Siang itu, kantor RumahWaktu lebih semarak dari biasanya. Salah satu staf marketing, Bapak Wibowo, membagikan nasi kotak karena baru mengakikahkan anaknya. Dengan hati riang, Tobi dan Suci membawa nasi kotak mereka untuk makan bersama di bangku panjang pojok kantor.
“Aseekkk… uang makan irit, perbaikan gizi!” Tobi cengengesan senang. Keduanya duduk berdampingan, membuka nasi kotak masing-masing.
“Yah… tumis buncisnya pakai udang,” Suci menekuk wajah, kecewa.
“Yaudah sini buat gue, lu alergi ya?” Tobi mengambilnya dengan senang hati, memindahkannya ke dalam kotak nasinya.
“Iya, gue bisa pingsan kalau makan udang, sesak napas,” Suci mengungkapkan terang-terangan.
Anya yang mendengar obrolan mereka dari jauh, mendapatkan ide licik untuk kembali mengganggu Suci.
Fabian muncul di sebelah Suci yang sedang makan. “Enak ya? Makanan akikah kayak gimana sih?” tanya pemuda Amsterdam itu penasaran.
“Ya begini, banyak olahan daging kambing. Akikah kan potong kambing,” Suci menjelaskan. “Kamu belum pernah coba ya?”
Fabian menggeleng.
“Loh, Pak Fabian nggak dapat?” tanya Tobi sambil menoleh. Fabian menggeleng. “Kasihan. Nih, coba aja sate punya saya,” Tobi membagi setusuk satenya.
“Ini aja nih, buat kamu.” Suci yang lebih dekat ikut menjulurkan setusuk sate.
Fabian menatap Suci, tertegun. “Nggak apa-apa?” tanyanya sungkan.
“Nggak apa-apa, ini masih banyak.” Suci menenangkan.
Tanpa diduga Fabian langsung menggigit sate dari genggaman Suci, seakan disuapi. Jantung Suci terperanjat karenanya.
“Enak ya ternyata daging kambing disate, terima kasih loh!” ucap pemuda tampan itu dengan senyum cerah.
“Maksudnya… ambil aja setusuk. Nggak apa-apa,” Suci menjulurkan setusuk sate, meski wajahnya sedikit merona.
Fabian baru paham. Ia mengambil tusukan sate dari tangan Suci, lalu membawanya untuk dihabiskan. Suci cengengesan senang.
“O iya, sebenanya aku mau pinjam Suci sebentar, boleh? Laptopku bermasalah lagi,” Fabian mengutarakan niatnya.
“Oh ya? Kenapa lagi?” Suci menanyakan heran.
“Layarnya terbalik,” Fabian garuk-garuk kepala. “Padahal cuma ditinggal sebentar, didudukin kucing tadi.”
Suci tertawa, “Kok bisa didudukin kucing?”
“Karena hangat, kayaknya. Ya nggak tahu, tanya aja sama kucingnya,” Fabian bingung. Responnya membuat Suci semakin tertawa renyah.
“Kalau begitu aku tunggu di mejaku ya, Ci, selesaikan aja dulu makanmu. Aku santai kok!” Fabian berpesan.
“Control, alt, atas, Pak!” Suci berseru.
“Apa?” Fabian bingung.
“Bapak coba aja sendiri, supaya bisa. Tekan bersamaan tombol control, alt, tanda keatas,” gadis itu mengulang.
“Oh oke!” Fabian mengangguk. “Terima kasih ilmunya, Ci.”
Niatnya untuk membuat Suci mendatangi laptopnya dipatahkan. Ah, masih ada lain kali, justru aneh kalau aku terlalu memaksa, pikirnya santai.
Tougo yang tak sengaja melihat adegan itu merasa sedikit terganggu. Ada rasa janggal di hatinya. Ia merasa tersisih, padahal dulu Suci tertawa begitu hanya saat bersamanya.
Tougo teringat pemandangan tadi. Suci tertawa kecil bersama Tobi dan Fabian, berbagi sate. Sorot mata Suci terang, tak lagi sekaku dulu saat berbicara dengan pria lain.
Tougo menggenggam erat cangkirnya. Sejak kapan tawa itu bukan buatku lagi?
Seminggu belakangan, ia selalu menemukan dirinya menunggu momen seperti dulu: ketika Suci masih menyapanya lebih dulu, tanpa diminta membawakan kopi, atau sekadar duduk bersamanya saat makan siang.
Kini Suci bahkan tak menatapnya lebih dari tiga detik. Jawabannya selalu singkat, hangatnya… hilang.
Tougo berjalan mendekati Suci di ruang pantry yang sedang asyik mencuci piring. “Eh, kamu… udah makan?” tanyanya datar, sambil berlagak membuat kopi.
Suci menoleh dengan senyuman, lalu pudar begitu sadar siapa yang bertanya. “Udah kok, makasih,” lalu kembali ke kesibukannya.
Tougo tercekat, “Kenapa sekarang kayak orang lain, Ci?” dengan suara lebih pelan ia menambahkan, “Dulu kamu selalu bilang lapar kalau aku tanya begitu.”
Suci berhenti membilas gelas. Sorot matanya menegang sejenak, tapi tak menoleh. “Dulu kamu juga nggak seperti sekarang.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang Tougo duga. Ia mundur selangkah, menelan ludah.
Jangan bilang… dia beneran suka sama Fabian? pikirannya berisik. Ia melihat Fabian muncul dari pintu pantry, melirik ke arah mereka. Suci buru-buru mengalihkan pandang dan melanjutkan mencuci perabotan.
Tougo mendengus dalam hati. Kamu beneran bisa lepasin aku, Ci? Padahal kamu satu-satunya yang selalu terima aku sejak dulu.
Dan untuk pertama kalinya, Tougo merasa bukan lagi pusat dunia Suci, dan itu terasa menyesakkan.
-oOo-
Di siang hari yang sibuk, Anya sengaja menaruh bekal siomay di pantry untuk semua petugas fasilitas kantor, sengaja mengandung udang yang dihaluskan—bahan pemicu alergi Suci. Ia tahu Suci sering mencari camilan setelah lelah.
“Ini ada siomay ikan tenggiri asli dari vendor katering, bagikan ke rekan kalian ya. Bumbunya ada di plastiknya,” Anya berpesan kepada Dina, petugas Asisten Umum Kantor yang terlihat di pantry, menunjuk ke arah kontainer makanan besar tertutup rapat berisi buntalan siomay yang tampak lezat.
“Wah terima kasih, Bu. Baik banget Bu Anya!” Dina tersenyum menyanggupi. Dan kabar itu menyebar jauh lebih cepat daripada gosip infotainment.
“Ci, kata Dina, ada siomay enak tuh di pantry. Dari ikan tenggiri asli!” Tobi menginformasikan.
“Lu ambil duluan aja, gue masih mau tuntasin ini,” Suci masih asyik menyapu ruang tengah kantor.
“Yaudah, gue ambilin buat lu ya!” Tobi berinisiatif. Beberapa lama kemudian, Tobi membawa siomay berlumur saus kacang satu piring untuk Suci. “Enak banget Ci, tadi udah gue makan di pantry. Rasanya mahal gitu,” Tobi menaruh porsi Suci itu di meja tak jauh dari sana. “Oh iya, minumnya belum ya, sebentar!” Tobi kembali ke pantry, sementara Suci tertarik mencoba siomay itu. Ia duduk di bangku dekat meja dan mencobanya gigitan demi gigitan.
Anya yang sejak tadi mengintainya segera muncul, “Suci, tolong ambilin berkas blueprint proyek Adiwarna bulan kemarin di gudang arsip. Butuh cepat!” pintanya dengan maksud terselubung.
Suci segera meninggalkan siomaynya; ia bahkan belum sempat minum. Ia menuju ruang arsip yang sepi, tak sadar Anya mengikutinya dan mengunci pintu. Ruang arsip adalah tempat yang jarang dikunjungi orang lain. Anya menyeringai senang, jebakannya berhasil. Suci akan menderita sendiri di dalamnya.
Sementara Suci mulai menyadari reaksi alergi yang datang. Ia merasa pusing, gatal di tenggorokan, dan kulitnya memerah. Ia berusaha membuka pintu, namun tak berhasil. Ia berseru meminta tolong. Pasalnya tanpa obat penawarnya, Suci bisa sulit bernapas. Ah, aku masuk jebakan! pikir Suci menyesali.
Saat Tobi kembali ke tempat Suci tadi, ia tak menemukan gadis itu, hanya ada siomay yang sudah dimakan setengah. “Ke mana sih anak itu? Bukannya tuntasin makan dulu,” keluhnya sambil membawa bekas makannya ke pantry untuk dibereskan. Ia menyadari sedikit kejanggalan. Tak biasanya Suci meninggalkan makanannya begitu saja jika tidak ada yang menginterupsinya, apalagi tanpa minum dulu. Firasatnya tak enak, ia segera melesat mencari Suci.
-oOo-
Hari sudah menjelang sore, Tobi tak kunjung menemukan Suci. Fabian melangkah menuju ruang arsip untuk mencari properti desain lama. Ia mendengar suara ketukan pelan dari dalam; saat berusaha membuka pintu, pintunya terkunci. Tepat saat itu, Tobi muncul di dekatnya, tampak tergesa-gesa.
“Tob, tolong minta kunci cadangan ruang arsip. Ada orang terkunci di dalam!” Fabian meminta bantuan.
“Kebetulan Suci hilang. Saya cari dari tadi nggak ketemu, mungkin itu dia!” Tobi segera mencari Pak Suryono, kepala keamanan, sementara Fabian tetap di depan pintu.
“Fa… bian?” terdengar bisikan lirih dari balik pintu.
“Tenang ya, Suci, ini Fabian. Kamu udah aman, kuncinya sedang diambil Tobi,” Fabian menyerukan dari luar, berusaha menenangkan.
Begitu Tobi muncul membawa kunci, mereka segera berusaha membuka pintu. Saat pintu terbuka, tampak Suci yang lemas mengetuk dengan sisa kesadarannya. Kondisinya sangat memprihatinkan: kulit ruam tak biasa, wajah pucat, napas tersengal-sengal, setengah sadar.
Tanpa pikir panjang, Fabian menggendongnya menuju mobil dinasnya. “Suci, bertahan! Kita ke UGD sekarang!” pekiknya. Tobi mengekor khawatir.
-oOo-
Di UGD sebuah rumah sakit terdekat, Suci terbaring tenang, selang infus menempel di tangan. Wajahnya pucat, tapi napasnya mulai stabil. Fabian duduk di sampingnya, memandangi Suci yang tak sadarkan diri, sementara Tobi berdiri.
“Maaf, tolong bantu urus administrasi rumah sakitnya dulu ya!” seorang perawat datang.
Tobi mengangguk lalu mengambil kartu identitas dari dalam dompet di tas Suci, sebelum menuju bagian administrasi.
Fabian memandang Suci dengan iba bercampur khawatir. Jantungnya hampir lepas dari sarangnya ketika melihat Suci terbaring lemas. Ada kecemasan mendalam untuk gadis ini, seolah ia sudah menempati tempat penting di hatinya. Fabian menumpukan keningnya ke kedua tangannya yang mengepal, duduk di bangku sebelah brankar pasien.
Matanya kemudian menangkap ponsel Suci di meja kecil di sisi ranjang.
Aku harus menghubungi keluarga Suci! Pikirnya. Dengan ragu ia mengambil ponsel itu, lalu menyentuhkan jari Suci yang belum sadar ke pemindai. Fabian hendak membuka kontak, namun sebuah notifikasi muncul :
Foxshell: Transfer to MidnightFox completed. Amount: € 58,900 confirmed.
Fabian mengernyitkan dahi. Foxshell, ini bukan aplikasi biasa.
Ia membuka cepat aplikasi tersebut. Ikon serigala dan rubah saling membelakangi, namun ia tercekal halaman permintaan login.
Pikiran Fabian melayang ke sebuah unggahan viral akun X yang ia baca semalam. Robinhoodie, akun yang mendukung hacker lokal membongkar kebusukan pemerintah.
Akun @robinhoodie:
“Data ini didapat dari Mr. Wolf dan MidnightFox. Salute ke mereka, duo hacker yang bantu ungkap penggelapan dana publik ratusan milyar oleh oknum swasta dan pemerintah. Pahlawan kita.”
Wajah Fabian menegang. MidnightFox, Guardian Angel, Suci?!
Ingatannya melintas pada malam itu, di kantor RumahWaktu. Suci berpapasan dengannya, tepat saat Guardian Angel datang untuk memberikan bukti kecurangan PT Sentani Jaya. Dan kini Suci terindikasi seorang MidnightFox. Jika itu benar, maka ini menjelaskan semuanya.
Sebelum Fabian membuka lebih jauh, Tobi muncul dan merampas ponsel Suci dari tangannya kasar. “Nggak sopan buka-buka HP orang tanpa izin!” katanya dengan nada dingin, matanya menatap tajam.
“Aku cuma mau hubungi keluarganya,” Fabian menjelaskan.
“Udah, biar saya yang urus.” Tobi memasukkan ponsel Suci ke kantongnya, Fabian terdiam.
“Kamu dekat banget ya sama Suci?” Fabian memastikan dengan tatapan penuh selidik.
“Bisa dibilang begitu,” respons Tobi tanpa menatap.
“Orang yang kelihatan polos, bisa punya sisi mengejutkan ya ternyata,” Fabian bergumam, mengecek reaksinya.
Tobi menatap Fabian, senyumnya tipis tapi waspada. “Begitu juga sebaliknya, Pak Fabian.”
Mereka saling menatap, ketegangan menggantung di udara.
-oOo-
Kabar mengenai Suci sampai ke telinga Nyonya Widuri melalui pihak rumah sakit. Ia yang menjemput Suci di rumah sakit demi merawatnya di rumahnya.
“Ya ampun, Suci, siapa lagi yang mencelakai kamu? Anya lagi?” Widuri geram.
Suci mengangkat bahu santai. “Nggak tahu Nek, aku cuma alergi karena makan siomay yang ada di pantry. Kukira dari ikan tenggiri.”
“Tobi, teman kamu yang tadi, bilang siomay itu dari Anya. Tobi bilang, Anya yang minta kunci ruang arsip itu ke security.” Widuri memberitahukan. “Maafkan Nenek ya, Suci, nggak awasi Anya. Cucu Nenek jadi keterlaluan.”
“Nggak, salah saya juga nggak hati-hati.” Suci tidak tega melihat Widuri menyalahkan diri sendiri.
“Begini aja, kamu tinggal di rumah Nenek dulu sampai benar-benar sehat. Sementara saya mengurus pemindahan posisimu di kantor, agar kamu semakin dihargai. Jadi Anya berpikir seribu kali kalau mau mengganggumu lagi.” Widuri menawarkan. “Kebetulan sebentar lagi saya berulang tahun yang ke-65, kamu temani saya di perayaannya ya, Suci!” pintanya.
“Baik, Nek,” Suci menyetujui, dalam hati puas bahwa semua berjalan lebih mulus dari rencananya. Perayaan ulang tahun ke-65 Widuri Grace Sentani pasti menjadi hari spesial di keluarga Sentani. Bisa dipastikan dihadiri oleh keluarga besar Sentani, termasuk Anya, dan mungkin juga Tougo.
“Tapi saya mau izin ke kontrakan dulu ya, Nek. Mau ambil laptop dan pakaian ganti.”
“Padahal kamu bisa beli aja yang baru, saya belikan.” Widuri mencetuskan.
Suci tersenyum. “Ini bukan soal harga, Nek. Mungkin pakaian bisa diganti yang baru, tapi laptop saya lebih bernilai dari harganya.”
“Ya sudah, tapi langsung kembali ke sini ya setelah ambil barangmu. Kalau badan kamu sudah pulih, kita langsung shopping, siap-siap untuk acara perayaan ulang tahun Nenek, ada Anya juga di sana nanti,” Widuri berpesan.
Suci diam-diam menyeringai. Ulang tahun Widuri, itu akan menjadi saat yang tepat untuk mengejutkan Anya dan mungkin juga Tougo. “Oke Nek, aku nurut aja,” katanya penuh rencana. Ia ingin menunjukkan diri untuk pertama kalinya di pesta itu, sebagai orang kepercayaan Nyonya Widuri. Dengan begitu seluruh anggota keluarga Sentani akan segan kepadanya.
-oOo-
Tougo mendatangi Anya dengan wajah geram.
“Anya, kamu tahu, Suci dibawa ke rumah sakit. Ulahmu ya?” ia mengonfirmasi.
“Kalau iya, kenapa?” Anya menjawab santai.
“Aku udah bilang kan, jangan keterlaluan!” Tougo meledakkan kemarahannya. “Kamu sampai sakitin fisiknya, kamu sejahat ini ya?”
“Kenapa sih kamu care banget sama Suci? Sana jadian aja kalau memang suka!” Anya menolak disalahkan.
“Dia itu masih temanku. Orang tuanya dekat dengan orang tuaku! Kamu nggak mikir ya? Aku yang bisa kena disalahkan!” Tougo membentak Anya, membuat Anya terkesiap.
“Bodo!” Anya melarikan diri, ia terkejut Tougo berani membentaknya. Walaupun Tougo menempati jabatan lebih tinggi, Anya masih merasa status sosialnya lebih tinggi dibanding pria itu, karena ia berasal dari keluarga Sentani yang terpandang sejak dulu. Meski kondisi keuangan keluarga Anya bermasalah, kepongahannya tidak luntur.
serenarara 













Adik cowokku lulusan IT. Katanya, gajinya dua puluh juta, tapi aku nggak percaya. Soalnya, ada tante2 yg bilang kalo gaji anaknya yg IT 75 juta.
Comment on chapter 15. Menunjukkan Taji