Langit sore meredup, kehilangan teriknya. Sebuah mobil hitam berhenti tak jauh dari pintu belakang Tower B. Surya duduk di balik kemudi, sementara Fabian, Hayashi, dan Tobi menatap denah di layar tablet.
“Unit 1906. Tiga penjaga di depan lift lantai 19, dua lagi tepat di depan pintu unit. Pintu pakai smart-lock, tapi aku tanamkan override sebelumnya. Begitu dekat, aku buka lewat HP.” Tobi menunjukkan layar tabletnya sambil menjelaskan.
“Gue parkir di sini. Langsung kembali kalau ada apa-apa, usahakan bawa Suci!” Surya mengingatkan.
Mereka memasuki gedung dengan langkah tenang. Berbekal kartu akses yang Tobi dapatkan, lift membawa mereka naik. Di lantai sembilan belas, tiga petugas keamanan sudah menunggu, menatap curiga.
“Mau ke mana?” tanya salah satunya.
“Ke unit 1905,” jawab Tobi cepat.
Petugas itu berpandangan dengan dua rekannya. Hening sejenak. Lalu salah satu berseru, “Unit 1905 kosong. Tangkap mereka!”
Hayashi langsung menghantam petugas terdekat, Tobi meninju petugas lain, Fabian melumpuhkan sisanya. Dalam hitungan menit, ketiganya tumbang.
Fabian memberi isyarat diam. Mereka menyeret tubuh para penjaga ke ruang alat kebersihan, melucuti seragam mereka.
Tobi dan Hayashi menatap Fabian, bingung. Dengan seragam petugas keamanan, wajah kaukasianya justru semakin mencurigakan.
“Kayaknya lo nggak cocok deh,” Hayashi berkata jujur.
“Kami alihkan perhatian penjaga, kamu tunggu di belakang!” Tobi mengomando.
Fabian mengangguk. Ia mengamati dari persembunyiannya ketika Tobi dan Hayashi mendekati unit 1906 yang dijaga dua petugas.
“Bu Anya bilang, waktunya ganti shift. Silakan pulang.” Hayashi berkata tegas.
Kedua petugas mengamati Tobi dan Hayashi bergantian, penuh selidik. Perawakan tinggi tegap mereka memang cocok mengenakan seragam petugas keamanan. Sayangnya wajah oriental Hayashi meimbulkan kecurigaan.
“Kenapa? Nggak pernah lihat petugas chindo sebelumnya?” Hayashi mengelak enteng.
Akhirnya keduanya pergi, malas ribut. Begitu mereka menghilang, Tobi membuka smart lock yang terdapat di pintu unit dengan ponselnya. “Sekarang!” perintahnya.
Fabian bergabung untuk ikut masuk, kemudian terhenyak. Suci terbaring lemah di ranjang, tubuhnya penuh ruam merah.
-oOo-
Tougo menatap Anya yang terlelap di sofa ruang persembunyian mereka. Sisa minuman kaleng yang dicampur obat tidur masih tergeletak di meja.
“Kali ini kamu keterlaluan,” gumamnya sambil menyelimutinya. Ia keluar diam-diam, menutup pintu pelan, kemudian bergegas menuju Tower B. Beruntung, tempat persembunyian mereka berada di kompleks apartemen yang sama dengan kamar penyekapan Suci, sehingga ia lebih mudah menjangkau sahabat masa kecilnya itu.
-oOo-
“Suci, kamu kenapa?” Fabian memekik, memeriksa tubuhnya. “Alergi?”
Timbul rasa pedih di hatinya melihat Suci sampai selemah ini. Nggak bisa dibiarkan! geramnya.
Suci membuka matanya,8 terkejut menemukan Fabian di hadapannya. Tobi berdiri di dekat pintu, beserta seorang pria bermata sipit, Hayashi.
“Kalian… datang juga.” Suci tampak lemas.
Fabian membantu Suci duduk, lalu mengangkatnya di punggungnya.
Sementara itu, dua petugas lain menyadari hilangnya rekan mereka dan bergerak ke arah unit 1906.
Tobi segera bersiap “Fabian, bawa dia! Kami yang tahan!” serunya.
Ia dan Hayashi mulai berjibaku dengan para penjaga. Pertarungankembali pecah.
Fabian berlari membawa Suci menuju lift. Begitu pintu tertutup, Suci berbisik, “Aku masih bisa jalan.”
Mungkin memang lebih baik bersikap wajar, supaya bisa kabur dengan tenang, pikir Fabian. Ia menurunkannya. Keduanya keluar dari lift, berusaha tampak wajar. Sayangnya harapan Fabian tidak terwujud, begitu tiba di lobi, enam petugas sudah mengepung.
“Suci! Ke pintu belakang!” seru Fabian sambi melawan petugas yang mengeroyoknya.
Suci membeku, bingung harus berbuat apa. Hingga Tougo muncul, menarik tangannya. Ia menuntunnya menuju pintu belakang gedung, bahkan sempat memberi senyum menenangkan kepada sahabat masa kecilnya itu. Gadis itu tersentuh.
Beberapa petugas keamanan mengejar keduanya hingga keluar dari pintu belakang. Ketika para petugas mendekat, Tougo melindungi Suci dengan tubuhnya sendiri, menahan pukulan bertubi-tubi. Suci menjerit ketakutan.
Surya yang melihat keduanya terdesak langsung keluar dari mobil untuk membantu, meski para petugas keamanan menghalanginya. Ia menarik lengan Suci, mengeluarkannya dari kerumunan petugas keamanan yang marah.
“Suci, masuk ke mobil!” pekikannya menyentak Suci, ia berlari ke mobil yang dikenalnya. Surya menghadapi kerumunan dengan amarah. Saat para petugas berseragam tumbang, barulah Surya menyadari Tougo juga tergeletak.
Tobi dan Hayashi yang baru turun dari lift segera membantu Fabian menghajar para petugas keamanan yang menyerangnya di sekitar lift. Setelah petugas keamanan bergelimpangan, ketiganya keluar pintu belakang gedung. Mereka terkejut melihat Tougo yang terbaring penuh luka, Surya sedang memeriksanya. Beberapa petugas keamanan terkapar di sekitarnya.
“Suci udah aman di mobil,” ungkap Surya sambil berupaya mengangkat tubuh Tougo menuju mobil, dibantu Tobi dan Hayashi. Sementara Fabian langsung mengecek keadaan Suci ke mobil. Ia tercekat, gadis itu sudah tak sadarkan diri. Mobil hitam itu melesat membelah jalan menuju rumah sakit terdekat.
-oOo-
Langit malam yang kelam menyelimuti kota Jakarta. Lampu-lampu di koridor rumah sakit menyala redup. Di ruang ICU, dua ranjang terpisah menyimpan dua kisah luka. Satu ditempati Suci, terlelap dalam ketenangan yang semu. Satunya lagi, Tougo terbaring dengan wajah lebam dan alat bantu napas yang menyembul dari sela-sela lukanya.
Fabian duduk di tepi ranjang Suci, menggenggam tangannya yang dingin. Matanya menatap wajah pucat itu, tak ingin berpaling sedetik pun. Surya berdiri di sampingnya, menatap kosong ke monitor detak jantung. Sesekali ia memandangi ponselnya, memastikan kabar dari orang tua Tougo yang tengah menuju rumah sakit dari Bogor.
Surya menatap wajah Suci, dadanya terasa sesak. “Suci, bangun dong. Besok udah 3 September nih, ulang tahun lu.” Ia yakin Suci bisa mendengarnya.
Fabian mendongak, terkejut. “Ulang tahun Suci besok, Kak?” ia memastikan pendengarannya. Baru kini ia paham, alasan permintaan Suci menunda jawabannya sampai tanggal itu.
“Iya. Makanya, bangun ya, Dek. Nanti gue beliin boneka upset duck yang banyak deh, kayak kemauan lu. Meski gue nggak tahu apa bagusnya blind box begitu,” Surya berupaya membujuk lagi.
Ucapannya turut membuat hati Fabian perih, teringat keluguan Suci yang senantiasa tersenyum tulus seperti anak kecil.
Tobi dan Hayashi duduk di bangku depan ruang ICU, terdiam dalam kelelahan dan ketegangan. Hayashi menatap lantai. Tobi hanya menatap lurus ke dinding, tangannya masih menggenggam botol air mineral yang belum disentuh.
Dokter masuk, seorang perempuan berjas putih dengan clipboard di tangan. “Pak Surya?” matanya mencari-cari. Surya segera berdiri dan menghampiri. Fabian tetap duduk, namun telinganya menangkap setiap kata.
“Kondisi adik Anda stabil untuk saat ini, tapi dia mengalami serangan anafilaksis berat. Ini reaksi alergi parah yang terus dipicu konsumsi protein hewani tertentu. Dia alergi udang, ya? Sepertinya dia mengkonsumsi itu berulang-ulang.”
Wajah Surya mengeras, menahan amarah.
“Beruntung dia cepat ditindak. Kami sudah memberikan epinefrin dan antihistamin. Sekarang dia masih dalam pengawasan intensif.”
Surya mengangguk. “Terima kasih, Dok.”
“Kondisi pasien satu lagi… Tougo,” Dokter berkata dengan nada berat. “Cedera kepalanya cukup serius, pendarahan dalam juga telah kami tangani, tapi dia belum sadarkan diri. Kami akan terus memantau, tapi kondisinya… masih sangat kritis.”
Surya menarik napas dalam. Fabian hanya menunduk, menggenggam lebih erat tangan Suci.
Tougo terbaring dengan kepala diperban dan wajah lebam. Monitor di sebelahnya terus berbunyi pelan, nada detak jantungnya yang stabil terasa ironis.
Hening menyelimuti ruangan. Namun di tengah hening itu, setetes air mata mengalir dari sudut mata Tougo. Perlahan turun ke sisi pipinya.
“Biip biiip biip…” Bunyi monitor mulai melambat.
“Biip… biiip… biiiiiiiiiiiiiiiib.” Grafik menunjukkan garis lurus stagnan, membuat mesin monitor berbunyi nyaring. Suara tanda darurat menggema di ruangan. Fabian dan Surya menoleh, terperanjat kaget.
Perawat dan dokter masuk dengan terburu-buru, memberi aba-aba cepat. CPR dan AED segera disiapkan. Nihil. Grafik tetap menunjukkan satu garis lurus yang panjang. Tougo tak lagi bernapas, jantungnya tak lagi berdenyut.
-oOo-
Malam yang sama, di ruang tamu bergaya kolonial modern, Widuri duduk dengan anggun namun tegang, secangkir teh masih utuh di hadapannya. Di seberangnya, duduk dua pria berkemeja rapi, ekspresi mereka tegas. Adrian, CEO dan Endry, CTO sekaligus pendiri perusahaan Random Walk, menatap tajam.
“Saya sungguh terkejut mendengar kabar Suci disekap. Tapi saya sama sekali tidak tahu-menahu soal itu,” Widuri tersenyum ramah, menahan gelisah.
Adrian menatapnya dingin. “Ibu mungkin tidak menyekap secara langsung, tapi data kami menunjukkan nomor terakhir yang dihubungi Suci adalah ponsel Anda.”
“Itu pasti ulah Anya,” Widuri menegang. Tangannya meremas saputangan di pangkuan. “Nanti akan saya hukum!”
“Dan mobil itu menuju salah satu properti Anda, Apartemen Grand Cendana. Bukankah terlalu banyak kebetulan?” Adrian menyeringai.
Widuri tidak langsung menjawab. Matanya bergerak sedikit gugup, tapi ia segera memulihkan sikapnya. “Anya sering menggunakan properti keluarga untuk acara bersama teman-temannya. Saya tidak tahu saat itu Anya ada di mana dan membawa siapa.”
“Ibu Widuri, kami tidak peduli kebiasaan cucu Anda. Tanpa otorisasi Anda, Anya tak mungkin bisa akses properti keluarga,” sela Endry.
“Kami sudah hampir bisa mengurai semua jalur digitalnya. Bukti keterlibatan properti keluarga Ibu tidak akan hilang begitu saja dari sistem,” ungkapnya. “Kami hanya minta satu: jangan lindungi dia. Jika proses hukum berjalan, biarkan.”
Widuri menelan ludah. “Saya nggak akan menghalangi Anda. Saya akan bantu cari di mana Anya sekarang,” janjinya.
Saat itu, Anjar masuk dengan tergesa-gesa, wajahnya syok. “Suci di rumah sakit. Tougo… nggak selamat.”
Adrian dan Endry menoleh ke arahnya, terkejut, begitupun Widuri.
-oOo-
Cahaya pagi menembus jendela ruang rawat. Bau antiseptik menguar. Monitor detak jantung Suci berbunyi stabil.
Fabian duduk di sisi ranjang, setia mendampinginya sejak kemarin. Surya berdiri di dekat jendela, tangannya menyilang, wajahnya murung.
Tiba-tiba Suci membuka mata.
Napasnya pendek, ia refleks meraih dada, tubuhnya gemetar. Area sekitar matanya masih pucat, namun pandangannya langsung menyapu ruangan. Fabian mendekat, menggenggam tangannya dengan lembut.
“Fabian… Tougo gimana?” tanya gadis itu lirih.
“Kamu aman sekarang.” Fabian menenangkannya.
Suci menggoyangkan kepalanya lemah. “Aku tanya, Tougo di mana? Dia sempat lindungi aku pakai badannya, Fab. Dia itu dari kecil tubuhnya lemah, jadi gimana kondisinya?”
“Kenapa malah diam? TOLONG JAWAB!” ia berusaha duduk dengan panik. Tubuhnya lemah, tetapi kepanikan menguasai dirinya. Napasnya mulai berat.
Fabian memeluknya erat, menahan agar ia tidak bangkit dari ranjang. “Suci, tolong tenang dulu.”
“Tougo nggak kenapa-kenapa kan? Kok kalian nggak jawab?” Suci menangis histeris, mengguncang lengan Fabian, lalu melirik ke Surya.
Surya akhirnya mendekat. Suaranya pelan tapi dalam. “Orangtua Tougo udah bawa dia ke Bogor. Dia… nggak tertolong, Ci.”
Sunyi, waktu seolah membeku. “Nggak mungkin!” tangis Suci pecah. Tubuhnya merosot di pelukan Fabian. Surya hanya berdiri terpaku, matanya memerah.
“NGGAK MUNGKIN!” ia menjerit sambil memukul-mukul dada Fabian. “Badannya lemah, kenapa malah lindungin aku?” Suci terus berkata dengan kalut. “Aku ngerepotin banyak orang, bikin Tougo sampai meninggal!”
“Jangan bilang begitu!” Fabian berbisik sambil memeluk lebih erat. “Dia menolong kamu karena kemauannya sendiri, karena dia peduli, Suci. Dia nggak mau kamu terluka.”
“Aku beban… aku bikin temanku mati…” Suci tersedu-sedu. Tubuhnya gemetar. Ia menangis dalam diam. Setelah beberapa saat, suaranya keluar lirih. “Dari dulu aku jagain Tougo. Dia punya flek di paru-paru, makanya sering sakit-sakitan. Aku kasihan, karena itu aku sering temani dia, ngalah, meski dia sok kuat dan nyebelin. Sekarang aku malah kehilangan dia.”
Surya yang baru tahu menoleh, terkejut, begitu pun Fabian yang tersentak. Ternyata kedekatan Suci dengan Tougo bukan semata karena rasa suka, tapi lebih karena khawatir dan peduli. Suci kembali tenggelam dalam tangis. Fabian hanya bisa menggenggam tangannya erat, sementara Surya berdiri mematung, beban dan kesedihan bercampur di wajahnya.
-oOo-
Pagi yang sama di lokasi berbeda. Unit apartemen mewah itu suram. Anya masih terlelap di atas sofa, selimut tipis tersampir tak rapi. Di atas meja, tergeletak sisa makanan ringan dan minuman kaleng. Tirai masih tertutup rapat, suasana sepi. Seolah tersembunyi dari dunia luar.
“BRAK!” pintu mendadak dibuka. Tim Reskrimum Polda, lengkap dengan rompi dan senjata api, masuk cepat dan senyap dipimpin IPTU Angkasa Aryasatya. Di belakangnya Tobi berdiri, wajahnya tampak gelap.
“Anya Eileen Sentani, Anda ditangkap atas dugaan penculikan dan penganiayaan terhadap Suci Riganna Latief!”
Anya terperanjat, bangkit dengan panik. “Kalian nggak bisa tangkap aku! Kalian nggak tahu aku siapa? Aku cucu Widuri Grace Sentani, pemilik perusahaan Sentani Jaya!”
Dua polisi memborgol tangannya cepat.
“Ibu Widuri yang memberi tahu lokasi Anda. Anda berhak diam.” IPTU Angkasa menjelaskan.
Anya terkesiap, merasa dikhianati neneknya sendiri. “Kalian seharusnya menangkap Suci! Gara-gara dia keluargaku hancur, semua berantakan!” ia menjerit-jerit dan meronta, tapi tak berguna. “Tougo mana? Aku mau bicara sama dia!” jeritnya sambil celingak-celinguk mencari.
“Tougo udah meninggal, dihajar orang-orang lu.” jawab Tobi yang berdiri tidak jauh dari sana.
Mendengarnya Anya tersentak, matanya terbelalak.
Tobi hanya menatapnya tajam dan dingin, sebelum akhirnya berbalik. Tak ada belas kasihan sedikit pun di sorot matanya. Tangis Anya pecah. Akhinya penyesalan pun timbul di hati wanita itu.
serenarara 












Adik cowokku lulusan IT. Katanya, gajinya dua puluh juta, tapi aku nggak percaya. Soalnya, ada tante2 yg bilang kalo gaji anaknya yg IT 75 juta.
Comment on chapter 15. Menunjukkan Taji