Loading...
Logo TinLit
Read Story - Semesta Berbicara
MENU
About Us  

Di rumah besar bergaya kolonial di sudut kota Bogor, Suci melangkah pelan menyusuri halaman luas, dengan Tougo mengikuti di belakangnya. Rumah ini ditinggali Tougo sejak lulus SMA.

Sejak kecil, Tougo dan Suci selalu dekat, bahkan hingga SMA. Meski terpaut dua tahun, hubungan mereka tetap ambigu—tak pernah benar-benar punya label. Selepas SMA Tougo berkuliah di Bogor, sementara Suci menyusul, merantau demi menjauhi bapaknya yang dianggap kaku dan mengekang mimpinya untuk mandiri. Di sanalah ia mulai bekerja di RumahWaktu—pekerjaan yang hingga kini terasa seperti tempat perlindungan.

Suci tidak menyangka, hingga kini pun ia harus menuruti Tougo. Tapi karena ini permintaan orang tua Tougo, Suci tak kuasa menolak.

Sore itu aroma teh melati dan kudapan tradisional memenuhi ruang tamu bergaya vintage. Ibu Tougo tampak sumringah menyambut Suci.

“Suci, kamu makin cantik aja. Udah lama banget nggak main ke sini!” serunya sambil menggenggam tangan Suci erat.

Suci mengangguk sopan. “Maaf ya, Tante. Suci memang sibuk kerja.”

Tougo datang dari dapur membawa nampan minuman, senyum canggung mengembang di wajahnya. “Ah, kerjaan OG aja sok sibuk, paling juga cuma nyapu, ngepel.” Nada suaranya santai, tapi terasa menampar. Suci terdiam, berusaha tetap kalem.

“Tougo, nggak boleh begitu. Dia kerja juga buat cari uang kuliah. Nggak kayak kamu, kuliah dibayarin orang tua, nyapu ngepel masih nggak bisa. Kalah kamu, Go!” ibu Tougo membela Suci, “Berarti calon istri kamu ini ulet, pekerja keras.”

Mereka pun duduk di sofa, meski Suci menyembunyikan kegelisahan. Ibu Tougo terus membanggakan masa kecil Suci dan Tougo, berharap mereka bisa membangun masa depan bersama. Sementara Suci dan Tougo saling melirik, saling memberi senyum ganjil.

Saat ibu Tougo ke dapur mengambil camilan tambahan, Suci menghampiri dan berbisik tajam, “Kamu bisa berhenti sok akrab sekarang.”

Tougo menyilangkan kaki, tangannya memainkan gelas teh. “Aku cuma nggak mau bikin Ibu kecewa. Toh dari dulu kita memang temenan, kan?”

Tiba-tiba Tougo menceletuk, “Aku lihat kamu semakin dekat sama Fabian. Jangan bilang kamu mengharap dia buat jadi pacar?” ia menyeringai, tampak meremehkan. “Saranku sebagai teman ya, mending cari yang selevel deh Ci, nanti kamu sakit hati. Dia arsitek ternama, orang Belanda pula, kamu apa? Kuliah aja nggak.”

Suci menarik napas panjang, menahan diri. “Bukan urusan kamu Go, urusin aja Anya dengan semua dramanya itu.”

Tougo terdiam, senyum congkaknya sedikit mencair. Ia teringat sikap Anya yang menolak mengaku bersalah soal proposal kemarin. Ia mulai sadar kelicikan dan sifat kekanakan Anya yang membuatnya kerepotan, bahkan mulai menyebalkan.

“Aku bukannya nggak kuliah, cuma mau kuliah dengan uang sendiri kok, supaya nggak ngerepotin ortu. Ini cuma proses, aku kerja begini cuma sampai aku wisuda, begitu aku punya gelar, aku tunjukin ke depan muka kamu deh ijazahnya. Kita bandingin GPA aja. Gimana?” Suci membalas pongah.

Tougo lanjut sambil tertawa kecil, “Nggak semua orang punya privilage buat sekolah tinggi, ya. Tapi kamu gigih, itu bagus kok. Aku salut, sedikit.”

Suci menunduk, dadanya mencengkeram. Wajahnya tetap datar, menahan kata-kata yang membuncah. Bukan tak mampu membalas, melainkan terlalu terkejut. Pria yang tumbuh bersamanya, yang ia kira mengenal baik siapa dirinya, ternyata memandangnya seremeh itu, rendah, kecil, tak berharga.

“Kenapa diam?” cecar Tougo, “Jangan baper gitu dong. Kita kan udah kayak keluarga. Santai aja. Lagian… soal pertunangan kita itu kan cuma celetukan masa kecil, jangan dianggap serius.”

Suci menarik napas panjang. Tatapannya kosong, nyaris sendu, tapi ia tak menangis. Ia hanya berkata pelan, “Ternyata segitu rendahnya kamu memandang aku?”

Kemudian ia bangkit dari sofa, membungkuk sopan. “Titip salam buat Tante.”

Ia melangkah keluar. Punggungnya tegak, tapi langkahnya sedikit gontai. Ia tak menangis, tapi lukanya dalam.

Dari balik lorong, ayah Tougo yang sedari tadi diam di ruang sebelah, memandang Suci dengan sorot mata berbeda. Seakan baru menyadari, bukan Suci yang kekurangan, melainkan putranya yang kehilangan arah.

Pulang dari rumah Tougo, Suci merasa satu-satunya yang bisa diandalkan hanyalah dirinya sendiri. Pekerjaan di RumahWaktu, walau berat, kini justru terasa seperti benteng terakhir—hingga semuanya berubah keesokan harinya.

 

-oOo-

 

Anya semakin kesal kepada Suci sejak kejadian proposal kemarin. Rekan-rekannya yang percaya Anya cuma “salah taruh” kerap menyalahkannya telah menuduh Suci. Padahal, ia berencana menyisipkan proposal itu di tas Suci, agar Suci mendapatkan teguran serius. Kini Tougo yang dikiranya akan memihaknya justru marah. Ia mulai merencanakan skema perangkap agar Suci dikeluarkan.

Hari itu hari yang hampa bagi Suci. Tiga hari ini Fabian dinas keluar daerah, sehingga tidak ada lagi sosok rupawan yang menyemangati harinya. Di depan lift, ia hanya melamun menunggu.

 “Suci, ini nitip dong, tolong bawain ke mejaku di lantai 3!” Fida menitipkan sebuah map dan sebuah flashdisk hitam ke Suci dengan terburu-buru. “Aku lupa beli sesuatu, tolong taruh di laciku supaya nggak hilang. Isinya penting,” pinta wanita itu.

Suci hanya mengangguk tanpa curiga. Tanpa sadar, ia baru saja menggenggam jebakan yang akan menyeretnya ke masalah besar.

 

Beberapa jam kemudian terdengar pekikan dari arah lantai tiga. “Sucii! Kok flashdisk-nya nggak ada di laciku?” Fida mengamuk ketika Suci di ruangan itu, ia sibuk mencari di semua laci dan sudut mejanya. “Itu isinya tender penting kantor, Ci.”

“Saya yakin banget udah saya taruh di laci, persis kayak yang Teh Fida minta,” ucap Suci bingung, ikut membantu mencarinya. “Saya taruh di laci ini tadi.”

“Cuma ada mapnya aja, Suci. Kamu jatuhin dimana?” Fida menegaskan. Pegawai lain mulai tertarik dengan keributan itu.

“Kebawa kali sama kamu, coba cek bawaannya!” Anya yang meja kerjanya di ruangan yang sama, memberi saran sambil menoleh ke arah Suci.

Satu pegawai membantu memeriksa kantung pakaian Suci, pegawai lain meminta Suci memeriksa tasnya.

Suci memutar bola mata, yakin. “Aku aja nggak bawa tas ke sini, semua ditaruh di loker,”

 

Beberapa pegawai menuju ke ruang loker bersama Anya dan Suci. Satu pegawai memeriksa tas di loker yang Suci bukakan sendiri. Sementara pegawai yang lain memerhatikan sebagai saksi. “Nggak ada!” simpulnya setelah mengeluarkan semua isi tasnya.  Suci bernapas lega.

Namun, seorang pegawai yang mengecek lokernya menemukan sesuatu. “Ini apa?” tangannya meraih sebuah flashdisk hitam persis seperti yang sedang dicari di pojok loker.

Suci mengernyit. Bahkan posisinya terlalu rapi dan mencolok—seakan tidak berniat disembunyikan.

“Kenapa sampai disembunyikan di pojok loker?” Anya memanas-manasi.

“Anya, jangan sembarangan ya!” Suci kesal, mencurigai ini perbuatan Anya.

“Kamu nggak mungkin bawa pulang data kantor sepenting itu, kan, Ci? Buat apa?” Fida menatap tajam, nada suaranya seperti tuduhan.

“Suci kayaknya kenal banyak orang penting di dunia bisnis. Aneh ya buat ukuran office girl. Apa mungkin data itu… dibocorin?” Anya menunjukkan foto Suci bersama kakaknya, Surya, yang berjas rapi. Entah didapat dari mana.

Tobi melirik sekilas ke arah Anya yang tersenyum sinis dari kejauhan, lalu berpaling lagi.

Selanjutnya, Suci dipanggil ke ruangan Head Project untuk dimintai keterangan.

Irfan, sang Kepala Proyek mempersilakannya duduk di depan mejanya. Pegawai lain yang bersaksi berdiri, termasuk Anya.

“Sebenarnya keributan ini akan langsung tenang, kalau kamu mau mengakui kesalahan, Ci,” pria berkumis itu menyarankan. “Bilang aja kamu lalai, salah taruh, lalu minta maaf. Saya akan anggap selesai.”

“Tapi saya yakin sudah menaruh barang itu ke meja kerja Fida, Pak. Bapak bisa periksa CCTV kantor untuk membuktikannya!” Suci kukuh, ia pantang meminta maaf jika tidak merasa salah.

Petugas pengawas CCTV masuk membawa rekaman CCTV dalam bentuk micro-SD, yang kemudian dipasang ke laptop Irfan. Mereka menonton rekaman bersama. Pada waktu kejadian memang Suci mendekati meja Fida dan menaruh sesuatu, hanya saja tidak terlalu jelas barang-barang yang ditaruhnya.

“Tuh Pak, saya sempat ke meja Teh Fida. Saat itu saya taruh di sana semuanya, map dan flashdisk-nya!” Suci menjelaskan.

“Cuma taruh map aja kali Pak, nggak kelihatan jelas tuh. Kalau map memang ada,” Fida menambahkan.

“Ya kalau saya berniat mencuri data seperti kecurigaan kalian, kenapa nggak saya ambil semuanya? Pakai capek-capek ke meja Teh Fida buat taruh map. Map itu kan juga berisi data penting kantor,” Suci membalas dengan rasionalitas. “Saya merasa dijebak, Pak.”

Semua terdiam. “Ada benarnya,” Irfan mengangguk, “lalu foto yang ditunjukkan Anya itu siapa, Ci?”

Suci mengingat foto Surya dan dirinya yang ada di ponsel Anya. Nggak mungkin aku ngaku kalau aku adiknya pemilik perusahaan Klassiek coorporation kan? pikirnya terdiam.

“Tuh kan, nggak bisa jawab! Gimana orang nggak mau curiga.” Anya merasa menang.

“Itu keluarga saya, Pak,” Suci menerangkan. “Emang susah dipercaya ya, orang biasa kayak saya punya keluarga yang sudah mapan? Bapak sekeluarga nasibnya juga beda-beda kan?” Suci berusaha menjelaskan sebias mungkin.

Irfan menyimak dan mempertimbangkan pernyataannya.

“Permisi!” Tobi masuk untuk mengantarkan teh manis hangat pesanan Bapak Irfan.

“Sekalian tolong sapuin kolong meja saya, Bi. Kotor banget!” pinta bapak Irfan.

“Oke, saya ambil sapu dulu, Pak.” Tobi mengangguk, lalu menepuk punggung Suci untuk menguatkan, sebelum berlalu keluar lagi.

Suci menghembuskan napas kecewa. Awalnya ia kira CCTV akan cukup memberi bukti bahwa ia tidak bersalah. Kepala Proyek itu juga tampak pening.

“Sudah kalian bubar dulu deh!” Irfan memerintahkan.

 

Semua pegawai yang ada di ruang kerja Kepala Proyek itu menurut dan keluar, termasuk Suci dan Anya. Memberi ruang bagi bapak Irfan untuk berpikir jernih.

“Permisi, Pak!” Tobi kembali masuk, menyerahkan sebuah flashdisk ke meja di depan pria berkumis itu. “Ini titipan dari pengawas CCTV, rekaman di depan pintu ruang loker seharian ini. Bisa saja kecurigaan Suci benar kan, Pak? Bagaimana kalau dia dijebak?” bisiknya sebelum menyapu kolong meja seperti perintah Irfan sebelumnya.

Pria paruh baya itu mengembuskan napas, “Buat selidiki lalu lintas orang ke ruang loker karyawan sih butuh seharian, Tob. Saya mengerti kekhawatiran kamu terhadap rekanmu. Saya bawa pulang aja ya, supaya lebih teliti selidikinya,”

Tobi mengangguk, berharap banyak pada rekaman CCTV yang ia ambil dan simpan sendiri itu, dengan mencatut nama pengawas CCTV.

 

Jam pulang kerja hari ini Suci tampak lebih lesu. Tobi menyadari wajah murung sahabatnya itu. “Lights up, Ci! Kebenaran akan temukan jalannya kok,” Tobi menyemangati.

“Semoga benar begitu,” Suci bergumam. “Gue cuma kesel, gue tahu dalangnya, tapi nggak bisa buktiin.”

Gadis itu merenung,

Selama ini aku kira, aku bisa mengungkap segala hal. Tapi sekarang, aku bahkan nggak bisa menolong diriku sendiri. Aku terlalu pongah, ia tertunduk. Kebanggaannya sebagai hacker koyak dalam keraguan.

“Lihat aja besok. Pasti ada petunjuk!” Tobi menyemangati. “Sorry ya, hari ini gue nggak bisa nganter lu pulang. Mau langsung ke stasiun.”

“Mau ngapain lu ke stasiun?” Suci heran.

Tobi hanya menyeringai, “Ketemu teman,” jawabnya singkat sebelum berlalu lebih dulu ke parkiran motor.

“Hah, pesan ojek dulu deh.” Suci membuka ponselnya.

 

-oOo-

 

Di suatu ruang kerja di gedung kantor sebuah kawasan industri, seorang pria terduduk di ruang kerjanya. Malam ini kantor sepi, hanya ada pria berpakaian necis itu, duduk di bangku kokoh di belakang meja kerja mengilap. Ia seperti menunggu seseorang.

“Tok tok tok…” Terdengar suara ketukan.

“Masuk!” pria itu menyuruh dengan suara berat tapi nadanya santai. “Udah sampai? Sini duduk dulu!” pria itu menunjuk bangku di depan mejanya.

Pria ber-hoodie itu menurut, ia duduk. Lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah map. “Ini laporan minggu ini, Pak Surya,” katanya dengan penuh hormat.

Ia membuka map itu, menatap lekat deretan foto Suci di tempat kerja. Ada foto di depan lift dan saat Suci membetulkan rak dokumen. Matanya menyipit membaca catatan di bawahnya. “Flashdisk muncul di loker. Potensi jebakan. Investigasi lanjutan diperlukan.”

“Suci lagi kena masalah ya?” Surya menangkap isi laporan terbaru.

“Maaf, iya Pak.” Pria ber-hoodie menunduk.

“Lu nggak bisa buktiin dia clean?” Surya meminta pertanggungjawaban sebagai orang yang diamanahkan menjaga adiknya itu.

“Belum Pak, maaf,” pemuda itu membuka hoodie-nya. “Tapi saya akan mengumpulkan petunjuk lagi besok.”

“Kamu nih, katanya hacker handal, gimana sih!” Surya meledek. “Ya udah, tuntaskan secepatnya ya. Jangan sampai saya turun tangan nih.”

“Baik, Pak!” pemuda itu berdiri dan mengangguk hormat.

“Ini!” Surya menyerahkan sebuah map padanya. Mata pemuda itu melirik isi map itu, berlabel ‘PT Sentani Jaya’. Ia bisa menebak isinya, meski bingung peruntukannya. Ia lalu melirik lagi Surya karena tidak yakin. “Ambil, kali aja butuh.”

Pemuda akhirnya mengambil map yang dijulurkan, namun ditahan Surya, hingga mereka tarik-tarikan. “Kamu nggak demen sama Adik saya kan?”

Pemuda berjaket hoodie itu terkesiap dengan pertanyaan itu. “Nggak Pak, saya mana berani. Cuma teman kok, Pak.”

Surya melepas tangannya dari map, membiarkan pemuda itu mengambilnya. Pemuda itu mengenakan kembali hoodie-nya perlahan, menunduk dalam, lalu berjalan pergi.

 

-oOo-

 

Irfan, Kepala Proyek RumahWaktu, berdiam di kamarnya malam itu. Matanya lekat ke arah monitor laptop yang menampilkan rekaman CCTV di depan ruang loker. Tidak ada kejanggalan, semua yang masuk dan keluar adalah pekerja Asisten Umum Kantor.

 

-oOo-

“Udah dengar belum. Suci mau curi data kantor!”

“Kok berani sih? Kan cuma office girl.”

Flashdisk data tender rahasia perusahaan sempat hilang, ternyata diumpetin sama dia di lokernya.”

Anya menikmati desas-desus yang beredar dengan seringai kemenangan. Hari kedua ini, isu mengenai Suci semakin santer. Dan siapa lagi biang gosipnya kalau bukan Anya—dalang segala kekacauan ini. Ia sudah merekayasa ini sedemikian rupa agar perbuatannya tidak terendus. Ia selalu bertemu langsung di luar kantor, belajar dari pengalaman bahwa jejak digital mudah dilacak. Begitupun pertemuannya dengan Fida dan Laksmi untuk merencanakan persekongkolan. Laksmi sebagai petugas asisten kantor, sangat menolongnya menyusup ke ruang loker dan menaruh flashdisk itu.

Suci frustrasi, hanya tinggal besok waktu yang diberikan perusahaan untuk membuat surat permintaan maaf. Jika menolak, ia akan segera dikeluarkan.

Ia menatap kertas kosong di hadapannya. “Tuliskan pengakuan,” suara manajer HRD tadi siang masih terngiang. Tapi bagaimana menulis pengakuan untuk kesalahan yang tak pernah ia lakukan? Haruskah ia berbohong demi menyelamatkan gaji bulanan?

Ia menenangkan diri di atap kantor, kali ini tanpa Fabian. Kalau Fabian ada di sini mungkin pria kulit putih itu akan langsung membelanya. Entah sejak kapan, tapi ia mulai mengandalkan Fabian.

Kemudian ia sadar, tidak sepatutnya begitu. Fabian bukan tempat sandarannya. Ia masih bukan siapa-siapa, jadi tidak boleh ketergantungan atau banyak berharap pada pertolongannya.

Sadar Ci, kamu dan dia bukan siapa-siapa. Jangan terlalu berharap, katanya dalam hati. Ia menepuk pipinya sendiri pelan.

Ia menatap langit sore dari atap kantor. Di bawah sana rumor membusuk. Tapi di atas sini, ia berjanji pada dirinya sendiri—besok, ia tidak akan jadi korban lagi.

How do you feel about this chapter?

0 1 0 0 0 1
Submit A Comment
Comments (7)
  • juliartidewi

    Adik cowokku lulusan IT. Katanya, gajinya dua puluh juta, tapi aku nggak percaya. Soalnya, ada tante2 yg bilang kalo gaji anaknya yg IT 75 juta.

    Comment on chapter 15. Menunjukkan Taji
  • juliartidewi

    Adik perempuan saya juga lulusan arsitek.

    Comment on chapter 14. Perjalanan
  • juliartidewi

    I just remember when I was in university, I met a Dutch man. I thought he was one of my lecturers in English Language Study Program. I asked him a question. He said, "Aku ki wong Londo."

    Comment on chapter 13. Rumah II
  • papah.al

    Menarik
    Selalu penasaran kedepannya

    Comment on chapter Prolog
  • baba

    Ceritanya mindblowing ya ..

    Comment on chapter 6. Semut pun Bisa Menggigit
  • guardian angel

    Prolognya menarik.

    Comment on chapter Prolog
  • guardian angel

    Mulai seru... hacker perempuan keren bgt!

    Comment on chapter 1. Kekecewaan Menghentak
Similar Tags
Premium
Sepasang Mata di Balik Sakura (Complete)
15759      2595     0     
Romance
Dosakah Aku... Jika aku menyukai seorang lelaki yang tak seiman denganku? Dosakah Aku... Jika aku mencintai seorang lelaki yang bahkan tak pernah mengenal-Mu? Jika benar ini dosa... Mengapa? Engkau izinkan mata ini bertemu dengannya Mengapa? Engkau izinkan jantung ini menderu dengan kerasnya Mengapa? Engkau izinkan darah ini mengalir dengan kencangnya Mengapa? Kau biarkan cinta ini da...
From You
452      326     4     
Romance
Hanna George, hanyalah seorang wanita biasa berumur 25 tahun yang amat cantik. Ia bekerja sebagai HRD di suatu perusahaan. Hanna sudah menikah namun di saat yang bersamaan ia akan bercerai. Di tengah hiruk pikuknya perceraian yang berakhir dengan damai—mungkin, Hanna menyempatkan diri untuk pergi ke sebuah bar yang cukup terkenal. Di sanalah Hanna berada. Dalam ruang lingkup dunia malam, ber...
ISTRI DADAKAN
835      555     3     
Romance
Orang sering bertanya, kapan aku akan menikah. kujawab "Sudah." Kupikir ini selesai saat orangtuaku ingin tahu bagaimana sih bentuk isteriku itu. Kujawab "Iya, nanti Mam," aku kelimpungan sendiri. ditanya sejak kapan kujawab saja setahun yang lalu. Eh gak tahunya KTP dimintain sebagai tanda bukti. Kubilang saja masih proses. Sialnya lagi karena aku belum menikah ayah mengaju...
Accidentally in Love!
475      322     1     
Romance
Lelaki itu benar-benar gila! Bagaimana dia bisa mengumumkan pernikahan kami? Berpacaran dengannya pun aku tak pernah. Terkutuklah kau Andreas! - Christina Adriani Gadis bodoh! Berpura-pura tegar menyaksikan pertunangan mantan kekasihmu yang berselingkuh, lalu menangis di belakangnya? Kenapa semua wanita tak pernah mengandalkan akal sehatnya? Akan kutunjukkan pada gadis ini bagaimana cara...
LUCID DREAM
681      494     0     
Short Story
aku bertemu dengan orang yang misterius selalu hadir di mimpi walapun aku tidak kenal dengannya. aku berharap aku bisa kenal dia dan dia akan menjadi prioritas utama bagi hidupku.
Last Hour of Spring
1579      845     56     
Romance
Kim Hae-Jin, pemuda introvert yang memiliki trauma masa lalu dengan keluarganya tidak sengaja bertemu dengan Song Yoo-Jung, gadis jenius yang berkepribadian sama sepertinya. Tapi ada yang aneh dengan gadis itu. Gadis itu mengidap penyakit yang tak biasa, ALS. Anehnya lagi, ia bertindak seperti orang sehat lainnya. Bahkan gadis itu tidak seperti orang sakit dan memiliki daya juang yang tinggi.
START
350      243     2     
Romance
Meskipun ini mengambil tema jodoh-jodohan atau pernikahan (Bohong, belum tentu nikah karena masih wacana. Hahahaha) Tapi tenang saja ini bukan 18+ 😂 apalagi 21+😆 semuanya bisa baca kok...🥰 Sudah seperti agenda rutin sang Ayah setiap kali jam dinding menunjukan pukul 22.00 Wib malam. Begitupun juga Ananda yang masuk mengendap-ngendap masuk kedalam rumah. Namun kali berbeda ketika An...
Si Cabai Nakal
574      384     5     
Short Story
Kira-kira, kenapa ya disebutnya si Cabai Nakal? Apakah ini berkisah tentang seonggok cabai?
The Snow That Slowly Melts
6280      3121     6     
Romance
Musim salju selalu membuat Minhyuk melarikan diri ke negara tropis. Ingatan-ingatan buruk di musim salju 5 tahun yang lalu, membuatnya tidak nyaman di musim salju. Sudah 5 tahun berlalu, Minhyuk selalu sendirian pergi ke negara tropis sambil menunggu musim salju di Korea selesai. Setidaknya itu yang selalu ia lakukan, sampai tahun ini secara kebetulan dia mengenal seorang dokter fellow yang b...
Katakan saja!!
221      205     1     
Short Story
Gadis yg menyukai seorang lelaki namun tidak berani mengungkapkan perasaan ny karna dia laki-laki yg sangat lah disukai oleh banyak wanita.namun tak disangka laki-laki ini juga menyukai gadis in karna dia sangat lah berbeda dengan gadis yg selama ini di kenal Hari hari mereka jalani dengan canggung. Dan akhirnya laki laki ini mengungkap kan isi hatinya pada gadis ituu. Bagaimana kisah ny ayo ba...