Loading...
Logo TinLit
Read Story - Teman Hidup
MENU
About Us  

Nadia membulatkan mata saat Rendra mengantar Damian. Wajahnya lebam dan berwarna biru. Wanita itu tak percaya dengan apa yang Damian alami. 

“Kamu kenapa, Dami?”

Rendra mengulas senyum tipis pada Nadia. “Anakmu ini sok jagoan, Nad. Tapi pasti dia punya alasan kuat.”

Nadia mengelus pelan pipi anaknya dan meringis saat menyadari Damian yang mengaduh kesakitan.

“Lukanya udah dibersihin, Nad. tapi kamu harus sering kompres biar cepat sembuh,” ujar Rendra lagi.

“Makasih ya, Ren. Ayo, masuk dulu. Aku buatkan teh.”

Rendra menggeleng pelan. “Aku cuma memastikan Damian nggak berbuat yang aneh lagi. Oke, Nad, sampai kita ketemu lagi. Dam, jaga dirimu, ok?”

Damian mengiakan mengusap pelan lengan Rendra sebagai wujud terima kasih. 

Nadia menuntun Damian sebelum memintanya duduk di ruang tengah. Wanita paruh baya itu lalu membuka lemari dan mengambil baskom. “Kamu ada masalah apa, Dami? Dan kenapa harus sampai berantem? Kamu kayak anak kecil tahu nggak,” ujar Nadia, menuang air dingin ke baskom.

Damian menghela napas, kembali teringat perkataan Auriga. Damian tidak pernah menduga jika sahabatnya malah memasukkannya ke jurang terdalam. “Nggak papa, Ma. Hal biasa kalau aku melampiaskan emosi.”

Nadia mengembuskan napas kesal. Wanita itu tahu Damian tidak menceritakan yang sebenarnya. 

“Pasti ada yang memicu, kan? Nggak mungkin tiba-tiba kamu meninju orang,” ujar Nadia duduk di sebelah anaknya.

Damian memandang langit-langit dan membiarkan Nadia mengompres pipinya. Kain basah yang bertemu dengan lukanya membuat lelaki itu meringis.

“Ma, pelan-pelan. Masih perih,” ujar Damian lirih.

“Tahan. Tapi kamu tumben ketemu Rendra. Ada hal penting?” tanya Nadia, mengalihkan pembicaraan. 

Damian menatap Nadia sejenak. “Kami mau kerjasama, Ma. Dan nggak sengaja aku ketemu Auriga.”

Nadia mengernyitkan kening mendengar nama itu. Damian menghela napas, menyadari tidak mungkin lagi ia mengelak. Nadia mengamati wajah anaknya hingga Damian menceritakan kronologisnya.

Nadia terdiam sejenak, mencerna perkataan Damian. “Bukan soal siapa yang benar dan salah, Dami. Tapi gimana kamu menguasai dirimu. Kamu bisa bilang kalau kamu memang mencintai Laras tapi caramu kurang tepat. Tapi Mama nggak bisa mengatur kendalimu. Semua udah terjadi, kan?” ujar Nadia.

Wanita itu menatap pigura foto di dinding saat Yoga, suaminya, masih ada. Kerinduan menyeruak dalam hatinya tapi ia tetap memilih kuat dalam rasa itu.

Damian meraih tangan Nadia dan meremasnya lembut. “Aku belum sempurna untuk jadi anak kesayangan Mama. Selalu ada hal yang buat Mama sedih. Tapi hebatnya Mama nggak pernah bosan memperhatikanku. Terima kasih ya, Ma.”

Nadia mengulas senyum dan menatap manik cokelat Damian. “Walaupun kamu sering buat Mama kepikiran, Mama yakin kamu anak yang tahu membedakan hal baik dan buruk. Sekarang kamu sedang ditempa untuk menjadi versi terbaikmu.”

Damian membenarkan perkataan Nadia sebelum memeluknya erat. Lelaki itu lupa jika ada luka yang di punggungnya. Refleks ia memegang bagian yang sakit.

“Ada yang luka, Dami?” tanya Nadia cemas.

Damian mengiakan, membiarkan Nadia membantunya untuk membuka kausnya. Nadia kembali membulatkan mata seiring hatinya yang terluka. Biar bagaimanapun, wanita paruh baya itu hanya menginginkan Damian dalam keadaan baik. Luka itu memanjang di bagian pinggir. Warna kulit lelaki itu yang gelap memang menyamarkan warna birunya tapi tetap saja Nadia tak karuan melihatnya.

“Ya udah, sini Mama kompres. Pemulihannya mungkin lebih lama, Dami. Ah, tapi kamu pasti bisa.”

Nadia masih membubuhkan kain ke luka itu ketika Satria menangis. Damian refleks beranjak dari tempatnya. Namun, Nadia mencegahnya. “Biar Mama aja. Kamu mendingan telpon Dhisti. Suruh dia kemari buat bantuin jaga Satria.”

“Dia kerja, Ma. Aku lagi minta para karyawan untuk kasih pelayanan yang maksimal. Lagian, aku bisa sendiri, kok.”

Nadia berdecak. “Mama tahu A Latte lagi perlu perhatian khusus. Tapi lihat keadaanmu sekarang.”

Damian menatap Nadia yang menuju kamar Satria. Lelaki itu mendesah pelan sebelum mengambil gawai di tasnya. Ia meringis saat tangannya terjulur. Untuk hal kecil saja ia memerlukan bantuan. Well, Damian memang harus memanggil Dhisti.

**

A Latte sedang sibuk hari itu. Beberapa pelanggan lama kembali berdatangan setelah membaca pesan berisi promosi. Dhisti memastikan segalanya berjalan dengan lancar hingga esok hari mereka tetap memilih cappuccino A Latte. Wanita itu mengulas senyum ketika mereka memberi respon yang baik. Tak lama, gawainya bergetar panjang di saku apron. Mencari tempat sepi, wanita itu menggeser ikon telepon berwarna hijau.

“Ke rumah Mama sekarang juga. Kalau ada yang tanya, bilang saya yang minta,” ujar Damian langsung pada sasaran.

Dhisti hendak bertanya tapi Damian lebih dulu mematikan telepon. Wanita bermata almond itu berdecak kesal mengetahui lelaki itu sering membuatnya berada dalam ketidakpastian. Namun, Dhisti menurut dan menemui lelaki itu tanpa ada perasaan buruk sekalipun.

Dhisti tertegun ketika melihat Damian. Wanita itu menutup mulutnya menahan teriakan ketakutannya. “Bapak kenapa? Ya ampun, siapa yang udah berbuat jahat sama Bapak?”

Damian menggeleng. “Kamu berlebihan. Jangan banyak tanya. Udah sana, bantuin Mama.”

Dhisti memperhatikan wajah lelaki itu lebih saksama. Kedua pipinya lebam dan ada luka yang mengering di sudut bibirnya. Dhisti membayangkan pukulan demi pukulan yang menyerang Damian. Refleks, tangan Dhisti terangkat dan menyentuh luka itu, mengabaikan erangan Damian.

“Saya bantu kompres ya, Pak.”

Damian mengelus pipinya setelah menghalau tangan wanita itu. “Udah tadi sama Mama. Kamu ngerti tadi saya suruh apa?”

Dhisti mengangguk dan segera masuk ke kamar Satria walau hatinya terpaut pada Damian. 

Sebenarnya apa yang terjadi, Dam? Kenapa perasaanku jadi nggak enak gini?

Satria sudah tertidur sementara Nadia berdiri di sisi tempat tidur cucunya. Nadia mengulas senyum ketika Dhisti datang. 

“Akhirnya. Tadi Satria sempat nangis. Tante pikir Satria nggak akan keurus kalau Tante sama Dami.”

Dhisti menatap Nadia dalam dan meraih tangan wanita paruh baya itu. “Kenapa dengan Pak Bos, Tante?”

Nadia menghela napas sebelum menuntun Dhisti ke taman dekat kamar Satria. Ada kursi rotan dan bantal berbentuk hati yang siap menjadi tempat mereka saling mendengarkan. Nadia menatap wajah Dhisti dan menemukan kecemasan yang mendalam. 

“Dhis, tenanglah. Semua nggak seperti yang kamu pikir.”

Dhisti terperanjat mendengarnya. Namun, wanita paruh baya itu segera menceritakan semuanya. 

“Aku sama sekali nggak mengira semua berakhir begini, Tan. Jujur aku belum tahu gimana Mbak Laras sekarang tapi dia pasti baik-baik aja.”

Nadia mengangguk. Dhisti tidak tahu harus berkata apa lagi. Pandangannya kini terarah pada tanaman jeruk dalam pot yang berbunga. Yang jelas, Dhisti menyadari satu hal. Hatinya ikut terluka ketika lelaki itu disalahkan. Wanita bermata almond itu menunduk, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Entah untuk alasan apa Dhisti sanggup merasakan hal ini. 

Nadia menyentuh lengan Dhisti. Cepat, wanita itu mendongak. Nadia terperanjat menyadari Dhisti yang hampir menangis. “Kamu kenapa, Dhis?”

Dhisti mengalihkan pandang pada hijaunya taman dan membayangkan hal lain. “Nggak papa, Tan.”

“Tante ngerti perasaanmu, Dhis. Wajar kalau kamu sedih apalagi ada rasa yang kamu simpan buat Dami.”

Dhisti tertegun lama. Ia menatap Nadia dengan hati berkecamuk. Walau beberapa kali Dhisti menyangkal perasaan spesial untuk Damian, sinar matanya tidak bisa bohong. Sudah ada beberapa orang yang menyadari itu. Tapi lain masalahnya jika itu Nadia, orang terdekat Damian. Dhisti tidak bisa lagi menyembunyikannya.

“Aku takut kalau Pak Bos kenapa-napa, Tan. Aku nggak tahu kenapa harus secemas ini,” ujar Dhisti lirih.

Nadia mengulas senyum dan meraih tangan Dhisti, meremasnya lembut. “Kamu sudah selangkah lebih dulu mencintai Damian, Dhis. Jangan kamu sangkal lagi. Akui saja dan lihat yang terjadi.”

Dhisti belum mengerti apa yang Nadia maksud tapi hatinya menghangat mendengarnya. 

“Tetap lakukan bagianmu, Dhis. nanti ada sesuatu yang besar menunggumu. Percaya itu, ya?”

Dhisti mengiakan sebelum memeluk Nadia dengan erat.

**

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
IF ONLY....
567      414     2     
Romance
Pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta sepihak… Perasaan yang berakhir bahkan sebelum dimulai… Merasa senang dan sedih seorang diri, benar-benar seperti orang bodoh. Ada penyesalan besar dalam diriku, padahal masih banyak hal yang ingin kuketahui tentang dirinya. Jika saja aku lebih berani bicara padanya saat itu, kira-kira apa yang akan terjadi?
LARA
10223      3184     3     
Romance
Kau membuat ku sembuh dari luka, semata-mata hanya untuk membuat ku lebih terluka lagi. Cover by @radicaelly (on wattpad) copyright 2018 all rights reserved.
Words Unsaid
705      430     2     
Short Story
For four years, I haven’t once told you my feelings. There are words still unsaid that I have always wanted to tell you.
Premium
Dunia Leonor
230      203     3     
Short Story
P.S: Edisi buku cetak bisa Pre-Order via Instagram penulis @keefe_rd. Tersedia juga di Google Play Books. Kunjungi blog penulis untuk informasi selengkapnya https://keeferd.wordpress.com/ Sinopsis: Kisah cinta yang tragis. Dua jiwa yang saling terhubung sepanjang masa. Memori aneh kerap menghantui Leonor. Seakan ia bukan dirinya. Seakan ia memiliki kekasih bayangan. Ataukah itu semua seke...
JANJI 25
588      327     0     
Romance
Pernahkah kamu jatuh cinta begitu dalam pada seseorang di usia yang terlalu muda, lalu percaya bahwa dia akan tetap jadi rumah hingga akhir? Nadia percaya. Tapi waktu, jarak, dan kesalahpahaman mengubah segalanya. Bertahun-tahun setelahnya, di usia dua puluh lima, usia yang dulu mereka sepakati sebagai batas harap. Nadia menatap kembali semua kenangan yang pernah ia simpan rapi. Sebuah ...
Aku Biru dan Kamu Abu
1024      651     2     
Romance
Pertemuanku dengan Abu seperti takdir. Kehadiran lelaki bersifat hangat itu benar-benar memberikan pengaruh yang besar dalam hidupku. Dia adalah teman curhat yang baik. Dia juga suka sekali membuat pipiku bersemu merah. Namun, kenapa aku tidak boleh mencintainya? Bukannya Abu juga mencintai Biru?
Say Your Love
605      470     2     
Short Story
Dien tak pernah suka lelaki kutu buku sebelumnya. Mereka aneh, introvert, dan menyebalkan. Akan tetapi ada satu pengecualian untuk Arial, si kutu buku ketua klub membaca yang tampan.
Secarik Puisi, Gadis Senja dan Arti Cinta
1343      919     2     
Short Story
Sebuah kisah yang bermula dari suatu senja hingga menumbuhkan sebuah romansa. Seta dan Shabrina
Romance is the Hook
6405      2538     1     
Romance
Tidak ada hal lain yang ia butuhkan dalam hidupnya selain kebebasan dan balas dendam. Almira Garcia Pradnyani memulai pekerjaannya sebagai editor di Gautama Books dengan satu tujuan besar untuk membuktikan kemampuannya sendiri pada keluarga ibunya. Namun jalan menuju keberhasilan tidaklah mudah. Berawal dari satu kotak cinnamon rolls dan keisengan Reynaldo Pramana membuat Almira menambah satu ...
Refulgence of The White Wings Act I
0      0     0     
Fantasy
Ren, seorang siswa tahun kedua di Akademi Militer Legion, hidup di ibu kota bangsa manusia, Oswald. Lima tahun lalu, insiden pencurian artefak kekaisaran mengguncang dunia yang dikenalnya, mengubah segalanya dan menjadi titik balik yang menentukan dalam hidupnya. Tragedi itu merenggut orang-orang terkasih dari sisinya, menyalakan api kebencian yang membara terhadap kekaisaran yang seharusnya m...