Loading...
Logo TinLit
Read Story - Mendung (Eccedentesiast)
MENU
About Us  

"Saya pikir ini saatnya." Ujar wanita berpakaian serba hitam sambil menatap lawan bicaranya.

Wajah sendu itu menampilkan raut gusar, tatapan kosongnya menerawang jauh seolah raga dan jiwa itu sedang tidak berada di tempat yang sama. "Saya akan mencoba memperbaiki segalanya," lanjutnya dengan suara serak.

Pria paruh baya itu terlihat sedang menimbang perkataan wanita itu lalu bibirnya terbuka, "anak itu telah menerima kehancuran di sepanjang hidupnya. Mungkin saat ini dia bisa menyambut bahagianya. Semua keputusan ada di kamu, jika kamu sudah siap saya hanya bisa mendukung. Semoga dia bisa menerima semuanya."

Wanita itu membenarkan posisi kerudung hitamnya yang sedikit melorot kebawah menampilkan helai-helai rambut hitam legamnya. "Terima kasih, Pak Reno. Terima kasih untuk semuanya."

Wajah tegas Reno tersenyum hangat menghantarkan langkah anggun wanita itu keluar dari ruang kerjanya.

****

Kinara melirik jam di dinding kamarnya. Pukul 10 pagi, gadis berbalut piyama biru itu kembali menguap. Akibat perjalanan melelahkan dari jogja Kinara harus kehilangan banyak waktu tidurnya.

Gadis itu menggeliat kesana kemari sebelum akhirnya turun menuju kamar mandi. Setelah membersihkan diri, Kinara mengecek ponselnya. Tidak ada satu pun notifikasi dari Vero. Baiklah, dirinya sedikit kecewa. Namun Kinara tau Vero juga pasti sangat lelah saat ini.

Perutnya keroncongan karena melewatkan waktu sarapan. Kinara menapaki ubin tangga menuju lantai bawah.

"Bibi masak apa?"

"Bibi lagi masak ayam kecap permintaan den Alan, Non Kinar mau dimasakin apa?" tanya Bi Iim sembari membenarkan letak celemek nya.

"Apa aja Ki makan kalau Bibi yang masak."

"Non teh bisa aja."

"Oh iya Bi, Papa mana?"

"Keluar Non, katanya ada urusan."

Kinara menganggukkan kepala sebagai tanggapan. "Kalau Kakak?"

"Tadi Kakak minta bantuin beresin gudang, tapi Bibi lagi masak. Mungkin sekarang udah di luar beresin barang-barang Nyonya Rossa."

"Lho kenapa sama barang-barang Mama?"

"Bibi kurang tau, Non."

Kinara bergumam kemudian beranjak menuju gudang yang terletak di luar rumah. Sebenarnya tempat itu lebih pantas disebut ruang penyimpanan ketimbang gudang. Karena yang terlintas di kepala Kinara gudang itu tempat barang-barang tak terpakai yang identik dengan berantakan dan berdebu. Sedangkan gudang yang berada di rumahnya sangat bersih dan tertata rapi.

Kinara menggulung rambutnya ke atas sebelum membuka pintu gudang. Benar saja, Qya sudah berada di sana dengan setumpuk buku-buku besar dan pakaian.

"Mau dikemanain Kak?" seru Kinar dengan nada kuat.

"Kinar, ngagetin aja sih," ucap Qya seraya memegangi dadanya yang berdegub.

"Kakak mau ngambil album foto untuk di simpan di rumah, sekalian pilihin pakaian mama yang masih bagus untuk dibagikan ke orang yang membutuhkan."

Kinara menganggukan kepala tanda mengerti. Kalau dilihat-lihat Kak Qya seperti duplikat Mama mereka. Kinara masih ingat, dulu sewaktu Mamanya masih hidup, beliau selalu mengumpulkan barang-barang yang masih bagus untuk disumbangkan ke anak panti, dan tunawisma di jalanan. Sifat dermawan adalah pelajaran utama yang Mamanya ajarkan kepada anak-anaknya. Kinara juga ingat dulu kerap kali ia menangis ketika Mamanya meminta ia menyumbangkan beberapa bonekanya pada anak panti. Padahal saat itu boneka di kamarnya sudah hampir penuh tetapi Kinara tetap saja enggan jika harus membaginya dengan orang lain. Pada akhirnya Kinara malah memberikan semua mainannya dan hanya menyisakan beberapa untuk ia simpan.

Kinara tersenyum samar, membayangkan betapa cerdas mendiang Mamanya mengajarkan mereka untuk bisa berbagi dengan rasa ikhlas. Sekarang ketika melihat Kak Qya, Kinara terbayang akan sosok Mamanya.

Pada saat yang sama juga hatinya serasa teriris mengingat dirinya bukanlah anak yang terlahir dari rahim wanita hebat itu. Wajar sekali jika dirinya tidak mempunyai kemiripan wajah dengan Mama dan Kakanya. Ya, dulu Kinara sering menanyakan kenapa rambut Mama dan Kakaknya berwarna coklat gelap sedangkan miliknya berwarna hitam legam? Kenapa bola matanya berbeda dengan anggota keluarga yang lainnya? Tapi saat itu, Mamanya terlalu pandai menghibur hatinya dengan mengatakan dirinya mirip dengan nenek mereka.

Dari tumpukan barang-barang lama mereka, Kinara menemukan kotak biru langit yang menarik perhatiannya. Dia menemukan benda-benda kesayangannya di dalam sana, buku harian, boneka kelinci kecil, dan sebuah kalung berbandul kunci yang tak kalah menyedot perhatiannya. Kinara mencoba mengingat-ngingat kapan ia memiliki benda itu.

"Ki, Kinara!"

"Ah iya, Kak?"

"Ngelamun aja. Bisa bantu bawa masuk album-album itu ke rumah? Kakak masih mau beresin pakaian Mama."

"Yea, kapten!" Kinar memasukan kalung kunci itu ke dalam salah satu sakunya. Kembali ke rumah dengan membawa tiga album foto berukuran besar serta beberapa map yang entah berisi apa.

"Gila ini album kok bisa berat banget sih?" gerutu Kinar setelah meletakkan bawaannya tersebut ke atas meja ruang keluarganya.

Kinara mengelap keringatnya. "Huh!"

Gadis itu duduk di karpet merah berbulu dan menyenderkan punggungnya di kaki sofa. Matanya membaca tulisan pada cover salah satu album di hadapannya. "Our Memories."

"Papa sweet banget deh." Kinara bermonolog sambil senyum-senyum memandangi potret di dalam album tersebut.

Deretan gambar diri itu terlihat sangat nyata, seolah keping-keping memori itu baru saja terjadi.

Kinara tersenyum sendu. Lagi-lagi kenyataan menamparnya cukup keras ketika ia hanya menemukan foto bayi Alan dan Qya. Pantas saja di rumah tidak ada satupun fotonya semasa bayi yang di pajang.

Kinara beralih menyusun tumpukan map yang tadi ia bawa. Tak sengaja dari kumpulan itu keluar satu amplop yang cukup menyedot perhatian Kinara.

Amplop berwarna coklat besar itu bertuliskan "Dokumen Adopsi" jantung kinara berpacu dua kali lebih cepat. Apa dokumen ini akan menjawab semua pertanyaannya?

"Kinara."

Kinar buru-buru memasukan Amplop tersebut ke bawah karpet berbulu yang menjadi alas duduknya itu.

"Kenapa? Kok mukanya cemas gitu?" tanya Qya ketika sampai di hadapan Kinara.

"Eh eng ... enggak kok."

Qya tersenyum melihat foto masa kecil mereka yang berada di atas meja. Itu alasan Kinara sedikit pucat, pikirnya.

"Kakak udah kemas barang-barang Mama yang mau dibagiin besok."

"Em yaudah Kak, bagus deh."

"Bisa ikut kan ke panti? Besok acaranya jam 9 pagi, sekalian ada acara amal sama rekan kerja Kakak."

Kinara mengangguk tanda setuju.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Ketos pilihan
1107      794     0     
Romance
Pemilihan ketua osis adalah hal yang biasa dan wajar dilakukan setiap satu tahun sekali. Yang tidak wajar adalah ketika Aura berada diantara dua calon ketua osis yang beresiko menghancurkan hatinya karena rahasia dibaliknya. Ini kisah Aura, Alden dan Cena yang mencalonkan ketua osis. Namun, hanya satu pemenangnya. Siapa dia?
Jelek? Siapa takut!
5115      2047     0     
Fantasy
"Gue sumpahin lo jatuh cinta sama cewek jelek, buruk rupa, sekaligus bodoh!" Sok polos, tukang bully, dan naif. Kalau ditanya emang ada cewek kayak gitu? Jawabannya ada! Aine namanya. Di anugerahi wajah yang terpahat hampir sempurna membuat tingkat kepercayaan diri gadis itu melampaui batas kesombongannya. Walau dikenal jomblo abadi di dunia nyata, tapi diam-diam Aine mempunyai seorang pac...
The Sunset is Beautiful Isn't It?
2566      919     11     
Romance
Anindya: Jangan menyukai bunga yang sudah layu. Dia tidak akan tumbuh saat kamu rawat dan bawa pulang. Angkasa: Sayangnya saya suka bunga layu, meski bunga itu kering saya akan menjaganya. —//— Tau google maps? Dia menunjukkan banyak jalan alternatif untuk sampai ke tujuan. Kadang kita diarahkan pada jalan kecil tak ramai penduduk karena itu lebih cepat...
Unlosing You
633      467     4     
Romance
... Naas nya, Kiran harus menerima keputusan guru untuk duduk sebangku dengan Aldo--cowok dingin itu. Lambat laun menjalin persahabatan, membuat Kiran sadar bahwa dia terus penasaran dengan cerita tentang Aldo dan tercebur ke dalam lubang perasaan di antara mereka. Bisakah Kiran melepaskannya?
FIREWORKS
656      491     1     
Fan Fiction
Semua orang pasti memiliki kisah sedih dan bahagia tersendiri yang membentuk sejarah kehidupan setiap orang. Sama halnya seperti Suhyon. Suhyon adalah seorang remaja berusia 12 tahun yang terlahir dari keluarga yang kurang bahagia. Orang tuanya selalu saja bertengkar. Mamanya hanya menyayangi kedua adiknya semata-mata karena Suhyon merupakan anak adopsi. Berbeda dengan papanya, ...
The Alpha
2501      1198     0     
Romance
Winda hanya anak baru kelas dua belas biasa yang tidak menarik perhatian. Satu-satunya alasan mengapa semua orang bisa mengenalinya karena Reza--teman masa kecil dan juga tetangganya yang ternyata jadi cowok populer di sekolah. Meski begitu, Winda tidak pernah ambil pusing dengan status Reza di sekolah. Tapi pada akhirnya masalah demi masalah menghampiri Winda. Ia tidak menyangka harus terjebak d...
MAMPU
10456      3539     0     
Romance
Cerita ini didedikasikan untuk kalian yang pernah punya teman di masa kecil dan tinggalnya bertetanggaan. Itulah yang dialami oleh Andira, dia punya teman masa kecil yang bernama Anandra. Suatu hari mereka berpisah, tapi kemudian bertemu lagi setelah bertahun-tahun terlewat begitu saja. Mereka bisa saling mengungkapkan rasa rindu, tapi sayang. Anandra salah paham dan menganggap kalau Andira punya...
My Soulmate Coco & Koko
7995      2601     0     
Romance
Menceritakan Isma seorang cewek SMA yang suka dengan hewan lucu yaitu kucing, Di hidupnya, dia benci jika bertemu dengan orang yang bermasalah dengan kucing, hingga suatu saat dia bertemu dengan anak baru di kelasnya yg bernama Koko, seorang cowok yang anti banget sama hewan yang namanya kucing. Akan tetapi mereka diharuskan menjadi satu kelompok saat wali kelas menunjuk mereka untuk menjadi satu...
Seharap
11474      4455     2     
Inspirational
Tisha tidak pernah menyangka, keberaniannya menyanggupi tantangan dari sang kakak untuk mendekati seorang pengunjung setia perpustakaan akan menyeretnya pada sebuah hubungan yang meresahkan. Segala kepasifan dan keteraturan Tisha terusik. Dia yang terbiasa menyendiri dalam sepi harus terlibat berbagai aktivitas sosial yang selama ini sangat dihindari. Akankah Tisha bisa melepaskan diri dan ...
Acropolis Athens
6491      2564     5     
Romance
Adelar Devano Harchie Kepribadian berubah setelah Ia mengetahui alasan mendiang Ibunya meninggal. Menjadi Prefeksionis untuk mengendalikan traumanya. Disisi lain, Aram Mahasiswi pindahan dari Melbourne yang lamban laun terkoneksi dengan Adelar. Banyak alasan untuk tidak bersama Aram, namun Adelar terus mencoba hingga keduanya dihadapkan dengan kenyataan yang ada.