Loading...
Logo TinLit
Read Story - Ikhlas Berbuah Cinta
MENU
About Us  

Setelah tiga hari aku berada di rumah Zahra dan sama sekali belum pulang ke rumah membuat perasaanku sedikit lebih tenang. Aku memang sengaja mematikan ponsel agar tidak ada yang membuyarkan perasaanku lagi. Namun, hari ini sengaja menghidupkannya. 

Belum sempat membuka aplikasi apapun ponselku berdering menandakan ada panggilan masuk. Tertera nama Bang Adnan. Untuk apa dia menelpon?

Aku melirik Zahra dia juga menatapku. Sengaja kuabaikan hingga dia menelpon lagi. Mau tidak mau aku pun mengangkatnya.

"Assalamualaikum, Dhira. Kamu di mana? Kenapa ponselmu gak aktif? Kamu baik-baik aja, kan?" 

Aku sekuat tenaga menahan diri agar tidak menitikkan air mata dengan pertanyaan beruntunnya. Bukankah dia penyebab semua ini? Dia tidak sadar atau pura-pura lupa tentang apa yang telah dilakukannya malam itu?

"Aku baik-baik saja," jawabku dengan suara bergetar.

Mungkin karena geram, Zahra mengambil paksa ponselku.

"Dhira sangat baik-baik saja. Jadi, tolong Bang Adnan tidak usah nelpon dia lagi. Nikmati saja kehidupanmu yang sekarang dan jangan melibatkan Zahra dengan kehidupanmu. Apapun itu. Assalamualaikum." Zahra pun langsung mematikan sambungan telepon. 

"Lain kali gak perlu diangkat, Dhi. Perasaanmu belum sepenuhnya sembuh." Zahra lalu memelukku. 

Benar saja, setelahnya aku kembali menangis. Ahh, cengeng sekali.

Kemarin aku mengatakan kepada Zahra untuk pulang ke rumah, setidaknya mengambil beberapa pakaian untuk dibawa ke kost. Aku berencana akan ngekos kembali setelah masuk kerja nanti.

"Kamu beneran mau pulang, Dhi?" tanya Zahra agak sangsi. 

"Sampai kapan aku harus menghindar, Ra. Lagian aku sudah berusaha ikhlas, kok," jawabku mencoba tegar 

"Ikhlas apaan, pas nelpon aja tadi kamu mau nangis," ejeknya membuatku tertawa.

"Bagaimana kalau aku ikut? Aku temani kamu, ya." Zahra menawarkan diri 

Aku menggeleng cepat.

"Tidak, Ra. Aku akan baik-baik saja. Bener. Aku sendiri aja, Ra. Aku gak pa pa," jawabku meyakinkan sahabat terbaikku. 

"Semoga dimudahkan ya, Dhi," kata Zahra sambil mengusap punggungku memberikan kekuatan.

Tiga hari ini aku sudah menghabiskan waktu di rumah Zahra bersama keluarganya. Apalagi, kemarin keponakannya ulang tahun. Tentunya kami membuat kue dan beragam makanan lainnya.

Berkumpul di tengah keluarga Zahra tidak membuatku merasa asing atau terasingkan. Malahan mereka sangat menerimaku. Aku yang sering merasa memberatkan, tetapi ucapan Tante Mia selalu membuatku terdiam. 

"Kami adalah keluargamu, Nak. Jangan merasa sungkan atau merasa asing. Kamu adalah orang yang menerima anak Tante apa adanya. Jadi sebagai bentuk terima kasih, Tante sudah menganggap kamu sebagai putri sendiri. 

Anggaplah keluarga ini keluarga sendiri dan rumah ini sebagai rumah sendiri. Tante akan merasa sangat senang jika kamu merasa leluasa di sini. Jangan sungkan, ya. Kita itu saudara," tutur mamanya Zahra tulus. 

Bagaimana tidak terharu. Apalagi di rumah sendiri tidak pernah diperlakukan seperti itu.

****

 

Zahra benar-benar sahabat terbaik. Aku bersyukur memiliki sahabat seperti dia yang sangat peduli. Keluargaku saja tidak ada yang menghiraukan. Wanita dengan tongkat itu memaksa mengantar pulang, dia yakin aku masih begitu rapuh. Tidak ada pilihan lain, aku menuruti permintaan Zahra. Aku setuju, tetapi dengan syarat Zahra tidak perlu mengantar sampai rumah. Akhirnya, mobil berhenti lumayan jauh dari rumah.

Zahra sempat ngotot untuk mengantarkan sampai halaman, aku menolak pelan. Setelah mobilnya pergi, barulah aku melangkahkan laki menuju pintu masuk. Di sisi lain, dalam kondisi seperti ini, aku berharap agar Bang Adnan tidak ada di dalam. 

Syukurlah tidak ada mobil atau apapun terparkir di halaman. Aku berjalan santai walau hatiku bergemuruh menahan sesuatu. Memaksakan diri agar tetap kuat. 

Aku mengucapkan salam, tetapi tak ada jawaban. Sedikit heran, mengapa rumah tampak kosong. Kemana orang-orang siang begini? Aku terus berjalan melewati ruang tamu menuju kamarku. 

Tepat di depan kamar, aku berpapasan dengan Mawar. Ah sial. Entah kenapa setiap melihatnya aku selalu ingin marah.

"Dari mana saja tiga hari ini?" tanyanya dengan suara yang ketus. 

Sejak kapan dia peduli?

"Bukan urusanmu," jawabku cuek. Mungkin dia tersinggung.

"Sensi amat," katanya sambil mencibir. 

Ia menerobos masuk ke kamar setelah aku membuka pintu kamar. Sejak dulu aku selalu mengunci kamar setiap meninggalkan rumah. Tanpa permisi, Mawar langsung membuka lemari pakaianku dan membongkar isinya.

"Kenapa dibongkar?" tanyaku masih mencoba bersabar.

"Minjam bentar," jawabnya seolah tanpa beban. 

Melihat tingkahnya itu, aku semakin muak, tetapi berusaha menahan amarah agar tidak meledak saat ini.

"Letakkan selagi aku ngomong baik-baik," ujarku dengan suara yang menahan amarah.

Akan tetapi, dia tidak menggubris perkataanku. Malahan makin gencar mengobrak-abrik lemari pakaianku lagi.

"Jangan sentuh apapun selagi aku masih ngomong baik-baik," ancamku yang sudah mulai jengkel. 

Semakin melihatnya aku semakin emosi, apalagi dua kali ucapan yang kubuat selembut mungkin tidak dia pedulikan sama sekali.

Mau tak mau kali ini aku menyerah. Aku berjalan mendekatinya yang kini sedang mengobrak-abrik seluruh isi lemari. Aku menarik paksa baju yang hendak dia ambil. Mawar terperanjat karena tak menduga aku akan sekasar itu.

"Aku bilang jangan sentuh barang-barangku, kau gak dengar?" Suaraku meninggi tepat di hadapannya.

Ia terkejut lalu memasang wajah garang pula.

"Emang gak boleh minjam? Pelit amat!" ujarnya dengan nada tinggi juga.

"Minjam katamu? Bahkan semua barangku yang kau ambil tak pernah kau kembalikan! Itu yang namanya minjam?"

Kali ini amarahku sudah tidak terkontrol lagi. Aku sudah terlalu capek karena selama ini begitu baik kepadanya. Namun, semakin mengalah dan diam, dia hanya akan menginjak harga diriku. 

Rupanya, kemarahanku mengundang emosinya juga. Untuk saat ini aku benar-benar tidak peduli lagi, karena orang seperti Mawar harus diberi peringatan.

"Pelit amat!" ujarnya lagi dengan ketus. 

"Kau masih marah karena Bang Adnan berpaling memilihku? Ya, karena aku lebih menarik daripada kau. Toh aku juga lebih cantik. Lagian, kami sama-sama berpendidikan. Tentunya dia kepincut sama aku kan dibanding kau!" sindirnya. 

Plak!!!

Repleks tanganku melayangkan tamparan di wajahnya yang dia bilang cantik. Melihatnya yang kesakitan aku tidak menyesali perbuatanku. Bahkan aku memuji keberanianku yang memberinya pelajaran.

"Kau menamparku?" tanyanya masih dengan memegang pipinya.

"Kamu kira aku gak berani menamparmu, hah?" tantangku sudah kepalang tanggung. 

Dia juga hampir melayangkan tamparan, tetapi kedatangan Bang Munar menghentikan aksinya. Pintar sekali dia main drama begitu melihat bang Munar yang sering mendukungnya itu. dia lari ke pelukan Bang Munar dan menangis dengan sangat keras. 

"Kenapa, Dek? Kamu kenapa?"

Aku memutar bola mata karena jengah melihat aktingnya yang sangat luar biasa itu. dia sangat cocok jadi pemain sinetron.

"Baaang ...!" Dia memanggil Bang Munar dengan suaranya yang bergetar.

"Kak Dhira menamparku. Aku gak tau apa yang salah." Dia mengadu dengan suaranya yang dibuat lirih. 

Menyaksikan tingkah Mawar yang sedang mengadu, aku melotot hampir tidak percaya. dasar manusia siluman! 

Kini tatapan tajam Bang Munar beralih padaku. Dia menarik kasar tanganku dan aku pun merintih kesakitan.

"Apa yang kamu lakukan ke Mawar, hah?" 

Suaranya melengking tinggi sampai aku terlonjak kaget. Sejak dulu traumaku adalah mendengarkan suara tinggi dan amarah. Aku terdiam karena masih terkejut.

"Kamu selicik itu ternyata, ya. Bilang aja kamu iri dan cemburu dengan semua yang Mawar miliki. Tetapi gak gini juga caranya untuk menumpahkan kekesalanmu. Itu salahmu sendiri sehingga semua yang kamu miliki adalah hak Mawar juga!" Pedas sekali perkataan bang Munar.

Pernyataan ambigu Bang Munar membuatku tidak paham. Aku berpikir keras, apa maksud perkataan Bang Munar bahwa milikku adalah hak Mawar juga?.

"Kamu juga seharusnya sadar, kehadiranmu di dunia ini tidak pernah diharapkan. Apalagi sejak kamu dalam kandungan semua harta yang dimiliki Ayah dan Emak perlahan habis," ungkapnya tanpa rasa apa pun.

"Bahkan, saat kamu lahir, semua harta Ayah dan Emak juga terkuras untuk pengobatanmu. Setelah itu semua harta mendadak habis dan tidak tersisa lagi. Jadi sekarang memang tugasmu mengembalikan apa yang pernah kamu pakai. Dan jangan salahkan Mawar akan hal itu, dia berhak mendapat itu!" cercanya tanpa ampun. 

Penjelasan panjang lebar dari Bang Munar membuatku susah payah mencernanya, tetapi untungnya aku tidak lemot dalam berpikir. Tentu saja, sekarang aku bisa paham dan tanpa sadar air mataku jatuh begitu saja. 

Aku tidak sadar saat tubuhku tumbang karena begitu sedih hingga tidak mampu menahan beratnya beban kehidupan yang harus ditanggung sendiri.

Aku tidak menyalahkan takdir yang begitu kejam. Aku hanya merasakan sedikit kecewa dengan perakuan mereka kepadaku. Mungkin ini alasan semua orang di rumah ini tak peduli karena dulu aku dipandang sebagai anak yang telah menghabiskan harta mereka dengan operasi yang tidak diketahui apa namanya.

Mereka keluar dari kamar. Setelah itu aku menangis sejadi-jadinya meratapi nasib yang begitu malang. Kamar yang berantakan menggambarkan hati dan pikiranku. Namun, aku tidak peduli dan malas untuk membereskannya. Bagiku cukup Bang Munar yang menjelaskan semuanya daripada Emak yang berkata langsung. Pasti rasa sakitnya akan dua kali lipat.

***

Sudah dua hari aku mengurung diri di kamar dan tidak berselera makan sama sekali. Pun tidak mood untuk melakukan apapun. Andaikan hanya Bang Munar yang mengatakan kepadaku mungkin aku masih bisa berdiri sekarang. Namun, setelah Emak datang, Beliau melabrak dan memarahiku habis-habisan.

"Apa yang kamu lakukan kepada adikmu? Ternyata kamu selicik itu balas dendam kepadanya?" demikian Emak marah. 

Aku terdiam. Tidak berani menjawab apapun. Takut marahnya Emak akan semakin menjadi.

"Apa salahnya meminjamkan baju itu kepada adikmu? Dari dulu kami tidak pernah mengajarkanmu untuk pelit," kata Emak dengan suara semakin meninggi. 

Aku ingin menyangkal, tetapi lagi-lagi Mawar yang menangis di lengan Emak membuatku semakin menahan emosi melihat aktingnya. Ternyata dia yang merasa cantik itu lebih cocok jadi pemain sinetron saking bagus aktingnya.

"Dhira khilaf, Mak," ujarku kemudian. Ucapanku itu ternyata tidak memberi efek apa pun pada Emak. Dari wajahnya tersirat bahwa Beliau sangat marah dan kecewa.

"Dari dulu kamu selalu membuat ulah. Kalau saja kamu tidak dilahirkan pasti keadaan tidak seperti ini!" kata Emak di luar dugaanku. 

Pernyataan Emak membuatku semakin bungkam. Tidak mampu berkata-kata. Perlahan air mata menetes dan hatiku sakit sekali mendengarnya. Apa yang salah jika aku lahir? Apakah benar seperti perkataan Bang Munar bahwa kehadiranku memang tidak diinginkan? 

"Sekali lagi kamu membuat Mawar menangis, Emak gak akan pernah memaafkan kamu," ancam Emak sambil berlalu dari kamarku. 

Setelah itu mereka berdua meninggalkan kamarku. Sempat kulihat Kak Nisa tersenyum puas seolah mengejek. Dengan susah payah kutahan tanganku agar tidak menampar mukanya. 

Setelah mereka benar-benar keluar dari kamar, aku membanting pintu dengan kasar, lalu menguncinya rapat-rapat. Hingga dua hari ini aku belum pernah keluar kamar karena tidak mood untuk melakukan apapun. Aku merasa semuanya hampir membuatku frustrasi.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
The Call(er)
9136      5159     11     
Fantasy
Ketika cinta bukan sekadar perasaan, tapi menjadi sumber kekuatan yang bisa menyelamatkan atau bahkan menghancurkan segalanya. Freya Amethys, seorang Match Breaker, hidup untuk menghancurkan ikatan yang dianggap salah. Raka Aditama, seorang siswa SMA, yang selama ini merahasiakan kekuatan sebagai Match Maker, diciptakan untuk menyatukan pasangan yang ditakdirkan. Mereka seharusnya saling bert...
Ameteur
291      257     2     
Inspirational
Untuk yang pernah merasa kalah. Untuk yang sering salah langkah. Untuk yang belum tahu arah, tapi tetap memilih berjalan. Amateur adalah kumpulan cerita pendek tentang fase hidup yang ganjil. Saat kita belum sepenuhnya tahu siapa diri kita, tapi tetap harus menjalani hari demi hari. Tentang jatuh cinta yang canggung, persahabatan yang retak perlahan, impian yang berubah bentuk, dan kegagalan...
Kainga
5009      2534     13     
Romance
Sama-sama menyukai anime dan berada di kelas yang sama yaitu jurusan Animasi di sekolah menengah seni rupa, membuat Ren dan enam remaja lainnya bersahabat dan saling mendukung satu sama lain. Sebelumnya mereka hanya saling berbagi kegiatan menyenangkan saja dan tidak terlalu ikut mencampuri urusan pribadi masing-masing. Semua berubah ketika akhir kelas XI mereka dipertemukan di satu tempat ma...
Sweet Seventeen
6161      3425     4     
Romance
Karianna Grizelle, mantan artis cilik yang jadi selebgram dengan followers jutaan di usia 17 tahun. Karianna harus menyeimbangkan antara sekolah dan karier. Di satu sisi, Anna ingin melewati masa remaja seperti remaja normal lainnya, tapi sang ibu sekaligus manajernya terus menyuruhnya bekerja agar bisa menjadi aktris ternama. Untung ada Ansel, sahabat sejak kecil yang selalu menemani dan membuat...
The Best Gift
119      113     1     
Inspirational
Tidak ada cinta, tidak ada keluarga yang selalu ada, tidak ada pekerjaan yang pasti, dan juga teman dekat. Nada Naira, gadis 20 tahun yang merasa tidak pernah beruntung dalam hal apapun. Hidupnya hanya dipenuhi dengan tokoh-tokoh fiksi dalam  novel-novel dan drama  kesukaannya. Tak seperti manusia yang lain, hidup Ara sangat monoton seakan tak punya mimpi dan ambisi. Hingga pertemuan dengan ...
May I be Happy?
3351      1819     0     
Inspirational
Mencari arti kebahagian dalam kehidupan yang serba tidak pasti, itulah kehidupan yang dijalani oleh Maya. Maya merupakan seseorang yang pemalu, selalu berada didalam zona nyamannya, takut untuk mengambil keputusan, karena dia merasa keluarganya sendiri tidak menaruh kepercayaan kepada dirinya sejak kecil. Hal itu membuat Maya tumbuh menjadi seperti itu, dia tersiksa memiliki sifat itu sedangka...
Segitiga Sama Kaki
3679      1690     2     
Inspirational
Menurut Phiko, dua kakak kembarnya itu bodoh. Maka Phiko yang harus pintar. Namun, kedatangan guru baru membuat nilainya anjlok, sampai merembet ke semua mata pelajaran. Ditambah kecelakaan yang menimpa dua kakaknya, menjadikan Phiko terpuruk dan nelangsa. Selayaknya segitiga sama kaki, sisi Phiko tak pernah bisa sama seperti sisi kedua kakaknya. Phiko ingin seperti kedua kakaknya yang mendahu...
Andai Kita Bicara
2573      1665     3     
Romance
Revan selalu terlihat tenang, padahal ia tak pernah benar-benar tahu siapa dirinya. Alea selalu terlihat ceria, padahal ia terus melawan luka yang tak kasat mata. Dua jiwa yang sama-sama hilang arah, bertemu dalam keheningan yang tak banyak bicaratetapi cukup untuk saling menyentuh. Ketika luka mulai terbuka dan kenyataan tak bisa lagi disembunyikan, mereka dihadapkan pada satu pilihan: tetap ...
Qodrat Merancang Tuhan Karyawala
5474      3168     0     
Inspirational
"Doa kami ingin terus bahagia" *** Kasih sayang dari Ibu, Ayah, Saudara, Sahabat dan Pacar adalah sesuatu yang kita inginkan, tapi bagaimana kalau 5 orang ini tidak mendapatkan kasih sayang dari mereka berlima, ditambah hidup mereka yang harus terus berjuang mencapai mimpi. Mereka juga harus berjuang mendapatkan cinta dan kasih sayang dari orang yang mereka sayangi. Apakah Zayn akan men...
Konfigurasi Hati
1649      955     4     
Inspirational
Islamia hidup dalam dunia deret angka—rapi, logis, dan selalu peringkat satu. Namun kehadiran Zaryn, siswa pindahan santai yang justru menyalip semua prestasinya membuat dunia Islamia jungkir balik. Di antara tekanan, cemburu, dan ketertarikan yang tak bisa dijelaskan, Islamia belajar bahwa hidup tak bisa diselesaikan hanya dengan logika—karena hati pun punya rumusnya sendiri.