Loading...
Logo TinLit
Read Story - MANITO
MENU
About Us  

πŸ’•πŸ’•πŸ’•

Rasa penasaran mulai muncul, ada sesuatu aneh. Bahkan, terkadang terasa tidak asing serta istimewa. Akan tetapi, seperti ada hal yang terlupakan. Aku harap, semua hal bisa terungkap seiring berjalannya waktu. Meskipun, itu mungkin bisa berupa hal baik maupun buruk. Namun, itu akan lebih baik diketahui daripada terus terpendam.

 

πŸ’•πŸ’•πŸ’•

 

Razel heran, sekaligus merasa seperti sudah mengenal lama sosok yang sering bertukar pesan dengannya di aplikasi telegram. Karena, melihat dari banyaknya pesan yang tertera. Akan tetapi, ia memang tidak bisa mengingat sejak kapan mulai berinteraksi secara online dengan sosok yang mengaku sebagai Manito-nya.

 

Tak hanya itu, kini ia juga sering mendapatkan pesan melalui sticky note yang digulung serta dimasukan ke dalam botol. Benda itu diletakan pada loker sekolah miliknya. Seperti pagi ini, tak hanya gulungan sticky note yang ia dapat. Juga, sandwich serta susu kotak dalam kotak makan. Ia yakin, itu dari sosok unknown.

 

Jangan pernah berhenti tersenyum. Meskipun, itu hanya terlihat seperti senyuman tipis. Namun, itu bisa membuatmu selalu memiliki aura positif. Semangat!

- Manito -

 

Perlahan, Razel mulai memakan sandwich itu. Merasa bahagia, bisa mendapatkan perhatian kecil dari orang lain. Walaupun, ia tak tahu sosok itu secara langsung. Bahkan, mungkin bisa dibilang sebagai pengagum rahasianya. Namun, ia benar-benar tersentuh.

 

Siapapun lo, tapi gue senang bisa dapat ini semua. Terima kasih.

 

Pun, tanpa senyuman kecil muncul dari sudut bibir Razel. Mungkin, orang lain tidak terlalu melihat jika tak memperhatikannya.

 

Selesai menikmati makanan serta minuman dari sosok misterius itu. Razel memutuskan untuk pergi ke perpustakaan karena sekarang sudah masuk jam istirahat. Ia tak terlalu suka pergi ke tempat ramai. Sehingga, lebih menyukai tempat sepi seperti perpustakaan. Meskipun, hanya untuk duduk di pojokan tempat itu.

 

Selain itu, Razel akan lebih fokus dengan ekstrakurikuler yang diikutinya. Seperti setiap pulang sekolah, ia datang ke latihan anggar. Cowok itu, memang cukup berbakat di sana.

 

Kini, Razel sudah berada di perpustakaan menikmati suasana sepi sembari membaca buku yang ia ambil secara acak. Lalu, teringat Papanya tidak terlalu suka bila ia masuk ke kelas tambahan anggar. Padahal, ekskul itu dibutuhkan untuk menjaga diri dari hal yang tidak terduga.

 

"Gue cari-cari ternyata lo ada di sini, Zel. Soalnya, tadi mau gue ajak ke kantin." Helga tersenyum, menghampiri Razel yang duduk di pojokan perpustakaan.

 

Razel menoleh ke arah Helga, yang sudah berteman lama dengan dirinya. "Lagi nggak pengin ke kantin. Gue nggak laper, Ga. Jadi, harusnya lo ke sana sama yang lain. Kan, bisa sama Jeano."

 

Helga mendengkus sebal, mengingat bila Jeano memang susah diajak ke kantin tidak jauh berbeda dengan Razel. Bisa-bisanya mempunyai sahabat yang tidak suka ke kantin.

 

"Tadi gue udah kantin bentar, cuma beli Batagor doang. Soalnya, takut uang gue habis. Tau sendiri, uang jatah gue bulanan dikit." Helga mulai sedikit mencurahkan hatinya tentang kehidupannya. Terutama, keluarga tidak sekaya seperti Jeano maupun Razel.

 

Razel menghela napas, sudah tidak kaget dengan segala curahan hati Helga. Karena, bukan pertama kalinya. Bahkan, Razel sudah hafal kebiasaan Helga. "Kalo gitu, bawa bekal dari rumah aja, Ga. Minta bikinin makanan ke nyokap lo, biar lebih irit. Kan, nggak perlu jajan di kantin. Itu lebih efektif, uang lo bisa pelan-pelan terkumpul. Dan, bisa digunain saat dibutuhin kalo ada hal mendesak."

 

Helga mengangguk paham, memang perkataan Razel benar. Sepertinya, ia harus melakukan apa yang dikatakan Razel. Mungkin, itu akan lebih bermanfaat bagi dirinya. "Oke. Makasih sarannya, Zel."

 

πŸ’•πŸ’•πŸ’•

 

Jeano menghampiri Libby yang sedang bersama Sera. Kebetulan, kedua gadis itu tidak pergi ke kantin. Cowok itu, memasuki kelas XI IPA 1. Di sana sudah cukup ramai, karena beberapa siswa maupun siswi sudah kembali dari kantin. Serta, ada murid yang tetap belajar di waktu jam istirahat. Kelas itu, memang berisi orang-orang cukup ambisius.

 

"Makanan sama minuman buat lo, Bby. Jangan lupa dimakan, ya." Itu bukan pertama kalinya Jeano melakukan memberi Libby makanan. Pun, Libby tahu bila cowok melakukan itu karena perintah seseorang. Akan tetapi, banyak yang terkadang salah paham dengan kedekatan Libby dengan Jeano. Meskipun, Libby sudah menjelaskan bila tidak memiliki hubungan khusus bersama kakak kelasnya itu.

 

Libby tersenyum kepada Jeano yang tidak terlalu lama di sana. "Makasih, Kak. Maaf... Sering ngerepotin. Lain kali, mending biar aku aja yang ambil."

 

Jeano tersenyum, "Nggak usah, Dek. Gue nggak masalah buat anterin ini ke lo. Lagipula, sama sekali nggak ngerepotin. Nggak usah khawatir."

 

Libby menyunggingkan senyum. Senang bisa mengenal sosok Jeano. Ia sudah menganggap cowok itu seperti kakaknya sendiri. Ia harap, Jeano benar-benar bisa menjadi saudaranya. Karena, ia yakin kakak kelasnya itu cowok yang baik serta tulus. Tanpa memandang kasta. "Sekali lagi, makasih, Kak."

 

Jeano mengangguk seraya tersenyum, lalu pergi meninggalkan kelas Libby. Seperti biasa, banyak siswi teman kelas Libby yang berbisik-bisik. Akan tetapi, gadis itu tak mau ambil pusing. Lagipula, itu bukan hal yang perlu dipedulikan.

 

Beberapa menit kemudian, Libby mendapatkan pesan melalui aplikasi hijau. Ia tersenyum membacanya karena tahu dari siapa.

 

Kak Gemmy

 

Makanan dari Mama udah sampai di tangan lo, kan, Dek. Tadi, sebenarnya mau gue kasih langsung ke lo tapi keburu bel masuk bunyi.

 

Udah sampai, kok, Kak. Kak Jean yang nganter, lain kali mending Kak Gemmy kasih langsung ke aku. Biar nggak ngerepotin Kak Jean. Terus, takut orang-orang pada salah paham liat cowok kakak kasih makanan ke aku.

 

Santai aja, Dek. Dia aja nggak keberatan kok. Lagipula, Jean udah anggap lo kayak adiknya sendiri. Terus, biarin aja kata orang lain nggak perlu didengerin.

 

Oke, deh, Kak. Tapi, lain kali kalo mau kasih makanan mending langsung ke aku. Jangan lewat perantara ya.

 


Oke siap, Dek.

 

Makasih, Kak.

 

Selesai bertukar pesan dengan Gemmy. Kakak sepupunya. Libby mulai memakan bekal makanan yang ada. Ia bersyukur, mempunyai saudari yang perhatian kepadanya. Meskipun, dia sudah kehilangan keluarga harmonisnya. Akan tetapi, ia masih mempunyai keluarga lain yang memberi perhatian ekstra padanya. Bahkan, sudah menganggap Libby seperti anak kandungnya.

 

"Keliatannya enak tuh makanannya, Bby." Sera tersenyum meledek, seakan menginginkan makanan serta minuman milik Libby.

 

Senyuman muncul dari bibir Libby, sembari beralih menatap Sera. "Makan bareng, yuk. Kebetulan ini cukup dimakan kita berdua, Ser."

 

Sera kembali tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. Sebenarnya, tadi hanya berpura-pura ingin makanan milik Libby. Seakan menggoda sahabatnya. Namun, Libby justru menganggapnya benar. "Nggak usah, Bby. Gue masih kenyang, kok. Lagipula, masih ada roti di tas gue. Kebetulan emang bawa buat cemilan."

 

"Nggak apa-apa, makan bareng aja. Enak lho ini, kamu pasti bakalan ketagihan." Libby menawarkan makanannya pada Sera. Walaupun, kembali mendapatkan penolakan. Karena, Sera tadi hanya bercanda padanya.

 

"Lo aja yang makan, Bby. Santai aja sama gue. Kan, gue lagi mau ngapalin rumus-rumus. Biar, kalo ada ulangan dadakan bisa ngerjainnya." Sera memang sedang ingin fokus belajar. Agar, nilainya semakin meningkat.

 

Libby mengangguk, seraya tersenyum. Paham, bila Sera memang sedang bekerja keras untuk mendapatkan nilai semaksimal mungkin. "Semangat, Ser."

 

Pun, Libby hanya memakan sedikit makanannya. Juga, masih belum merasa lapar saat itu. Kini, baik Libby maupun Sera melanjutkan belajar bersama sembari menunggu bel jam istirahat selesai berbunyi.

πŸ’•πŸ’•πŸ’•

Kini, Razel sudah berada di kelasnya. Diam-diam, ia mulai membaca pesan yang sering dilakukan dengan sosok Manito. Cowok itu, mulai menyunggingkan saat melihat ulang chat-chat itu.

Pun, merasa pertukaran pesan sudah terjalin cukup lama. Bahkan, seperti ada perasaan aneh saat membaca setiap pesan yang ada. Terasa istimewa, seakan mempunyai tempat yang tidak diketahui orang lain. Padahal, itu hanya interaksi secara virtual. Tidak tahu, seperti apa wujud lawan bertukar pesannya.

Kenapa gue ngerasa ada sesuatu hal dibalik semua ini. Tapi, kayak yang terlupakan.

Itulah yang membuat Razel terkadang bingung ada sebuah perasaan aneh setiap membaca ulang maupun saat bertukar pesan dengan sosok misterius itu.

 

- To Be Continue -

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Aku Bilang, Aku Cinta Dia!
623      443     1     
Short Story
Aku cinta dia sebagaimana apa yang telah aku lakukan untuknya selama ini. Tapi siapa sangka? Itu bukanlah cinta yang sebenarnya.
Teman Khayalan
1933      913     4     
Science Fiction
Tak ada yang salah dengan takdir dan waktu, namun seringkali manusia tidak menerima. Meski telah paham akan konsekuensinya, Ferd tetap bersikukuh menelusuri jalan untuk bernostalgia dengan cara yang tidak biasa. Kemudian, bahagiakah dia nantinya?
Pulang Selalu Punya Cerita
6622      4254     1     
Inspirational
Pulang Selalu Punya Cerita adalah kumpulan kisah tentang manusia-manusia yang mencoba kembalibukan hanya ke tempat, tapi ke rasa. Buku ini membawa pembaca menyusuri lorong-lorong memori, menghadirkan kembali aroma rumah yang pernah hilang, tawa yang sempat pecah lalu mengendap menjadi sepi, serta luka-luka kecil yang masih berdetak diam-diam di dada. Setiap bab dalam buku ini menyajikan fragme...
Neighbours.
3749      1410     3     
Romance
Leslie dan Noah merupakan dua orang yang sangat berbeda. Dua orang yang saling membenci satu sama lain, tetapi mereka harus tinggal berdekatan. Namun nyatanya, takdir memutuskan hal yang lain dan lebih indah.
Janji-Janji Masa Depan
21123      6712     12     
Romance
Silahkan, untuk kau menghadap langit, menabur bintang di angkasa, menyemai harapan tinggi-tinggi, Jika suatu saat kau tiba pada masa di mana lehermu lelah mendongak, jantungmu lemah berdegup, kakimu butuh singgah untuk memperingan langkah, Kemari, temui aku, di tempat apa pun di mana kita bisa bertemu, Kita akan bicara, tentang apa saja, Mungkin tentang anak kucing, atau tentang martabak mani...
The In-Between
2213      1344     2     
Romance
Nara dan Zian, dua remaja dengan dunia yang berseberangan, pertama kali bertemu saat duduk di bangku SMA. Nara adalah seorang gadis pendiam yang gemar menulis cerpen, sementara Zian adalah sosok populer di sekolah yang penuh pesona. Takdir mempertemukan mereka saat kali pertama Nara menginjakan kakinya di sekolah dan saat itu pula Zian memperhatikannya. Pertemuan sederhana itu menjadi awal dari p...
(L)OVERTONE
2738      1116     1     
Romance
Sang Dewa Gitar--Arga--tidak mau lagi memainkan ritme indah serta alunan melodi gitarnya yang terkenal membuat setiap pendengarnya melayang-layang. Ia menganggap alunan melodinya sebagai nada kutukan yang telah menyebabkan orang yang dicintainya meregang nyawa. Sampai suatu ketika, Melani hadir untuk mengembalikan feel pada permainan gitar Arga. Dapatkah Melani meluluhkan hati Arga sampai lela...
Anak Magang
142      132     1     
Fan Fiction
Bercerita sekelompok mahasiswa yang berusaha menyelesaikan tugas akhirnya yaitu magang. Mereka adalah Reski, Iqbal, Rival, Akbar. Sebelum nya, mereka belum mengenal satu sama lain. Dan mereka juga bukan teman dekat atau sahabat pada umumnya. Mereka hanya di tugaskan untuk menyelesaikan tugas nya dari kampus. Sampai suatu ketika. Salah satu di antara mereka berkhianat. Akan kah kebersamaan mereka ...
When I\'m With You (I Have Fun)
755      465     2     
Short Story
They said first impression is the key of a success relationship, but maybe sometimes it\'s not. That\'s what Miles felt upon discovering a hidden cafe far from her city, along with a grumpy man she met there.
Depaysement (Sudah Terbit / Open PO)
5796      2929     2     
Mystery
Aniara Indramayu adalah pemuda biasa; baru lulus kuliah dan sibuk dengan pekerjaan sebagai ilustrator 'freelance' yang pendapatannya tidak stabil. Jalan hidupnya terjungkir balik ketika sahabatnya mengajaknya pergi ke sebuah pameran lukisan. Entah kenapa, setelah melihat salah satu lukisan yang dipamerkan, pikiran Aniara dirundung adegan-adegan misterius yang tidak berasal dari memorinya. Tid...