Loading...
Logo TinLit
Read Story - Our Perfect Times
MENU
About Us  

“Dhi! Kamu dapet siapa?” Bisik Keiza sembari menengok antusias. Agak deg-degan sebenarnya, mengetahui bahwa di hari pertama masuk ekstrakurikuler Jurnalistik, mereka sudah ditantang mewawancarai kakak kelas. 

Ekskul Jurnalistik biasanya melakukan pertemuan seminggu dua kali, hari Rabu dan Jum’at. Setiap sore sepulang sekolah anggota baru akan dikumpulkan di sebuah kelas untuk latihan kepenulisan. Ada tiga tahapan ujian untuk para anggota baru, orang-orang yang terpilih bisa direkrut menjadi redaktur tetap untuk mengurus sosial media, mading dan buletin di website sekolah. Kelas satu dan dua adalah ujung tombak yang diserahi tanggung jawab mengurus buletin online dan mading. Buletin dicetak perdua bulan sekali, biasanya bersamaan dengan jadwal event besar sekolah. Sementara mading terbit dua minggu sekali.

Pertemuan perdana ini ternyata langsung digunakan Yulia si ketua ekskul sebagai alat ukur. Sama seperti ketua ekskul yang lain, ia merasa perlu mencari bibit-bibit unggul. Dari total 14 orang anggota baru, ia ingin menemukan tim yang bisa menggantikan tim redaksi yang sekarang. Strategi antisipasi, sekaligus alasan menyelamatkan diri. Maklum, tahun ketiga Teruna Angkasa harus dijalani dengan super serius. Kalau kata senior-senior terdahulu, tahun ketiga itu ibarat medan tempur. Kalau tak cukup persiapan, bisa babak belur. 
Nah, pertama-tama Yulia ingin tahu dulu bagaimana mental adik-adik kelas yang manis ini. 

“Kalian sudah kebagian semua nama-namanya?” Yulia bertanya pada wajah-wajah yang menampilkan berbagai macam ekspresi. Kebanyakan bingung, sedikit yang antusias, dan ada juga yang acuh tak acuh. Ya, yang acuh tak acuh itu pastilah Radhina Geastari, memang siapa lagi?

“Dhi, kamu dapet siapa?” Keiza berbisik lagi.

Radhi tak begitu mendengar instruksi yang diberikan. Namun ia dengar bisikan Keiza yang berisik nan menuntut itu. Pangkal alisnya mengerut lantaran sibuk memperhatikan kertas bertuliskan Pak Maman. Siapa itu Pak Maman? Hanya Yulia dan senior jurnalistik yang lain, yang tahu. Keiza mengerutkan alis, menerka-nerka siapa itu Pak Maman. Saat itu Radhi balik bertanya.

“Lo dapet siapa?”

“Bu Andin,” Keiza menunjukkan kertasnya. Radhi belum sempat merespon karena Yulia menaikkan nada suaranya.

“Masih ada yang inget rumus 5W+1H (what, who, when, where, why and how)? Harusnya ini udah pernah kalian pelajari waktu kelas delapan.”

Kebanyakan anggota baru mengangguk. “Ok, ini untuk bekal wawancara aja sih, selain perkenalan, hari ini kita throwback aja ya. Belajar lagi bagaimana cara menyusun pertanyaan untuk teks berita.” Kemudian Yulia bangkit untuk mengulas sedikit tentang cara menyusun pertanyaan berdasarkan rumus 5W+1H.

Keiza tentu menyimak dengan semangat. Radhi yang masih dalam status ‘ikut alur saja’ juga mengeluarkan buku untuk mencatat. Tanpa mereka sadari ada satu orang gadis yang merasa tegang sendiri, mengetahui siapa sosok yang akan ia wawancarai. Saat yang lain sedang sibuk mendengarkan tips dari Yulia, hati Abella sibuk berdoa. Semoga ia bisa selamat  dari keganasan narasumber satu ini.

oOo

Deadline pengumpulan hasil wawancara disepakati hari jum’at. Keiza dan Radhi punya waktu dua hari untuk menemui narasumber mereka. Setelah bertanya pada ibu kantin, Radhi akhirnya tahu kalau Pak Maman adalah tukang kebun sekolah. Keiza tentu saja menjadi tutor sebaya bagi Radhi. Keiza sigap membantu cewek itu membuat daftar pertanyaan. Tak tanggung-tanggung ia juga membantu Radhi melakukan pendekatan dengan Pak Maman. 

Singkat kata, Radhi berhasil melalui wawancara pertamanya. Walau sempat kena cubitan kecil karena Radhi lupa, saat wawancara berlangsung ia masih menggulum permen.

“Emangnya penting banget ya, kita buat tahu tentang ini semua?” ucap Radhi saat memasukkan buku catatannya ke dalam tas. Wawancara selesai beberapa saat lalu, Pak Maman izin kembali bertugas dan mereka berjalan bersisian menuju gerbang utama untuk pulang.

Keiza mengangguk, “ini kan tugas.”

“Ya iya, gue tau. Tapi kenapa harus Pak Maman, gitu? Gue pikir narsum yang bakal jadi target anak jurnal itu yang… yah… wow gimana gitu. Yang berprestasi, artis cantik atau cowok ganteng misalnya.”
Keiza mengangguk lagi, menyetujui. “Ada beberapa sih… tapi kan profil itu udah dikasih ke anak lain,” Keiza tersenyum kecil, terpikir akan sesuatu.

“Tapi Dhi, profil Pak Man juga nggak kalah keren. Gue sempet kaget waktu dia cerita pernah selamat dari dari tsunami Aceh.”

“Aah! Iya itu!” Radhi mendadak histeris. “Gue juga kaget, gila! Ternyata Pak Maman salah satu korban selamat! Oh! Apa mungkin Yulia nyuruh gue wawancara karena tahu kisahnya Pak Maman?”

“Bisa jadi.” Keiza tersenyum mengingat kata-kata ayahnya. “Bokap gue pernah bilang kalau setiap orang punya cerita masing-masing. Menarik atau nggak itu tergantung kita sebagai jurnalis yang nulis kisah-kisah mereka.”

“Oh! Bokap lo wartawan ya?”

Keiza mengangguk membenarkan nalar Radhi. Kemudian matanya menangkap sosok Abella yang sedang bicara dengan beberapa orang di sudut lapangan. Langkah kaki Keiza perlahan memelan lalu berhenti. Dari ekspresinya, Abella terlihat panik. Keiza gamang, ingin menghampiri tapi bingung sendiri. Sepertinya orang-orang yang mengelilinginya bukan dari angkatan mereka. Anak kelas dua?

“Kenapa Ja?” Radhi yang merasakan perubahan sikap Keiza lantas bertanya. Matanya juga mengikuti arah pandang cewek itu.

“Abella?”

“Kayaknya dia lagi wawancara deh, Dhi.” Keiza menyadari Abella sedang menggenggam block note kecil dan pulpen. Melihat gelagatnya, Keiza menebak kalau wawancara itu tak berjalan lancar.

“Mau kita samperin?” Radhi bertanya, merasakan raut wajah Keiza yang berubah gelisah. Keiza mengatur nafas, detak jantungnya berdegup tak karuan. Masa’ sih dia harus kembali ke zaman dirinya masih di seragam putih merah? Lewat kenangan itu, Keiza cukup mengenal pola-pola kejadiannya. Namun masa sih, ini harus terjadi di Teruna Angkasa?

Okelah, kemarin dia dan Radhi juga terjebak sedikit drama senioritas. Saat ini mereka sudah bisa dibilang ‘selamat’. Apa mungkin sekarang drama itu terjadi pada orang lain? Kalau benar, haruskan mereka ikut campur? Ikut campur nggak ya….
Ikut lah! Masa nggak ikut!

Keiza mendengkus, kesal pada dirinya sendiri yang menggalau begitu. Padahal satu temannya mungkin sedang butuh pertolongan. Keiza menyampirkan ujung jilbabnya yang sempat terkulai asal, lalu mantap melangkahkan kaki menuju tempat calon terjadi perkara. Radhi bersiul, menarik pegangan ranselnya dan mengikuti Keiza dengan semangat. Akhirnya, setelah wawancara membosankan dengan Pak Maman, ia bisa melihat Keiza si Pahlawan Kesorean bertindak.

Ah, bukan-bukan. Ini belum tentu drama senioritas seperti yang mereka berdua pikirkan. Siapa tahu muka panik anak kucing kehilangan induk milik Abella itu hanya karena grogi saat melakukan tanya jawab. Bagaimana tidak, narasumbernya keroyokan begitu. Pun seandainya ini benar drama senioritas, Keiza sudah menyiapkan beberapa alasan supaya mereka bertiga bisa kabur. Selama mereka berkata baik dan sopan, harusnya tak ada masalah, kan?

“Bel!” Panggil Keiza sebelum mereka benar-benar sampai di TKP. Senyumnya terkembang semringah, tak lupa tangan melambai seolah tak ada situasi panik di depannya. Wajah Abella kentara lega melihat kedatangan Keiza dan Radhi. 

“Lo disamper? Bukannya wawancara kita belum selesai?” Ternyata benar, Abella sedang mewawancarai kakak kelas. Ada tiga siswi senior yang sedang Abella wawancarai. Tiga-tiganya memiliki wajar super cantik. Kulit putih, hidung mancung, bulu mata lentik, mereka mirip! Saking miripnya Keiza menyangka kalau mereka lahir dari rahim yang sama.

“Ah, iya Kak. Anu…”

“Sore Kak, saya dari ekskul jurnalistik juga.” Keiza menyapa, agak-agak muka badak karena mengabaikan tatapan sinis dari tiga kakak kelas cantik ini.

“Ya terus?” tanya kakak yang satu.

“Lo juga bertugas ngewawancarain kita?” sahut kakak yang satu lagi.

“Mm…” Keiza melirik sedikit pada Abella. Berharap cewek itu melakukan improvisasi apa kek—tujuannya supaya Keiza bisa masuk ke dalam obrolan wawancara ini. Nyatanya dia hanya diam sembari menunduk.

Uh….

“Kita mau bantuin dia ngadep—em, wawancara kalian Kak. Tiga lawan satu, nggak balanced kan?” Malah Radhi yang berimprovisasi dengan soft-spoken tapi semi ngajak ribut. 

“Gue tanya, wawancara kalian tuh tugas individu, apa kelompok?” lagi-lagi pertanyaan sinis, disertai dengan tangan terlipat dan tatapan mata merendahkan. Fiks-lah, ini mah drama senioritas!

“Dikerjainnya bisa bareng-bareng kok Kak.” Keiza menyela. “Kan kalau misalnya kita wawancara Kakak bertiga, Kakak juga bisa cepet pulang.”
“Lo bermaksud ngusir kita bertiga dari sekolah?!” 

Nafas Keiza tertahan, sadar kalau sudah salah omong. Bukannya menolong, ia sepertinya malah menyiram minyak ke dalam gumpalan bara api. Namun Keiza jelas tak bisa mundur, sudah kepalang basah mau menyerah juga susah. Keiza baru mau mengatakan sesuatu tapi keburu terhenti karena Radhi berimprovisasi lagi.

“Bukan gitu Kak. Kakak jangan salah tangkep. Maksud kita tuh berat sama dijinjing ringan sama dipikul.”

“Kebalik!” Keiza otomatis mengkoreksi, tawanya hampir menyembur karena ia pikir Radhi sengaja melawak. Namun di antara mereka tak ada yang tertawa. Jadilah Keiza berdehem saja. “Berat sama dipikul—aah, gini-gini, pokoknya, kita nggak bermaksud gimana-gimana Kak. Bel, kamu udah bikin list pertanyaan?” Cewek itu beralih pada Abella. 

“Iya-iya!” Gadis itu lantas mengangguk-angguk, segera membuka block notenya. Tetapi Abella tak berhasil menemukan daftar pertanyaan itu karena si block note tetiba melayang dan mendarat ke selokan terdekat.

What!?

“Kapan kita ngizinin kalian wawancara keroyokan?” 

Refleks Keiza memungut block note sebelum terkena air kotoran dari selokan. Dadanya masih berdegub kencang. Situasi sekolah di sore hari yang sepi membuat mereka semakin tak diuntungkan. Kalau sudah main tangan, drama senioritas ini sepertinya akan sulit mereka menangkan.

“Gini ya, yang ada urusan sama kita tuh cuma anak ini.” Satu kakak kelas menunjuk Abella. “Kalian nggak usah sok ikut-ikut deh.”

“Ya tapi nggak usah pake lempar-lempar bisa kali, Kak.” Radhi mulai memasang mode nyolot.

“Kok lo nyolot?!” Satu kakak kelas melotot.

“Gimana nggak tuh buku nggak salah apa-apa situ lempar!” Suara Radhi kian meninggi. Keiza segera menengahi sebelum adu bacot terjadi.

“Kak! Kak! Kalau kata kebanyakan orang, padi semakin mateng semakin menunduk Kak.” Ia berusaha menenangkan.

“Apaan sih lo daritadi copy-paste peribahasa mulu!” satu kakak kelas membentak, bukannya tenang malah semakin garang.
Ya dari pada kopipas list binatang Ragunan? Batin Keiza. “Oke, nggak ada peribahasa.” Cewek itu membuat gerakan seolah menutup resleting di bibirnya.

“Udah nggak zaman kali Kak, lo bentak-bentak gitu.” Radhi, meski nada suaranya menurun tetapi kata-katanya konsisten mencari ribut. “Udah nggak zaman lo bully-bully junior Kak.”

“Siapa sih yang bully kalian?!” Makinlah para Kakak kelas itu maju selangkah dengan tatapan marah membara.

“Kalian junior-junior nggak sopan tuh pantes dikasih pelajaran!” 

“Digertak gini doang lo bilang bully? Lemah banget mental lo!”

Keiza menarik nafas. Yha, ini yang dari tadi kalian lakukan tuh bullying loh, kakak-kakak yang terhormat. “Yaudah Kak! Kita yang sal—“
Melihat tanda-tanda gencatan senjata, Radhi segera memotong. “Apaan sih Ja! Lo jangan cemen begitu udah jelas yang cari gara-gara duluan tuh mereka!”

Keiza meringis, malah dia yang kena omel. Keiza kira para kakak kelas ini akan melemparkan gertakan, bentakan atau kata-kata sinis lain. Namun rupanya mereka terdiam, saling lihat dan memperhatikan Keiza dengan seksama.

“Eh, bentar. Lo bukannya anak yang cari gara-gara sama Anna?” 

“Nggak! Gue yang cari gara-gara sama Anna!” Sela Radhi, bertambah kesal karena Keiza lagi yang jadi target untuk urusan tanda tangan kemarin. Pengakuan itu membuat ketiganya terdiam. Berkutat pada pikiran masing-masing. Akhirnya mereka mengalihkan mata kembali pada Abella.

“Jangan harap lo dapet wawancara kita. Bilang sama Yulia, mending dia ngeluarin lo aja dari ekskul jurnal.” Mereka kemudian berbalik pergi, meninggalkan Radhi yang mencak-mencak. Keiza berusaha menahan emosi Radhi sementara Abella mulai mengeluarkan air mata.

“Kenapa lo nangis!? Harusnya lo bantuin kita berantem sama mereka!” Radhi jadi melampiaskan emosinya pada Abella.

“Dhi! Orangnya udah pada pergi!” 

“Lo lagi Ja! Mau ngaku salah sama mereka?! Dih, gue mah ogah!” Radhi melipat tangan di depan dada, membuang muka, menunjukkan kekecewaannya pada Keiza sore ini. Ia pikir Keiza akan ikut meledak bersamanya. Ternyata Keiza malah putar balik siap-siap mengibarkan bendera putih. 

Keiza sendiri segera memijit kepalanya dengan kedua tangan. Sejujurnya tadi ia ingin mengkonfrontasi juga, tapi apa daya? Melihat Radhi marah duluan membuat otak Keiza berpikir lebih panjang. Kalau perdebatan barusan benar-benar jadi pertempuran sengit, Keiza bisa dipastikan bakal masuk ruang Bimbingan Konseling. Alur selanjutnya gampang ditebak, ia pasti dapat status ‘murid berkasus’. Jika semua itu terjadi, apa kabar nasib beasiswa yang ia dapatkan dengan susah payah?

Keiza mendengkus.

“Aku nggak ada niat nyari perkara sama mereka. Niat-ku nyamperin Abella tuh buat bantuin dia wawancara.” Gadis itu berdalih, beralih pada Abella yang masih menangis. 

“Kamu nggak apa-apa?”

Abella menggelengkan kepala sembari mengeluarkan tisu dari ranselnya. Ia mengelap air mata dan membersit hidung. “S-sori, gue nggak nyangka jadinya bakal kayak gini.”

Keiza menghela nafas sementara Radhi balik mendengkus, menggerutu tak jelas. 

“Aku kira, cuma aku dan Radhi yang punya masalah sama kakak kelas. Kita jadi anak baru aja belom sampai sebulan.” Keiza menyayangkan, “maaf nggak bermaksud ikut campur, tapi… kamu ada masalah sama mereka?”

“Nggak Ja, lo ‘emang bermaksud’ ikut campur,” sela Radhi dengan penekanan khusus di setiap kata. Keiza memberi Radhi tatapan skeptis seperti yang sering ditunjukkan Avissena kalau Radhi kumat.

“Ooooh, giliran tadi aja lo pasif-pasif, sekarang lo berani skeptis ke gue!?”

“Ssh!” Keiza menyuruh Radhi diam dengan kode menempelkan jari telunjuk kanannya ke mulut. Meski kesal, Radhi menurut. Keiza kembali fokus pada Abella.

“G-gue… ditaksir sama cowok yang kebetulan ditaksir juga sama salah satu dari mereka itu.”

Double what!?

oOo
 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Dunia Sasha
9580      3888     1     
Romance
Fase baru kehidupan dimulai ketika Raisa Kamila sepenuhnya lepas dari seragam putih abu-abu di usianya yang ke-17 tahun. Fase baru mempertemukannya pada sosok Aran Dinata, Cinta Pertama yang manis dan Keisha Amanda Westring, gadis hedonisme pengidap gangguan kepribadian antisosial yang kerap kali berniat menghancurkan hidupnya. Takdir tak pernah salah menempatkan pemerannya. Ketiganya memiliki ...
The Unbreakable Love
193      174     0     
Inspirational
Ribuan purnama sudah terlewati dengan banyak perasaan yang lebih berwarna gelap. Dunia berwarna sangat kontras dengan pemandangan di balik kacamataku. Aneh. Satu kalimat yang lebih sering terdengar di telinga ini. Pada akhirnya seringkali lebih sering mengecat jiwa dengan warna berbeda sesuai dengan 'besok akan bertemu siapa'. Di titik tidak lagi tahu warna asli diri, apakah warna hijau atau ...
Kita Yang Tenggelam Dalam Gelap
107      18     0     
Romance
Satoshi, seorang remaja yang hidup dalam bayang-bayang trauma masa kecil, terperangkap dalam pusaran hubungan yang gelap dan ambigu dengan seorang gadis bernama Misakisosok yang memadukan kelembutan, rahasia, dan kegilaan dengan cara yang begitu memikat. Pertemuan mereka bukanlah awal kisah cinta biasa, melainkan awal dari keretakan realitas, pembusukan moral, dan bangkitnya sisi gelap yang selam...
Dibawah Langit Senja
1821      1103     6     
Romance
Senja memang seenaknya pergi meninggalkan langit. Tapi kadang senja lupa, bahwa masih ada malam dengan bintang dan bulannya yang bisa memberi ketenangan dan keindahan pada langit. Begitu pula kau, yang seenaknya pergi seolah bisa merubah segalanya, padahal masih ada orang lain yang bisa melakukannya lebih darimu. Hari ini, kisahku akan dimulai.
Flower With(out) Butterfly
468      326     2     
Romance
Kami adalah bunga, indah, memikat, namun tak dapat dimiliki, jika kau mencabut kami maka perlahan kami akan mati. Walau pada dasarnya suatu saat kami akan layu sendiri. Kisah kehidupan seorang gadis bernama Eun Ji, mengenal cinta, namun tak bisa memiliki. Kisah hidup seorang gisaeng yang harus memilih antara menjalani takdirnya atau memilih melawan takdir dan mengikuti kata hati
WEIRD MATE
1760      894     10     
Romance
Syifa dan Rezeqi dipertemukan dalam kejadian konyol yang tak terduga. Sedari awal Rezeqi membenci Syifa, begitupun sebaliknya. Namun suatu waktu, Syifa menarik ikrarnya, karena tingkah konyolnya mulai menunjukkan perasaannya. Ada rahasia yang tersimpan rapat di antara mereka. Mulai dari pengidap Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), pengguna narkoba yang tidak diacuhkan sampai kebencian aneh pa...
PurpLove
537      445     2     
Romance
VIOLA Angelica tidak menyadari bahwa selama bertahun-tahun KEVIN Sebastian --sahabat masa kecilnya-- memendam perasaan cinta padanya. Baginya, Kevin hanya anak kecil manja yang cerewet dan protektif. Dia justru jatuh cinta pada EVAN, salah satu teman Kevin yang terkenal suka mempermainkan perempuan. Meski Kevin tidak setuju, Viola tetap rela mempertaruhkan persahabatannya demi menjalani hubung...
Cinderella Celdam
1976      758     4     
Romance
Gimana jadinya kalau celana dalam kamu tercecer di lantai kantor dan ditemukan seorang cowok? - Cinderella Celdam, a romance comedy
Selepas patah
252      210     1     
True Story
Tentang Gya si gadis introver yang dunianya tiba-tiba berubah menjadi seperti warna pelangi saat sosok cowok tiba-tiba mejadi lebih perhatian padanya. Cowok itu adalah teman sebangkunya yang selalu tidur pada jam pelajaran berlangsung. "Ketika orang lain menggapmu tidak mampu tetapi, kamu harus tetap yakin bahwa dirimu mampu. Jika tidak apa bedanya kamu dengan orang-orang yang mengatakan kamu...
TANPA KATA
184      169     0     
True Story
"Tidak mudah bukan berarti tidak bisa bukan?" ucapnya saat itu, yang hingga kini masih terngiang di telingaku. Sulit sekali rasanya melupakan senyum terakhir yang kulihat di ujung peron stasiun kala itu ditahun 2018. Perpisahan yang sudah kita sepakati bersama tanpa tapi. Perpisahan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Yang memaksaku kembali menjadi "aku" sebelum mengenalmu.