Loading...
Logo TinLit
Read Story - Let me be cruel
MENU
About Us  

Lara dan Sera berjalan beriringan menuju rumah Sera. Lara sedikit tersenyum, meskipun senyumnya itu terasa samar. Ia memandang rumah Sera dengan hati yang bimbang. Rumah itu sangat sederhana. Beberapa cat temboknya terkelupas, dan pagar kayu yang sedikit miring membuatnya tampak seperti rumah yang sudah lama tidak terawat.

Namun, ada satu hal yang membuat Lara tak bisa berhenti memandang—di tembok ruang tamu, ada sebuah foto keluarga yang tergantung dengan rapi. Foto itu menggambarkan Sera tersenyum bahagia, berdiri bersama seorang pria yang tampak seusia Ayahnya, seorang wanita yang tampak seusia Ibunya, serta nenek dan kakek Sera. Mereka semua tersenyum lebar, begitu penuh kebahagiaan.

Lara menatap foto itu, matanya sedikit berkilat. "Kenapa mereka bisa sebahagia itu?" pikirnya, merasa ada sesuatu yang begitu asing dan sekaligus mengharukan. "Kenapa aku nggak pernah punya foto seperti itu?"

Lara merasa iri. Ia bahkan tak pernah memiliki foto keluarga yang hangat seperti itu. Foto keluarganya yang terakhir, dan pertama kali, hanya ada satu—saat Satya berusia dua tahun. Itu pun, jika dilihat dengan seksama, Lara tampak seperti bayangan yang terabaikan. Ia hanya ada di samping, sedikit di belakang, seakan-akan tak ada tempat bagi dirinya. Bahkan, jika bisa, mungkin saja bagian tubuhnya bisa dihapus dari foto itu.

Foto keluarganya hanya memperlihatkan senyum Ayah, Ibu, Luna, dan Satya. Sementara dirinya, hanya bisa menahan tangis yang hampir tumpah di tengah senyum mereka.

Sera yang melihat Lara diam, kemudian tersenyum canggung. “Maaf ya, Lar. Rumah aku emang jelek, hehe.” Sambil berkata begitu, Sera menyajikan teh hangat dan beberapa camilan ringan di meja.

Lara kembali tersenyum, meskipun senyumnya masih sedikit kaku. “Enggak kok, malah aku salfok sama foto itu. Itu keluarga kamu ya?” tanyanya sambil menunjuk ke arah foto di dinding.

Sera berbalik melihat ke arah yang ditunjuk Lara. “Iya, itu diambil setahun sebelum Mama sama Papa kecelakaan,” jawab Sera dengan nada yang tiba-tiba berubah datar, seakan-akan kehangatan yang ada dalam foto itu tak bisa bertahan lama.

Lara terdiam, tak tahu harus berkata apa. Ekspresi Sera berubah, matanya mulai berbinar dengan air mata yang hampir jatuh. Lara merasa canggung, bingung bagaimana harus merespons. “Oh…” itu saja yang bisa keluar dari mulut Lara. Ia ingin bertanya lebih lanjut, tetapi melihat ekspresi Sera yang begitu rapuh, Lara memilih untuk diam.

Beberapa waktu lalu, Lara tak jadi dijemput Ayahnya. Ia berjalan dengan langkah ringan, meskipun hatinya berat. Pandangannya kosong, pikirannya melayang entah ke mana. Hingga akhirnya, ia bertemu dengan Sera yang sedang mengayuh sepeda tuanya, baru saja selesai berbelanja di pasar. Lara tahu, Sera mungkin bisa mengerti, bahkan tanpa perlu banyak kata.

“Eh, kamu udah liat grup?” Sera tiba-tiba bertanya, memecah keheningan yang sempat menyelimuti mereka.

Lara mengernyitkan dahi, bingung. “Emang ada apa?”

“Tugas kelompok, Ra. Kelompoknya kita diubah.” Sera menjelaskan, melirik Lara dengan mata yang sedikit cemas.

Lara sedikit terkejut. “Ha? Kenapa diubah?” tanyanya dengan nada tak percaya.

“Bu Meri nggak suka kalau kita cuma berdua. Jadi dia satuin kita sama kelompok Zea. Biar kita berlima, jadi lebih banyak orang,” jelas Sera dengan sedikit terburu-buru, seperti ingin mengakhiri topik itu.

“Habislah…” kata Lara pelan, matanya menatap ponselnya seolah berharap ada keajaiban. Ia tidak terlalu suka jika harus bekerja dengan orang yang belum terlalu dekat, apalagi dengan Zea yang selalu sibuk bergantung padanya dan gengnya juga.

Tiba-tiba, ponsel Lara bergetar. Ada panggilan dari Ayahnya. Lara menghela napas berat. Ia tahu ini bukan panggilan yang baik.

Dengan tangan sedikit gemetar, ia menjawab panggilan itu. “Iya, Ayah?”

“Lara!” suara Ayah terdengar keras dan penuh amarah. “Kenapa kamu belum pulang? Ayah ke sekolah, kamu nggak ada di sana! Udah sore, kamu nggak kabar! Lagi ngapain kamu?”

Ayah bilang tak jadi menjemput, tapi ia akhirnya ke sekolah karena khawatir Lara tak juga pulang. Ketika tahu Lara tak ada di sekolah, Ayah makin marah.

Lara menghela napas dalam, menahan emosi yang mulai meluap. “Ayah, aku di rumah temen,”

“Apa? Jangan mentang-mentang Ayah gak jadi jemput kamu bisa keluyuran gini?!” Ayahnya terdengar semakin marah. “Kamu pikir kamu bisa terus kayak gini? Udah sore, Lara, kamu harus pulang sekarang!”

Lara merasa hatinya semakin sesak. “Iya, Ayah,” jawabnya pelan, meskipun dalam hatinya, ia merasa terjebak dalam rutinitas yang tak pernah bisa ia selesaikan dengan baik.

Setelah menutup telepon, Lara melihat ke arah Sera. “Duh, kalau kerja kelompok di rumah aku aja gimana? Gara-gara telat pulang hari Minggu kemarin, aku nggak dibolehin keluar tau,” ucapnya dengan nada memelas.

Sera mengangguk dengan cepat. “Iya, nggak masalah kok. Kita kerja kelompok di rumah kamu aja.”

Lara merasa sedikit lega. Setidaknya, dia tidak harus menghadapi kemarahan Ayahnya lebih lama lagi. Tapi ia tahu, meskipun Sera menyarankan itu, di rumah nanti tetap saja akan ada pertengkaran yang menunggunya.

*****

Sesampainya di rumah, Lara langsung disambut dengan suara Ayahnya yang menggelegar. “Lara! Kamu kenapa? Udah sore gini baru pulang? Kamu itu ngerti nggak, Ayah ini khawatir!” Ayahnya sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.

Lara menundukkan kepalanya, hanya bisa mengunci pandangan ke lantai. “Maaf, Ayah,” ucapnya pelan.

“Apa? Maaf? Itu yang kamu ucapin setelah bikin Ayah khawatir? Kamu pergi seenaknya tanpa kabar! Kapan kamu ngerti kalau ada aturan yang harus diikuti di rumah ini?!” suara Ayahnya semakin tinggi.

Lara merasa dadanya sesak. Ia ingin menjelaskan, ingin mengatakan bahwa ia hanya ingin sedikit merasakan kebahagiaan, tapi tak bisa. Rasanya tak ada kata yang bisa mengubah keadaan ini.

“Lara! Kamu nggak tahu apa yang Ayah dan Ibu rasakan? Selalu begini, Lara! Selalu! Ayah capek ngomong sama kamu!” Ayahnya akhirnya melemparkan kalimat itu, membuat Lara merasa semakin kecil.

Lara tak bisa berkata apa-apa lagi. Matanya terasa panas, dan ia menahan air mata yang hampir jatuh. Ia tahu, apapun yang ia katakan sekarang, Ayahnya tak akan mengerti. Hanya ada kesunyian yang menenggelamkan dirinya.

“Ke kamar sekarang!” perintah Ayahnya dengan tegas.

Lara berjalan menuju kamarnya dengan langkah pelan, merasa setiap kata yang keluar dari mulut Ayahnya membekas dalam hatinya. Ia ingin sekali berteriak, mengungkapkan apa yang dirasakannya, tetapi mulutnya terasa terkunci.

Di dalam kamar, Lara duduk diam di tepi ranjang. Suara teriakan Ayahnya masih terngiang-ngiang di telinganya, membuat kepalanya terasa berat. Ia terdiam lama, menatap lantai yang dingin seolah mencari jawaban dari kebisuan.

Perlahan, tangannya meraih buku catatan kecil yang selalu ia sembunyikan di bawah bantal—satu-satunya tempat di mana ia bisa bicara tanpa takut disela. Buku itu sudah penuh dengan coretan rahasia, puisi-puisi lirih yang tak pernah dibacakan pada siapa pun.

Tangannya gemetar saat menggenggam pulpen. Ia menarik napas pelan, lalu mulai menulis

 

Aku rumah yang selalu sunyi,

Dindingku keras, pintuku terkunci.

Aku ada, tapi tak pernah dimiliki,

Seperti bayangan yang tak dipedulikan pagi.

 

Mereka bicara, aku mendengar,

Tapi tak satu pun suara untukku benar.

Aku bernafas, tapi seolah salah,

Dalam rumah ini, aku selalu kalah.

 

Tapi hari ini aku melihat cahaya,

Di rumah tua yang penuh tawa.

Di sana, senyum tak perlu alasan,

Dan luka tak perlu penjelasan.

 

Lara meletakkan pulpennya. Ia mengusap air mata yang jatuh tanpa izin. Hatinya masih nyeri, tapi setidaknya malam ini ia tak sendirian dalam pikirannya. Ada kata-kata yang menemaninya, dan ada bayangan Sera yang membuat dunia terasa sedikit peduli padanya.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 1
Submit A Comment
Comments (20)
  • vieralovingu

    i wish aku punya temen kaya sera:((

    Comment on chapter 9 - Luka yang tak diakui
  • diahhhpprti

    ayokk laraa kamu pasti bisaa berhenti gak enakan, trus prioritasin diri kamu dulu yokk!!

    Comment on chapter 4 - Puisi penyelamat
  • mutiarapttrr

    turut bersedih untuk kmu lara☹️☹️

    Comment on chapter 7 - Mencoba bertahan
  • siscammlldd

    ini lara masa tiba-tiba pusing? sakitnya sus banget🥲🥲

    Comment on chapter 10 - Surat untuk diri sendiri
  • dianarrhhmmaa

    jangan insecure dong seraa, kata lara kan kamu cantik, dan aku yakin begitu juga🥰🥰

    Comment on chapter 5 - Teman baru?
  • fatinsyyaa

    BU MERI KOK GITU YAA GAK MAU DENGERIN PENJELASAN DULU🥺🥺🥺

    Comment on chapter 13 - Aku yang kembali salah
  • andinirahma

    tiba-tiba banget si sera gabung sama gengnya zea, beneran tiba2 deket karena kasian ama lara😭😭🙏

    Comment on chapter 12 - Tak sengaja dekat
  • billa3456

    sakit sih punya foto keluarga tapi gak di anggep, tapi setidaknya kamu punya foto keluarga lara....

    Comment on chapter 11 - Sekilas senyum, selamanya luka
  • ririnna01

    aaaa relate:(

    Comment on chapter Prolog
  • pinkypie1

    ayahnya jahat banget:(

    Comment on chapter 10 - Surat untuk diri sendiri
Similar Tags
To the Bone S2
3672      2214     1     
Romance
Jangan lupa baca S1 nya yah.. Udah aku upload juga .... To the Bone (untuk yang penah menjadi segalanya) > Kita tidak salah, Chris. Kita hanya salah waktu. Salah takdir. Tapi cintamu, bukan sesuatu yang ingin aku lupakan. Aku hanya ingin menyimpannya. Di tempat yang tidak mengganggu langkahku ke depan. Christian menatap mata Nafa, yang dulu selalu membuatnya merasa pulang. > Kau ...
The Flower And The Bees
4594      2050     9     
Romance
Cerita ini hanya berkisah soal seorang gadis muda keturunan Wagner yang bersekolah di sekolah milik keluarganya. Lilian Wagner, seorang gadis yang beruntung dapat lahir dan tumbuh besar dilingkungan keluarga yang menduduki puncak hierarki perekonomian negara ini. Lika-liku kehidupannya mulai dari berteman, dipasangkan dengan putra tunggal keluarga Xavian hingga berujung jatuh cinta pada Chiv,...
SECRET IN SILENCE
11852      3446     3     
Fantasy
"Kakakmu kabur. Adikmu dijual. Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Hidup tenang tanpa drama bersama kakak dan adiknya adalah impian hidup Molly, anak tengah dari tiga bersaudara. Dia tak menyangka saat Agatha, kakaknya, tiba-tiba menghilang dan melepas tanggung jawab hingga adik bungsu mereka, Pandia, menjadi pengantin pengganti dalam sebuah pernikahan yang tak diinginkan. Didasari oleh ra...
Karena Aku Bukan Langit dan Matahari
751      548     1     
Short Story
Aku bukan langit, matahari, dan unsur alam lainnya yang selalu kuat menjalani tugas Tuhan. Tapi aku akan sekuat Ayahku.
Imperfect Rotation
730      619     0     
Inspirational
Entah berapa kali Sheina merasa bahwa pilihannya menggeluti bidang fisika itu salah, dia selalu mencapai titik lelahnya. Padahal kata orang, saat kamu melakukan sesuatu yang kamu sukai, kamu enggak akan pernah merasa lelah akan hal itu. Tapi Sheina tidak, dia bilang 'aku suka fisika' hanya berkali-kali dia sering merasa lelah saat mengerjakan apapun yang berhubungan dengan hal itu. Berkali-ka...
A Tale of a Girl and Three Monkeys
2109      1068     7     
Humor
Tiga kakak laki-laki. Satu dapur. Nol ketenangan. Agni adalah remaja mandiri penuh semangat, tapi hidupnya tak pernah tenang karena tiga makhluk paling menguji kesabaran yang ia panggil kakak: Si Anak Emas----pusat gravitasi rumah yang menyedot semua perhatian Mama, Si Anak Babi----rakus, tak tahu batas, dan ahli menghilangkan makanan, dan Si Kingkong----kakak tiran yang mengira hidup Agni ...
Penantian Panjang Gadis Gila
946      784     5     
Romance
Aku kira semua akan baik-baik saja, tetapi pada kenyataannya hidupku semakin kacau. Andai dulu aku memilih bersama Papa, mungkin hidupku akan lebih baik. Bersama Mama, hidupku penuh tekanan dan aku harus merelakan masa remajaku.
Bu, Ajari Aku untuk Mencintaimu Seutuhnya
645      481     0     
Short Story
Ibu, kau adalah harta paling berharga dalam hidupku. Terima kasih telah mengajari dan mencintaiku selalu. I love you
Maju Terus Pantang Kurus
6705      3120     4     
Romance
Kalau bukan untuk menyelamatkan nilai mata pelajaran olahraganya yang jeblok, Griss tidak akan mau menjadi Teman Makan Juna, anak guru olahraganya yang kurus dan tidak bisa makan sendirian. Dasar bayi! Padahal Juna satu tahun lebih tua dari Griss. Sejak saat itu, kehidupan sekolah Griss berubah. Cewek pemalu, tidak punya banyak teman, dan minderan itu tiba-tiba jadi incaran penggemar-penggemar...
Rain, Coffee, and You
640      471     3     
Short Story
“Kakak sih enak, sudah dewasa, bebas mau melakukan apa saja.” Benarkah? Alih-alih merasa bebas, Karina Juniar justru merasa dikenalkan pada tanggung jawab atas segala tindakannya. Ia juga mulai memikirkan masalah-masalah yang dulunya hanya diketahui para orangtua. Dan ketika semuanya terasa berat ia pikul sendiri, hal terkecil yang ia inginkan hanyalah seseorang yang hadir dan menanyaka...