Loading...
Logo TinLit
Read Story - Imajinasi si Anak Tengah
MENU
About Us  

Tara semakin aktif melanjutkan tulisannya lewat aplikasi di ponselnya. Ia menulis sambil sesekali membuka Instagram atau aplikasi lowongan kerja, mencari peluang yang mungkin hadir dari layar kecil di tangannya. Di sela waktu menunggu panggilan, Tara memilih untuk membantu pekerjaan mamahnya sebagai ibu rumah tangga, ia kadang kebagian menyapu, mengepel, hingga menyetrika baju. Ia tidak ingin hanya menjadi beban di rumah selama masa menganggurnya. Setidaknya, biarlah mamah tahu bahwa anak perempuannya ini masih bisa diandalkan, walau belum juga menyandang status "karyawan tetap".

Ayah masih bekerja siang dan malam sebagai satpam di sebuah perusahaan, tubuhnya tak muda lagi, tapi semangatnya masih seperti langit yang enggan lelah menurunkan hujan. Selain itu, ayah juga masih sering menerima pesanan lukisan dari kenalan lama, melukis potret keluarga, atau kadang hanya sekadar pemandangan sawah sore hari. Dari hasil-hasil kecil itu, ayah tetap mampu membelikan Tara baju dan sepatu baru, atau sesekali memberi uang jajan yang cukup untuk membeli satu-dua buku yang Tara incar. Tapi ada satu hal yang membuat hati Tara bertanya-tanya, sesuatu yang tak bisa ia mengerti sepenuhnya: ayah seperti tidak suka ketika Tara terlalu lama berdiam di kamar. Padahal, di situlah imajinasi Tara tumbuh, di situlah ia menulis dan merasa hidup.

Beberapa hari terakhir, Tara kerap mendengar omelan kecil yang terlontar dari bibir ayah.

"Kamu tuh jangan terus-terusan di kamar aja, Ra. Sesekali bantu-bantu kek, masa cuma diem terus," ujar ayah suatu sore.

Tara tidak membantah. Ia tahu ayah bukan sedang membenci dirinya, hanya belum tahu bahwa anak gadisnya ini tak sedang bermalas-malasan. Ia hanya butuh ruang untuk mengungkapkan isi kepala. Setiap kali ayah marah, Tara memilih menutup aplikasi menulisnya, lalu bergerak, menyapu halaman atau merapikan cucian. Supaya ayah tahu, bahwa dirinya juga ikut meringankan. Hanya saja, tidak semua niat baik selalu terlihat oleh mata.

Dan Tara tidak ingin menciptakan pertengkaran baru hanya karena ingin dimengerti.

 

                                   ***

 

01 September 2021

Sejak awal tahun, program vaksinasi terus digencarkan sebagai langkah pemulihan dari pandemi yang panjang. Kini, memasuki bulan-bulan akhir tahun, angka penyebaran COVID-19 mulai membaik. Di beberapa sudut dunia, orang-orang mulai terbiasa kembali melihat senyum tanpa penghalang masker. 

Termasuk Kak Dira. Tara menyadari, kakaknya itu sudah tak lagi sibuk membeli berpack-pack masker di supermarket seperti dulu. Perlahan, Kak Dira pun tampak mulai menyesuaikan diri dengan keadaan yang mulai membaik. Dan, Tara pun merasa, mungkin ini waktu yang tepat juga untuk ikut bergerak maju.

Awal bulan ini datang bersama kabar yang mengejutkan. Sebuah notifikasi WhatsApp dari nomor tak dikenal muncul di layar ponselnya.

Begitu Tara membacanya, ia langsung menegakkan duduk, matanya membulat, lalu tersenyum seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan impian.

Panggilan interview sebagai admin sosial media dari sebuah restoran berbintang di Ibu Kota, bernama Cipta Rasa.

Tara mengucap syukur berkali-kali, lalu segera melaporkan kabar itu pada ayah dan mamahnya. Seperti yang ia harapkan, respon mereka hangat dan penuh semangat. Mamah memeluk Tara sambil tersenyum, dan ayah mengangguk dengan binar bangga di matanya.

Interview dijadwalkan dua hari lagi. Sejak hari itu, Tara langsung mempersiapkan diri. Ia mencari segala informasi tentang restoran Cipta Rasa, mencari tahu jenis makanannya, konsep tempatnya, dan bahkan menghapalkan nama-nama menunya.

Restoran Arabian food dengan sentuhan western dan hidangan nusantara, begitu yang tertulis di laman resminya.

Tara juga mulai melatih diri menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul saat interview nanti. Ia tahu, kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Ia belum tahu akan diterima atau tidak, tapi setidaknya kali ini ia melangkah.

Sore itu, saat Tara masih sibuk menghafal detail menu dan memperbaiki CV-nya, suara mamah terdengar dari luar kamar.

"Tara, kata Ayah nanti untuk berangkat interviewnya ayah bakalan cuti buat nganter kamu."

Tara tersenyum kecil. Rasanya seperti mendapat pelukan dari semesta. Ternyata, sama seperti kak Dira, ia juga mendapatkan dukungan dan semangat di awal prosesnya. 

Mungkin.... mungkin saja.... ini sebuah permulaan yang baru.

 

                                   ***

 

Waktu satu hari melesat begitu saja tanpa terasa oleh Tara, hingga tiba-tiba ia sudah berada di hari yang ia tunggu-tunggu, hari interview pertamanya. Tara mempersiapkan diri sebaik mungkin, mulai dari penampilan, riasan wajah, hingga seluruh berkas lamaran yang sudah ia siapkan rapi di dalam amplop cokelat yang kini ia genggam di kedua tangan.

Benar, Tara berangkat bersama Ayah menggunakan motor. Sambil menghafal beberapa jawaban yang sudah ia pelajari dalam hati, Tara mengamati jalanan Jakarta yang cukup padat pagi itu. Mataharinya terik, hampir seluruh jalan yang tertangkap oleh pandangannya disinari sinar mentari yang agung.

Sejenak, saat motor Ayahnya berhenti di lampu merah, Tara memperhatikan banyak pengemis jalanan yang mengelilingi lampu merah. Ia merasa prihatin, terutama ketika melihat seorang anak kecil tiba-tiba menghampirinya dan menawarkan tisu.

"Kak, beli tisu aku, lima ribu aja," ucap anak kecil itu. Tara memperhatikan tubuh anak itu yang kurus, bajunya penuh sobekan, dan hampir seluruh warna merahnya dipenuhi noda. Hatinya terusik oleh rasa kasihan. Ia lalu mengambil selembar uang sepuluh ribu dari dompetnya.

Setelah Tara menerima tisunya dan anak itu mengecek kantong celananya, wajah anak itu tampak lesu.

"Gak ada kembalian, Kak."

Tara kebingungan. Ia tak punya uang receh lain selain itu. Tapi ketika lampu merah berubah hijau, Tara tak punya pilihan lain.

"Gapapa, buat kamu aja kembaliannya."

Motornya kembali melaju. Dari kejauhan, ia masih bisa mendengar suara anak itu berteriak, "Makasih, Kak!"

 

                                      ***

 

Tiga puluh menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Motor Ayah terparkir di area parkir restoran. Tara menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan dirinya sekali lagi sebelum melangkah masuk. Mau tak mau, siap tak siap, Tara harus bisa mengubah sifat pemalunya. Ia harus berani bersuara dan berbicara. Ia tak boleh menunjukkan sisi pendiam dan pemalunya.

"Ra," Ayah mencegah langkahnya.

Tara menoleh. Ia melihat wajah Ayah yang memancarkan keyakinan.

"Berdoa dulu!"

Tara mengangguk mantap. Ia melangkah menuju pintu kaca bertuliskan Restoran Cipta Rasa, dan membuka pintu itu untuk masuk. Begitu masuk, ia langsung disambut ramah oleh salah satu pelayan perempuan di depan pintu.

Tara tersenyum. "Permisi, saya ada panggilan interview," ucapnya.

Pelayan itu tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Oh iya, silakan masuk dulu, Kak. Nanti bertemu dengan Bu Sopia, dan kebetulan beliau juga belum datang."

Tara mengiyakan. Ia masuk dan meneliti lebih dalam tempat ini. Ruangannya cukup luas, terdapat sekitar sepuluh meja dan lima karpet di tempat khusus untuk tamu yang memilih lesehan. Tara akhirnya duduk di meja dekat kasir. Selang lima menit kemudian, datang dua perempuan lain yang juga berniat interview kerja.

Jam menunjukkan pukul sepuluh tepat saat seorang wanita berbadan besar memasuki restoran. Tara menduga wanita itu adalah pemilik restoran ini, sebab kehadirannya disambut dengan sangat baik. Ia memakai gamis dan jilbab lengkap. Tubuhnya besar, dan dari wajah serta perawakannya, ia tampak bukan orang Indonesia, melainkan keturunan Arab. Ternyata bukan hanya makanannya yang bernuansa Arabian, pemiliknya pun benar-benar orang Arab.

Wanita itu tersenyum ramah pada para peserta interview, termasuk Tara. Ia sempat meminta maaf karena datang terlambat akibat kemacetan jalanan. Sesi interview yang seharusnya dimulai pukul sembilan akhirnya diundur.

Sekitar pukul sepuluh lewat lima belas menit, interview dimulai, dan Tara menjadi orang pertama yang dipanggil karena ia datang lebih awal dibandingkan peserta lainnya. Ia masuk ke sebuah ruangan yang tidak terlalu besar di dalam restoran, dan mendapat sambutan yang baik.

"Perkenalkan, saya Sopia. Saya adik dari pemilik resto ini," ujar wanita itu ramah.

Tara menyambut tangannya dengan penuh suka cita, lalu duduk berhadapan dengannya.

"Nama kamu?" tanya Bu Sopia sambil tersenyum.

"Tara, Bu," jawabnya mantap.

"Baik, Tara. Silakan perkenalkan diri kamu."

Tara memperkenalkan dirinya dengan lancar. Sifat pemalunya entah ke mana. Bu Sopia sangat ramah dan merespon setiap jawabannya dengan baik. Pertanyaan-pertanyaannya pun tak sesulit yang Tara bayangkan. Hanya pertanyaan sederhana yang membuatnya semakin lancar menjawab. Bu Sopia bertanya apa saja kegiatan Tara selama menganggur, dan Tara menjawab bahwa ia membantu pekerjaan rumah dan menekuni hobinya. 

Ketika ditanya hobinya apa, Tara dengan percaya diri menjawab, "Menggambar." Tapi, ia juga menambahkan bahwa belakangan ini ia punya hobi baru, yaitu menulis novel.

Tara mengembuskan napas lega. Momen yang ia takutkan ternyata tidak semenegangkan itu. Justru, ia mampu melewatinya dengan baik. Begitu keluar dari resto, Tara menyadari bahwa matahari sudah meninggi dan sinarnya pun semakin panas. Rambutnya yang semula tergerai, kini ia ikat dengan kuncirannya.

Ayah menyambutnya dari area parkir. Pria itu tampak kepanasan di sana, membuat Tara merasa tidak tega.

"Gimana? Lancar?" tanya Ayah saat Tara tiba di hadapannya.

"Alhamdulillah, lancar!" jawab Tara semangat, sembari memasangkan helm di kepalanya.

Motor Ayah kembali membelah padatnya jalanan kota, di siang yang semakin terik, dengan debu dan polusi yang makin pekat. Namun, ada secercah perasaan lega di dalam hati Tara, sekaligus terbit sebuah harapan: semoga dari usahanya tadi, akan ada hasil dan jawaban.

Semoga...

 

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (17)
  • kyungsoo12

    relate banget, gak berlebihan cerita ini (emot nangis)

    Comment on chapter PROLOG
  • asmira24

    anxiety emang semenakutkan itu ya:)

    Comment on chapter PROLOG
  • asmira24

    suka banget iiiii

    Comment on chapter PROLOG
  • asmira24

    Baru prolog dah menggambarkan anak tengah wkwk

    Comment on chapter PROLOG
  • rakasyanuka

    tos dulu anak tengah

    Comment on chapter PROLOG
  • rakasyanuka

    ceritanya sederhana, konfliknya gak berat, tapi ngena di hati

    Comment on chapter PROLOG
  • kuinchi_

    Seruuu bingitssss, ditunggu chapter selanjutnya ka intannaw😁

    Comment on chapter Bagian 23: Laut Biru Di Atas Sampul
Similar Tags
Vandersil : Pembalasan Yang Tertunda
499      372     1     
Short Story
Ketika cinta telah membutakan seseorang hingga hatinya telah tertutup oleh kegelapan dan kebencian. Hanya karena ia tidak bisa mengikhlaskan seseorang yang amat ia sayangi, tetapi orang itu tidak membalas seperti yang diharapkannya, dan menganggapnya sebatas sahabat. Kehadiran orang baru di pertemanan mereka membuat dirinya berubah. Hingga mautlah yang memutuskan, akan seperti apa akhirnya. Ap...
Gloomy
688      471     0     
Short Story
Ketika itu, ada cerita tentang prajurit surga. Kisah soal penghianatan dari sosok ksatria Tuhan.
Janjiku
684      503     3     
Short Story
Tentang cinta dan benci. Aku terus maju, tak akan mundur, apalagi berbalik. Terima kasih telah membenciku. Hari ini terbayarkan, janjiku.
Tokoh Dalam Diary (Diary Jompi)
732      557     3     
Short Story
You have a Daily Note called Diary. This is my story of that thing
Photobox
7447      2138     3     
Romance
"Bulan sama Langit itu emang bersama, tapi inget masih ada bintang yang selalu ada." Sebuah jaket berwarna biru laut ditemukan oleh Langit di perpustakaan saat dia hendak belajar, dengan terpaksa karena penjaga perpustakaan yang entah hilang ke mana dan Langit takut jaket itu malah hilang, akhirnya dia mempostingnya di media sosialnya menanyakan siapa pemilik jaket itu. Jaket itu milik Bul...
Wedding Dash [Ep. 2 up!]
3294      1369     8     
Romance
Arviello Surya Zanuar. 26 tahun. Dokter. Tampan, mapan, kaya, dan semua kesempurnaan ada padanya. Hanya satu hal yang selalu gagal dimilikinya sejak dulu. Cinta. Hari-harinya semakin menyebalkan saat rekan kerjanya Mario Fabrian selalu mengoceh panjang lebar tentang putri kecilnya yang baru lahir. Juga kembarannya Arnaferro Angkasa yang selalu menularkan virus happy family yang ti...
The Maiden from Doomsday
11402      2836     600     
Fantasy
Hal yang seorang buruh kasar mendapati pesawat kertas yang terus mengikutinya. Setiap kali ia mengambil pesawat kertas itu isinya selalu sama. Sebuah tulisan entah dari siapa yang berisi kata-kata rindu padanya. Ia yakin itu hanya keisengan orang. Sampai ia menemukan tulisan tetangganya yang persis dengan yang ada di surat. Tetangganya, Milly, malah menyalahkan dirinya yang mengirimi surat cin...
Forbidden Love
10964      2765     3     
Romance
Ezra yang sudah menikah dengan Anita bertemu lagi dengan Okta, temannya semasa kuliah. Keadaan Okta saat mereka kembali bertemu membuat Ezra harus membawa Okta kerumahnya dan menyusun siasat agar Okta tinggal dirumahnya. Anita menerima Okta dengan senang hati, tak ada prangsaka buruk. Tapi Anita bisa apa? Cinta bukanlah hal yang bisa diprediksi atau dihalangi. Senyuman Okta yang lugu mampu men...
PROMISES [RE-WRITE]
6503      2048     13     
Fantasy
Aku kehilangan segalanya, bertepatan dengan padamnya lilin ulang tahunku, kehidupan baruku dimulai saat aku membuat perjanjian dengan dirinya,
Adelia's Memory
649      442     1     
Short Story
mengingat sesuatu tentunya ada yang buruk dan ada yang indah, sama, keduanya sulit untuk dilupakan tentunya mudah untuk diingat, jangankan diingat, terkadang ingatan-ingatan itu datang sendiri, bermain di kepala, di sela-sela pikirian. itulah yang Adel rasakan... apa yang ada di ingatan Adel?