling belakang. Tidak banyak penumpang bus itu. Hanya ada seorang nenek tua yang sibuk mengerjakan kerajinan tangan terbuat dari wol, seorang remaja yang berulang kali meneguk minuman keras sampai-sampai dia tidak menyadari celananya yang telah melorot hingga ke lutut, dan seorang pria berumur sekitar empat puluhan yang sedang membaca majalah dewasa berisi gambar telanjang anak-anak dibawah umur. Mereka semua duduk di bangku paling belakang.

Bus itu melaju membelah kesunyian. Hanya sesekali bunyi klakson memecah senyap. Lampu-lampu kota berpendar, namun tidak mampu menguatkan eksistensinya di malam yang terlalu gulita.

Pria itu turun di sebuah perkampungan. Dia merogoh sakunya yang dalam. Sebatang rokok mencuat dari tangannya yang baru menyembul dari saku celana. Dipetiknya korek api, lalu dia duduk di salah satu kursi kosong di tepi jalan. Dan kembalilah dia pada aktivitas favoritnya: mengisap rokok sembari memikirkan apa yang perlu dipikirkan. Walaupun dia tak yakin berpikir adalah hal yang mutlak mampu memecahkan masalah. Dan dia pun tak yakin ada masalah yang harus dipikirkan. Yang jelas, dia hanya ingin berpikir saja. Dan yang pasti, dia hanya tahu dirinya memiliki nama Tawil Burhanudin. Itulah yang tertera pada KTP. Dia tak tahu kapan dan di mana dia lahir. Karena hanya bagian nama saja yang masih terlihat jelas di kartu identitas tersebut.

Tawil tidak kehilangan jati diri. Dia yakin akan hal itu. Namun dia percaya ada sesuatu yang mengganjal. Dia tahu yang bisa dia lakukan hanyalah merenungi sesuatu yang sempat terlewatkan di kehidupannya.

Setelah hampir satu jam dia mengisap rokok, jarinya terasa kram. Hampir seharian jarinya menjepit rokok, seakan menjepit rokok adalah rutinitas layaknya bernapas.

Matahari mulai menunjukkan keberadaanya. Langit gelap berangsur membiru. Dia bangkit lalu berjalan. Berjalan entah ke mana. Ada ketukan kecil di hatinya, menyuruhnya tuk berjalan saja.

Dia melintasi tepian kali. Deru air terdengar jelas, saking sepinya. Kemudian dia melewati beberapa petak sawah. Beberapa petani sudah turun dari rumah dan mulai menggarap padi-padi di sawah.

Tawil terus berjalan. Dia masih menerka-nerka akhir dari tujuannya ini.

Sebuah rumah kecil terlihat ramai dari kejauhan. Ketika dia mendekat, barulah dia tahu mengapa ada keramaian seperti ini. Ada bendera kuning yang ditancapkan di depan rumah. Ramai sekali orang-orang berdatangan, dan tak sedikit tangis yang pecah. Mungkin sang almarhum adalah orang yang sangat baik dan dekat dengan warga, sehingga mereka merasakan kehilangan yang mendalam.

Diintipnya ke dalam dengan wajah lusuh. Tawil masuk terburu-buru seakan dia adalah kerabat sang almarhum, padahal ketergesaannya tidak lebih karena rasa penasarannya akan sosok orang mati di hadapannya. Dia menghampiri tubuh kaku yang terbujur di tengah kerumunan. Dipandangnya wajah jenazah itu. “Aku tak kenal,” pungkasnya lirih. Dia mengisap rokoknya makin dalam.

Keranda telah bangkit, dan jenazah dibawa beramai-ramai oleh warga kampung. Tawil mengikuti rombongan tersebut dari belakang. Toh, tak ada salahnya melihat prosesi pemakaman. Tak ada ruginya juga, pikirnya. Barangkali di tengah jalan dia akan menemukan jawaban untuk apa dia berada di sini.

Di sebelah keranda yang masih dibopong, ada seorang wanita yang tersedu-sedu. Berulang kali dia mengucapkan, ‘Ibu... Ibu... Ibu...” Tampaknya ia adalah anak sang almarhum.

Sebuah pemakaman umum terlihat tak lama kemudian. Rombongan warga yang melayat memasuki pemakaman tersebut. Sudah ada satu liang kubur yang menganga. Di sebelahnya ada dua kuburan yang berapatan. Ketiga kuburan itu sengaja dirapatkan karena mereka adalah satu keluarga. Barangkali dengan cara itu mereka bisa bereuni di dalam liang kubur sambil bercerita tentang kenangan indah semasa hidup.

Jenazah tadi diturunkan dari keranda, lalu beberapa laki-laki menurunkan jenazah tersebut ke liang lahat. Tanah mulai ditimbun kembali, menutup tubuh si jenazah. Tangis mulai pecah.  Langit malam mulai rontok digantikan langit berseri-seri yang dijilati sinar mentari pagi. Ada duka yang menyambut pagi yang seharusnya disambut gembira oleh setiap orang.

Semua orang berkabung. Sanak keluarga tidak memancarkan ekspresi apa pun kecuali sendu yang pekat. Hanya Tawil yang tidak merasakan kesedihan apa pun. Tepatnya, dia tak tahu bagaimana harus bereaksi. Tak sedih, namun tak pula bersuka cita. Seolah jenazah yang ada di hadapannya itu bukanlah seseorang yang pernah dikenalnya. Seakan adegan yang terbentang di hadapannya hanyalah sebuah drama yang diputar berkali-kali pun tak akan mengubahnya menjadi kenyataan. Hatinya telah beku. Atau memang dia tak memiliki hati lagi?

Berpuluh-puluh manusia yang mengarak pemakaman telah bubar dan berpencar seperti asap yang dikibas angin. Tawil menyulut api dari pemantik dan melekatkannya ke ujung rokok. Dia mengisap perlahan dengan nikmat, lalu diembuskannya dengan perlahan pula, hingga apinya mengepul seakan mengiring kepergian orang yang pernah dekat dengannya selama berpuluh tahun di masa hidup silam.

Dia memperhatikan nisan di kuburan yang baru ditimbun tadi. Nama sang almarhum adalah Zulaikha Rasyid. Dua kuburan di sampingnya yang berdempetan, tertulis pada nisannya nama Burhanudin Nazwir dan Tawil Burhanudin. Sepasang suami istri dan seorang anak laki-laki yang telah meninggalkan dunia.

Tawil berdiri di tepi jalan, menunggu bus menuju kota. Sebuah bus merah yang penampilannya kusam menghampiri Tawil. Lalu dia naik dan duduk di kursi paling belakang. Dalam pikirannya, dia akan menuju kota dan pergi ke kantor. Kemudian malamnya dia akan pergi ke tempat hiburan malam, menghabiskan waktu bersama para gadis sewaan.

Tawil tak sadar ajal telah menjemputnya. Bahkan ketika ruhnya tak berikatan dengan dunia pun dia tak peduli dengan orangtuanya. Sama seperti ketika dia masih hidup. Setelah menjadi orang sukses, dia lupa dengan kehidupan di kampung, termasuk dengan keluarganya. Ketika orangtuanya berkirim kabar, tak sempat dia balas. Setiap kali sang ibu menghubunginya, ada saja alasan untuk mengindikasikan bahwa dia sedang sibuk. Dia terlambat untuk sadar, hidup tak abadi seperti kelopak melati yang bisa gugur kapan saja. Waktu akan mencekik hayat secara perlahan. Ketika kematian mengetuk pintu rumah, tak akan ada lagi kesempatan kedua apalagi ketiga.

Kematian dan sekelebat dosa masa lalu mengikis ingatannya hingga tidak menyisakan ingatan apapun kecuali keasyikan dunia yang menggerus kemanusiaan.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Pertualangan Titin dan Opa
4179      1735     5     
Science Fiction
Titin, seorang gadis muda jenius yang dilarang omanya untuk mendekati hal-hal berbau sains. Larangan sang oma justru membuat rasa penasarannya memuncak. Suatu malam Titin menemukan hal tak terduga....
The Hidden Kindness
527      391     2     
Fan Fiction
Baru beberapa hari menjadi pustakawan di sebuah sekolah terkenal di pusat kota, Jungyeon sudah mendapat teror dari 'makhluk asing'. Banyak sekali misteri berbuntut panjang yang meneror sekolah itu ternyata sejak ada siswi yang meninggal secara serius. Bagaimana cara Jungyeon harus menghadapi semua hal yang mengganggu kerja di tempat barunya? Apakah ia harus resign atau bertahan?
Aku, Kamu Dan Dia
267      253     0     
Short Story
"Apa yg kau lakukan?? " Teriak Rein dengan suara serak nya. "Maaf, aku akan tanggung jawab atas perbuatan ku. " Ucap Raka dengan raut wajah yg datar. Apa yg sebenarnya terjadi ??? ##
My Story
711      440     2     
Short Story
there’s always a first for everything, but will it always end up good or
UNTAIAN ANGAN-ANGAN
1081      827     0     
Romance
“Mimpi ya lo, mau jadian sama cowok ganteng yang dipuja-puja seluruh sekolah gitu?!” Alvi memandangi lantai lapangan. Tangannya gemetaran. Dalam diamnya dia berpikir… “Iya ya… coba aja badan gue kurus kayak dia…” “Coba aja senyum gue manis kayak dia… pasti…” “Kalo muka gue cantik gue mungkin bisa…” Suara pantulan bola basket berbunyi keras di belakangnya. ...
A Place To Remember
1116      707     5     
Short Story
Cerpen ini bercerita tentang kisah yang harus berakhir sebelum waktunya, tentang kehilangan, tentang perbedaan dunia, juga tentang perasaan yang sia-sia. Semoga kamu menyukai sepotong kisah ini.
Trust Me
176      159     0     
Fantasy
Percayalah... Suatu hari nanti kita pasti akan menemukan jalan keluar.. Percayalah... Bahwa kita semua mampu untuk melewatinya... Percayalah... Bahwa suatu hari nanti ada keajaiban dalam hidup yang mungkin belum kita sadari... Percayalah... Bahwa di antara sekian luasnya kegelapan, pasti akan ada secercah cahaya yang muncul, menyelamatkan kita dari semua mimpi buruk ini... Aku, ka...
12 Kenangan Shilla
711      515     4     
Short Story
Cerita tentang Shilla di hari terakhir di masa sekolahnya. Mau tau tentang 12 kenangan Shilla pada masa sekolah? Simak cerita ini!
Aku dan Saya
426      264     1     
Inspirational
Aku dan Saya dalam mencari jati diri,dalam kelabilan Aku yang mengidolakan Saya yang sudah dewasa.
Misteri pada Mantan yang Tersakiti
989      590     6     
Short Story
98% gadis di dunia adalah wujud feminisme. Apakah kau termasuk 2% lainnya?