Loading...
Logo TinLit
Read Story - Never Let Me Down
MENU
About Us  

Apakah mencintai seseorang itu salah? Apakah mencintai seorang sahabat itu salah? Apakah akan semudah itu melupakan semua yang telah kami jalani bersama? Semua pertanyaan itu terus menari-nari di pikiran Alya seakan melontarkan ledekan demi ledekan yang membuat kepalanya terasa pening. Sementara itu pembantunya tak lelah untuk terus mengetuk pintu kamar yang tak kunjung dibuka selama satu jam itu.

Sejak pulang sekolah, si gadis yang sedang pada masa labilnya itu terus mengurung diri di kamar. Perlahan setetes air keluar dari mata indahnya, dan diikuti puluhan hingga ratusan berikutnya. Semuanya masih terasa seperti mimpi baginya, tak pernah ia semarah dan sekecewa ini sebelumnya. Apalagi sumber kekecewaan itu adalah orang yang sangat disayanginya. Selama dua tahun ia telah menyimpan hal besar itu sendirian, dan sekarang boomerang itu berbalik kepada dirinya.    

Minggu lalu, Alya sudah curiga saat Aldi datang terlambat. Padahal sebelumnya sahabatnya itu selalu datang pada pukul 06.20, dan ia selalu memamerkan hal itu dengan bangga di hadapan Alya, dan saat Alya menanyakannya pun ia hanya beralibi bahwa jalanan macet “Jalanan lagi macet” jawabnya dengan menghindari tatapan Alya. Entah petir apa yang telah menyambarnya semalam hingga ia mampu berkata sedingin itu kepada sahabat sekaligus teman kecilnya. Mereka memang bertetangga saat kecil, dan hingga sekarang mereka selalu bersama-sama. Sebaik dan serapi apapun Aldi menyembunyikan sesuatu, Alya selalu bisa tahu hal yang disembunyikannya itu, termasuk senyumnya yang hilang pagi itu. Meskipun ia berbicara dengan cuek, wajahnya yang pucat tetap tertangkap oleh radar Alya. Karena tak mau membuat keramaian di jam pelajaran guru cantik, manis, galak, nan gemar memberi pr itu, Alya akhirnya membiarkannya berlalu dan berencana untuk menanyakan alasannya waktu istirahat.

Bel yang sangat ditunggu-tunggu akhirnya berbunyi. Para siswa yang sudah bosan dengan ceramah Bu Hana segera menghambur keluar mencari kesejukan mata dan juga perut, dalam hitungan detik, mereka telah sampai di kantin. Sementara anak-anak yang rajin dan juga terlalu mager, memilih untuk tetap di kelas dengan membaca buku atau sekedar membicarakan gosip terbaru. Alya bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Aldi. Namun Aldi telah beranjak dan berjalan keluar kelas. Mereka hanya bersimpangan dan tak ada kata apapun yang sempat terucap. Alya telah berteriak memanggilnya namun Aldi tetap meneruskan langkahnya.

Keesokan harinya Aldi nampak sangat bersemangat. Dan dengan wajah tanpa dosa-nya ia menyapa Alya sambil mencubit pipinya “Hai Alya... selamat pagi!” sontak seluruh muka Alya berubah menjadi seperti kepiting rebus. Bukannya melepaskan tangannya, ia malah membuat pipi Alya menjadi mainannya. “Ihh kamu lucu banget sih, mukanya bisa berubah warna gini...” kata lelaki sok polos itu “Apaan sih kamu aneh banget”, “Aneh gimana sih?” ia lalu memutar kursi Alya dan berjongkok didepannya, “Kamu lagi sakit ya? Kemarin udah dingin kayak freezer, dan sekarang senyum senyum sok polos gitu” jawab Alya sedikit merengut. “Masak sih? Emang aku bisa dingin ke boneka seimut ini?” lagi-lagi kalimatnya sukses membuat pipi Alya memerah. “Sst! Kalian ribut mulu sih! Ada guru tuh” kata Citra teman sebangku Alya yang ikutan sewot. “Iya iya, aku balik nih” Aldi lalu pergi ke tempat duduknya. “Aneh banget sih tuh anak, bisa-bisanya kamu temenan sama dia” “Iya ya, kok bisa sih aku punya temen kayak gitu”.

Hari-hari selanjutnya, Aldi bersikap normal lagi. Alya mengira bahwa waktu itu Aldi kesal memang karena waktu itu jalan sedang macet dan ia jadi terlambat sampai di sekolah. Sampai waktu pulang sekolah saat Alya akan ke ruang paduan suara untuk mempersiapkan perlombaannya bulan depan, ia melewati tempat parkir dan melihat sahabatnya berbicara dengan Sarah, anak dari kelas MIPA 6. Ia lalu bersembunyi di balik dinding tempat parkir dan berusaha mendengarkan percakapan kedua orang itu. “Kamu nggak perlu khawatir, tenang aja”, kata Aldi sambil mengusap kepala Sarah. Jantung Alya berdetak lima kali lebih cepat. “Gimana aku bisa tenang kalau kamu aja nggak pernah kesana”, Sarah lalu memeluk Aldi sambil terisak di pundaknya, “Aku nggak mau kehilangan kamu Al...”  Jantungnya yang berdetak terlalu kencang dan suara bising siswa lainnya membuat Alya tidak bisa mendengar seluruh percakapan mereka. Seluruh pemandangan itu membuat matanya menjadi panas. “Udah dong jangan nangis, aku janji kok setelah ini aku bakalan kesana tiap hari”, “Beneran kan? Kamu janji ya?!” ucap Sarah sambil mengulurkan kelingkingnya. “Iyaa, asal aku nggak sibuk aku pasti rutin kesana” “Apa maksud kamu asal nggak sibuk? Denger ya Al, kamu itu hal yang paling penting buat aku, jadi kamu juga harus mentingin diri kamu sendiri dong!” “Aku udah jadiin diri aku prioritas kok” “Sekarang mana buktinya? Kamu selalu aja nomer-satu-in Alya! Coba deh sekali-kali kamu pikirin diri kamu sendiri sebelum dia! Kemarin aja kamu lebih milih nungguin dia padus dan kamu bahkan nggak baca chat dari aku” kembali air mata Sarah menetes, Aldi membalikkan badannya “Kamu nggak tau apapun tentang kami, semuanya tak seperti yang kau duga”

Alya tak ingin lebih lama lagi berada di sana, ia berlari ke lapangan sepakbola dan menumpahkan seluruh kekesalannya, ia menghabiskan air matanya hingga matanya sembab, tanpa tahu bahwa seseorang telah menyaksikan semuanya. Moodnya telah hancur dan ia tak ingin lagi melakukan apapun termasuk pergi ke ruang padus. Saat ini ia tak tahu apa yang ia rasakan, semua perasaannya tercampur aduk. Ia hanya berharap semua yang telah ia dengarkan tadi hanyalah mimpi, ia tak mengerti maksud perkataan Aldi siang itu, tapi yang ia tahu kejadian tadi begitu menyakitinya. Bagaimana bisa ia yang telah berteman dengan Aldi selama 15 tahun tidak tahu apa yang dialami sahabatnya, sedangkan orang asing yang baru saja memasuki kehidupannya bisa begitu akrab dengannya. Ia berkali-kali merutuki dirinya sendiri yang selalu egois dan tak pernah menanyakan apa yang dibutuhkan dan diinginkan sahabatnya, ia selalu berpikir bahwa dirinya mengerti segalanya tentang sahabatnya, padahal nyatanya tidak sama sekali, sahabatnya malah lebih memilih berbagi ceritanya dengan orang lain dibandingkan dengan dirinya.

Esoknya Alya berusaha berpura-pura tak mengetahui apapun, ia ingin Aldi menjelaskan semuanya dari mulutnya sendiri. Tapi nihil, yang ada malah sebaliknya, Aldi bersikap seperti biasa. Hingga tiga hari Alya menunggu Aldi mengatakan sesuatu kepadanya, semakin lama ia makin penasaran dengan maksud dari percakapan antara Aldi dan Sarah tempo hari. Akhirnya ia menyerah terhadap egonya. Ia akhirnya menanyakannya kepada Aldi, “Ehmm Al, bisa kita bicara berdua?” tanya Alya penuh keraguan,  “Ah ya, silahkan” Aldi yang sedari tadi memainkan androidnya memalingkan wajahnya menatap Alya, “Bisa kita keluar?” Aldi menatapnya penuh tanda tanya namun akhirnya tetap mengangguk, mereka lalu pergi keluar kelas dan mulai berbincang

“Ada hal yang penting ya?”

“Kamu percaya sama aku?”

“Percaya? Tentu saja, aku selalu mempercayaimu”

“Apa kamu pernah berpikir bahwa aku akan memberitahu sesuatu tentangmu pada orang lain?” raut wajah Alya berubah, ia berusaha menyembunyikan ketakutannya.

“Tidak sama sekali! Kita telah bersama selama ini dan tidak mungkin aku pernah berpikir seperti itu! Apa maksudnya semua ini?” kini Aldi semakin tak tahu arah pembicaraannya

“Itulah maksudku, kita telah bersama selama 15 tahun dan mengapa kau menyembunyikan sesuatu dariku?!”

“A, Apa? Se, sesuatu apa maksudmu?”

“Dan kamu pun sekarang sedang menyembunyikan ketakutanmu kalau aku sampai mengetahui semuanya kan?

“Kenapa kamu lebih memilih membagi masalahmu dengan orang lain? Apa kamu tak lagi menganggap bahwa aku selalu ada untukmu? Apa kamu pikir selama ini kita bersahabat hanya untuk berbagi kebahagiaan? Kenapa Al...?” Alya menahan agar air matanya tak tumpah untuk saat ini.

“Ka, Kamu tau semuanya? Aku... Aku hanya tak ingin menambah masalahmu, aku tau kamu sedang sibuk mempersiapkan lomba paduan suaramu kan?”

“Apa? Jadi kamu pikir aku mengabaikanmu karena lomba itu? Kamu salah Aldian! Persahabatan tak pernah seperti ini, bahkan jika kamu menyuruhku untuk berhenti berlatih padus, aku akan melakukannya seperti yang kau mau!” kini nada bicaranya serius. Ia menatap tajam ke arah Aldi

“Ma, Maafkan aku Alya. Aku akan memberitahumu, tapi berjanjilah setelah kamu mengetahuinya kamu harus tetap berjalan di jalurmu, lanjutkan apa yang telah kau mulai, capailah cita-citamu, semua orang menyayangimu. Kamu mau berjanji untukku?” Aldi berusaha menciptakan senyum setulus mungkin untuk seseorang di depannya, ia mengulurkan kelingkingnya

“Akan kulakukan apa yang kamu inginkan” Alya menyambut kelingking panjang yang tampak kurus itu

“Mendekatlah”, Alya segera menurutinya. Aldi meraih tubuh kecil sahabat yang begitu ia sayangi kedalam pelukannya dan membisikkan sesuatu

“Bisakah kita menghabiskan hari ini dengan sesuatu yang menyenangkan? Aku khawatir akan apa yang terjadi esok, aku tak akan punya banyak waktu”

“Apa maksudmu? kita akan selamanya bersama, jangan khawatirkan apapun, aku akan selalu ada di sisimu”

“Hei kau membuatku terharu, hiks” ucapnya sambil memeluk Alya lebih erat, seolah  ia tak ingin melepaskannya sedetikpun

“Bisa kau lepaskan tanganmu? Kurasa sebentar lagi kita bisa masuk ruang BP”

“Ah ya maaf. Aku hanya suka bau parfummu, ah iya parfummu sangat harum, hahaha” Aldi menggaruk kepalanya yang tak gatal, wajahnya  jelas terlihat memerah, ia tersipu

“Kau terlihat lucu” ejek Alya menertawakannya

“Ah dan satu lagi, bisakah kamu ke tempat lombaku minggu depan? Aku sangat ingin kau hadir disana kalau kau tak keberatan”

“Tentu saja aku akan ada di sana” mereka tersenyum,senyum yang paling tulus, jika bukan karena bel, mungkin mereka tak akan sadar bahwa mereka masih menginjak tanah.

Hari itu telah tiba. Alya dan teman-temannya menunggu giliran sekolah mereka tampil dengan gugup, padahal sebelumnya mereka sudah benar-benar siap. “Dan inilah dia, juara bertahan kita selama lima tahun berturut-turut, SMA Garuda!” tepuk tangan dan sorak sorai menyambut penampilan mereka. Mereka menarik napas panjang, lalu mulai masuk panggung dengan keyakinan dalam hati mereka masing-masing bahwa mereka bisa memenangkan lomba itu. Sementara itu di seberang, penonton di barisan terdepan melambaikan tangannya, tersenyum kepada Alya. Alya sangat mengenali senyum itu, senyuman terindah yang hanya dimiliki oleh Aldi, tapi ia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan senyum itu, dan mengapa ada orang-orang berpakaian putih di sekitar Aldi. Alya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Penampilan mereka berhasil memukau seluruh penonton dan dewan juri. Namun sedari tadi perhatian Aldi hanya terpusat pada Alya, ia ingin melihat Alya hingga penampilannya selesai, tapi nampaknya takdir berkata lain, kepalanya terasa sangat berat, pandangannya mulai kabur, seluruh tubuhnya memucat, ia pingsan. Tim medis yang berada di sekitarnya segera membawanya ke rumah sakit. Alya terkejut, ia ingin segera membantu Aldi tapi ia tak bisa meninggalkan lombanya begitu saja. Segera setelah  penampilan mereka, Alya berlari keluar ruangan, ada dua rumah sakit di dekat sana, Ia hanya menuruti intuisinya dan ke rumah sakit di seberang. Tapi terlambat, ia sampai disana tepat ketika Aldi menghembuskan napas terakhirnya dan menyebut namanya. Seluruh tubuhnya seperti disambar petir, Ia tak kuasa menahan tangisnya. Seorang dokter memberikan surat kepadanya,

***

Alya, mungkin saat kamu membaca surat ini aku sudah tak dapat melihatmu. Tapi tak apa, jangan bersedih, aku selalu berada disampingmu seperti 15 tahun yang telah kita lalui bersama. Aku sangat senang Tuhan mengirimkan seseorang sebaik dan secantik dirimu untukku. Maaf karena aku tak mengatakan bahwa aku mengidap kanker otak stadium lanjut sejak lama, kamu mungkin tak tahu karena setiap Mama menyuruhku membawa obat ke sekolah aku selalu menyembunyikannya diantara bekal makanku, aku sangat percaya padamu, bahkan melebihi diriku sendiri, aku hanya ingin kamu tidak terganggu karena aku dan penyakitku. Asal kamu tahu Alya, aku mulai jatuh cinta kepadamu. Entah sejak kapan, yang kutahu  jantungku selalu berdebar saat bersama denganmu. Tapi aku memang payah, aku terlalu takut merusak persahabatan kita, dan tak pernah mengungkapkan perasaanku. Apa kau tahu siapa yang bicara padaku waktu itu? Dia adalah sepupuku, Mamaku telah memintanya untuk masuk ke SMA yang sama supaya bisa mengawasiku, dia tahu saat kamu mendengarkan kami, lalu dia mengikutimu yang berlari ke lapangan, dia telah menceritakan semuanya padaku.

Sayang, aku harap kamu masih mengingat janjimu dulu untuk terus memperjuangkan masa depanmu. Dan jangan khawatir, meskipun ragaku tak lagi bersamamu, hatiku akan terus ada untukmu. Jalanmu masih panjang Sayang, jangan terlalu memikirkan apa yang telah pergi. Tetaplah tersenyum dan bahagia untukku, never let me down.

I Love U and Always Love U

 

Aldian

***

Ya, Aldi memang benar. Ia tak boleh terus bersedih, ia harus terus berjalan maju, untuk Aldi dan untuk kedua orang tuanya, Alya berjanji akan membahagiakan mereka.

How do you feel about this chapter?

0 0 2 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Hujan Paling Jujur di Matamu
12679      4424     1     
Romance
Rumah tangga Yudis dan Ratri diguncang prahara. Ternyata Ratri sudah hamil tiga bulan lebih. Padahal usia pernikahan mereka baru satu bulan. Yudis tak mampu berbuat apa-apa, dia takut jika ibunya tahu, penyakit jantungnya kambuh dan akan menjadi masalah. Meski pernikahan itu sebuah perjodohan, Ratri berusaha menjalankan tugasnya sebagai istri dengan baik dan tulus mencintai Yudis. Namun, Yudis...
Untuk Takdir dan Kehidupan Yang Seolah Mengancam
1002      708     0     
Romance
Untuk takdir dan kehidupan yang seolah mengancam. Aku berdiri, tegak menatap ke arah langit yang awalnya biru lalu jadi kelabu. Ini kehidupanku, yang Tuhan berikan padaku, bukan, bukan diberikan tetapi dititipkan. Aku tahu. Juga, warna kelabu yang kau selipkan pada setiap langkah yang kuambil. Di balik gorden yang tadinya aku kira emas, ternyata lebih gelap dari perunggu. Afeksi yang kautuju...
When the Winter Comes
67185      11129     125     
Mystery
Pertemuan Eun-Hye dengan Hyun-Shik mengingatkannya kembali pada trauma masa lalu yang menghancurkan hidupnya. Pemuda itu seakan mengisi kekosongan hatinya karena kepergian Ji-Hyun. Perlahan semua ini membawanya pada takdir yang menguak misteri kematian kedua kakaknya.
Under The Same Moon
524      368     4     
Short Story
Menunggumu adalah pekerjaan yang sudah bertahun-tahun kulakukan. Tanpa kepastian. Ketika suatu hari kepastian itu justru datang dari orang lain, kau tahu itu adalah keputusan paling berat untukku.
Once Upon A Time
551      397     5     
Short Story
Jessa menemukan benda cantik sore itu, tetapi ia tak pernah berpikir panjang tentang apa yang dipungutnya.
Anikala
7534      2899     3     
Romance
Kala lelah terus berjuang, tapi tidak pernah dihargai. Kala lelah harus jadi anak yang dituntut harapan orang tua Kala lelah tidak pernah mendapat dukungan Dan ia lelah harus bersaing dengan saudaranya sendiri Jika Bunda membanggakan Aksa dan Ayah menyayangi Ara. Lantas siapa yang membanggakan dan menyanggi Kala? Tidak ada yang tersisa. Ya tentu dirinya sendiri. Seharusnya begitu. Na...
Horses For Courses
13047      2991     18     
Romance
Temen-temen gue bilang gue songong, abang gue bahkan semakin ngatur-ngatur gue. Salahkah kalo gue nyari pelarian? Lalu kenapa gue yang dihukum? Nggak ada salahnya kan kalo gue teriak, "Horses For Courses"?.
KAU, SUAMI TERSAYANG
803      560     3     
Short Story
Kaulah malaikat tertampan dan sangat memerhatikanku. Aku takut suatu saat nanti tidak melihatku berjuang menjadi perempuan yang sangat sempurna didunia yaitu, melahirkan seorang anak dari dunia ini. Akankah kamu ada disampingku wahai suamiku?
Monday
348      276     0     
Romance
Apa salah Refaya sehingga dia harus berada dalam satu kelas yang sama dengan mantan pacar satu-satunya, bahkan duduk bersebelahan? Apakah memang Tuhan memberikan jalan untuk memperbaiki hubungan? Ah, sepertinya malah memperparah keadaan. Hari Senin selalu menjadi awal dari cerita Refaya.
Di Bawah Langit Bumi
7720      4217     87     
Romance
Awal 2000-an. Era pre-medsos. Nama buruk menyebar bukan lewat unggahan tapi lewat mulut ke mulut, dan Bumi tahu betul rasanya jadi legenda yang tak diinginkan. Saat masuk SMA, ia hanya punya satu misi: jangan bikin masalah. Satu janji pada ibunya dan satu-satunya cara agar ia tak dipindahkan lagi, seperti saat SMP dulu, ketika sebuah insiden membuatnya dicap berbahaya. Tapi sekolah barunya...