Loading...
Logo TinLit
Read Story - Semesta Berbicara
MENU
About Us  

Di bawah jam besar Stasiun Centraal, Fabian berdiri gelisah, jaket tipis membalut tubuh tegapnya, sepatu paling nyaman siap melangkah. Senyumnya merekah saat melihat Suci keluar dari trem, meski bayang duka tak sepenuhnya sirna dari matanya.

“Sok banget mau naik trem sendiri, padahal bisa bareng,” Fabian meledek.

“Biarin. Aku mau meresapi pengalaman ini, kayak pemeran utama di film,” Suci tersenyum tengil.

“Yakin kuat keliling hari ini?” pemuda Amsterdam itu memastikan.

Suci mengenakan kacamata hitamnya dengan semangat. “Aku nggak ke sini buat duduk di rumah dan itungin awan. Ayo, aku udah bikin rencana.”

Fabian tersenyum kecil, “Wow, rencana… berarti aku bakal dibuat takjub atau dibuat nyasar, ya?”

“Mungkin dua-duanya,” Suci terkekeh sambil berjalan mendahuluinya.

 

Mereka berjalan di kawasan Jordaan, menelusuri jalan berbatu sempit di antara rumah-rumah bata merah dengan jendela penuh bunga. Suci menarik Fabian ke toko roti kecil, membeli stroopwafel hangat dan dua kopi. Mereka duduk di tepi kanal, di bawah rindang pohon.

“Dulu aku cuma bisa lihat Amsterdam dari layar. Sekarang aku benar-benar di sini, dan ternyata jauh lebih hidup,” ujar Suci takjub.

Fabian menatap air yang bergelombang pelan. “Dulu Oma sering ajak aku ke sini. Kami duduk di tempat ini, hitungin bebek yang berenang melintas,” bisiknya, suaranya sedikit sendu.

“Sekarang kamu duduk di sini bareng aku. Jadi sekarang aku semacam pengganti bebek nih?” Suci mengernyitkan dahinya.

“Kamu yang bilang ya! Bukan aku,” Fabian tertawa lepas, tawanya yang pertama kali sejak hari pemakaman Oma.

 

Siang itu di pasar bunga Bloemenmarkt, Suci menatap indahnya susunan bunga tulip dan lavender.

“Oh, jadi begitu bentuk tulip yang asli,” Suci mengamati lekat-lekat detail bunga itu dari dekat.

“Jangan norak begitu, malu,” Fabian memaksanya berdiri tegak lagi.

“Ya aku kan baru pertama kali lihat bunga legendaris ini,” nada Suci menciut. Gadis itu kemudian melanjutkan berjalan dengan murung.

Merasa bersalah, diam-diam Fabian membelikan beberapa kuntum tulip dan lavender kering. Ketika pemuda itu menyodorkannya, Suci tercengang. Ia mematung, tak menyangka.

“Hei Suci, kamu kesambet?” Fabian melambaikan tangan di depan wajah Suci yang akhirnya bereaksi.

“Aku terharu, baru kali ini dikasih bunga sama cowok,” ungkap Suci jujur.

Fabian merasa janggal, “Lho, Tougo?” kemudian tangannya membekap mulutnya sendiri. “Lupakan.”

“Ngomong apa tadi Fab?” Suci menoleh, luput mendengarnya.

“Nggak, nggak penting,” pemuda itu menggeleng, lalu mengamati Suci yang tampak gembira mengamati bunga pemberiannya. Padahal bukan buket yang ditata apik dengan pita cantik. Diam-diam Fabian memotret Suci yang tertawa riang.

“Kamu… fotogenik juga, ya. Padahal aku fotoin kamu diam-diam,” ungkap Fabian sambil mengecek hasil fotonya, puas.

“Kamu fotoin aku, Fab?” Suci tersipu, “Ya maaf, aku memang terlahir fotogenik, sinematik, artistik,” ia melebih-lebihkan.

“Dan sedikit nyentrik,” Fabian menambahkan sambil mengulum senyum.

 

 

Sore itu mereka menyewa perahu kecil. Fabian mengemudikannya pelan, membawa Suci menyusuri kanal-kanal tenang di tengah kota. Cahaya keemasan matahari sore membelai permukaan air, melukis bayangan arsitektur tua yang anggun di sekeliling mereka.

“Fabian, aku nggak bisa menggantikan Oma. Tapi aku harap kamu tahu, kamu nggak perlu berduka sendirian,” ujar Suci tiba-tiba.

Fabian tertegun, ia memandangi air, “Kehilangan ini… rasanya jauh lebih ringan… berkat kehadiran kamu di sini.”

Wajah Suci merona sejadi-jadinya. Ia menahan senyum kesenangan. “Ada lagi yang bikin ringan.”

Fabian berpaling kepadanya, “Apa?” ia bertanya serius.

“Sambil main ABC lima dasar, yuk! Sekalian mau uji kemampuan bahasa Indonesia kamu,” Suci menyeringai senang.

Fabian menatapnya tak percaya. “Kayaknya baru kamu, deh, yang ngide main ABC lima dasar di atas perahu.”

Mereka tertawa bersama, tawa hangat yang pecah di tengah tenangnya air kanal.

 

Mereka berdua mengakhiri jalan-jalan hari ini dengan berdiri di tepi jembatan kecil. Hari sudah malam, lampu kerlap-kerlip menghiasi jembatan itu.

Fabian menyerahkan sepotong stroopwafel terakhir pada Suci, “Kamu datang jauh-jauh untuk aku. Aku belum tahu gimana caranya membalas semua ini.”

Suci menatapnya dengan tatapan kesal, “Kalau kamu masih berpikir mau membalas, artinya kita belum cukup dekat. Kalau begitu, besok kita harus keliling lagi, supaya semakin dekat.”

“Eeh, nggak usah. Nggak jadi!” Fabian menggeleng panik. 

Dia nggak ada capek-capeknya apa ya? herannya di dalam hati.

Fabian tertawa, tapi tawa itu berhenti ketika pandangannya bertemu dengan mata Suci, sorot matanya berubah. “Mungkin memang… aku cuma butuh alasan untuk membuat kamu bahagia.”

Suci tertegun mendengarnya. Ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah dan perasaan hatinya yang semakin berharap balasan. Itu maksudnya apa? pikirnya dalam kekalutan hatinya, bertanya-tanya.

Di bawah temaram lampu Amsterdam, dua siluet itu berdiri, kebersamaan mereka tumbuh perlahan dari benih duka. Kota itu menjadi saksi bisu pertanyaan mendebarkan yang kini bersarang di hati Suci.

 

-oOo-

 

Sinar matahari musim panas menari di lantai kayu ruang keluarga Meijer.  Aroma teh chamomile dan pai apel memenuhi udara. Di tengah ruangan, Suci, Fabian, Mama, dan Papa Fabian duduk melingkar di sofa , di hadapan album foto tua bersampul kulit.

Mama Fabian membuka halaman pertama, tampak foto seorang bayi montok dengan pipi bersemu tertawa lebar.

“Lihat ini… Fabian waktu umur satu tahun,” ujar Mama, tersenyum. “Selalu senang kalau difoto. Dia selalu tertawa tiap lihat bayangannya sendiri di kaca.”

Suci tergelak, “Jadi kamu narsis sejak bayi?”

Fabian berusaha menutup album, beruntung Papa Fabian cepat menahan. “Tunggu sampai kamu lihat dia umur lima tahun. Masanya dia yakin bakal jadi penyanyi pop. Nyanyi lagu Backstreet Boys di atas meja makan, pakai sisir sebagai mikrofon,” ia terkekeh.

“Astaga!  Aku mau lihat itu, please!” seru Suci sambil tertawa.

Fabian akhirnya menyandarkan diri di sofa dengan ekspresi pasrah, wajahnya memerah. Anehnya terbit senyum kecil yang tak bisa ditahan.

“Kalian berkomplot merusak reputasiku di depan tamu,” ia bersungut-sungut manja.

“Suci bukan tamu, dia datang jauh-jauh demi kamu. Dia pantas tahu semuanya,” mama menatap lembut putranya sambil sesekali melirik Suci.

Suci menunduk, pipinya merona. Bibirnya tersenyum, hatinya terasa hangat. Keintiman keluarga yang lengkap ini belum pernah benar-benar ia rasakan. Ia melirik Fabian yang kini sedang berusaha merebut album dari tangan ayahnya sambil tertawa separuh malu.

“Aku senang bisa mengenal Fabian lebih dalam, bahkan bagian-bagian yang dia coba sembunyikan,” gadis itu berkata lembut.

Mama Fabian kemudian menunjukkan foto Fabian kecil dengan dua gigi depan ompong, memakai mantel kebesaran dan sepatu bot karet.

“Ini waktu dia nyasar karena mengejar tupai, sampai nangis,” papa Fabian membocorkan.

“Oke, cukup nostalgia hari ini. Kenapa nggak bahas prestasiku selama sekolah?” Fabian berusaha menyelamatkan harga dirinya.

Suci hanya bisa tertawa. Saat ia duduk di antara mereka, mendengar suara tawa dan percakapan ringan itu, ia merasa seakan tersedot masuk ke dalam dunia hangat dan penuh kasih.

Di tengah tumpukan foto dan riuh tawa yang bersahutan, Suci perlahan menyadari: ada sebuah tempat, lebih dari sekadar negeri asing, jauh melampaui sekadar penghiburan dalam duka. Kehangatan itu meresap pelan ke dalam sanubarinya, sebuah kehangatan yang lahir dari satu hal sederhana—keluarga yang menerima dirinya seutuhnya, bahkan tanpa ia pernah memintanya.

 

Sore menjelang di halaman belakang rumah keluarga Meijer. Aroma daging panggang dan mentega menguar di udara. Bunga hortensia biru dan putih menghiasi meja kayu panjang, sementra radio tua memutar jazz lembut.

Papa Fabian membolak-balik daging di panggangan, mengenakan celemek bergambar sapi. Mama menata salad dan minuman ke atas meja piknik. Di sisi lain halaman, Fabian dan Suci tertawa kecil sambil membantu menyiapkan alat makan, tangan mereka beberapa kali bersentuhan, lalu saling curi pandang.

Mama Fabian tersenyum hangat dan mendekati Suci, “Kami tidak tahu harus berterima kasih bagaimana, Suci. Kamu datang seperti cahaya. Oma pasti akan senang melihat Fabian tidak sendirian.”

Suci menunduk sebentar, matanya berkaca-kaca namun tetap menyunggingkan senyum. “Saya cuma ingin memastikan dia baik-baik saja. Dan saya juga beruntung bisa mengenal kalian semua.”

Fabian menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangan ke langit, menahan gelombang perasaan yang masih sulit ia uraikan.

“Panggangan sudah siap, cepat ke sini! Siapa yang sampai terakhir, harus cuci piring nanti malam!” seru Papa Fabian dari arah panggangan.

Suci berlari kecil, disusul Fabian. “Aku paling cepat kalau urusan makanan.”

Mereka makan bersama sambil membagikan kenangan tentang Oma. Tawa perlahan menggantikan duka. Fabian sesekali mencuri pandang ke Suci yang duduk di samping mamanya, tertawa lepas. Hatinya yang sempat hancur kini menemukan serpihan-serpihan hangat yang mulai merekat, membentuk kembali harapan baru.

Di antara kepulan asap panggangan dan denting gelas minuman musim panas, duka perlahan larut dalam kehangatan. Dan di sanalah Suci, duduk di tengah mereka, tidak sekadar tamu dari negeri jauh, tapi cahaya baru yang tak seorang pun tahu mereka butuhkan.

 

-oOo-

 

Ruang kerja Widuri sudah temaram, wanita tua itu duduk berselimut di kursi rotan. Anya berdiri gelisah di hadapannya.

“Nek, aku tahu reputasiku udah hancur. Tapi untuk kali ini, tolong dengarkan aku,” Anya meminta perhatiannya.

“Kamu nggak bosan memfitnah orang yang lebih baik darimu, Anya?” Widuri menanggapi dingin.

Anya menahan emosinya, ia menyalakan tablet. “Aku nggak minta dipercaya, tapi lihat ini. Sejak dulu aku curiga Suci orang sisipan di perusahaan, kemampuannya nggak wajar. Sampai aku temukan bukti ini. Suci diam-diam berkumpul sama orang dari Arsikonserva, perusahaan saingan kita,” ungkap Anya. “Suci dekati Nenek bukannya tulus, tapi ditugaskan buat mengintai. Pantas informasi internal perusahaan kita bocor ke RumahWaktu.”

Widuri tertegun, menatap layar meski masih skeptis. “Video bisa direkayasa, apalagi olehmu. Aku perlu bukti konkret, hitam di atas putih!” ucapnya, meski dalam hati khawatir tuduhan itu benar.

“Beri aku kesempatan menjebak dia,” ujar Anya tegas. “Kalau aku salah, aku sendiri yang minta maaf.”

Widuri menyipitkan mata curiga, “Lakukan seperlunya. Tapi kalau kamu macam-macam, bukan Suci yang saya singkirkan, tapi kamu.”

Anya tersenyum samar. “Terima kasih, Nek.”

 

-oOo-

 

 

Pagi di bandara Schiphol ramai oleh hiruk-pikuk pelancong. Mama dan papa Fabian mengantar Suci dan Fabian hingga ke depan pintu keberangkatan, suasana penuh haru.

“Fabian, jaga Suci yang benar. Dia anak baik,” pesan mamanya sambil menyelipkan sesuatu di saku jaket Fabian.

“Mama, yang dikhawatirkan malah anak orang,” protes Fabian, membuat semua tertawa melihat raut cemberutnya. “Aku paham itu, nggak perlu diingatkan lagi.”

Papanya menambahkan, “Ingat, jangan menodai wanita yang tidak boleh dirusak!”

“Papa!” seru Fabian kesal. Tawa kembali pecah.

Pelukan perpisahan terasa hangat. Suci sudah seperti bagian dari keluarga.

 

Saat menunggu penerbangan, Fabian membeli roti untuk mengganjal perut, sementara Suci tetap duduk di bangku menjaga tas mereka. Saat merogoh saku jaket untuk membayar Fabian menemukan kotak cincin yang familiar. Ia membukanya, tampak cincin rubi merah berbentuk apel warisan keluarganya. Ini isyarat mama untuk mendapatkan calon istri. Ia tak protes, justru tersenyum.

Fabian kembali duduk di sampung Suci, sambil bersenda gurau mereka menikmati roti di keramaian ruang tunggu yang semakin penuh.

Pengumuman yang bergaung membacakan nomor penerbangan keduanya, tanda mereka harus memasuki pesawat. Saat berjalan menuju pesawat, Fabian meraih tangan Suci dan menggandengnya. Suci terkejut, raut wajahnya antara malu dan bingung. Ia melirik wajah Fabian, berusaha menangkap maksudnya.

“Supaya nggak ketinggalan,” ujarnya cepat, meski wajahnya ternyata sama meronanya. Suci mengulum senyum, mengikuti langkah kaki jenjang itu dengan hati berdebar penuh harap.

Di dalam pesawat keduanya duduk berdampingan, larut dalam obrolan. Bosan berbincang, mereka menonton film bersama dari layar di hadapan mereka. Setelah lelah, Suci memejamkan matanya. Fabian melirik Suci yang telah masuk ke alam mimpi. Ia selalu menikmati momen seperti ini, diam-diam mengamati lekuk wajah gadis itu. Selalu kagum dengan kulit kecokelatannya yang bersinar sehat. Tanpa sadar Suci menyandarkan kepalanya ke bahu Fabian, lagi. Fabian hanya menahan senyum geli.

]Kebiasaan! pikirnya gemas, namun tetap bergeming.

Lama-kelamaan Fabian menyusul tidur. Keduanya saling bersandar, kepala bertumpu satu sama lain. Pemandangan yang menenangkan hati. Pramugari yang melihat mereka hanya tersenyum sambil menyelimuti keduanya.

 

Suci dan Fabian tiba di Bandara Soekarno Hatta esok harinya. Mereka turun dari pesawat dengan bergandengan. Fabian tampak protektif menjaga Suci, membawakan barang dan menyamakan langkahnya. Mereka bahu-membahu memindahkan koper dan tas-tas mereka ke troli, memastikan tidak ada yang tertinggal. Begitu selesai mereka keluar beriringan dari gerbang kedatangan.

“Kita pulang ke Bogor langsung nih?” Fabian memastikan.

“Maaf, Fabian. Aku mau mampir ke rumah Kak Surya dulu. Kangen sama keponakan, sekalian kasih oleh-oleh mereka,” Suci menangkupkan kedua tangannya.

“Oh gitu. Mau ditemani?” pemuda Amsterdam itu sedikit khawatir.

“Nggak usah. Di Bogor kerjaan kamu masih banyak, kan?” tebak Suci tepat sasaran, “Aku naik taksi online aja, nih lagi aku pesan kok,” ia memberitahu.

“Oke, kalau begitu aku tunggu sampai mobil kamu datang,” Fabian bersikeras.

“Nggak usah, kamu kan pakai mobil travel. Sana, nanti keburu penuh!” Suci mendorongnya menjauh.

“Jadi kita pisah di sini, nih?” Fabian ragu, separuh hatinya menolak.

“Iya, aku kan bisa diandalkan. Independent woman!” Suci tersenyum tengil, berusaha menenangkan.

Fabian akhirnya menyerah, melambaikan tangan ke Suci. Meski ia tahu Suci terbiasa mandiri, hatinya tetap tidak tenang.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (7)
  • juliartidewi

    Adik cowokku lulusan IT. Katanya, gajinya dua puluh juta, tapi aku nggak percaya. Soalnya, ada tante2 yg bilang kalo gaji anaknya yg IT 75 juta.

    Comment on chapter 15. Menunjukkan Taji
  • juliartidewi

    Adik perempuan saya juga lulusan arsitek.

    Comment on chapter 14. Perjalanan
  • juliartidewi

    I just remember when I was in university, I met a Dutch man. I thought he was one of my lecturers in English Language Study Program. I asked him a question. He said, "Aku ki wong Londo."

    Comment on chapter 13. Rumah II
  • papah.al

    Menarik
    Selalu penasaran kedepannya

    Comment on chapter Prolog
  • baba

    Ceritanya mindblowing ya ..

    Comment on chapter 6. Semut pun Bisa Menggigit
  • guardian angel

    Prolognya menarik.

    Comment on chapter Prolog
  • guardian angel

    Mulai seru... hacker perempuan keren bgt!

    Comment on chapter 1. Kekecewaan Menghentak
Similar Tags
Premium
Akai Ito (Complete)
6924      1481     2     
Romance
Apakah kalian percaya takdir? tanya Raka. Dua gadis kecil di sampingnya hanya terbengong mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Raka. Seorang gadis kecil dengan rambut sebahu dan pita kecil yang menghiasi sisi kanan rambutnya itupun menjawab. Aku percaya Raka. Aku percaya bahwa takdir itu ada sama dengan bagaimana aku percaya bahwa Allah itu ada. Suatu saat nanti jika kita bertiga nant...
Jalan Menuju Braga
1795      1193     4     
Romance
Berly rasa, kehidupannya baik-baik saja saat itu. Tentunya itu sebelum ia harus merasakan pahitnya kehilangan dan membuat hidupnya berubah. Hal-hal yang selalu ia dapatkan, tak bisa lagi ia genggam. Hal-hal yang sejalan dengannya, bahkan menyakitinya tanpa ragu. Segala hal yang terjadi dalam hidupnya, membuat Berly menutup mata akan perasaannya, termasuk pada Jhagad Braga Utama--Kakak kelasnya...
P.E.R.M.A.T.A
2092      1070     2     
Romance
P.E.R.M.A.T.A ( pertemuan yang hanya semata ) Tulisan ini menceritakan tentang seseorang yang mendapatkan cinta sejatinya namun ketika ia sedang dalam kebahagiaan kekasihnya pergi meninggalkan dia untuk selamanya dan meninggalkan semua kenangan yang dia dan wanita itu pernah ukir bersama salah satunya buku ini .
Renjana
625      474     2     
Romance
Paramitha Nareswari yakin hubungan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun dengan penuh kepercayaan akan berakhir indah. Selayaknya yang telah ia korbankan, ia berharap agar semesta membalasnya serupa pula. Namun bagaimana jika takdir tidak berkata demikian? "Jika bukan masaku bersamamu, aku harap masanya adalah milikmu."
Sampai Kau Jadi Miliku
2129      1101     0     
Romance
Ini cerita tentang para penghuni SMA Citra Buana dalam mengejar apa yang mereka inginkan. Tidak hanya tentang asmara tentunya, namun juga cita-cita, kebanggaan, persahabatan, dan keluarga. Rena terjebak di antara dua pangeran sekolah, Al terjebak dalam kesakitan masa lalu nya, Rama terjebak dalam dirinya yang sekarang, Beny terjebak dalam cinta sepihak, Melly terjebak dalam prinsipnya, Karina ...
Dalam Satu Ruang
407      337     2     
Inspirational
Dalam Satu Ruang kita akan mengikuti cerita Kalila—Seorang gadis SMA yang ditugaskan oleh guru BKnya untuk menjalankan suatu program. Bersama ketiga temannya, Kalila akan melalui suka duka selama menjadi konselor sebaya dan juga kejadian-kejadian yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Love: Met That Star (석진에게 별이 찾았다)
4316      1913     2     
Romance
Kim Na Byul. Perempuan yang berpegang teguh pada kata-kata "Tidak akan pacaran ataupun menikah". Dirinya sudah terlanjur memantapkan hati kalau "cinta" itu hanya sebuah omong kosong belaka. Sudah cukup baginya melihat orang disekitarnya disakiti oleh urusan percintaan. Contohnya ayahnya sendiri yang sering main perempuan, membuat ibunya dan ayahnya berpisah saking depresinya. Belum lagi teman ...
The Snow That Slowly Melts
6282      3123     6     
Romance
Musim salju selalu membuat Minhyuk melarikan diri ke negara tropis. Ingatan-ingatan buruk di musim salju 5 tahun yang lalu, membuatnya tidak nyaman di musim salju. Sudah 5 tahun berlalu, Minhyuk selalu sendirian pergi ke negara tropis sambil menunggu musim salju di Korea selesai. Setidaknya itu yang selalu ia lakukan, sampai tahun ini secara kebetulan dia mengenal seorang dokter fellow yang b...
Unlosing You
633      467     4     
Romance
... Naas nya, Kiran harus menerima keputusan guru untuk duduk sebangku dengan Aldo--cowok dingin itu. Lambat laun menjalin persahabatan, membuat Kiran sadar bahwa dia terus penasaran dengan cerita tentang Aldo dan tercebur ke dalam lubang perasaan di antara mereka. Bisakah Kiran melepaskannya?
Panggung Terakhir
486      338     0     
Short Story
Apa yang terlintas dipikiran kalian saat melihat pertunjukan opera? Penuh dengan drama? Bernilai seni yang tinggi? Memiliki ciri khas yang sangat unik? Dimana para pemain sangat berkarakter dan berkharisma? Sang Ratu Opera, Helena Windsor Saner, merupakan seorang gadis cantik dan berbakat. Jenius dalam musik, namun lebih memilih untuk menjadi pemain opera. Hidup dengan kepribadian ceria...