Loading...
Logo TinLit
Read Story - The Hospital Lokapala (Sudah Terbit / Open PO)
MENU
About Us  

Matahari yang berlindung dengan awan berwarna gelap, tak kunjung juga menurunkan tetesan hujan. Udaranya malah serasa gerah.

 

Meskipun Alana sudah diberitahu jika beristirahat dulu jangan kemana-mana oleh dokter penanggung jawabnya sebelum meninggalkan ruang Mawar, itu tak membuat gadis yang sebenarnya penuh akan keceriaan ini merasa geram.

 

Ia malah membeli susu coklat dingin yang berada di kantin rumah sakit. Ia bersama Poci menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan mereka tak berpapasan dengan dokter tampan tersebut.

 

“Poci, apakah aman?” tanya Alana yang mengamati di sisi kiri, sedangkan sahabatnya itu di sisi kanan.

 

“Aman, Na. Ayo balik ke ruanganmu,” ajak Poci seperti seorang teman yang menasehati temannya yang sedang bolos.

 

“Iya ... ya aku tahu, sekarang. Lagian bosan tahu Ci hanya berbaring di tempat tidur seperti itu,” gerutu Alana sembari mendorong kursi rodanya seorang diri.

 

“Hm, siapa suruh melakukan tindakan yang mengutamakan emosi tanpa berpikir terlebih dahulu. Jika kamu ceroboh sedikit saja, bisa nyawamu tak terselamat- ...,” ucapan Poci terhenti.

 

Dubrak!

 

Tubuhnya tiba-tiba melemas, kedua lututnya bertemu dengan lantai dingin berwarna putih di lorong rumah sakit. Sontak hal ini membuat bola mata Alana melotot, dan secara spontan ia ingin mencoba membantu sahabatnya berdiri.

 

“Poci ... Ci ... kamu kenapa? Kenapa bisa seperti seorang manusia seperti ini sih, yang merasakan tubuh lemas?”

 

Sosok arwah gentayangan itu masih bersimpuh tak berdaya, kain kafan yang diikat erat ia buka dibagian dadanya, karena ia ingin kedua tangannya memegangi kepala. Benar-benar kepala sosok hantu itu begitu pening, sangat sakit seperti tertusuk-tusuk jarum di dalamnya.

 

Poci pusing, Alana lebih pusing lagi. Entah siapa yang ia bisa mintai pertolongan untuk membantu sahabatnya yang tak kasat mata ini.

 

Ia memijat-mijat dahi seraya ia menggaruk kepalanya, meski tak gatal. Kini ia benar-benar bingung.

 

Seandainya Alana tak memakai kursi roda saat ini, bisa saja ia membantu Poci hanya sekadar berdiri dan mencari tempat duduk yang layak.

 

Jika seperti ini sahabat hantunya itu akan jatuh pingsan. Eh tunggu sebentar, “Apakah arwah gentayangan bisa pingsan juga seperti manusia?”

 

Bisa-bisanya Alana menggunakan nalarnya disituasi genting seperti ini, karena memang tak bisa dilogikakan. Walaupun wanita ini mencari seorang dokter profesional pun, tetap saja Alana pasti ujung-ujungnya dikatakan gila karena meminta seorang dokter memeriksa sahabatnya yang merupakan arwah gentayangan.

 

Baru kali pertama ia memiliki sahabat yang antimainstream seperti ini. Ingin rasanya ia berteriak pada setiap orang yang berlalu lalang di lorong ini, tapi niatnya ia urunkan setelah dipikir-pikir ia tak mungkin melakukan hal itu.

 

Poci masih tersimbuh, dan tubuhnya gemetaran serta matanya melotot begitu menakutkan.

 

“Poci, kenapa kamu menyeramkan seperti itu!” teriak Alana dengan netra mata yang memendung air mata karena jujur ia merasa ketakutan melihat sahabatnya.

 

“Alana ...,” suara Poci terdengar serak.

 

Walaupun Alana merasa aneh dengan tatapan sahabatnya, ia tetap mendekat dan mencoba tenang.

 

“Iya Poci?” jawabnya singkat.

 

“Sepertinya aku tahu kenapa aku berada di sini dan bergentayangan.”

 

Tentu saja lontaran kalimat itu membuat Alana tercengang dan ia menatap sahabatnya begitu dalam. Seakan ingin mengetahui kisah sahabatnya, kenapa ia bisa menjadi arwah gentayangan di sini.

 

Namun ....

 

Hah!

 

Poci kembali bangkit dengan ekspresi wajah datar, ia melirik ke arah sahabatnya yang sejak tadi sudah mengaga karena tak sabar untuk mendengar kisah pilu dari seorang Poci.

 

Poci malah berjalan tanpa melanjutkan ucapannya, hal ini membuat Alana berusaha untuk mengejar dengan mendorong kursi rodanya begitu kuat. Agar lajunya semakin menyamai langkah kaki sahabatnya.

 

Arwah nyentrik itu tak menggunakan kain kafannya dengan benar dan baik, ia malah melepas beberapa kain yang membungkus tubuhnya. Jika ada pemeriksaan mengenai aturan berseragam, mungkin saja Poci akan dihukum karena tak menggunakan pakaiannya dengan benar!

 

“Poci ... kamu mau ke mana? Kenapa kamu terburu-buru dan tidak melanjutkan ceritamu?!” teriak Alana agar di dengar oleh Poci.

 

Tak disangka, arwah gentayangan itu benar-benar aneh. Alana pikir sahabatnya akan pergi entah ke mana, tapi ... ia mencari tempat duduk yang tak jauh dari lorong itu.

 

Dengan kaki yang disilang salah satunya, ia seperti pria yang menjaga image sekali.

 

Alana yang melihat sahabatnya itu hanya bisa menyudutkan bibirnya di sebelah kanan. Ia terlihat kesal dengan sahabatnya tersebut.

 

Bagaimana tidak kesal, Poci telah berhasil membuat Alana khawatir minta ampun tapi malah sahabatnya itu duduk bersantai ria di sana.

 

Meskipun kesal, Alana masih penasaran dengan ucapan yang terlontar oleh mulut sahabatnya. Kini wanita itu berada di samping sahabatnya, dengan tetap duduk di kursi rodanya.

 

“Poci, apa maksudmu dengan perkataanmu tadi?”

 

Mendengar pertanyaan sahabatnya, Poci melirik dengan tatapan tajamnya. Ia menyoroti wajah Alana.

 

Wanita yang merasa aneh dipandang oleh sahabatnya itu langsung memalingkan penglihatan. “Jangan melihatku dengan tatapan aneh seperti itu. Kamu benar-benar seperti hantu!”

 

“Na, kamu lupa ya. Aku kan memang hantu, masa iya manusia,” sahut Poci seperti biasa begitu cetus.

 

Alana tak ingin berhenti bertanya mengenai alasan Poci bisa bergentayangan di sini. Ia hanya mengangkat kepalanya, seakan ia ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan Poci, sebelum ia menjadi hantu seperti ini.

 

“Apa?”

 

“Kenapa malah tanya balik? Kan kamu yang mengatakan mengenai alasanmu berada di sini dan bergentayangan.”

 

“Tapi aku tidak mengatakan jika aku ingin menceritakannya kan, Alana? Aku hanya mengucapkan hal itu, tanpa ingin memberitahumu,” sahut Poci. Tatapannya kini begitu dingin.

 

Sebenarnya Alana masih mengira dan bertanya dalam benaknya mengenai kematian sahabatnya itu. Wanita ini percaya jika kematian Poci sangat menyedihkan.

 

Kenapa ia berasumsi seperti itu? Dia sangat yakin, ketidakterbukaan Poci membuat dirinya tahu jika pertanyaannya tadi sudah mengganggu ranah personal arwah gentayangan ini.

 

Mungkin saja Poci memang tak ingin menceritakan kisah kematiannya, ia hanya ingin mengetahui peliknya kisah yang dialami sebelum meninggalkan dunia ini untuk selamanya.

 

Pertanyaan Alana terhenti saat itu juga, ia tak ingin mengusik apa pun yang bukan ranahnya. Meskipun Poci sudah ia anggap sebagai sahabat dan saudara laki-laki. Namun, tetap saja semua memiliki batasan.

 

Beberapa detik kemudian, Poci kembali menyeluk kepalanya yang teramat sakit. Mungkin bagian demi bagian ingatannya membuat kepalanya begitu pening.

 

Memori yang sangat dirinya ingin lupakan, sekaligus memori yang ingin ia ketahui agar ia bisa mengetahui tujuannya berada di sini.

 

Sebenarnya kisah apa yang telah terjadi dikehidupan Poci? Dan kejadian pahit apa yang sudah membuat dirinya menjadi arwah gentayangan tanpa tujuan ini?

 

“Alana, kepalaku sangat sakit,” geram Poci sembari meneteskan air mata.

 

Bersambung.

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Coneflower
5761      2424     4     
True Story
Coneflower (echinacea) atau bunga kerucut dikaitkan dengan kesehatan, kekuatan, dan penyembuhan. Oleh karenanya, coneflower bermakna agar lekas sembuh. Kemudian dapat mencerahkan hari seseorang saat sembuh. Saat diberikan sebagai hadiah, coneflower akan berkata, "Aku harap kamu merasa lebih baik." — — — Violin, gadis anti-sosial yang baru saja masuk di lingkungan SMA. Dia ber...
Putaran Waktu
1253      795     6     
Horror
Saga adalah ketua panitia "MAKRAB", sedangkan Uniq merupakan mahasiswa baru di Universitas Ganesha. Saat jam menunjuk angka 23.59 malam, secara tiba-tiba keduanya melintasi ruang dan waktu ke tahun 2023. Peristiwa ini terjadi saat mereka mengadakan acara makrab di sebuah penginapan. Tempat itu bernama "Rumah Putih" yang ternyata sebuah rumah untuk anak-anak "spesial". Keanehan terjadi saat Saga b...
SEPATU BUTUT KERAMAT: Antara Kebenaran & Kebetulan
8172      2712     13     
Romance
Hidup Yoga berubah total setelah membeli sepatu butut dari seorang pengemis. Sepatu yang tak bisa dibuang dan selalu membawa sial. Bersama Hendi, teman sekosnya, Yoga terjebak dalam kekacauan: jadi intel, menyusup ke jaringan narkoba, hingga menghadapi gembong kelas kakap. Di tengah dunia gelap dan penuh tipu daya, sepatu misterius itu justru jadi kunci penyelamatan. Tapi apakah semua ini nyata,...
Semu, Nawasena
13365      4289     4     
Romance
"Kita sama-sama mendambakan nawasena, masa depan yang cerah bagaikan senyuman mentari di hamparan bagasfora. Namun, si semu datang bak gerbang besar berduri, dan menjadi penghalang kebahagiaan di antara kita." Manusia adalah makhluk keji, bahkan lebih mengerikan daripada iblis. Memakan bangkai saudaranya sendiri bukanlah hal asing lagi bagi mereka. Mungkin sudah menjadi makanan favoritnya? ...
EFEMERAL
163      148     0     
Romance
kita semua berada di atas bentala yang sama. Mengisahkan tentang askara amertha dengan segala kehidupan nya yang cukup rumit, namun dia di pertemukan oleh lelaki bajingan dengan nama aksara nabastala yang membuat nya tergila gila setengah mati, padahal sebelumnya tertarik untuk melirik pun enggan. Namun semua nya menjadi semakin rumit saat terbongkar nya penyebab kematian Kakak kedua nya yang j...
MANGKU BUMI
194      182     2     
Horror
Setelah kehilangan Ibu nya, Aruna dan Gayatri pergi menemui ayahnya di kampung halaman. Namun sayangnya, sang ayah bersikap tidak baik saat mereka datang ke kampung halamannya. Aruna dan adiknya juga mengalami kejadian-kejadian horor dan sampai Aruna tahu kenapa ayahnya bersikap begitu kasar padanya. Ada sebuah rahasia di keluarga besar ayahnya. Rahasia yang membawa Aruna sebagai korban...
The Hallway at Night
7586      3762     2     
Fantasy
Joanne tak pernah menduga bahwa mimpi akan menyeretnya ke dalam lebih banyak pembelajaran tentang orang lain serta tempat ia mendapati jantungnya terus berdebar di sebelah lelaki yang tak pernah ia ingat namanya itu Kalau mimpi ternyata semanis itu kenapa kehidupan manusia malah berbanding terbalik
Ayugesa: Kekuatan Perempuan Bukan Hanya Kecantikannya
8412      2810     204     
Romance
Nama adalah doa Terkadang ia meminta pembelajaran seumur hidup untuk mengabulkannya Seperti yang dialami Ayugesa Ada dua fase besar dalam kehidupannya menjadi Ayu dan menjadi Gesa Saat ia ingin dipanggil dengan nama Gesa untuk menonjolkan ketangguhannya justru hariharinya lebih banyak dipengaruhi oleh keayuannya Ketika mulai menapaki jalan sebagai Ayu Ayugesa justru terus ditempa untuk membu...
Peri Untuk Ale
6887      3010     1     
Romance
Semakin nyaman rumah lo semakin lo paham kalau tempat terbaik itu pulang
Salted Caramel Machiato
19382      7563     0     
Romance
Dion seorang mahasiswa merangkap menjadi pemain gitar dan penyanyi kafe bertemu dengan Helene seorang pekerja kantoran di kafe tempat Dion bekerja Mereka jatuh cinta Namun orang tua Helene menentang hubungan mereka karena jarak usia dan status sosial Apakah mereka bisa mengatasi semua itu