Loading...
Logo TinLit
Read Story - Gunay and His Broken Life
MENU
About Us  

Netranya menangkap seseorang yang sedang menuangkan sebotol cairan bening ke tas Gunay, ekspresinya sangat menyeramkan.

Mingyan langsung mengeluarkan ponselnya dan merekam adegan tak biasa itu diam-diam.

Saat orang tersebut selesai dengan aksinya, Mingyan mundur tanpa suara. Bersembunyi di sudut lain menunggu orang tersebut keluar dari dalam kelas.

Perasaan Mingyan semakin was-was menyadari langkah yang semakin dekat ke arahnya. Di antara lekukan dinding, Ia pun semakin menekan tubuhnya menyejajarkan dengan dinding untuk menyamarkan keberadaannya.

Mingyan melihat dengan jelas orang tersebut membuang botol di genggamannya dengan kasar ke tempat sampah saat ia berjalan keluar.

Setelah memastikan orang tersebut sudah benar-benar pergi jauh, Mingyan keluar dari persembunyiannya dan mendekat ke tempat sampah tempat orang tadi membuang botol yang mencurigakan itu.

Tangannya masuk ke tempat sampah meraih ujung botol tersebut dengan ekspresi jijik, diambilnya tisu dari saku roknya lalu mengusap botol tersebut hingga benar-benar bersih agar bisa ia pegang dengan benar.

Saat mengusap botol tersebut, dia pun membaca tulisan yang tertera di botol itu, 'spiritus'. Mata Mingyan seketika membulat lebar dan langsung melempar kembali botol tersebut ke tempat sampah begitu saja.

Dia ... dia nyiram tas Gunay pake metanol? Ada dendam apa sih tuh anak sama Gunay? batin Mingyan tak habis pikir.

Dia mencoba tak peduli, namun tetap saja, berbagai prasangka timbul dalam pikirannya. Setelah cukup lama tenggelam dalam lamunan, barulah ia masuk ke kelas dan merilekskan kakinya yang sedari tadi ia paksa berjalan.

.

.

.

Setelah jam pelajaran olahraga berakhir, murid-murid yang baru saja berganti pakaian memasuki kelas satu-persatu.

Saat sebagian murid-murid itu masih mempersiapkan buku-buku mereka untuk pelajaran selanjutnya, seorang guru perempuan tiba-tiba masuk ke kelas dengan ekspresi marah sambil bertanya, "Di mana Gunay?!"

Semua murid menatapnya takut, dan tak ada satupun yang menjawab.

Guru galak yang tak lain adalah Bu Nova itu bertanya sekali lagi dengan nada yang semakin meninggi, "Mana Gunay?!"

Orang yang ia cari-cari seketika muncul dari arah belakangnya.

Gunay dan Dimas yang baru saja selesai berganti pakaian begitu terkejut dengan kehadiran Bu Nova yang menatap tajam ke arah mereka.

"Ada apa ya, Bu?" tanya Gunay mencoba bersikap tenang.

"Kemari kamu!!" titah Bu Nova memaksa.

Gunay berjalan mendekat ke arahnya dengan patuh.

"Kamu kan yang sudah mengambil spiritus dari dalam lab?!! Di mana kamu menyimpannya, hah?"

Tuduhan tak masuk akal itu langsung membuat Gunay mengerutkan dahinya. Buat apa dia mengambil hal-hal semacam itu? Dia bahkan tidak ingat, spiritus itu yang mana?

"Kau mau mengambilnya untuk mencampurkannya ke dalam alkohol lalu meminumnya, kan? Atau ... kau mau membakar sekolah ini? Berandal sepertimu memang tak bisa dipercaya!!"

Alkohol? Meminum? Apa yang sedang dibicarakan guru galak ini? Gunay bahkan tak tahu apa yang terjadi jika spiritus dan alkohol dicampurkan?

Gunay bahkan belum sempat mengucapkan apapun untuk pembelaan diri saat Bu Nova berkata lagi, "Di mana kamu menyimpannya? Pasti di tasmu, kan?"

Bu Nova langsung melangkahkan kakinya menuju ke tempat duduk Gunay lalu meraih tas miliknya.

Saat tangannya sedang mencoba membuka kancing tas yang paling besar, hidungnya mencium sesuatu yang tak asing.

"Ini ... ini kan bau spiritus?"
Keyakinan Bu Nova semakin meningkat membuatnya semakin bersemangat mengacak-acak tas Gunay.

Gunay berlari menuju Bu Nova mencoba memastikan yang dikatakan guru itu.

"Tapi ini ... ini kan bau tinner, Bu?"

"Memang kelihatan sekali kalau kau tak pernah memperhatikan pelajaran saya! Bau spiritus memang seperti tinner!"

"Tapi ... bagaimana bisa? Saya ... saya tak pernah mengambil benda semacam itu dari lab, Bu."

Bu Nova melemparkan tas Gunay dengan kasar saat ia tak menemukan benda yang ia cari.

"Kau masih berusaha mengelak?! Katakan, di mana kau menyembunyikannya? Di tasmu tidak ada!"

"Bagaimana saya memberitahu di mana saya menyembunyikannya kalau saya sendiri tak pernah mengambilnya?!!" sanggah Gunay dengan nada yang cukup tinggi membalas perkataan guru yang tak punya belas kasih tersebut.

"Tak usah berbohong! Ikut saya ke BK sekarang juga!" titahnya sambil berjalan cepat meninggalkan Gunay yang masih terpaku.

Kenapa saat ia bilang tidak, Bu Nova selalu menganggap itu sebuah kebohongan jika ia yang mengucapkannya?

"Sebentar, Bu!"

Seorang gadis dengan kuncir kuda berlari tergopoh-gopoh ke arah Bu Nova.

"Ada apa?" tanyanya dengan tatapan dingin ke gadis itu.

"Saya tahu pelakunya, Bu! Saya tahu siapa yang mencuri spiritus itu!"

"Saya juga tahu, Gunay kan?"

"Bu-bukan, Bu. Ini ... lihat video ini." Mingyan memberikan ponselnya dan menekankan tombol play pada video yang ingin ia tunjukkan.

Video yang kurang dari satu menit itu seketika membuat raut wajah Bu Nova semakin mengerikan saja.

"Kenapa baru kau beritahu sekarang?!"

"Sa-saya takut menyela ucapan Ibu, jadinya ... saya tunggu sampai keadaannya benar-benar memungkinkan untuk saya memberitahunya, Bu."

Bu Nova menggertakkan gigi-giginya, bola matanya langsung menyusuri penjuru kelas mencari keberadaan seseorang.

"Sahrul!!!" teriaknya sangat keras pada Sahrul yang duduk di sudut lain kelas. Wajah pemuda itu sudah pucat sedari tadi, sejak Mingyan menghentikan guru itu, Sahrul bahkan tak dapat lagi mengendalikan keringat dinginnya yang mengucur deras.

Cewek sialan ini ... liat aja lo nanti, cewek b*ngsat! umpat Sahrul dalam hatinya. Merasa dendam pada Gadis bermulut ember tersebut.

"Ikut saya ke ruang BK sekarang!"
Bu Nova pergi mendahuluinya, lalu tak sengaja berpapasan dengan wali kelas mereka ketika di ambang pintu, Bu Dian—yang saat itu ingin masuk ke dalam kelas.

"Ada apa ini Bu?" tanya Bu Dian lembut, sangat kontras sekali dengan Guru lain di hadapannya yang bermulut kasar.

Bu Nova pun menceritakan asal muasal perkara hingga dia datang ke kelas yang bukan jam-nya. Bu Dian pun mengangguk paham.

"Jadi, saya ingin membawa murid Ibu bernama Sahrul, tolong berikan izin."

Bu Dian hanya mengangguk pelan sambil tersenyum.

Sahrul beranjak dari duduknya, tangannya mengepal erat saat menyadari orang-orang di kelasnya yang menatapnya dengan tatapan mencela.

Bu Dian pun turut menatapnya sendu, mendecak sambil menggelengkan kepalanya lemah tak habis pikir dengan perbuatan muridnya itu.

Dalam hati, Sahrul semakin mengutuk gadis tak tahu diri yang sudah membuatnya menjadi seperti ini, dia sudah memikirkan banyak hal untuk membalas gadis sialan itu.

Terakhir, dia menatap Gunay.

Gunay dan Dimas saat itu pun sama-sama sedang memandangnya. Wajah Dimas jelas terlihat sangat kesal. Seolah memunculkan persaingan pada Sahrul. Dia tidak menyangka, ternyata pemuda itu selama ini diam-diam memendam kebencian pada sahabatnya.

Sementara Gunay, alisnya bertaut bingung. Tidak mau berburuk sangka, dia menatap Sahrul seolah-olah meminta penjelasan. Sahrul yang menatap balik dirinya hanya mendengus, kemudian pergi mengikuti Bu Nova.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Kumpulan Cerpen Mini (Yang Mengganggu)
3909      2281     12     
Humor
Cerita ringkas yang akan kamu baca karena penasaran. Lalu kamu mulai bertanya-tanya setelah cerita berakhir. Selamat membaca. Semoga pikiran dan perasaanmu tidak benar-benar terganggu.
Here We Go Again
724      430     2     
Short Story
Even though it hurt, she would always be my favorite pain.
Maroon Ribbon
653      495     1     
Short Story
Ribbon. Not as beautiful as it looks. The ribbon were tied so tight by scars and tears till it can\'t breathe. It walking towards the street to never ending circle.
When Flowers Learn to Smile Again
4659      3109     10     
Romance
Di dunia yang menurutnya kejam ini, Jihan hanya punya dirinya sendiri. Dia terjebak pada kelamnya malam, kelamnya hidup, dan kelamnya dunia. Jihan sempat berpikir, jika dunia beserta isinya telah memunggunginya sebab tidak ada satu pun yang peduli padanya. Karena pemikirannya itu, Jihan sampai mengabaikan eksistensi seorang pemuda bernama Natha yang selalu siap menyembuhkan luka terdalamnya. B...
Kenapa Harus Menikah?
189      173     1     
Romance
Naisha Zareen Ishraq, seorang pebisnis sukses di bidang fashion muslimah, selalu hidup dengan prinsip bahwa kebahagiaan tidak harus selalu berakhir di pernikahan. Di usianya yang menginjak 30 tahun, ia terus dikejar pertanyaan yang sama dari keluarga, sahabat, dan lingkungan: Kenapa belum menikah? Tekanan semakin besar saat adiknya menikah lebih dulu, dan ibunya mulai memperkenalkannya pada pria...
Kepak Sayap yang Hilang
275      252     2     
Short Story
Noe, seorang mahasiswa Sastra Jepang mengagalkan impiannya untuk pergi ke Jepang. Dia tidak dapat meninggalkan adik kembarnya diasuh sendirian oleh neneknya yang sudah renta. Namun, keikhlasan Noe digantikan dengan hal lebih besar yang terjadi pada hidupnya.
The Call(er)
8961      5102     11     
Fantasy
Ketika cinta bukan sekadar perasaan, tapi menjadi sumber kekuatan yang bisa menyelamatkan atau bahkan menghancurkan segalanya. Freya Amethys, seorang Match Breaker, hidup untuk menghancurkan ikatan yang dianggap salah. Raka Aditama, seorang siswa SMA, yang selama ini merahasiakan kekuatan sebagai Match Maker, diciptakan untuk menyatukan pasangan yang ditakdirkan. Mereka seharusnya saling bert...
Our Tears
3461      1662     3     
Romance
Tidak semua yang kita harapkan akan berjalan seperti yang kita inginkan
Let it go on
1223      885     1     
Short Story
Everything has changed. Relakan saja semuanya~
Langit Indah Sore Hari
182      156     0     
Inspirational
Masa lalu dan masa depan saling terhubung. Alka seorang remaja berusia 16 tahun, hubungannya dengan orang sekitar semakin merenggang. Suatu hari ia menemukan sebuah buku yang berisikan catatan harian dari seseorang yang pernah dekat dengannya. Karena penasaran Alka membacanya. Ia terkejut, tanpa sadar air mata perlahan mengalir melewati pipi. Seusai membaca buku itu sampai selesai, Alka ber...