Loading...
Logo TinLit
Read Story - Semesta Berbicara
MENU
About Us  

Vinda melangkah segan memasuki gedung perusahaan Naratama. Berhubung Fabian sedang di Jakarta, ia harus menggantikannya. Ia melangkah gugup sekaligus senang; setidaknya ia bisa bertemu Anjar, bos perusahaan yang telah dikenalnya. Belakangan ini pria itu sering mengiriminya pesan, hingga mereka terus berbalas pesan. Ia sudah lama tidak bertemu dengan pria Jawa manis itu.

“Mau bertemu dengan siapa?” seorang resepsionis bertanya.

“Dengan Pak Anjar, sudah buat janji. Saya Vinda, dari RumahWaktu,” Vinda memberitahukan.

“Oh sebentar,” resepsionis itu bicara singkat di telepon. “Silakan langsung masuk ke ruang Direktur Utama, lantai 5.”

“Baik, terima kasih!” Vinda menurut. Sambil berjalan, ia mengamati kantor yang mewah dan modern ini, berbeda sekali dengan kantornya yang terkesan rumahan.

Perusahaan Anjar maju juga. Dia Bos besar, tapi sikap tengilnya sering bikin lupa kalau dia Bos sih, pikirnya sambil mengulum senyum dalam perjalanan ke lift.

Saat pintu lift terbuka, ia masuk. Sesampainya di lantai lima, ia mencari ruang bertuliskan Direktur Utama. Ia mengetuk tiga kali.

“Masuk!” sahut seseorang dari dalam.

Vinda mempersiapkan hati, menenangkan debaran jantungnya. Pintu dibuka, ia melangkah dengan mode profesional. Anjar tampak berwibawa di balik jas kerjanya, duduk di balik meja kerjanya yang kokoh dan berkelas.

“Pak Anjar, saya membawa file dokumen proyek kita, serta blueprint rancangan terakhir sesuai pesan Fabian,” Vinda menjulurkan map ke tangan Anjar.

“Silakan duduk!” Anjar menunjuk bangku di depan mejanya. Vinda menurut, sementara Anjar membolak-balik mapnya. “Sudah lengkap semua ya,” bos muda itu mengomentari, sambil masih memerhatikan halaman demi halaman. Ia tampak fokus dan serius.

Situasi hening ini membuat Vinda canggung. Anjar tampak berbeda dari pesan yang sering dikirimkannya. Di sini ia terkesan sangat berkharisma dan serius.

“Kenapa Vin?” Anjar melirik wajah Vinda yang menatap lekat wajahnya sejak tadi.

“Oh nggak… kamu ternyata aslinya serius ya,” Vinda mencari penjelasan.

“Ya kalau mode kerja aku begini,” Anjar tersenyum manis, paham keterkejutannya. Ia menutup map untuk menatap gadis itu lekat-lekat. “Tapi kalau kerjaan udah selesai, aku bisa balik tengil lagi.”

Vinda hanya mengangguk sambil melihat ke arah lain, malu diperhatikan mata indah itu.

Sesaat, ia melihat buku tebal di rak belakang Anjar jatuh, nyaris menimpa pria itu. Refleks ia berdiri, menjadikan tubuhnya tameng, dan kepalanya pun tertimpa buku.

Anjar terkejut karena kejadiannya terlalu cepat. “Vinda, are you okay?” ia menarik Vinda ke sofa untuk mengecek kepalanya. Beruntung tidak ada luka.

“Nggak apa-apa, yang penting kamu nggak kena, kan?” Vinda masih tersenyum.

Anjar tertegun. Baru saja tubuh mungil itu melindunginya, seolah keselamatannya tak berarti asal dirinya selamat.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, seseorang—perempuan—menjadi tameng untuknya.

Detik itu, Anjar tahu, ia sudah kalah telak.

“Vinda…” suaranya pelan, hampir tidak terdengar. “Nggak usah sampai begitu ke aku. Aku laki-laki loh.”

Tapi matanya menatap lama, seolah ingin mengucapkan sesuatu yang belum sempat terucap.

“Ya maaf, tadi… refleks,” Vinda malu sendiri.

“Terima kasih ya, barusan kamu selamatkan aku,” Anjar berkata tulus, ia merasa sangat berutang pada gadis itu. “Sebenarnya ada yang cemburu ke kamu.”

“Hah, siapa?” Vinda celingak-celinguk bingung, sebab sepenglihatannya tidak ada orang lain di ruangan ini.

“Bukan orang,” jawaban Anjar yang lugas itu membuatnya teringat perbincangan Anjar dan Fabian sebelumnya di ruang rapat kantornya.

Jadi benar dia bisa lihat yang nggak terlihat? Vinda mengatupkan mulutnya yang terperangah.

 

-oOo-

 

Sementara di kantor RumahWaktu, Anya menghabiskan waktu makan siang di ruang kerja Tougo. Ia bersandar ke bahu pacarnya sambil memainkan ponselnya.

“Hun, memang benar Suci dari keluarga yang biasa aja?” ia memerhatikan video Suci dengan seorang pria bergaya eksekutif muda yang gagah di ponselnya. Dikirim beberapa waktu lalu oleh orang yang dibayarnya untuk mengintai Suci. Keduanya tampak bercanda akrab di warung soto mi, pria itu bahkan mengelus kepala Suci dengan gestur sayang.

“Iya, orangtuanya cuma punya usaha minuman, UMKM gitu,” Tougo menjawab sepengetahuannya. Ia tidak mengetahui kabar terbaru keluarga Suci. Padahal setelah Tougo pindah ke Bogor, perusahaan minuman keluarga Suci di Jakarta telah berkembang menjadi perusahaan raksasa.

Anya menyeringai. “Bagus!” ia segera menyebarkan video itu ke grup perusahaan, membubuhkan caption yang menggiring opini bahwa Suci adalah pemanjat sosial yang menggoda pria mapan. Dengan Suci dan Fabian yang belakangan tak terlihat di kantor. Anya bebas menyebar isu negatif, berharap semua memandang Suci buruk, bahkan hingga kena sanksi.

 

-oOo-

 

Suci bangun sangat pagi, hari ini ia ingin melanjutkan niatnya memperkenalkan ragam jajanan pasar kepada Fabian. Apalagi dengan kehadiran pria Belanda itu di rumahnya, ia tidak boleh terlihat malas. Ia mandi saat langit masih gelap, mengenakan celana berwarna mustard dan kaos berlengan panjang berwarna hijau lime. Lalu segera berburu kuetradisional yang biasa dijajakan di lapak pagi hari.

Begitu kembali, ia membawa satu kotak food container yang penuh kue-kue tradisional.

“Apaan tuh?” Surya sudah rapi dengan pakaian kerjanya, ia duduk di bangku depan meja makan.

“Kue jajanan pasar, supaya Fabian coba,” Suci menjelaskan. “Nih Kak, aku beliin nasi kuning juga buat sarapan,” ia menaruh satu bungkusan ke depan Surya.

“Ih baik banget Adek gue!” Surya kesenangan, ia segera berdiri mengambil piring dan alat makan.

“Tapi Kak, gue mau minta tolong, ceritain dong semua hal tentang Akasia,” Suci menyuarakan keinginannya dengan senyum tengil.

“Lu pengin kenal dia?” tebak Surya. “Gue sih nggak terlalu kenal, tanya aja ke Fabian yang sahabatnya, minta kenalin langsung!” responnya tak peka.

Suci menepuk jidatnya gemas; justru ia ingin mencari tahu diam-diam di belakang Fabian, sebagai amunisi untuk mendapatkan hati pria Belanda itu. Ia ingin tahu wanita seperti apa yang sangat berkesan dalam hidup Fabian.

“Tuh Fabian, Fabian sini! Adik gue mau kenalan sama Akasia katanya,” tanpa dinyana, Surya memanggil Fabian yang baru muncul mendekati meja makan. Suci gelagapan, mengibas-ngibaskan tangannya, mengelak dari ucapan Surya.

Suci kemudian duduk dengan pasrah sambil menutup wajahnya, malu. Sementara Fabian yang awalnya bingung, duduk di sebelahnya, menatap gadis itu seolah paham.

“Boleh, aku kenalin,” jawaban Fabian semakin membuat Suci panik.

“Nggak usah, Kak Surya cuma asal ngomong!” Suci membatalkan.

“Nggak apa-apa, yuk ketemuan sama orangnya hari ini!” ajak Fabian.

“Hah, hari ini?” Suci gelagapan. “Dia… nggak kerja? Nggak usah, ganggu nanti,” ia ingin sekali kabur dari rencana ini. Ia pasti canggung jika menemui Akasia bersama Fabian.

“Nggak masalah, kan dia yang punya kerjaan. Dia nyonya besarnya,” Fabian menjawab santai sambil mengetik pesan di ponselnya. Fabian puas setelah mendapat balasan. “Yup, pukul sebelas hari ini, kita ke dekat kantornya. Makan bareng.”

Suci semakin kelabakan. “Harus hari ini, Fab? Aduh…”

“Ayo deh. Kamu temani aku ya!” kali ini permintaan Fabian itu diiringi senyum indahnya yang melenakan.

Okay…” Suci terpikat lagi. Merasa lemah dengan senyumnya. “Ini, makan dulu,” ia menyodorkan food container yang sudah dipersiapkannya.

“Apa ini?” Fabian terkejut.

“Setoran jajanan pasar untuk hari ini. Ada kue lumpur, onde-onde, kue cucur, dan kue lapis,” Suci menerangkan malu-malu.

“Wah, terima kasih!” Fabian jadi ingat, gadis ini sebelumnya juga kerap memberi kue tradisional semacam ini ke mejanya. “I’ll appreciate it!” ucapnya penuh syukur.

Suci tersenyum, “I’ll be pleased if you like it,” ia spontan menutup mulutnya, baru sadar ucapannya tadi beraksen British kental.

Ah, pasti terpengaruh kuliah online nih! benaknya maklum, masalahnya ia tidak ingin ketahuan berkuliah jarak jauh di London University, tidak sekarang. Ia bisa melihat keterkejutan Fabian dari dahinya yang mengernyit dan wajahnya yang terperangah.

“Maaf, keseringan nonton serial Lockwood & Co, jadi terbawa,” ia memberi alasan yang masuk akal.

OkayCool!” Fabian tertawa kecil melihat kepanikan Suci yang tadi sempat gelagapan. 

Aksen Britishnya bagus banget, kok bisa? Memang bisa ya menonton film bikin kita punya logat? pikirnya heran.

 

-oOo-

 

Siang ini Suci mengiringi Fabian ke sebuah restoran Padang yang cukup luas. Mereka memesan jus dan soto Padang sambil menunggu wanita yang membuat Suci penasaran setengah mati: Akasia.

Saat Suci dan Fabian sedang asyik menikmati makan siang, datang seorang gadis cantik berpenampilan anggun dengan blazer hitam dan rok khaki, terkesan eksekutif.

“Fabian, lang niet gezien (sudah lama nggak ketemu)!” sapanya sambil menawarkan high five ke arah Fabian.

Jij ziet er steeds mooier uit, maakt het huwelijk je zo gelukkig (Kamu terlihat tambah cantik, apa menikah sebahagia itu)?” Fabian membalas high five-nya.

Akasia baru menyadari kehadiran Suci di sebelah Fabian, lalu tersenyum tengil. “Itu siapa, Fab?”

“Kenalkan, ini Suci. Suci, ini Akasia,” Fabian memperkenalkan keduanya.

“Aku… rekan kerja Fabian,” Suci bicara, sedikit rendah diri melihat penampilan Akasia yang dewasa dan tampak akrab dengan Fabian, jauh melebihinya.

“Hai Suci, Fabian nih nggak bilang, bawa cewek!” Akasia duduk di hadapan Fabian, menepuk sahabatnya itu.

“Aku kebetulan ke Jakarta, karena klienku ini,” Fabian menunjuk Suci.

“Oh jadi kamu kliennya juga?” Akasia mengangguk paham. “Suci, Fabian gimana kerjanya sama kamu? Kalau dia ngeselin, tabok aja ya! Aku dukung kok.”

“Enak aja, aku pekerja yang baik dan profesional tau!” Fabian membantah.

Suci memerhatikan interaksi mereka. Tatapan Fabian tidak bisa lepas dari wajah Akasia, meskipun obrolan mereka terdengar kasual. Tampak sekali bahwa dulu Wanita itu adalah medan magnetik yang menariknya. Ada rasa perih di relung hatinya, nelangsa dalam diamnya yang merasa tersisih. Akasia dan Fabian terus saling meledek, hingga Akasia menyadari ekspresi Suci.

“Aduh maaf, Suci. Sampai lupa ajak kamu ngobrol,” Akasia merasa bersalah. Ia sejenak memesan soto Padang sebelum menghadap Suci lagi. “Jadi kamu udah berapa lama kerja bareng Fabian?”

“Aku kerja di RumahWaktu sudah 3 tahun, Fabian baru masuk tahun kemarin, Kak,” Suci memberitahu.

“Aduh dipanggil Kakak, jadi senang. Kamu imut deh!” Akasia cengengesan.

“Terima kasih. Kakak cantik banget,” Suci tidak bisa berbohong. Gadis berambut panjang di depannya memang memikat, tidak heran Fabian tidak bisa melepaskan pandangannya.

Fabian kerap mengajak Akasia bernostalgia, membicarakan pengalaman kuliah mereka di Amsterdam yang tidak Suci mengerti. Seolah menegaskan garis batasan Suci sebagai orang luar. Fabian orang yang cerdas; ia pasti sengaja melakukan ini dengan satu tujuan.

Ini semacam penolakan untuk aku ya? Dia pasti ingin aku sadar posisiku, Suci menunduk, bisa mengerti makna di balik sikapnya. Meski hatinya berdenyit sakit, ia menahannya. Ia tidak ingin menyerah. Lagipula Akasia sudah menikah, Fabian memang harus melangkah maju demi kebaikannya sendiri. Dan Suci bertekad akan membantunya memulihkan hati, meski bagaimanapun respons Fabian.

 Akasia merasa bersalah kepada Suci, ia berusaha keras mengikutsertakannya dalam pembicaraan. Namun Fabian seperti sengaja menyingkirkan Suci dari obrolan, kembali membahas kenangan mereka di Amsterdam. Fabian tersenyum, tapi sikapnya menghujam hati Suci. Hingga kemudian Suci melihat seseorang yang ia kenal mendekat.

“Hai Kas! Sama siapa nih?” wanita itu menepuk Akasia akrab.

“Kak… Dinia?” Suci melongo. Di hadapannya adalah Dinia, programmer wanita yang terpandang karena sepak terjangnya di bisnis pembuatan software. Ia banyak menghasilkan perangkat lunak lokal yang menjadi kebanggaan perusahaannya, Random Walk. Suci juga tahu, Dinia adalah salah satu pengembang forum programming yang diikutinya dan mempertemukannya dengan Mr. Wolf, forum NerdNode.

“Selamat siang, Kak Dinia! Saya Suci, penggemar Anda. Saya boleh minta foto?” Suci langsung melupakan Akasia dan Fabian, menghampiri Dinia dengan ponsel di tangannya.

“Oh, iya boleh,” perempuan supel itu dengan senang hati merangkul Suci saat berfoto bersama.

“Aku IT Support Specialist di perusahaan RumahWaktu. Aku juga anggota forum NerdNode. Aku suka ngoprek sistem.”

“Oh ya?” mata Dinia berbinar menemukan gadis yang serupa minat dengannya itu. “Di forum, username-mu apa?”

Pertanyaan itu membuat Suci terpaku, ia tidak mungkin bilang username-nya MidnightFox di hadapan Fabian dan Akasia. “Nanti aja aku kasih tahu,” bisik Suci.

“Oh okay,” Dinia maklum. Banyak programmer yang hidupnya misterius dan perlu privasi. “Kamu keren banget, perempuan, masih muda tertarik ngoprek sistem.”

“Iya, aku terinspirasi sama Kakak. Sudah hobi sejak SMA,” Suci menceritakan sejujurnya.

Dinia tersanjung, “Wah, cocok nih kita. Minta nomornya deh, siapa tahu bisa diajak ke timku.”

Suci tertegun, itu undangan kehormatan baginya mengingat perusahaan Random Walk adalah penghasil teknologi yang paling maju saat ini. “Tapi aku sudah kerja, Kak,” Suci teringat realitanya.

It’s okay, buat ngobrol aja. Boleh?” Dinia membujuk.

“Boleh banget, Kak!” Suci dengan riang memberitahunya.

Fabian menatap Suci yang berbincang seru dengan Dinia. Ia lega, gadis itu menemukan ketertarikannya sendiri. Sebelumnya ia sengaja menunjukkan kedekatannya dengan Akasia kepada Suci, menegaskan bahwa gadis itu tidak mengetahui apa pun tentangnya dibanding Akasia. Ia pikir Suci akan sedih lalu mundur. Ia harus tega, karena ia tidak mau gadis itu tahu belakangan, atau memberinya harapan palsu. Jika setelah ini Suci menghindarinya, ia akan paham; sikapnya memang kejam meskipun senyumnya mengembang.

“Suci, udah waktunya pulang,” Fabian mencolek Suci yang larut dalam obrolan bersama Dinia mengenai teknologi dan pemrograman.

Suci mengangguk dan bangkit. “Maaf Kak, kami pamit duluan.”

“Eh iya, waktu istirahat juga hampir habis nih!” Dinia pun tersadar Ia mengajak Akasia untuk kembali ke kantor mereka. Suci mengamati kebersamaan Dinia dan Akasia yang tampak bersahabat dekat.

“Terima kasih sudah datang ke sini. Nanti kita ngobrol lagi, ya!” Akasia melambaikan tangan.

Suci menyerahkan sebuah kertas terlipat kecil kepada Dinia. “Apa ini?” tanya Dinia bingung.

“Nama akunku di forum NerdNode. Tapi ini rahasia ya,” Suci membisikkan ke telinga seniornya itu, sebelum kembali ke sebelah Fabian.

Seiring Dinia dan Akasia berjalan menjauh, Dinia semakin penasaran dengan Suci dan kertas yang diberikannya.

Dinia membuka kertas kecil itu sambil berjalan. Hanya satu kata, ditulis dengan rapi: MidnightFox

Dinia teringat dengan sepak terjang seorang hacker lokal yang hasilnya sering dibagikan di media sosial.

Langkah Dinia terhenti. “Oh my… jadi dia?”

Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menoleh ke arah Suci yang jauh. Sosok mungil itu kini terasa berbeda.

Anak ini bukan cuma berbakatdia legenda.

Dinia menyeringai kecil. “Anak nakal satu ini…” gumamnya kagum.

Banyak yang tidak mengira bahwa sebenarnya Dinia dan suaminya, Endry, sang pendiri Random Walk, juga menekuni dunia hacking. Mereka hanya ingin beroperasi dalam hening. Dan kini Dinia menemukan Suci, bakat baru.

 

How do you feel about this chapter?

1 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (7)
  • juliartidewi

    Adik cowokku lulusan IT. Katanya, gajinya dua puluh juta, tapi aku nggak percaya. Soalnya, ada tante2 yg bilang kalo gaji anaknya yg IT 75 juta.

    Comment on chapter 15. Menunjukkan Taji
  • juliartidewi

    Adik perempuan saya juga lulusan arsitek.

    Comment on chapter 14. Perjalanan
  • juliartidewi

    I just remember when I was in university, I met a Dutch man. I thought he was one of my lecturers in English Language Study Program. I asked him a question. He said, "Aku ki wong Londo."

    Comment on chapter 13. Rumah II
  • papah.al

    Menarik
    Selalu penasaran kedepannya

    Comment on chapter Prolog
  • baba

    Ceritanya mindblowing ya ..

    Comment on chapter 6. Semut pun Bisa Menggigit
  • guardian angel

    Prolognya menarik.

    Comment on chapter Prolog
  • guardian angel

    Mulai seru... hacker perempuan keren bgt!

    Comment on chapter 1. Kekecewaan Menghentak
Similar Tags
BALTIC (Lost in Adventure)
5097      1904     9     
Romance
Traveling ke Eropa bagian Barat? Itu bukan lagi keinginan Sava yang belum terwujud. Mendapatkan beasiswa dan berhasil kuliah master di London? Itu keinginan Sava yang sudah menjadi kenyataan. Memiliki keluarga yang sangat menyanyanginya? Jangan ditanya, dia sudah dapatkan itu sejak kecil. Di usianya ke 25 tahun, ada dua keinginannya yang belum terkabul. 1. Menjelajah negara - negara Balti...
ALUSI
10476      2766     3     
Romance
Banyak orang memberikan identitas "bodoh" pada orang-orang yang rela tidak dicintai balik oleh orang yang mereka cintai. Jika seperti itu adanya lalu, identitas macam apa yang cocok untuk seseorang seperti Nhaya yang tidak hanya rela tidak dicintai, tetapi juga harus berjuang menghidupi orang yang ia cintai? Goblok? Idiot?! Gila?! Pada nyatanya ada banyak alur aneh tentang cinta yang t...
Sanguine
6293      2076     2     
Romance
Karala Wijaya merupakan siswi populer di sekolahnya. Ia memiliki semua hal yang diinginkan oleh setiap gadis di dunia. Terlahir dari keluarga kaya, menjadi vokalis band sekolah, memiliki banyak teman, serta pacar tampan incaran para gadis-gadis di sekolah. Ada satu hal yang sangat disukainya, she love being a popular. Bagi Lala, tidak ada yang lebih penting daripada menjadi pusat perhatian. Namun...
Help Me to Run Away
2922      1414     12     
Romance
Tisya lelah dengan kehidupan ini. Dia merasa sangat tertekan. Usianya masih muda, tapi dia sudah dihadapi dengan caci maki yang menggelitik psikologisnya. Bila saat ini ditanya, siapakah orang yang sangat dibencinya? Tisya pasti akan menjawab dengan lantang, Mama. Kalau ditanya lagi, profesi apa yang paling tidak ingin dilakukannya? Tisya akan berteriak dengan keras, Jadi artis. Dan bila diberi k...
Semu, Nawasena
13358      4286     4     
Romance
"Kita sama-sama mendambakan nawasena, masa depan yang cerah bagaikan senyuman mentari di hamparan bagasfora. Namun, si semu datang bak gerbang besar berduri, dan menjadi penghalang kebahagiaan di antara kita." Manusia adalah makhluk keji, bahkan lebih mengerikan daripada iblis. Memakan bangkai saudaranya sendiri bukanlah hal asing lagi bagi mereka. Mungkin sudah menjadi makanan favoritnya? ...
Secret Garden
364      309     0     
Romance
Bagi Rani, Bima yang kaya raya sangat sulit untuk digapai tangannya yang rapuh. Bagi Bima, Rani yang tegar dan terlahir dari keluarga sederhana sangat sulit untuk dia rengkuh. Tapi, apa jadinya kalau dua manusia berbeda kutub ini bertukar jiwa?
My Teaser Devil Prince
7041      1921     2     
Romance
Leonel Stevano._CEO tampan pemilik perusahaan Ternama. seorang yang nyaris sempurna. terlahir dan di besarkan dengan kemewahan sebagai pewaris di perusahaan Stevano corp, membuatnya menjadi pribadi yang dingin, angkuh dan arogan. Sorot matanya yang mengintimidasi membuatnya menjadi sosok yang di segani di kalangan masyarakat. Namun siapa sangka. Sosok nyaris sempurna sepertinya tidak pernah me...
Menyemai Cinta, Menuai Luka
268      31     1     
Romance
Awal mula kau bermanis Menjanjikan perjalanan kasih tanpa batas Menghidupi nyala romansa Tapi kau mengkhianatinya Memberi luka Dan menyesalinya dengan semena-mena Cinta kita terluka Tak seperti cinta mereka Yang utuh dan abadi Cinta kita hancur berkeping-keping Menyayat jiwa, mengiris sukma Tapi kau tak pernah tahu Dan tak pernah mau tahu Cinta kita sebatas kata Luka yang jadi ...
Si Cabai Nakal
575      385     5     
Short Story
Kira-kira, kenapa ya disebutnya si Cabai Nakal? Apakah ini berkisah tentang seonggok cabai?
The Snow That Slowly Melts
6325      3143     6     
Romance
Musim salju selalu membuat Minhyuk melarikan diri ke negara tropis. Ingatan-ingatan buruk di musim salju 5 tahun yang lalu, membuatnya tidak nyaman di musim salju. Sudah 5 tahun berlalu, Minhyuk selalu sendirian pergi ke negara tropis sambil menunggu musim salju di Korea selesai. Setidaknya itu yang selalu ia lakukan, sampai tahun ini secara kebetulan dia mengenal seorang dokter fellow yang b...