Loading...
Logo TinLit
Read Story - In the Name of Love
MENU
About Us  

Duduk saling membelakangi, salah satu tak merasakan kehadiran yang lain. Mencoba mengikhlaskan apa yang telah terjadi diantara mereka. Semua kegilaan yang mereka lakukan telah berakhir, mereka harus maju dan melupakan kenangan berladaskan nama cinta.

 

In the Name of Love

 

Jujur saja, aku percaya padamu. Aku percaya pada dirimu yang mengatakan semua akan baik-baik saja ketika ada kau dan aku serta cinta kita. Aku percaya ketika kau terbaringdi ranjang yang keras tersebut dan berkata kau baik-baik saja. Namun jujur, aku tak pernah rela melihat kesakitanmu dalam diam. Kau diam dan aku bisa melihat ringisan dari bibirmu yang menyunggingkan senyum penuh cinta ke arahku dan kau bilang itu semua atas nama cinta.

 

Aku mengikuti kemanapun kau mengajakku. Aku mengikutimu bahkan ketika mataku tertutup dan tak mampu melihat apapun bahkan dirimu yang berada dihadapanku. Aku percaya padamu yang terus memanduku ke mana saja tempat yang menurutmu indah dan semua berlandaskan atas nama cinta kita.

 

Kau tau, bukan hakku untuk memintamu menerima permintaan para medical untuk melakukan terapi pada penyakit yang membelengumu sebelum bertemu denganku karena aku percaya apa saja yang kau lakukan atas nama cinta kita. Kita telah terbelengu dalam hubungan berlandaskan cinta sehingga aku percaya apa saja keputusanmu. Atas nama cinta kita melakukan apapun karena hal itulah yang terbaik saat ini.

 

“Hey.” Sapaan yang sama ketika kita tanpa sengaja bertemu di taman penuh dengan bunga. Nada panggilanmu masih sama seperti ketika kita bertemu pertama di sana meski dengan alasan yang berbeda. Senyum manis terus bertengger pada kurva wajahmu. Lihat bibirmu pucat dan membuat senyummu terasa aneh meski kau tetap terlihat tampan kapan saja bagiku. “Duduklah Michela, lihat dirimu nampak lelah sekali. Keringat bahkan mengucur deras di pelipismu.”

 

Aku berjalan mendekat dan duduk tepat di sampingmu. Aku letakkan sebuket bunga bakung menggantikan bungga bakung yang telah layu. Setelah meletakkan barang yang aku genggam langsung saja aku memeluk dirimu seakan lama tak berjumpa. “Maaf lama tidak menghampirimu, banyak sekali hal yang harus aku lakukan di rumah.” Kau hanya mengangguk tetap dengan senyum lembutmu membuat aku terus saja merasa bersalah karena membuatmu menungguku.

 

Kau elus rambutku lembut, kurenggangkan jarak antara kita agar aku dapat dengan puas menatap dirimu yang hanya untukku. “Tak masalah Michela, pasti banyak sekali yang harus kau lakukan sebagai seorang anak berbakti bukan.” Tawa kecilmu masuk memberi kehangatan pada rongga dadaku. “Bagaimana keadan ibu serta ayahmu?”

 

Ku genggam tanganmu lembut, seakan menyalurkan kehangatan pada tanganmu yang terasa lembab. Takut-takut menganggu kerja infusmu, ku lepaskan genggaman pada tanganmu pelan. “Ibu dan ayah baik-baik saja, mereka cemas dengan keadaanmu,” Aku menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan pembicaraan. “Mereka bertanya kapan kau dapat sembuh agar kau dapat menemui mereka.”

 

Dapat aku lihat kau menghela nafas pelan agar aku tak dapat menyadari perubahan ekspresimu meski hanya sebentar. “Aku akan segera sembuh, percayalah. Aku akan sesegara mungkin menemui orang tuamu Michela, percayalah.” Ia mengusap lembut rambutku sehingga aku dapat tenang. Sangatlah ampuh tingkahmu dalam menenangkanku Mr. McKing.

 

Aku mengangguk meyakini perkataannya. “Tentu saja Drake, kau pasti menemui mereka. Aku akan selalu sabar menunggu hari itu tiba.” Kau tertawa kecil. Kau elus pipiku dan aku seakan seekor kucing yang meminta kau pungut saat ini.

 

“Sekarang kau harus kembali kerumah Michela Quenzy Rowles.” Kau menepuk kepalaku sembari mengusirku secara halus. “Besok hari besarmu, jangan berpikir aku mengusirmu Ms. Rowles. Aku akan menonton pertunjukanmu di sini jadi jangan kecewakan kekasihmu yang tampan ini.” Aku hanya mengangguk dan mengerucutkan bibirku meski jujur aku ingin tertawa mendengar perkataannya.

 

“Baiklah Drake Adam McKing, aku akan kembali sekarang juga dan membuatmu tidak kecewa melihat pertunjukan kekasihmu.” Aku berbalik dan kau hanya mengantarku dengan senyum manis pada bibir pucatmu. Kurva itu sungguh membuatku tak mampu berkutik. Setelah kututup pintu ruangannya, segera saja aku langkahkan kakiku keluar rumah sakit dan segera beristirahat untuk konser besarku pada gedung pertunjukan ternama di kota ini.

 

In the Name of Love

 

Sendiri kembali, itulah yang saat ini aku rasakan. Aku tak akan pernah jujur kepadamu tentang betapa sakitnya kegelapan yang kadang membuatku ketakutan, semua karena nama cinta. Bila boleh aku jujur kepadamu, senyummu di taman ketika pertama kali kita bertemu membuat semangatku untuk kembali hidup di dunia fana ini kembali datang.

 

Ketika bersamamu, semua terasa akan baik-baik saja dan ketika kau menghilang semua tinggal harapan semu. Pernahkah kau berpikir apa yang kau korbankan atas nama cinta Michela? Kau tau, demi dirimu aku terus mencari-cari alasan. Demi dirimu aku rela membual kepada kematian bahwa hanya jasadku yang mati, bukan aku.

 

Sakitnya ketika rasa bahan kimia tercampur dalam pembuluh darahku tidak ada apa-apanya dari pada menatap sinar matamu yang memancarkan kesedihan, kesenduan dan kerinduan. Aku sungguh sangat tau jelas kau rindu akan waktu kita berdua, begitu juga aku. Bila demi berdua denganmu aku harus jatuh dari tebing yang tinggi aku rela, semua karena atas nama cinta.

 

Kau tau apa yang sangat membahagiakan dalam hidupku? Bertemu denganmu adalah sebuah kebahagiaan dan mencintaimu adalah sebuah anugrah untukku. Ketika badan menjerit meminta untuk segera disembuhkan, ketika bahan kimia masuk dan merontokkan sel baik pada diriku, hanya dengan senyummu semua terasa hilang. Aku bukan penyair ulung, aku hanya seorang pemuda dengan rasa cinta kepada gadis pujaan. Aku bahkan rela menjadi penyair hanya dirimu. Bila kau tanya mengapa, semua jelas atas nama cinta ku bilang.

 

Hey Michela, melihatmu dari balik kaca saja rasanya tak cukup ketika aku tau waktuku untuk melihatmu tak akan lama kembali. Senyummu merekah indah pada wajah oval milikmu, mata emerald milikmu seakan menyedot siapa saja ke dalam pusaran kehidupanmu. Aku bahagia menatapmu dengan gaun putih dan piano dihadapanmu.

 

Aku senang mendengar nada pertama dari pianomu, lagu kesukaanku terdengar indah ketika kau yang memainkannya. Tuts demi tuts kau tekan dan menghasilkan melodi pengantar tidur yang sempurna. Mataku memang terpejam namun percayalah aku masih dapat mendengar apa saja yang kau lakukan. Alat-alat medis penunjang kehidupanku dilepas dan mereka melakukan tindakan padaku. Obat bius yang entah mengapa tidak membuatku merasa terbius apa ini semua juga karena cinta?

 

Nocture op. 9 no. 2 mengalun lembut mengantar ruhku pergi dari jasadku. Dapat aku dengar nada mononton dari alat pengecek detak jantung. Akh, ternyata hanya sampai di sini kisah cinta kita. Tapi perlu kau ketahui Michela, semua yang aku korbankan adalah atas nama cinta. Michela, apakah kau merasa aneh ketika aku berkata semua hal yang aku lakukan atas nama cinta? Konyol sekali ketika orang mati dapat berpikir begitu.

 

Aku ingin sekali ketempatmu berada Michela. Memeluk tubuhmu ketika memainkan lullaby terindah mengantar ruhku meninggalkan dunia fana ini. Maaf Michela, aku kalah dengan penyakit ini dan kalah akan semangat hidupku.

 

In the Name of Love

 

Siapa yang pernah menyangka bahwa seusai Michela memulai debutnya sebagai seorang pianis profesional ia malah mendapatkan jasad sang kekasih telah dingin? Apa lagi yang harus Michela lakukan agar yang terkasih dapat kembali ke pelukannya dan memulai semua dari awal? Jawabannya tidak ada!

 

Berdiri di ujung altar menatap peti sang kekasih yang terselimuti bakung pewangi diri. Ia terduduk dengan air mata mengalir, tentu saja ia menangis ketika sang kekasih meninggalkan dirinya. Ia letakkan kalung bermata emerald dan sapire sehijau dan sebiru iris mereka. Ia genggam kembali tangan berbalut sarung tangan putih milik sang kekasih yang kini telah damai bersama Tuhan di sana dan Michela hanya dapat meratap.

 

Michela duduk di belakang gereja dekat dengan sungai yang mengalir jernih, mereka saling memunggungi. Michela tak akan pernah bisa kembali merasakan kehadiran Drake dan Drake tak akan pernah bisa pula menyentuh Michela. Mereka kini berbeda. Michela menghela nafas lelah, inilah akhirnya. Ia harus berjalan maju ke depan dan memperjuangkan cinta mereka. Atas nama cinta Michela berjuang dan atas diri Drake Michela berkorban.

 

 

The End

How do you feel about this chapter?

0 0 0 2 0 0
Submit A Comment
Comments (2)
  • tivaaa__

    @jennylimsy mungkin Michela akan mencoba bangkit tanpa melupakan drake

  • Jennylimsy

    apa yang akan Michela lakukan setelah kehilangan Drake? 😭

Similar Tags
Refulgence of The White Wings Act I
0      0     0     
Fantasy
Ren, seorang siswa tahun kedua di Akademi Militer Legion, hidup di ibu kota bangsa manusia, Oswald. Lima tahun lalu, insiden pencurian artefak kekaisaran mengguncang dunia yang dikenalnya, mengubah segalanya dan menjadi titik balik yang menentukan dalam hidupnya. Tragedi itu merenggut orang-orang terkasih dari sisinya, menyalakan api kebencian yang membara terhadap kekaisaran yang seharusnya m...
Secuil Senyum Gadis Kampung Belakang
668      507     0     
Short Story
Senyumnya begitu indah dan tak terganti. Begitu indahnya hingga tak bisa hilang dalam memoriku. Sayang aku belum bernai menemuinya dan bertanya siapa namanya.
TWINS STORY
1808      1037     1     
Romance
Di sebuah mansion yang sangat mewah tinggallah 2 orang perempuan.Mereka kembar tapi kayak nggak kembar Kakaknya fenimim,girly,cewek kue banget sedangkan adiknya tomboynya pake banget.Sangat berbeda bukan? Mereka adalah si kembar dari keluarga terkaya nomor 2 di kota Jakarta yaitu Raina dan Raina. Ini adalah kisah mereka berdua.Kisah tentang perjalanan hidup yang penuh tantangan kisah tentang ci...
Dream of Being a Villainess
2022      1260     2     
Fantasy
Bintang adalah siswa SMA yang tertekan dengan masa depannya. Orang tua Bintang menutut pertanggungjawaban atas cita-citanya semasa kecil, ingin menjadi Dokter. Namun semakin dewasa, Bintang semakin sadar jika minat dan kemampuannya tidak memenuhi syarat untuk kuliah Kedokteran. DI samping itu, Bintang sangat suka menulis dan membaca novel sebagai hobinya. Sampai suatu ketika Bintang mendapatkan ...
Love Warning
1505      767     3     
Romance
Pacar1/pa·car/ n teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih; kekasih. Meskipun tercantum dalam KBBI, nyatanya kata itu tidak pernah tertulis di Kamus Besar Bahasa Tasha. Dia tidak tahu kenapa hal itu seperti wajib dimiliki oleh para remaja. But, the more she looks at him, the more she's annoyed every time. Untungnya, dia bukan tipe cewek yang mudah baper alias...
Forget Me After The Rain
606      475     1     
Short Story
\"Kalau begitu, setelah hujan ini, lupakan aku, seperti yang aku lakukan\" Gadis itu tersenyum manis
Oscar
2406      1219     1     
Short Story
Oscar. Si kucing orange, yang diduga sebagai kucing jadi-jadian, akan membuat seorang pasien meninggal dunia saat didekatinya. Apakah benar Oscar sedang mencari tumbal selanjutnya?
Sahabat Selamanya
1309      835     2     
Short Story
cerpen ini bercerita tentang sebuah persahabatan yang tidak ernah ada akhirnya walaupun mereka berpisah jauh
SAMIRA
469      330     3     
Short Story
Pernikahan Samira tidak berjalan harmonis. Dia selalu disiksa dan disakiti oleh suaminya. Namun, dia berusaha sabar menjalaninya. Setiap hari, dia bertemu dengan Fahri. Saat dia sakit dan berada di klinik, Fahri yang selalu menemaninya. Bahkan, Fahri juga yang membawanya pergi dari suaminya. Samira dan Fahri menikah dua bulan kemudian dan tinggal bersama. Namun, kebahagiaan yang mereka rasakan...
MONSTER
7454      2425     2     
Romance
Bagi seorang William Anantha yang selalu haus perhatian, perempuan buta seperti Gressy adalah tangga yang paling ampuh untuk membuat namanya melambung. Berbagai pujian datang menghiasi namanya begitu ia mengumumkan kabar hubungannya dengan Gressy. Tapi sayangnya William tak sadar si buta itu perlahan-lahan mengikatnya dalam kilat manik abu-abunya. Terlalu dalam, hingga William menghalalkan segala...