Loading...
Logo TinLit
Read Story - Sweet Seventeen
MENU
About Us  

Sepanjang sisa siang, mau enggak mau aku jadi kepikiran ucapan Nashila. Bahkan, sampai Ansel menurunkan Nashila di depan rumahnya dan hanya ada kami berdua di mobilnya, aku enggak bisa mengenyahkan ucapan Nashila dari benakku.

Sekarang aku mengerti alasannya cemburu. Dia punya hak buat cemburu. Kalau aku berada di posisinya, aku akan merasakan hal yang sama. Terlepas dari hubungan persahabatan, aku pasti akan keberatan karena Ansel membawa orang lain ke dalam momen spesial kami berdua.

Aku paham Nashila keberatan aku ikut kegiatan hunting foto. Bukan karena aku mengganggu mereka. Atau karena dia merasa Ansel jadi cuek karena ada aku. Melainkan karena Ansel membawa orang asing ke dalam momen spesial yang hanya diperuntukkan bagi dia dan Nashila. Aku memang sahabatnya, tapi di hubungan mereka, aku tetap orang asing.

Artinya, aku enggak seharusnya ada di momen spesial itu.

“Tadi gue candid lumayan banyak foto lo. Mau enggak?” tanya Ansel.

Sepertinya aku terlalu larut dalam lamunan, sampai-sampai pertanyaan itu menyentakku. Aku menoleh ke arah Ansel yang tengah berkonsentrasi dengan jalanan di hadapannya.

“Boleh,” sahutku pelan.

“Lo kenapa diam aja? Capek?”

Aku mengangguk, sama sekali enggak berniat membantah Ansel.

“Nyesel udah nemenin gue hunting foto?”

Aku menggeleng. Malah sebaliknya, aku senang banget sudah menerima ajakan ini. Hanya saja, aku merasa enggak enak sama Nashila.

“Kulit lo enggak gosong, kan? Ntar gue direbus Mama Nica kalau lo sampai gosong.” Ansel terkekeh.

Biasanya candaan seperti itu bisa membuatku tertawa, tapi kali ini gagal. Aku cuma bisa tersenyum kecut, sama sekali enggak berniat meladeni leluconnya.

“Serius, deh, An. Lo kenapa?”

Ansel memang peka, jadi percuma juga pura-pura di depannya.

“Kata Nashila, kamera itu hadiah lomba foto. Kok gue enggak pernah dikasih lihat foto yang mana?” tanyaku.

“Adalah.” Ansel menjawab enteng.

Aku mendengus. “Kok main rahasia-rahasiaan, sih?”

Ansel membelokkan mobilnya keluar dari kompleks perumahan Nashila. “Udah lupa foto yang mana. Gue ikut banyak lomba, jadi enggak ingat submit foto yang mana aja. Mau langsung balik atau nongkrong dulu?”

Sebenarnya aku mau langsung pulang. Selain capek, tubuhku terasa lengket karena seharian berpanas-panasan. Namun, aku juga mau ngobrol dengan Ansel dan mengobrol di rumah bukan pilihan yang tepat.

“Ngopi, yuk. Gue tahu tempat yang enak.”

Aku mengetik di handphone dan menunjukkan alamatnya kepada Ansel. Dia punya memori yang kuat, jadi bisa dengan mudah menghafal jalan. Hanya sekali lihat, Ansel sudah bisa merekam alamat coffee shop yang kami tuju.

Mobil Ansel melaju di jalanan yang kosong dengan rumah-rumah yang tampak serupa di kiri kanan jalan. Sesekali, ada deretan ruko dengan café atau restoran yang menarik untuk dikunjungi.

Ansel memasuki pekarangan deretan ruko, tepat di depan coffee shop yang aku maksud. Di sampingnya, ada tanah kosong yang ditumbuhi rumput lumayan tinggi, dan jadi pemandangan tersendiri dari dalam coffee shop.

Aku memesan ice coffee latte, sama dengan Ansel, dan kami menempati meja panjang yang ada di dekat jendela sehingga bisa menatap ke luar.

“Lihat hasil foto lo.” Ansel menyodorkan tangannya.

Aku mengambil kamera dan menyerahkannya kepada Ansel. Sedetik kemudian, dia sudah sibuk memelototi hasil fotoku.

“Bagus, An. Kirain lo cuma jago dipotret doang,” ujarnya. “Kapan-kapan kalau gue ajak hunting foto lagi, lo mau?” tanya Ansel, setelah selesai mengecek fotoku. Dia meletakkan kamera itu di meja dan menatapku.

“Bareng Nashila?” tanyaku, yang dijawab Ansel dengan anggukan. “Nashila enggak bakal setuju.”

“Kenapa? Tadi dia biasa aja,” elak Ansel.

Mungkin, untuk beberapa hal, Ansel perlu mengasah kepekaannya. Jelas dia enggak melihat Nashila yang cemburu sepanjang hunting foto tadi.

“Dia cemburu karena ada gue.”

Di luar dugaan, Ansel malah tertawa. “Ngaco. Ngapain juga cemburu sama lo?”

Dia enggak bermaksud menyakitiku, tapi hatiku tersentil saat mendengar pertanyaan itu.

“An, wajarlah dia cemburu. Itu momen spesial kalian, terus tiba-tiba gue muncul. Dia keberatan gue ada di antara kalian,” jelasku.

Ansel masih menatapku dengan ekspresi geli. “Kalau Nashila ajak temannya ikut hunting foto, gue enggak bakalan cemburu.”

Kini, aku malah geregetan dengan tanggapannya. “Untuk beberapa hal, lo super peka. Namun, menyangkut hal ini, lo sama sekali enggak paham.”

Cengiran menghilang dari wajah Ansel, berganti dengan kerutan di kening.

“Hunting foto itu momen lo dan Nashila, dengan adanya orang lain, jadinya enggak spesial lagi. Makanya, Nashila cemburu.” Aku menjelaskan.

Ansel tampak berpikir, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya. “Gue enggak melihat ada yang salah di situ. Lagian, lo bukan orang lain.”

Rasanya ingin menjitak kepalanya biar paham.

“Lo keberatan kalau Dafa ikut kita sepedaan bareng?” tanyaku, meski sebenarnya enggan mmbawa nama Dafa.

Sekali lagi, Ansel menyengir lebar. “It’s not gonna happen.”

Kini, aku beneran menjitak kepalanya, membuat Ansel mengaduh.

“Kalau, An. Anggap aja Dafa mau, lo keberatan enggak?”

Dia sudah membuka mulut, tapi mengurungkan niatnya. Ansel kembali berpikir sejenak. “Dikit, sih.”

Aku menghela napas. “Gue bakal cemburu dan keberatan kalau lo ajak Nashila sepedaan bareng.”

Ansel menatapku dengan wajah serius, dia bahkan enggak berkedip sekalipun. Keterdiamannya jelas menyuruhku memberikan penjelasan lebih lanjut.

“Sama kayak momen hunting foto, sepedaan bareng itu momen spesial kita. Gue enggak suka ada orang lain yang masuk ke dalam momen itu. Jadi, paham, kan, kenapa Nashila keberatan?”

Akhirnya, Ansel mengangguk. Aku enggak menyangka dia butuh waktu lama untuk memahami permasalahan ini.

“Buat gue itu bukan masalah. Itu juga momen spesial gue, jadi gue rasa enggak ada salahnya mengajak lo. Lagian, gue udah janji buat menghibur lo tiap kali sedih, jadi ini cara gue buat nepatin janji.” Ansel akhirnya buka suara.

Aku menggeleng pelan. “Kalau dengan nepatin janji bisa nyakitin orang lain, mending jangan.”

“Ini urusan gue dan Nash. Dia bisa ngerti, kok.” Ansel berusaha meyakinkanku.

Nashila enggak akan mengerti. Dia sudah terang-terangan menyatakan isi hatinya.

“No, she’s jealous dan gue ngerti kenapa dia cemburu,” bantahku. “Gue enggak mau lo dan Nashila jadi bermasalah karena ini.”

Terlepas dari cinta terpendamku untuk Ansel, aku enggak mau hubungan Ansel dan Nashila jadi bermasalah karena aku.

“Lagian, gue enggak mau ada di momen spesial lo dan cewek lain. Kita udah punya momen spesial tersendiri, jadi buat gue itu cukup.” Aku tersenyum, sekaligus meyakinkan hatiku akan keputusan barusan.

Hunting foto dengan Ansel memang menyenangkan, tapi kalau dengan begitu bisa menimbulkan masalah antara dia dan Nashila, aku lebih baik enggak ikutan.

Dan juga, aku enggak yakin bisa kuat menanggung cemburu melihat Ansel dan Nashila.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Help Me Help You
6071      3162     56     
Inspirational
Dua rival akademik di sebuah sekolah menengah atas bergengsi, Aditya dan Vania, berebut beasiswa kampus ternama yang sama. Pasalnya, sekolah hanya dapat memberikan surat rekomendasi kepada satu siswa unggul saja. Kepala Sekolah pun memberikan proyek mustahil bagi Aditya dan Vania: barangsiapa dapat memastikan Bari lulus ujian nasional, dialah yang akan direkomendasikan. Siapa sangka proyek mus...
Secangkir Kopi dan Seteguk Kepahitan
647      382     4     
Romance
Tugas, satu kata yang membuatku dekat dengan kopi. Mau tak mau aku harus bergadang semalaman demi menyelesaikan tugas yang bejibun itu. Demi hasil yang maksimal tak tanggung-tanggung Pak Suharjo memberikan ratusan soal dengan puluhan point yang membuatku keriting. Tapi tugas ini tak selamanya buatku bosan, karenanya aku bisa bertemu si dia di perpustakaan. Namanya Raihan, yang membuatku selalu...
Only One
4102      2796     13     
Romance
Hidup di dunia ini tidaklah mudah. Pasti banyak luka yang harus dirasakan. Karena, setiap jalan berliku saat dilewati. Rasa sakit, kecewa, dan duka dialami Auretta. Ia sadar, hidup itu memang tidaklah mudah. Terlebih, ia harus berusaha kuat. Karena, hanya itu yang bisa dilakukan untuk menutupi segala hal yang ada dalam dirinya. Terkadang, ia merasa seperti memakai topeng. Namun, mungkin itu s...
Finding My Way
3681      2576     3     
Inspirational
Medina benci Mama! Padahal Mama tunawicara, tapi sikapnya yang otoriter seolah mampu menghancurkan dunia. Mama juga membuat Papa pergi, menjadikan rumah tidak lagi pantas disebut tempat berpulang melainkan neraka. Belum lagi aturan-aturan konyol yang Mama terapkan, entah apa ada yang lebih buruk darinya. Benarkah demikian?
Ratu Blunder
533      428     2     
Humor
Lala bercita-cita menjadi influencer kecantikan terkenal. Namun, segalanya selalu berjalan tidak mulus. Videonya dipenuhi insiden konyol yang di luar dugaan malah mendulang ketenaran-membuatnya dijuluki "Ratu Blunder." Kini ia harus memilih: terus gagal mengejar mimpinya... atau menerima kenyataan bahwa dirinya adalah meme berjalan?
Unexpectedly Survived
765      645     0     
Inspirational
Namaku Echa, kependekan dari Namira Eccanthya. Kurang lebih 14 tahun lalu, aku divonis mengidap mental illness, tapi masih samar, karena dulu usiaku masih terlalu kecil untuk menerima itu semua, baru saja dinyatakan lulus SD dan sedang semangat-semangatnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Karenanya, psikiater pun ngga menyarankan ortu untuk ngasih tau semuanya ke aku secara gamblang. ...
Ragu Mengaku atau Kita Sama-Sama Penuh Luka
4      3     0     
True Story
Ada cerita yang dibagi itu artinya diantara kita sering terjadi percakapan panjang, Lip? Disebut kebetulan tapi kita selalu bertemu dengan merancanakannya, Auw? Kita saling memberi nama baru, ingat tidak saat di atas pohon mangga? mendengar kata "pohon mangga" kita tertawa. Memanjat, duduk, mengunyah mangga sambil menikmati angin pagi, sore, atau malam, dasar pencuri. Kalau pemiliknya datang ka...
Behind The Spotlight
6308      3503     622     
Inspirational
Meskipun memiliki suara indah warisan dari almarhum sang ayah, Alan tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang penyanyi, apalagi center dalam sebuah pertunjukan. Drum adalah dunianya karena sejak kecil Alan dan drum tak terpisahkan. Dalam setiap hentak pun dentumannya, dia menumpahkan semua perasaan yang tak dapat disuarakan. Dilibatkan dalam sebuah penciptaan mahakarya tanpa terlihat jelas pun ...
Premium
Akai Ito (Complete)
6925      1482     2     
Romance
Apakah kalian percaya takdir? tanya Raka. Dua gadis kecil di sampingnya hanya terbengong mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Raka. Seorang gadis kecil dengan rambut sebahu dan pita kecil yang menghiasi sisi kanan rambutnya itupun menjawab. Aku percaya Raka. Aku percaya bahwa takdir itu ada sama dengan bagaimana aku percaya bahwa Allah itu ada. Suatu saat nanti jika kita bertiga nant...
TAKSA
446      347     3     
Romance
[A] Mempunyai makna lebih dari satu;Kabur atau meragukan ; Ambigu. Kamu mau jadi pacarku? Dia menggeleng, Musuhan aja, Yok! Adelia Deolinda hanya Siswi perempuan gak bisa dikatakan good girl, gak bisa juga dikatakan bad girl. dia hanya tak tertebak, bahkan seorang Adnan Amzari pun tak bisa.