Loading...
Logo TinLit
Read Story - Let me be cruel
MENU
About Us  

Lara belum ingin sampai. Langkahnya pelan, bukan karena lelah, tapi karena hatinya belum siap. Setiap meter yang mendekatkannya ke sekolah terasa seperti dorongan halus ke jurang yang sama—jurang tempat ia harus tersenyum meski tak benar-benar merasa ada.

Hari itu ia berangkat lebih pagi dari biasanya. Bukan berarti ia rajin. Tapi ia hanya butuh waktu sendiri, butuh jeda di antara rumah dan kelas, antara tuntutan dan peran.

Ia menemukan sebuah halte kosong di tengah perjalanan. Bukan tempat biasa untuk singgah, tapi entah kenapa kakinya berhenti. Ia duduk, tidak untuk menunggu bus—hanya untuk diam. Untuk merasa bahwa dirinya masih bisa memilih sesuatu hari ini, walau hanya tempat duduk.

Ia membungkuk, menatap jemarinya yang saling menggenggam. Sekilas terasa seperti memegang sesuatu. Mungkin dirinya sendiri, agar tidak tercecer.

“Hai!”

Sebuah tangan melambai tepat di depan wajahnya. Lara tersentak kecil, tapi tak menunjukkan keterkejutan.

Seorang perempuan berdiri di hadapannya. Tubuhnya sedikit berisi, rambutnya panjang tergerai, dan senyum hangat menghiasi wajahnya yang asing.

“Kamu mau ke SMA Pelita Nusa, ya?”

Lara menoleh pelan, matanya masih redup. Ia mengangguk tanpa kata. Perempuan itu langsung duduk di sampingnya, tanpa takut. Lara menoleh cepat, bingung.

“Kamu siapa?”

“Oh! Aku lupa ngenalin diri, ya.”

Perempuan itu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga sebelum mengulurkan tangan.

“Namaku Seraphine Callidora. Tapi kamu bisa panggil aku Sera.”

Lara ragu sejenak, lalu menjabat tangan itu dengan lemah.

“Aku Lara,” katanya pelan.

Sejenak hening. Angin kembali bertiup. Canggung menggantung di antara mereka.

By the way… kamu cantik banget ya, Lar,” ucap Sera tiba-tiba memecah keheningan. Nadanya ringan, tapi tulus.

Lara sedikit terkejut, bibirnya menegang.

“Ah, enggak… yang cantik itu kamu, Sera.”

Sera tersenyum tipis, lalu menunduk. Wajahnya berubah sendu, matanya berkilat.

Lara mengerutkan kening, lalu cepat-cepat mengambil tisu dari tas.

“Kamu… nangis?”

Sera buru-buru menyeka matanya.

“Enggak, aku cuma… kaget. Terharu. Baru kali ini ada yang muji aku. Biasanya orang cuma lihat… bentuk badan aku. Kayak nggak punya hal lain buat dilihat…”

Suaranya mengecil.

“Aku tahu kok, aku gendut…”

Lara menatapnya. Ada sesuatu di dada yang menghangat dan mengencang.

“Enggak kok, Sera. Sumpah, kamu cantik. Lucu lagi,"

Sera tersenyum lebar. Matanya berbinar, seolah-olah kata-kata Lara barusan berhasil menyalakan cahaya kecil di ruang hatinya yang sempat gelap.

“Serius?” tanyanya dengan suara bergetar pelan, seakan takut harapan itu hanya mimpi.

Lara menatapnya, lalu menggenggam tangannya dengan lembut. Hangat.

“Serius,” jawabnya sambil mengangguk, senyumnya tulus.

Dan saat itulah, bus yang mereka tunggu akhirnya tiba—berderu pelan dan membuka pintunya. Tapi suasana di antara mereka terasa lebih tenang dari sebelumnya. Seperti ada sesuatu yang baru saja terlahir—rapuh, tapi nyata.

Mereka naik bersama. Dua gadis asing yang dipertemukan di bangku halte, tapi kini duduk berdampingan dengan tawa kecil yang mulai tumbuh di antara mereka.

*****

Lara melangkah pelan masuk ke kelas. Sendiri. Tadi, ia dan Sera terpisah saat hendak keluar dari ruang guru. Hatinya terasa kosong, seperti tak punya arah. Suara-suara teman sekelas bagai gema yang tak ia pahami. Ia duduk di bangkunya, menunduk. Jemarinya saling menggenggam erat di pangkuan, mencoba menenangkan detak jantung yang tak kunjung melambat.

Ia tidak tahu harus ke mana, tidak tahu harus bagaimana.

Tak lama, suara pintu terbuka. Seorang guru masuk, diikuti seorang siswi baru. Mata Lara membulat. Ia hampir tak percaya.

Itu Sera.

"Saya perkenalkan, ini Sera. Mulai hari ini dia akan bergabung dengan kalian. Tolong dibantu, ya," ucap Bu Reni.

Sera maju perlahan ke depan kelas. Ia mencoba tersenyum, walau jelas terlihat canggung. "Hai, aku Sera. Semoga kita bisa berteman baik," katanya pelan.

Suasana sempat hening, tapi tak lama suara-suara kecil mulai terdengar.

“Eh, badannya gede banget, ya…”

“Sejak kapan kelas kita kemasukan hulk?”

“Baru masuk aja udah kayak nutup separuh papan tulis.”

Bisikan-bisikan itu makin lama makin menyakitkan. Beberapa siswa saling pandang dan tertawa kecil sambil menutup mulut. Sera hanya berdiri diam, masih berusaha tersenyum, walau sorot matanya mulai meredup.

Tatapan Bu Reni langsung menyapu ke arah barisan tengah, tepat ke arah asal suara. Matanya tajam, bukan marah meledak-ledak, tapi cukup membuat siapa pun yang ditatap merasa ingin menciut di kursi.

“Kalau kalian sudah selesai berkomentar hal yang tidak penting,” kata Bu Reni dingin, “boleh saya lanjutkan?”

Tawa-tawa itu langsung lenyap. Beberapa siswa menunduk, berpura-pura sibuk dengan pena mereka.

“Sera, kamu bisa duduk di bangku kosong di sebelah Lara,” kata Bu Reni.

Sera mengangguk pelan dan berjalan ke arah bangku itu. Langkahnya tenang, tapi ada sedikit getar di bahunya. Ia duduk dengan hati-hati, menaruh tasnya di sisi bangku tanpa banyak bicara.

Lara meliriknya sebentar, lalu berbisik, “Nggak apa-apa, ya. Aku senang kamu di sini.”

Sera tersenyum kecil, tapi tidak menjawab. Matanya tampak berkaca-kaca, dan tangan yang menggenggam ujung roknya bergetar pelan.

*****

Waktu istirahat tiba. Begitu bel berbunyi, Lara langsung berdiri dan menoleh ke arah Sera. “Mau ikut aku ke taman belakang?” tawarnya pelan.

Sera sempat ragu, tapi kemudian mengangguk. Mereka keluar kelas tanpa banyak bicara, menyusuri lorong sekolah yang ramai, lalu melewati taman tengah, dan akhirnya sampai di sudut sekolah yang lebih sepi—taman belakang.

Tempat itu sederhana, hanya rerumputan, beberapa pohon besar, dan bangku kayu panjang yang sudah agak lapuk. Tapi bagi Lara, tempat ini adalah satu-satunya ruang bernapas.

“Biasanya aku makan di sini,” ujar Lara sambil membuka bekalnya. “Gak banyak yang tahu tempat ini kok, jadi tenang aja.”

Sera duduk di sampingnya, menarik napas pelan. “Adem ya, Lar.”

Mereka makan dalam diam. Sesekali angin meniup pelan, menggerakkan rambut mereka. Sera tampak lebih rileks. Wajahnya masih menyimpan luka, tapi ada secercah kelegaan. Ia akhirnya menemukan tempat untuk menjadi dirinya sendiri—walau hanya sebentar.

Namun keheningan itu tak bertahan lama.

Langkah kaki mendekat. Suara tawa tinggi, sengaja dikeraskan. Lara langsung menegakkan badan. Ia mengenali suara itu—Zea.

Dan benar saja. Zea muncul bersama dua temannya. Mereka berdiri tak jauh dari bangku Lara dan Sera, tangan dilipat, pandangan penuh sindiran.

“Ciee, sekarang udah gak sendirian lagi ya? Hebat deh. Dapet temen juga akhirnya,” ucap Zea, senyumnya manis tapi tajam.

Lara menunduk. Jantungnya berdegup cepat. Tangan yang tadi menggenggam sendok, kini gemetar.

Sera diam. Matanya menatap tanah.

Kesya ikut bersuara, nadanya dibuat santai, tapi jelas menyudutkan. “Tapi kok… temennya itu ya? Gendut banget. Kan kasian bangkunya.”

Tawa kecil terdengar, namun Zea tak ikut tertawa. Ia justru menatap Lara lama, ekspresinya tak lagi sinis, tapi penuh pertanyaan. “Lo tuh kenapa sih, Lar?” tanyanya lirih, tapi tetap terdengar menusuk. “Beberapa hari ini aneh banget.”

Lara mengangkat kepala pelan. Ada keterkejutan di matanya—Zea terdengar... kecewa?

Zea melangkah lebih dekat. “Dulu lo itu penurut banget. Gue ngerasa cocok sama lo. Tapi sekarang lo kok, berubah. Udah mulai merasa dibutuhkan ya?"

Lara tak menjawab.

Citra menyikut Zea pelan. “Eh, udahlah. Ngapain juga dibawa baper.”

Zea mendengus pendek, lalu menatap Lara lagi. “Gue cuma mau lihat tugas fisika lo, lo malah nolak. Dikit doang padahal. Dulu juga nggak pernah nolak.”

Lara menahan napas. Ia melirik Sera—gadis itu masih diam, tapi matanya kini sedikit mengerut, seperti sedang menahan emosi.

Lara menarik napas panjang, lalu menguatkan suara. “Aku… nggak mau,” katanya pelan.

“Apa?” Zea menyipitkan mata.

“Aku bilang… aku nggak mau ngerjain tugas kamu lagi,” ulang Lara. Suaranya bergetar, tapi ada ketegasan di dalamnya. “Aku tahu kita emang temen. Tapi jadi teman bukan berarti aku harus selalu nurut. Aku capek, Zea.”

Zea terdiam sejenak, seperti tak menyangka. Lalu ia mengangkat alis, menyeringai kecil, seolah menutup luka yang tak ingin terlihat.

“Oke. Terserah lo,” katanya dingin. Tapi nada suaranya… terdengar lebih seperti kekecewaan ketimbang amarah.

Namun sebelum ia sempat berkata lebih jauh, suara panik memotong.

“Eh, Zea,” bisik Citra tergesa. “Ada Bu Meri.”

Zea menoleh cepat, dan benar—dari kejauhan, sosok guru BK mereka, Bu Meri, tampak berjalan mendekat. Zea menghela napas panjang, menahan kata-kata yang belum sempat ia lontarkan. Ia membalikkan badan.

“Yuk, girls,” gumamnya datar. Kali ini tak ada tawa, tak ada ejekan. Hanya kepergian yang terasa menggantung.

Lara tetap duduk di tempatnya. Ketika suara langkah mereka menghilang, tubuhnya lunglai. Ia menatap tanah, dan air mata jatuh pelan ke punggung tangannya yang mengepal. Ia tak tahu perasaannya: takut, lega, atau justru sedih.

Sera diam di sampingnya. Ia menunduk, lalu pelan-pelan menggenggam tangan Lara. Hangat. Tidak banyak kata, tapi cukup untung membuat Lara sedikit tenang.

Lara mengangkat wajahnya, dan mereka saling menatap. Hening. Tapi dalam hening itu, tumbuh sesuatu—bukan hanya keberanian, tapi juga kesadaran bahwa setiap perubahan butuh keberanian untuk kehilangan.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 2
Submit A Comment
Comments (20)
  • vieralovingu

    i wish aku punya temen kaya sera:((

    Comment on chapter 9 - Luka yang tak diakui
  • diahhhpprti

    ayokk laraa kamu pasti bisaa berhenti gak enakan, trus prioritasin diri kamu dulu yokk!!

    Comment on chapter 4 - Puisi penyelamat
  • mutiarapttrr

    turut bersedih untuk kmu lara☹️☹️

    Comment on chapter 7 - Mencoba bertahan
  • siscammlldd

    ini lara masa tiba-tiba pusing? sakitnya sus banget🥲🥲

    Comment on chapter 10 - Surat untuk diri sendiri
  • dianarrhhmmaa

    jangan insecure dong seraa, kata lara kan kamu cantik, dan aku yakin begitu juga🥰🥰

    Comment on chapter 5 - Teman baru?
  • fatinsyyaa

    BU MERI KOK GITU YAA GAK MAU DENGERIN PENJELASAN DULU🥺🥺🥺

    Comment on chapter 13 - Aku yang kembali salah
  • andinirahma

    tiba-tiba banget si sera gabung sama gengnya zea, beneran tiba2 deket karena kasian ama lara😭😭🙏

    Comment on chapter 12 - Tak sengaja dekat
  • billa3456

    sakit sih punya foto keluarga tapi gak di anggep, tapi setidaknya kamu punya foto keluarga lara....

    Comment on chapter 11 - Sekilas senyum, selamanya luka
  • ririnna01

    aaaa relate:(

    Comment on chapter Prolog
  • pinkypie1

    ayahnya jahat banget:(

    Comment on chapter 10 - Surat untuk diri sendiri
Similar Tags
Izinkan Aku Menggapai Mimpiku
427      332     1     
Mystery
Bagaikan malam yang sunyi dan gelap, namun itu membuat tenang seakan tidak ada ketakutan dalam jiwa. Mengapa? Hanya satu jawaban, karena kita tahu esok pagi akan kembali dan matahari akan kembali menerangi bumi. Tapi ini bukan tentang malam dan pagi.
Cinta di Ujung Batas Negara
8      5     0     
Romance
Di antara batas dua negara, lahirlah cinta yang tak pernah diberi izin-namun juga tak bisa dicegah. Alam, nelayan muda dari Sebatik, Indonesia, tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sepasang mata dari seberang. Siti Dzakyrah, pelajar Malaysia dari Tawau, hadir bagai cahaya kecil di tengah perbatasan yang penuh bayang. Mereka tak bertemu di tempat mewah, tak pula dalam pertemu...
The First 6, 810 Day
3653      2329     2     
Fantasy
Sejak kecelakaan tragis yang merenggut pendengarannya, dunia Tiara seakan runtuh dalam sekejap. Musik—yang dulu menjadi napas hidupnya—tiba-tiba menjelma menjadi kenangan yang menyakitkan. Mimpi besarnya untuk menjadi seorang pianis hancur, menyisakan kehampaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Dalam upaya untuk menyembuhkan luka yang belum sempat pulih, Tiara justru harus menghadapi ke...
NIKAH MUDA
3088      1219     3     
Romance
Oh tidak, kenapa harus dijodohin sih bun?,aku ini masih 18 tahun loh kakak aja yang udah 27 tapi belum nikah-nikah gak ibun jodohin sekalian, emang siapa sih yang mau jadi suami aku itu? apa dia om-om tua gendut dan botak, pokoknya aku gak mau!!,BIG NO!!. VALERRIE ANDARA ADIWIJAYA KUSUMA Segitu gak lakunya ya gue, sampe-sampe mama mau jodohin sama anak SMA, what apa kata orang nanti, pasti g...
Wabi Sabi
816      581     2     
Fantasy
Seorang Asisten Dewi, shinigami, siluman rubah, dan kucing luar biasa—mereka terjebak dalam wabi sabi; batas dunia orang hidup dan mati. Sebuah batas yang mengajarkan jika keindahan tidak butuh kesempurnaan untuk tumbuh.
Main Character
9080      5157     0     
Romance
Mireya, siswi kelas 2 SMA yang dikenal sebagai ketua OSIS teladanramah, penurut, dan selalu mengutamakan orang lain. Di mata banyak orang, hidupnya tampak sempurna. Tapi di balik senyum tenangnya, ada luka yang tak terlihat. Tinggal bersama ibu tiri dan kakak tiri yang manis di luar tapi menekan di dalam, Mireya terbiasa disalahkan, diminta mengalah, dan menjalani hari-hari dengan suara hati y...
A Tale of a Girl and Three Monkeys
2109      1068     7     
Humor
Tiga kakak laki-laki. Satu dapur. Nol ketenangan. Agni adalah remaja mandiri penuh semangat, tapi hidupnya tak pernah tenang karena tiga makhluk paling menguji kesabaran yang ia panggil kakak: Si Anak Emas----pusat gravitasi rumah yang menyedot semua perhatian Mama, Si Anak Babi----rakus, tak tahu batas, dan ahli menghilangkan makanan, dan Si Kingkong----kakak tiran yang mengira hidup Agni ...
RUANGKASA
69      63     0     
Romance
Hujan mengantarkan ku padanya, seseorang dengan rambut cepak, mata cekung yang disamarkan oleh bingkai kacamata hitam, hidung mancung dengan rona kemerahan, dingin membuatnya berkali-kali memencet hidung menimbulkan rona kemerahan yang manis. Tahi lalat di atas bibir, dengan senyum tipis yang menambah karismanya semakin tajam. "Bisa tidak jadi anak jangan bandel, kalo hujan neduh bukan- ma...
Heavenly Project
1820      1343     5     
Inspirational
Sakha dan Reina, dua remaja yang tau seperti apa rasanya kehilangan dan ditinggalkan. Kehilangan orang yang dikasihi membuat Sakha paham bahwa ia harus menjaga setiap puing kenangan indah dengan baik. Sementara Reina, ditinggal setiap orang yang menurutnya berhaga, membuat ia mengerti bahwa tidak seharusnya ia menjaga setiap hal dengan baik. Dua orang yang rumit dan saling menyakiti satu sama...
Menjadi Aku
1753      1228     1     
Inspirational
Masa SMA tak pernah benar-benar ramah bagi mereka yang berbeda. Ejekan adalah makanan harian. Pandangan merendahkan jadi teman akrab. Tapi dunia tak pernah tahu, di balik tawa yang dipaksakan dan diam yang panjang, ada luka yang belum sembuh. Tiga sahabat ini tak sedang mencari pujian. Mereka hanya ingin satu halmenjadi aku, tanpa takut, tanpa malu. Namun untuk berdiri sebagai diri sendi...