Loading...
Logo TinLit
Read Story - Mendung (Eccedentesiast)
MENU
About Us  

Tanpa mengganti baju seragamnya Kinar langsung berbaring di atas kasur, hari ini begitu melelahkan terutama hukuman sialan itu. Kinara mengulas senyum tipis menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru langit, ingatannya tertuju pada satu orang. Kinar menuliskan nama "cowok sinting" di atas sticky note kemudian menempelnya di jendela kaca. Perlahan matanya terpejam, hanyut ke alam bawah sadar bersamaan dengan kemunculan sepasang mata jernih yang menatapnya tajam.

Tok tok! "Kakak masuk."

Kinar mengerjapkan mata menyadari hari sudah hampir gelap.

Perempuan itu duduk di tepi ranjang Kinar. "Kakak senang kamu akhirnya pulang ke Jakarta," ujarnya, tersenyum.

"Syukurlah Kak, Kinar udah jauh lebih baik. Kinar mau lanjut sekolah di Kota kelahiran Ki bukan di Negara orang lagi."

"Lho swedia itu kan Negara kelahiran Papa, bukan negara orang asing Kinar."

"Iya tapi bukan Negara kelahiran Kinar."

"Iya deh, semoga kuliahnya menyenangkan," lanjutnya menepuk pundak Kinar.

Azqya Canneza, putri sulung juga kakak perempuan satu-satunya yang Kinar punya. Tahun ini umurnya sudah masuk dua puluh enam tahun, dokter muda lulusan UI dengan predikat Cumluade. Saat ini ia bekerja sebagai dokter bedah di sebuah Rumah sakit besar milik keluarganya yang terletak di kota Bogor.

"Lho, tangan kamu kenapa dek?" tanya Qya melihat siku adiknya yang lebam.

"Ah, gak papa kok Kak. Tadi jatoh di kampus," sahut Kinar cengengesan.

"Dasar ceroboh! Yaudah, nanti diobatin ya. Kakak ke bawah dulu bantu Bibi siapin makan malam."

"Yea, Captain!"

Kinara mengambil salep dari dalam nakas, mengoleskan ke area sikunya yang mulai terasa nyeri.

"Dasar, cowok sialan!" umpat Kinar ketika mengingat kejadian memalukan yang menimpanya tadi siang.

Kinara mengikuti cowok itu hingga mereka berhenti di taman belakang gedung Fisip Umarta. Tepat di depan pohon trembesi yang rindang, yang kalau dilihat dari ukurannya pastilah pohon itu sudah berumur belasan tahun. Di sekeliling pohon itu dibuat tempat duduk melingkar dari kayu dengan besi sebagai penyangganya.

"Hukuman Lo, keliling mundur pohon sepuluh putaran sekarang!" Perintah cowok itu dengan tangan bersedekap.

"Are you kidding me?? Sinting Lo ya?" tolak Kinar tak terima.

"Kalau gak mau silahkan pilih, lari keliling lapangan lima puluh putaran atau keliling mundur sepuluh putaran."

"Oh god." Kinara menepuk jidat, menatap malas cowok menyebalkan yang berada di hadapannya saat itu. Andai ia punya buku kehidupan milik Raib sudah dipastikan ia telah melesat ke klan antaberantah.

"Satu, dua-"

"Um Aduduh perut gue mules, sakit banget beneran gue mau ke toilet, aduh sakit, kepala gue pusing, kaki gue kesemutan," interupsi Kinar berusaha mencari alasan untuk lepas dari hukuman.

"Ti-"

"I-iya iya gue lari sekarang! Dasar nyebelin!"

Tanpa aba-aba Kinara berlari mendekati pohon langsung berlari mundur sesuai instruksi, sedang cowok itu mengambil posisi duduk di bangku panjang yang terletak di sisi taman.

"Hitung yang keras, gue gak denger!"

"SATU!!" Teriak Kinara dengan sebal.

"DUA!!"

"EMPAT!!"

"Berani bohong hukumannya gue tambah bersihin toilet!"

"TIGA!!" Karena terburu-buru ingin menyudahi hukuman, kaki Kinara tersandung akar pohon membuat Kinar terjerembap hingga siku sebelah kanannya terluka karena menopang tubuhnya.

"Aww!" Ringisnya sembari meniup-niupi sikunya yang sudah mengeluarkan darah.

****

"Ka Qyaaaa!!! Omg demi Frozen pake bikini kenapa gak ada yang bangunin Kinar???"

Kinara lupa tidak ada orang di rumahnya, Kak Qya sudah kembali ke Bogor dengan Mang Didi sejak pagi, sementara Bi Iim mengambil cuti dua hari untuk pulang kampung. Lalu Alan, ah sudahlah mana mau dia repot-repot membangunkan Kinara apalagi mengajaknya berangkat ke kampus bareng. That's impossible.

Salahkan Tere liye yang membuatnya terjaga lebih lama.

Kinar bergerak gelisah di depan gerbang rumahnya, matanya berkelana mencari keberadaan Anna. Jam yang melingkar di tangan kirinya menunjukkan pukul enam lewat lima puluh menit saat mobil merah Anna muncul dari belokan jalan. Tanpa babibu Kinar masuk ke dalam mobil berharap waktu bergerak lambat agar mereka bisa sampai tepat waktu.

"Kok lama sih An?"

"Lo itu bener-bener gak tau terima kasih ya Ki, asal Lo tau gue udah hampir sampe sekolah dari sepuluh menit yang lalu kalo aja lo gak minta gue puter balik buat jemput lo! Untung temen, kalo bukan ogah banget." Anna mencebik.

"Yaudah sih berisik banget, buruan nanti telat." Anna memutar bola mata malas, menambah kecepatan laju mobilnya.

"Udah telat juga kali, pokoknya kalo gue kena marah Panitia Lo harus belain gue titik," tukas Anna. Setelahnya mobil yang mereka tumpangi melesat membelah jalanan kota dengan hening.

"Mampus! Demi sopo jarwo hijrah ke Prindapan, lo bawa mobilnya pelan banget kan gue jadi telat." Kinara berujar panik kemudian turun dari mobil begitu sampai di parkiran Umarta, mengabaikan Anna yang bahkan belum bergerak dari tempat duduknya.

"Buruan Anna!"

"Curang banget si lo! Kinar tungguin gue!" Anna berlari mengejar Kinar yang sudah sampai di hadapan senior.

"Lo lagi?!" Cowok di hadapan Kinar bersedekap memperhatikan penampilan Kinar dari atas sampai bawah, cowok yang sama yang menghukumnya kemarin siang.

"Ternyata pepatah kalo dunia gak selebar daun kelor itu bener adanya ya Kak, dari sekian banyak Panitia kenapa harus lo yang gue temui sih?!"

Cowok itu menatap tajam Kinar dengan sorot kekesalan.

"Lo itu Mahasiswa baru, bisa sopanan dikit?"

"Bisa kalo sama senior yang cakep, baik hati dan rupawan. Tapi gak sama Lo, kating nyebelin dan sok ganteng." Di sampingnya Anna hanya menghela napas jengah.

"Kinar bisa gak lo gak pake acara debat sama ni kating biar kita cepet masuk," bisik Anna di telinga Kinara.

"Oh gak bisa An, kalo yang model begini gue harus ladenin orang dia nyebelin," sungut Kinara.

"Sabar Anna," ujar Anna kepada dirinya sendiri.

"Kenapa kalian telat?"

"Siapa suruh ngatur jadwalnya kepagian!" Ketus Kinara.

Cowok itu berdecak semakin geram, cewek di hadapannya ini kelihatan sangat keras kepala jelas dia tidak akan menang berdebat dengan adik tingkat satu ini. Dia beralih menatap Anna yang tengah menunduk takut.

"Kamu? Kenapa bisa telat?" Tanyanya dalam nada dingin yang menusuk.

"Maaf Kak, tadi saya jemput Kinar dulu makanya telat kalo gak sih saya udah sampai dari tadi." Anna masih menunduk menatap ujung sepatunya.

"Silahkan masuk! Jam istirahat beres-beres di perpustakaan."

"Serius Kak?" Anna tertawa girang, "bye Kinar gue duluan!"

"Anna!! Temen kampret Lo!" Kinar mengerucutkan bibirnya kesal, cowok menyebalkan ini membiarkan Anna masuk begitu saja tetapi tetap menahan dirinya di sini.

"Dan untuk Lo, Gue punya tugas khusus untuk cewek pe-ma-las!" Cowok itu mengeja dengan penuh penekanan.

Dalam hati Kinar menyumpah serapahi kakak tingkatnya yang kelewat menyebalkan ini, jangan bilang hukumannya sama seperti kemarin. Nyeri di sikunya saja belum hilang.

"Cari Kakak tingkat yang namanya Vero Angkasa, kalau mau masuk kelas!" putusnya dengan wajah dingin.

"Lo bener-bener gila! Sumpah ya gue aja baru dua hari ada di sini dan Lo nyuruh gue apa? Nyari orang yang bahkan gue gak pernah denger namanya! Kelewatan Lo tau gak!"

Kinar menggigit bibir bawahnya menahan amarah, dalam hati Kinara merutuki kebodohannya sendiri kenapa kemarin dia tidak memperhatikan saat seniornya memperkenalkan diri.

"Lain kali mandi pagi!" Cowok itu memasukan tangan ke saku celana sambil menilai penampilan Kinar.

Memangnya kelihatan jelas ya? Kalau Kinara belum mandi? Setelah tau kesiangan Kinar langsung bergegas memakai seragam sekolah, bahkan dia tidak menyisir rambutnya, hanya merapikan dengan tangan saja. Kinara menunduk menahan malu, untung tadi pagi dia masih sempat menggosok gigi. Setidaknya ia masih mempunyai kepercayaan diri untuk berbicara.

Melihat Kinara yang tak bergeming cowok itu menggerakkan tangannya mengacak puncak kepala Kinara.

"Buruan! keburu siang ntar lo tambah jelek kalo keringetan," final pemuda itu, berlalu meninggalkan Kinara yang masih mematung di tempat.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
The Sunset is Beautiful Isn't It?
2569      922     11     
Romance
Anindya: Jangan menyukai bunga yang sudah layu. Dia tidak akan tumbuh saat kamu rawat dan bawa pulang. Angkasa: Sayangnya saya suka bunga layu, meski bunga itu kering saya akan menjaganya. —//— Tau google maps? Dia menunjukkan banyak jalan alternatif untuk sampai ke tujuan. Kadang kita diarahkan pada jalan kecil tak ramai penduduk karena itu lebih cepat...
The Arcana : Ace of Wands
222      195     1     
Fantasy
Sejak hilang nya Tobiaz, kota West Montero diserang pasukan berzirah perak yang mengerikan. Zack dan Kay terjebak dalam dunia lain bernama Arcana. Terdiri dari empat Kerajaan, Wands, Swords, Pentacles, dan Cups. Zack harus bertahan dari Nefarion, Ksatria Wands yang ingin merebut pedang api dan membunuhnya. Zack dan Kay berhasil kabur, namun harus berhadapan dengan Pascal, pria aneh yang meminta Z...
Ketos pilihan
1109      796     0     
Romance
Pemilihan ketua osis adalah hal yang biasa dan wajar dilakukan setiap satu tahun sekali. Yang tidak wajar adalah ketika Aura berada diantara dua calon ketua osis yang beresiko menghancurkan hatinya karena rahasia dibaliknya. Ini kisah Aura, Alden dan Cena yang mencalonkan ketua osis. Namun, hanya satu pemenangnya. Siapa dia?
Bimbang (Segera Terbit / Open PO)
7657      2700     1     
Romance
Namanya Elisa saat ini ia sedang menempuh pendidikan S1 Ekonomi di salah satu perguruan tinggi di Bandung Dia merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara dalam keluarganya Tetapi walaupun dia anak terakhir dia bukan tipe anak yang manja trust me Dia cukup mandiri dalam mengurus dirinya dan kehidupannya sendiri mungkin karena sudah terbiasa jauh dari orang tua dan keluarganya sejak kecil juga ja...
Cinta di Sepertiga Malam Terakhir
9148      2605     1     
Romance
Seorang wanita berdarah Sunda memiliki wajah yang memikat siapapun yang melihatnya. Ia harus menerima banyak kenyataan yang mau tak mau harus diterimanya. Mulai dari pesantren, pengorbanan, dan lain hal tak terduga lainnya. Banyak pria yang datang melamarnya, namun semuanya ditolak. Bukan karena ia penyuka sesama jenis! Tetapi karena ia sedang menunggu orang yang namanya sudah terlukis indah diha...
Under The Moonlight
2772      1456     2     
Romance
Ini kisah tentang Yul dan Hyori. Dua sahabat yang tak terpisahkan. Dua sahabat yang selalu berbagi mimpi dan tawa. Hingga keduanya tak sadar ‘ada perasaan lain’ yang tumbuh diantara mereka. Hingga keduanya lupa dengan ungkapan ‘there is no real friendship between girl and boy’ Akankah keduanya mampu melewati batas sahabat yang selama ini membelenggu keduanya? Bagaimana bisa aku m...
Rumah (Sudah Terbit / Open PO)
4990      1957     4     
Inspirational
Ini bukan kisah roman picisan yang berawal dari benci menjadi cinta. Bukan pula kisah geng motor dan antek-anteknya. Ini hanya kisah tentang Surya bersaudara yang tertatih dalam hidupnya. Tentang janji yang diingkari. Penantian yang tak berarti. Persaudaraan yang tak pernah mati. Dan mimpi-mimpi yang dipaksa gugur demi mimpi yang lebih pasti. Ini tentang mereka.
Hyeong!
278      241     1     
Fan Fiction
Seok Matthew X Sung Han Bin | Bromance/Brothership | Zerobaseone "Hyeong!" "Aku bukan hyeongmu!" "Tapi—" "Seok Matthew, bisakah kau bersikap seolah tak mengenalku di sekolah? Satu lagi, berhentilah terus berada di sekitarku!" ____ Matthew tak mengerti, mengapa Hanbin bersikap seolah tak mengenalnya di sekolah, padahal mereka tinggal satu rumah. Matthew mulai berpikir, apakah H...
The Alpha
2514      1210     0     
Romance
Winda hanya anak baru kelas dua belas biasa yang tidak menarik perhatian. Satu-satunya alasan mengapa semua orang bisa mengenalinya karena Reza--teman masa kecil dan juga tetangganya yang ternyata jadi cowok populer di sekolah. Meski begitu, Winda tidak pernah ambil pusing dengan status Reza di sekolah. Tapi pada akhirnya masalah demi masalah menghampiri Winda. Ia tidak menyangka harus terjebak d...
Cinta Tiga Meter
1061      692     0     
Romance
Fika sudah jengah! Dia lelah dengan berbagai sikap tidak adil CEO kantor yang terus membela adik kandungnya dibanding bekerja dengan benar. Di tengah kemelut pekerjaan, leadernya malah memutuskan resign. Kini dirinya menjadi leader baru yang bertugas membimbing cowok baru dengan kegantengan bak artis ibu kota. Ketika tuntutan menikah mulai dilayangkan, dan si anak baru menyambut setiap langkah...