Loading...
Logo TinLit
Read Story - Salted Caramel Machiato
MENU
About Us  

Hilman berdiri menyambut kedatangan Helene. Dia tersenyum dan terlihat gugup. Tidak menyangka akan bertemu dengan perempuan secantik Helene.

 

 

 

Helene tersenyum sekadarnya, mengangguk dan matanya tak lepas memandang Hilman. Ini adalah laki-laki kesekian yang ditemuinya. Laki-laki kencan buta-nya. Semua bertipikal mirip, sangat khas laki-laki pilihan mama. Berpotongan rapi dan bertampang cerdas. Helene sudah sangat hapal.

 

 

 

"Sudah lama menunggu?" Helene bertanya, membuka percakapan. Sekadar basa-basi.

 

 

 

"Oh, tidak...tidak...belum lama." Hilman salah tingkah, mungkin karena Helene terus menatapnya.

 

 

 

Helene nyaris tertawa, baru kali ini dia bertemu laki-laki kencan buta yang terlihat tidak percaya diri. Semakin Hilman salah tingkah, semakin suka Helene melihatnya. Dia terus menatap laki-laki itu, tersenyum tipis. Sorot matanya seperti mengukur kekuatannya dengan Hilman. Kali ini kencan buta bagaikan ajang pertandingan dan Helene tahu, dia lah pemenangnya.

 

 

 

"Aku akan berterus terang padamu," katanya pada Hilman dengan sorot mata yang serius. Hilman hanya menatap Helene.

 

 

 

"Sesungguhnya aku tidak tertarik untuk hal-hal seperti ini. Aku bahkan sangat membencinya. Jadi aku berharap kamu mau bekerja sama denganku untuk segera mengakhiri pertemuan kita malam ini."

 

 

 

Helene berkata tanpa jeda, bahkan untuk menarik napas pun ditahannya. Dia ingin menunjukkan pada Hilman bahwa dia serius dengan perkataannya.

 

 

 

Helene menunggu reaksi Hilman. Apakah Hilman akan terluka? Marah? Atau menyumpahinya?. Helene mengingat Aidan- kencan buta-nya beberapa waktu yang lalu- dan kencan buta-nya yang lain. Semua reaksi mereka sangat tidak menyenangkan.

 

 

 

Tanpa diduga, Hilman tersenyum lebar lalu tertawa. Wajahnya yang tadi terlihat gugup, hilang begitu saja.

 

 

 

Kali ini Helene yang merasa bingung dengan reaksi Hilman, padahal sedari tadi Helene sudah menyiapkan skenario terburuk yang akan dialaminya malam ini. Helene bahkan sudah mempersiapkan cara mengantisipasinya.

 

 

 

"Terima kasih kamu mengatakannya." Hilman tersenyum lebar setelah berhasil menguasai keadaan.

 

 

 

"Dari tadi aku berpikir bagaimana caranya menyudahi semua ini. Aku juga tidak setuju dengan perjodohan seperti ini. Meskipun perempuan yang dipilih Mama sangat cantik. Ya, kamu sangat cantik. Tadi aku nyaris goyah." Hilman bicara dengan sikap yang jauh lebih santai.

 

 

 

"Oh.." Hanya itu yang keluar dari mulut Helene, dia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Tak tahu harus berkata apa, dia masih terkejut. Sungguh, Hilman sudah membuatnya bingung.

 

 

 

"Aku ingin jujur padamu, kalau sebenarnya aku sudah punya kekasih. Aku mencintainya. Mama menentang hubungan kami karena perempuan itu dianggap tidak cocok untukku."

 

 

 

"Harusnya kamu mempertahankan cintamu, bukannya menyerah dan datang menemui aku. Apa alasanmu untuk datang? Kalau seandainya perempuan itu tahu kamu datang menemui aku, dia pasti akan terluka."

 

 

 

"Aku hanya menuruti kehendak Mama. Namun, malam ini aku bertekad untuk mempertahankan dia, apa pun yang terjadi. Ternyata saat bertemu dengan kamu, bayangan wajahnya selalu hadir. Makanya aku menjadi tidak tenang. Aku merasa bersalah padanya." Hilman menunduk, raut wajahnya sedih.

 

 

 

Helene menggenggam tangan Hilman, seperti memberi kekuatan pada laki-laki itu.

 

"Aku ingin kita berteman, aku suka dengan kejujuranmu," kata Helene, tangannya masih menggenggam tangan Hilman.

 

 

 

Mereka berdua tersenyum sangat lebar, lalu tertawa. "Aku ingin merayakan pertemuan kita, seorang teman baru yang aku peroleh karena kencan buta. Kamu mau pesan apa, Len?" Hilman tersenyum jenaka. Helene bisa melihat binar kebahagiaan di mata Hilman.

 

 

 

"Kalau pesan makanan yang paling mahal, kamu masih mampu bayar, kan?" Helene bertanya dengan wajah yang dibuat sangat serius. Namun, Hilman tahu kalau Helene hanya bercanda.

 

 

 

"Kalau aku tidak bisa membayarnya, kamu siapkan tenaga supaya kita bisa berlari cepat keluar dari restoran ini." Hilman mendekatkan wajahnya pada Helene, suaranya lirih nyaris berbisik. Helene tertawa menyambut kata-kata Hilman.

 

 

 

"Jangan khawatir... aku sangat kuat berlari. Apalagi kalau kepepet." Helene ikut berbisik, tampangnya masih dibuat serius.

 

 

 

Malam ini, adalah kencan buta yang paling membahagiakan menurut Helene. Dia bisa tertawa bahagia. Mereka berdua bicara seolah tanpa beban. Bahkan mereka bisa menertawakan betapa tololnya mereka mau diatur untuk acara kencan.

 

 

 

***

 

 

 

Dion melihat Helene dari kejauhan dengan gaun birunya. Kekasihnya terlihat sangat cantik. Gaun itu melekat pas di tubuh Helene. Sesungguhnya Dion tak rela, dia ingin Helene tampil secantik itu untuknya. Bukan untuk bertemu laki-laki lain.

 

 

 

Dion mengikuti Helene ke kafe itu. Dia berdiri memandang dari jauh, dari luar kafe. Dia melihat Helene dan laki-laki itu duduk di pinggir, dekat kaca. Dion mencari tempat yang pas untuk bisa mengawasi dari jauh tapi juga tak terlihat oleh Helene. Dion merasa khawatir terjadi sesuatu dengan Helene. Meskipun Helene berkata bahwa dia sudah terbiasa datang dan menolak laki-laki pilihan mama, tetap saja ada perasaan takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan menimpa Helene.

Satu lagi, Dion juga merasa cemburu karena Helene menemui laki-laki lain.

 

Dion melihat Helene dan laki-laki berkaca mata itu tertawa. Mereka berdua terlihat akrab seperti kawan lama yang bertemu setelah berpisah sekian lama. Dion menahan rasa cemburunya, dia hanya bisa menatap tajam dan mengeraskan rahangnya. Bukan pemandangan yang ingin dilihat Dion.

 

***

 

"Aku ijin ke toilet sebentar, ya?" Helene berdiri. Hilman mengangguk "Silakan!" katanya.

 

Helene berjalan cepat menuju kamar mandi. Membuka ponselnya, menelpon seseorang. Matanya berbinar bahagia, "Dion, pulang lah! Aku tahu kamu khawatir. Tapi tidak akan terjadi apa-apa dengan diriku. Semuanya sudah aku bereskan." Helene berkata cepat, bahkan sebelum Dion sempat bersuara.

"Len, aku menunggumu." Dion mematikan telepon. Dia tidak ingin meninggalkan Helene, apalagi di malam selarut ini. Dion akan mengantarkan Helene pulang.

 

Helene tersenyum senang, meskipun hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Dion. Helene tahu maknanya bahwa Dion mencintainya.

 

***

 

"Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Ada seseorang yang menungguku," katanya pada Hilman. Sebenarnya Hilman adalah teman ngobrol yang menyenangkan. Helene bisa betah berlama-lama bercerita tentang banyak hal dengan Hilman. Tapi ada Dion yang menunggunya, Helene tidak tega membuat Dion semakin lama berdiri menunggu.

"Pacarmu?"

"Ya... bisa dibilang begitu."

"Baik lah...aku tidak akan menahan mu. Terima kasih buat malam ini, terima kasih buat pertemuan kita. Sangat menyenangkan bisa mengenal kamu. Kita masih bisa saling ngobrol, kan?" Hilman bertanya di ujung kalimat. Helene mengangguk merespon pertanyaan Hilman.

"Suatu saat aku akan mengenalkan kamu dengan pacarku," katanya lagi.

 

"Aku menunggu saat itu," ujar Helene. Kemudian dia undur diri, melangkah dengan perasaan yang ringan untuk bertemu dengan laki-laki yang mencintainya.

 

***

Dion menyambut Helene, tangannya menggenggam tangan perempuan itu.

"Dari mana kamu tahu aku mengikuti kamu?" tanya Dion, dari tadi dia menahan rasa penasarannya.

Helene tertawa mendengarnya. Melirik Dion dengan penuh arti.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Kasih yang Tak Sampai
889      547     0     
Short Story
Terkadang cinta itu tak harus memiliki. Karena cinta sejati adalah ketika kita melihat orang kita cintai bahagia. Walaupun dia bahagia bukan bersama kita.
SI IKAN PAUS YANG MENYIMPAN SAMPAH DALAM PERUTNYA (Sudah Terbit / Open PO)
7146      2584     9     
Inspirational
(Keluarga/romansa) Ibuk menyuruhku selalu mengalah demi si Bungsu, menentang usaha makananku, sampai memaksaku melepas kisah percintaan pertamaku demi Kak Mala. Lama-lama, aku menjelma menjadi ikan paus yang meraup semua sampah uneg-uneg tanpa bisa aku keluarkan dengan bebas. Aku khawatir, semua sampah itu bakal meledak, bak perut ikan paus mati yang pecah di tengah laut. Apa aku ma...
Asrama dan Asmara
664      490     0     
Short Story
kau bahkan membuatku tak sanggup berkata disaat kau meninggalkanku.
Kutu Beku
472      334     1     
Short Story
Cerpen ini mengisahkan tentang seorang lelaki yang berusaha dengan segala daya upayanya untuk bertemu dengan pujaan hatinya, melepas rindu sekaligus resah, dan dilputi dengan humor yang tak biasa ... Selamat membaca !
START
350      243     2     
Romance
Meskipun ini mengambil tema jodoh-jodohan atau pernikahan (Bohong, belum tentu nikah karena masih wacana. Hahahaha) Tapi tenang saja ini bukan 18+ 😂 apalagi 21+😆 semuanya bisa baca kok...🥰 Sudah seperti agenda rutin sang Ayah setiap kali jam dinding menunjukan pukul 22.00 Wib malam. Begitupun juga Ananda yang masuk mengendap-ngendap masuk kedalam rumah. Namun kali berbeda ketika An...
NWA
2542      1072     1     
Humor
Kisah empat cewek penggemar boybend korea NCT yang menghabiskan tiap harinya untuk menggilai boybend ini
Renjana
626      475     2     
Romance
Paramitha Nareswari yakin hubungan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun dengan penuh kepercayaan akan berakhir indah. Selayaknya yang telah ia korbankan, ia berharap agar semesta membalasnya serupa pula. Namun bagaimana jika takdir tidak berkata demikian? "Jika bukan masaku bersamamu, aku harap masanya adalah milikmu."
Everything In Between
4      4     0     
Romance
Nathaniel Salvatore, putra kedua keluarga penegak hukum tersohor di Republik Isolamerta. Tumbuh dengan keyakinan utuh bahwa hukum akan memberi keadilan kepada semua orang tanpa terkecuali. Sampai ia bertemu Eleonora Hale, gadis yang sering kali menguliti idealisme Nathaniel dengan argumen dan sinisme tajam. Rasa penasaran mendorong Nathaniel mendekati Eleonora. Namun, semakin ia mencoba mengen...
Under The Same Moon
498      344     4     
Short Story
Menunggumu adalah pekerjaan yang sudah bertahun-tahun kulakukan. Tanpa kepastian. Ketika suatu hari kepastian itu justru datang dari orang lain, kau tahu itu adalah keputusan paling berat untukku.
Pulang Selalu Punya Cerita
6683      4297     1     
Inspirational
Pulang Selalu Punya Cerita adalah kumpulan kisah tentang manusia-manusia yang mencoba kembalibukan hanya ke tempat, tapi ke rasa. Buku ini membawa pembaca menyusuri lorong-lorong memori, menghadirkan kembali aroma rumah yang pernah hilang, tawa yang sempat pecah lalu mengendap menjadi sepi, serta luka-luka kecil yang masih berdetak diam-diam di dada. Setiap bab dalam buku ini menyajikan fragme...