Loading...
Logo TinLit
Read Story - Cinta dan Rahasia
MENU
About Us  

Cinta dan Rahasia

 

(Ponsel berdering)

“Halo …” sapa seorang perempuan.

“Halo, ini siapa ya?” jawab Vian frustrasi.

“Emm, siapa ya …”

“Kamu jangan main-main atau saya akan tutup teleponnya!” ancam Vian.

“Eits, tunggu dulu. Dengarkan ini baik-baik.”

“Kak Vian! Tolong aku, Kak! Kak Vian!”

            Vian yang awalnya tidak tertarik, kini mulai menajamkan pendengarannya. Tidak salah lagi. Itu adalah suara Rian, adiknya yang berumur lima tahun, yang tiba-tiba menghilang sejak dua hari yang lalu.

“Jika ingin adik kamu selamat, cepatlah datang ke gedung tua di belakang sekolah malam ini. Dan ingat, datanglah seorang sendiri.”

(Tut … tut … tut …)

“Sialan!” umpat Vian kesal sembari membuang kasar bola basket.

***

"Yakin ga mau dijemput Han? Ini sudah malam lho. Aku dan Irene jadi gak enak nih, harusnya kan mading itu tugas kita bersama”

“Iya tenang saja Sal, bentar lagi aku pulang kok. Bilang sama Irene juga kalau dia gausah khawatir. Oke, aku tutup ya teleponnya.”

“Wah, sekolah benar-benar berbeda di malam hari. Tapi, kemana pak satpam ya, kok pagar belakang sekolah dibiarkan terbuka begitu saja.” Tanya Hana seorang diri.

            Samar-samar ia melihat sesosok bayangan yang bergerak ke arah gedung di belakang sekolah. Rasa penasaran menghampirinya, namun hatinya berkata lain.

“Itukan Vian. Mau apa dia di gedung tua itu? Ah, tapi itukan bukan urusanku. Move on Hana! Move on!”

            Ia pun membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan gedung tua itu.

***

            Hentakan langkah kaki yang menaiki tangga menemani kekosongan gedung malam itu. Dingin dan sunyi. Menyeramkan memang, tapi nyawa adiknyalah yang menjadi taruhannya. Berbagai pertanyaan menyeruak di pikiran ketua basket itu. Siapa perempuan itu, apa motif di balik semua ini, dan masih banyak lagi.

            Hingga akhirnya, tibalah ia di depan sebuah pintu yang membatasi ruangan tertinggi  gedung tua sekaligus menyeramkan itu. Pintu tersebut tidak terkunci, sepertinya penjahat tersebut sengaja melakukannya. Begitu melangkahkan kaki, suara tepukan tangan menyambutnya.

“Halo, sayang.” Sapa seseorang yang tadi bertepuk tangan.

“Kamu?!”

            Vian hanya bisa menggelengkan kepalanya, tak menyangka pelaku di balik semua ini. Perempuan tersebut mulai berjalan mendekati Vian. ia meletakkan tangan kirinya di bahu pria bertubuh tinggi besar itu dan mulai berjalan mengelilinginya. Sebuah remote tergenggam di tangan kanannya. Ia mulai berbicara dengan nada menggoda.

“Hai … sayang.”

“Gea, dimana adikku?”

“Bagaimana? Kamu terkejut?”

“Cepat katakan dimana adikku??!!”

“Tenanglah sayang, kamu akan segera mengetahui …”

            Gea mengarahkan remote yang sedari tadi digenggamnya ke arah sebuah ruangan dan menekan tombol open. Segera sebuah pintu besi yang menutupi ruangan itu terbuka dan menyisakan barisan jeruji besi.

“Kakak!!!” teriak seorang bocah yang terkurung di dalamnya.

“Rian!!!”

“Tunggu dulu, ada syaratnya jika ingin adikmu selamat.” Gea menarik lengan Vian untuk menghentikannya melangkah.

“Lepaskan! Cepat katakan apa syaratnya?!”

“Mudah saja, kamu hanya harus mau menjadi pacarku dan bahkan mungkin menjadi pendamping hidupku.”

            Vian tersenyum kecut.

“Gila kamu! Jadi pacar seorang penculik saja aku tidak sudi, apalagi jadi pendamping!”

“Kamu harus mau …”

Gea menyandarkan kepalanya di bahu pria tinggi itu yang langsung dihempaskan oleh sang pemiliknya.

“Tidak! Tidak akan pernah!”

“Jadi, kamu tetap pada keputusanmu? Tidak akan menyesal?”

“Kamu ini tuli atau apa, sudah kukatakan aku tidak mau!!!”

“Baiklah kalau begitu.”

            Tiba-tiba Gea melepaskan kancing kemejanya satu per satu, Via pun refleks menutup kedua matanya.

“Kamu sudah gila? Apa yang kamu lakukan?!”

“Hahaha, aku tidak akan serendah itu bodoh. Cepat buka matamu!”

            Dengan ragu-ragu Vian membuka kedua matanya. Baju taekwondo? Mengapa Gea mengenakan baju itu. Oke dia memang seorang atlet taekwondo yang bahkan sudah diakui oleh mata internasional. Tapi untuk apa? Untuk menarik perhatian Vian?

“Untuk terakhir kalinya …”

“Kalau masih dengan pertanyaan tadi, jawabanku masih sama, tidak. Tidak pernah. Aku tidak akan mau menjadi pasangan seorang psyco seperti kamu!!!”

“Beraninya kau …!”

            Emosi Gea sudah meluap-luap. Ia menarik kerah dan menendang perut Vian, hingga kapten basket itu terpental dan jatuh membentur dinding. Kini Vian lemas dan tidak mampu berdiri. Tak puas, Gea pun memberikan pukulan disana-sini dengan sangat keras dan cepat hingga memar dan darah memenuhi tubuh pria itu.

“Kakak!!!” jerit Rian melihat kakak yang disayanginya begitu tak berdaya.

            Dan seorang perempuan yang juga turut andil menyaksikan adegan itu.

“Ya ampun Vian. Apa yang terjadi sebenarnya? Siapa perempuan itu? Aku gak bisa berdiam diri seeperti ini. Ya, aku harus memberi tahu teman-teman untuk melaporkan kepada polisi.”

            Namun sayang, handphone nya lowbat.

            Gea datang dengan senyuman menghampiri Vian dan mencengkeram kerahnya. Vian membalasnya dengan senyuman kecut.

“Jika kamu ingin bertanya lagi, aku masih tetap dengan keputusanku!”

            Gea melepaskan cengkeramannya dan melangkah menuju sebuah meja tua di ruangan itu.

“Kenapa perasaanku tidak enak ya. Apa yang akan dilakukan oleh perempuan itu?” Tanya perempuan yang sedang mengintip kejadian tersebut kepada dirinya sendiri.

            Entah apa maksudnya, Gea sibuk merapikan taplak meja yang berantakan dimana terdapat sebuah vas bunga dari beling yang amat cantik, namun bunga di dalamnya telah lama mati.

“Vian … ini untuk terakhir kalinya. Apakah kamu mau menjadi pasanganku?” Tanya Gea sembari mengelus vas bunga tersebut.

“Aku … aku … aku tidak mau!!!”

“Rasakan ini Vian!!!”

            Gea melemparkan vas bunga tadi ke arah Vian. Pria itu hanya bisa menyilangkan kedua tangan di depan wajahnya.

(Prakkk)

            Sesosok perempuan memeluk erat tubuh Vian yang lemas.

“Kamu tidak apa-apa?” lirih perempuan itu.

“Aku … tidak … apa-apa …”

“Ah, syukurlah ..”

            Perempuan itu terkulai lemas dan tidak sadarkan diri di bahu Vian. Merasa ada yang janggal, Vian mulai panik. Secara tidak sengaja ia menyentuh kepala perempuan itu, ternyata berdarah. Vian memindahkan kepala perempuan itu ke lengannya untuk melihat dengan pasti wajah perempuan tersebut.

“Hana!!!” teriak Vian histeris.

            Tangis Vian meledak seketika. Hatinya terasa sangat sakit, bahkan pukulan yang diberikan oleh Gea pun tak mampu menandinginya. Hana. Ketua mading itu. Perempuan itu. Ia kini terkulai lemah demi menyelamatkan dirinya.

            Mengetahui apa yang terjadi akibat ulahnya, Gea pun panik. Ia melangkahkan kakinya, mendekati Vian dan Hana.

“A .. apa .. kah dia b .. b .. baik-baik saja?” tanyanya berniat menyentuh Hana yang langsung dihempaskan oleh Vian.

“Pergi! Jangan sentuh Hana! Pergi!!!” teriak Vian semakin mendekap erat tubuh Hana.

Kerasnya suara yang ia keluarkan membuat pria itu semakin lemas, dan seketika semuanya menjadi gelap.

            Gea pun semakin panik. Bingung hendak berbuat apa. Saking paniknya, ia tidak mendengar bunyi langkah-langkah kaki yang semakin mendekat.

“Diam di tempat!” teriak seorang pria berkumis yang diikuti oleh beberapa orang di belakangnya.

“Bu … bu .. kan saya …”

“Silakan saudara jelaskan nanti di kantor polisi.”

            Para polisi itu langsung memborgol kedua tangan Gea.

“Hana!!!” teriak dua suara yang terdengar begitu familiar.

“Hana! Vian! Bangunlah!” teriak salah satu diantaranya.

“Cepat panggil ambulans!”

“Mereka sedang dalam perjalanan!”

***

            Putih. Semua putih. Aroma khas farmasi dan medis bercampur di udara. Peraturan mengatakan bahwa para pengunjung tidak diperkenankan untuk berisik, semua harus tenang. Namun, tak semudah itu. Perasaan tak mudah untuk dipendam. Ketahuilah, manusia yang ‘kuat’ adalah manusia yang mampu mengekspresikan perasaanya. Itu semua wajar. Manusia akan merasakan senang bila mendapatkan kebahagiaan dan sedih bila harus kehilangan.

“Kamu yakin ingin pulang sekarang?”

“Iya, Sal. Aku sudah merasa bosan. Sangat bosan.”

“Tapi kamu baru sadar dari kritis mu selama sebulan kemarin.”

“Tapi kan dokter sendiri yang bilang kalau kondisiku mmbaik dengan sangat cepat, Ren.”

“Ya terserah kamu saja. Ayo Ren bantu aku mengemas barang-barang Hana. Kita tidak akan bisa menang debat melawan dia.” Canda Salsa.

“Hmm teman-teman. Aku merasa ada yang aneh. Semenjak kemarin sadar, aku tidak pernah melihat Vian. Apa dia baik-baik saja?” Tanya Hana dengan hati-hati.

            Salsa dan Irene pun menghentikan aktivitas beres-beres mereka.

"Vian? kenapa tiba-tiba kamu menanyakan Vian?” Tanya Salsa.

“Jangan-jangan kamu belum move on dari dia ya Han?” goda Irene.

            Diam sejenak.

“Ah, tidak. Aku hanya ingin tahu kabar Vian, ah ya, dan adiknya juga. Terakhir kali aku melihat mereka saat di gedung itu.”

Tidak. Terakhir kali aku melihat Vian saat aku tiba-tiba tersadar sebentar di kamar rawat ku. Ada Vian disana, di tempat tidurnya, di samping ku. Tapi dia tidak bergerak, dia tidak membuka kedua matanya. Apa yang terjadi? Aku sungguh penasaran dan khawatir.

“Hmm, Rian baik-baik saja Han. Dia hanya butuh sedikit perawatan untuk mengobati traumanya. Tapi Vian …”

“Kenapa dengan Vian? dia baik-baik saja kan Sal?”

“Vian … Vian …”

“Kenapa Vian?”

“Vian …”

“Nanti kamu akan tahu sendiri Han.”

“Kenapa tidak sekarang? Tidak ada hal buruk yang menimpa Vian kan Ren?”

“Nanti juga kamu akan tahu Han. Ayo kita pulang, taksi sudah menunggu di depan.”

***

            Kenapa mereka tidak memberitahu langsung keadaan Vian kepadaku? Sebenarnya apa yang terjadi? Dia baik-baik saja kan? Tidak ada hal buruk yang menimpanya kan? Meninggal. Tidak. Itu tidak mungkin. Dia tidak mungkin pergi tanpa berpamitan kepadaku. Tidak. Hanya memikirkannya pun sudah membuatku sesak. Mikir apa sih kamu Hana. Vian pasti baik-baik saja. Dia pria yang kuat. Ya, aku yakin itu.

            Bayangan keadaan Vian terus saja menganggu pikiran Hana. Sepanjang jalan ia terus melamunkan ketua basket itu. Saking tenggelam dalam lamunannya, Hana pun tak sadar bahwa ia telah sampai di rumahnya.

“Han, kita sudah sampai di rumah.” Kata Salsa membuyarkan lamunan perempuan yang tengah di dorongnya dengan kursi roda.

“Ah, ya. Tolong dudukkan aku di sofa ruang keluarga saja. Aku ingin istirahat sebentar di sana.” Sambil menunjuk ruangan yang gelap karena ditinggal lama oleh penghuninya.

“Oke, Han.”

“Satu lagi, bisakah kalian menyalakkan sakelar lampu untukku? Entah kenapa dan sejak kapan aku menjadi benci dengan ruangan yang gelap.”

“Aku akan menyalakannya, Han. Mungkin kamu trauma sejak kejadian di gedung itu. Pada saat itu penerangan di sana juga remang-remang bukan?” kata Irene sembari menekan sakelar.

            Dan begitu lampu menyala …

“Surprise!!!”

“Ka .. ka .. lian …”

            Hana begitu terkejut. Begitu banyak orang yang menyambut dirinya. Ada mamah, papah, nenek, dan kakek. Ada juga Rian. Dan … Vian.

“Selamat datang di rumah sayang.”

“Welcome to our sweet home honey.” Kata papah dan mamah bergantian sembari memeluk anak semata wayangnya.

“A .. aw.” Keluh Hana sembari memegang kepalanya yang masih dibalut perban.

“Eh oh sakit ya honey, maafkan kami.” kata mamah

“Tidak apa-apa kok mah, pah. Tapi apa tak masalah kalian kesini? Bukannya kalian selalu banyak pekerjaan?” Tanya Hana.

“Tidak apa-apa sayang. Kamu adalah yang terpenting bagi kami melebihi apapun.”

            Senyum bahagia mengembang di wajah perempuan berusia 17 tahun itu.

“Aduh, cucu nenek yang malang. Lihatlah wajah dan tubuh mu yang semakin kurus, Han. Nanti nenek akan membuatkan kue yang banyak untukmu ya.”

“Tidak, tidak. Kita harus pergi refreshing ke alam luar, seperti memancing. Kakek akan mengajakmu memancing ya, Han. Hmm, kita harus cepat-cepat membuat jadwal, Han.” celoteh kakek

“Haha. Iya kek, nek.”

“Hai, Hana.” Sapa Vian sembari bersimpuh di depan Hana.

“Kamu baik-baik saja?” Tanya Vian, yang dijawab oleh Hana dengan anggukan pelan.

“Syukurlah.”

“Kamu jahat.” Akhirnya Hana membuka suara.

“Aku? Jahat?”

“Iya, kamu jahat. Kenapa kamu tidak pernah datang untuk menjengukku? Kamu bahkan tidak datang menjemputku hari ini di rumah sakit.”  

“Hana …”

“Aku khawatir …” ucap Hana pelan, namun masih terdengar di telinga pria berusia 17 tahun tersebut.

“Maaf.” Ucap Vian tertunduk, dengan tangan yang masih menggemgam tangan Hana.

“Sekali lagi maaf. Maaf karena aku tidak bisa melihat perempuan yang aku sayangi harus terkapar lemah tak berdaya karena aku. Karena menyelamatkan diriku.”

            Semua sontak terkejut, tak terkecuali Hana. Perempuan itu diam mematung di hadapan pria yang jelas-jelas baru saja menyatakan perasaanya.

“Jadi … apakah kamu menerimanya?” Tanya Vian sembari mendongakkan wajahnya.

“Menerima apa?” Tanya Hana pura-pura tidak tahu.

“Perasaanku …”

            Hening sejenak.

“Aku tidak bisa.” Jawab Hana.

“Ti .. ti .. dak bisa? Tapi kenapa?” Tanya Vian dengan nada kecewa.

“Ya. Aku tidak bisa. Tidak bisa untuk menolak kamu.”

            Seketika suasana tegang berubah menjadi ramai.

“Ciee … ada yang jadian nih.” Goda Irene.

“Pajak teraktiran boleh kali ya.” Tambah Salsa.

“Wah, sebentar lagi kita bakalan punya menantu pah.” Mamah tidak mau kalah.

“Ih mamah apa-apaan sih.” Ucap Hana malu.

            Rasa bahagia benar-benar sedang menyelimuti Hana saat itu. Tapi ada satu yang terlupa …

“Oh iya, bagaimana dengan Gea?” Tanya Hana

“Gea?” Tanya Vian balik.

“Iya, Gea.”

“Hmm, kita semua pasti sudah tahu jawabannya.”

 

 

 

 

Biografi Penulis

 

Fetty Fauziyah Hidayat lahir di Bogor pada tanggal 12 Juni 1999. Penulis yang akrab dipanggil Fetty ini tengah mengemban pendidikan di Universitas Indonesia jurusan Ilmu Keperawatan. Ia mempunyai hobi membaca, menulis cerpen, dan mendengarkan musik.

 

Tags: romance

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
NADI
7420      2437     3     
Mystery
Aqila, wanita berumur yang terjebak ke dalam lingkar pertemanan bersama Edwin, Adam, Wawan, Bimo, Haras, Zero, Rasti dan Rima. mereka ber-sembilan mengalami takdir yang memilukan hingga memilih mengakhiri kehidupan tetapi takut dengan kematian. Demi menyembunyikan diri dari kebenaran, Aqila bersembunyi dibalik rumah sakit jiwa. tibalah waktunya setiap rahasia harus diungkapkan, apa yang sebenarn...
Dosa Pelangi
752      479     1     
Short Story
"Kita bisa menjadi pelangi di jalan-jalan sempit dan terpencil. Tetapi rumah, sekolah, kantor, dan tempat ibadah hanya mengerti dua warna dan kita telah ditakdirkan untuk menjadi salah satunya."
Diskusi Rasa
1265      774     3     
Short Story
Setiap orang berhak merindu. Tetapi jangan sampai kau merindu pada orang yang salah.
Ilona : My Spotted Skin
3124      1976     3     
Romance
Kecantikan menjadi satu-satunya hal yang bisa Ilona banggakan. Tapi, wajah cantik dan kulit mulusnya hancur karena psoriasis. Penyakit autoimun itu membuat tubuh dan wajahnya dipenuhi sisik putih yang gatal dan menjijikkan. Dalam waktu singkat, hidup Ilona kacau. Karirnya sebagai artis berantakan. Orang-orang yang dia cintai menjauh. Jumlah pembencinya meningkat tajam. Lalu, apa lagi yang h...
Luka Adia
1005      653     0     
Romance
Cewek mungil manis yang polos, belum mengetahui apa itu cinta. Apa itu luka. Yang ia rasakan hanyalah rasa sakit yang begitu menyayat hati dan raganya. Bermula dari kenal dengan laki-laki yang terlihat lugu dan manis, ternyata lebih bangsat didalam. Luka yang ia dapat bertahun-tahun hingga ia mencoba menghapusnya. Namun tak bisa. Ia terlalu bodoh dalam percintaan. Hingga akhirnya, ia terperosok ...
Good Guy in Disguise
763      571     4     
Inspirational
It started with an affair.
Army of Angels: The Dark Side
38927      8564     25     
Fantasy
Genre : Adventure, Romance, Fantasy, War, kingdom, action, magic. ~Sinopsis ~ Takdir. Sebuah kata yang menyiratkan sesuatu yang sudah ditentukan. Namun, apa yang sebenarnya kata ''Takdir'' itu inginkan denganku? Karir militer yang telah susah payah ku rajut sepotong demi sepotong hancur karena sebuah takdir bernama "kematian" Dikehidupan keduaku pun takdir kembali mempermai...
RAIN
796      558     2     
Short Story
Hati memilih caranya sendiri untuk memaknai hujan dan aku memilih untuk mencintai hujan. -Adriana Larasati-
Because I Love You
2294      1469     2     
Romance
The Ocean Cafe napak ramai seperti biasanya. Tempat itu selalu dijadikan tongkrongan oleh para muda mudi untuk melepas lelah atau bahkan untuk menghabiskan waktu bersama sang kekasih. Termasuk pasangan yang sudah duduk saling berhadapan selama lima belas menit disana, namun tak satupun membuka suara. Hingga kemudian seorang lelaki dari pasangan itu memulai pembicaraan sepuluh menit kemudian. "K...
karena Aku Punya Papa
711      513     0     
Short Story
Anugrah cinta terindah yang pertama kali aku temukan. aku dapatkan dari seorang lelaki terhebatku, PAPA.