Loading...
Logo TinLit
Read Story - Pulang Selalu Punya Cerita
MENU
About Us  

Ada luka-luka yang tidak berdarah, tapi nyerinya terasa sampai napas terakhir. Luka-luka itu tak selalu diciptakan oleh musuh, tapi justru oleh mereka yang paling kita percayai. Dan seperti luka di lutut anak kecil yang jatuh saat belajar bersepeda, kadang ia menghitam, lalu mengering, tapi bekasnya tetap tinggal. Di situlah Aluna berdiri pagi itu—di depan sebuah kenangan yang belum kering sepenuhnya.

Pagi hari di rumah Ibu terasa biasa. Aroma air rebusan sereh dan daun pandan menyusup dari dapur, menyapa lubang hidung dengan tenang. Tapi hati Aluna resah. Semalam ia bermimpi lagi. Mimpi yang sejak beberapa tahun terakhir selalu muncul di malam-malam yang tenang: ia berjalan di sebuah lorong sempit, dan di ujungnya ada pintu yang tak bisa ia buka. Lalu suara seseorang memanggilnya dari balik pintu. Suara yang ia kenal baik. Suara Ayah.

“Ayah nggak marah, kan?” tanya Aluna suatu pagi pada Ibu, saat sedang menyuap bubur kacang hijau. Tiba-tiba saja keluar begitu saja, seperti gelembung yang tak tahan di dalam.

Ibu menatapnya. Dalam. Lama. “Marah untuk apa?”

Aluna menghela napas. “Untuk… kepergian itu. Waktu itu aku pergi, padahal Ayah… Ayah minta aku pulang. Tapi aku nggak sempat.”

Ah, luka itu. Luka yang belum kering. Luka yang lahir dari satu hal paling menyakitkan di dunia: penyesalan.

Dua minggu sebelum Ayah meninggal, Aluna sempat ditelepon Ibu. “Ayah pengin kamu pulang sebentar,” kata Ibu, suara di ujung telepon terdengar pelan, hati-hati. Tapi Aluna sedang sibuk. Pekerjaan menumpuk, target tak tercapai, dan ia sedang tidak baik-baik saja secara mental. Ia menjanjikan satu minggu lagi. Tapi satu minggu itu tak pernah datang. Ayah pergi lebih cepat dari rencana. Dan sejak hari itu, luka itu seperti pintu yang tak pernah tertutup. Selalu ada suara ketukan, kadang pelan, kadang keras, tapi tak pernah betul-betul diam. Dan dalam setiap ketukan itu, ada satu kalimat yang tak pernah ia jawab: Kenapa aku tidak pulang?

“Ayahmu tidak pernah marah padamu, Nak,” kata Ibu lembut, sambil menyentuh tangan Aluna. “Bahkan saat sakitnya makin berat, yang Ayah tanyakan tetap kamu. ‘Aluna udah makan?’ ‘Aluna sehat?’ Pertanyaan-pertanyaan kecil, tapi itu bentuk sayangnya.”

Air mata Aluna mengalir. Kali ini ia tidak menahannya.

“Aku egois, Bu… Aku pikir waktu masih panjang. Aku kira aku bisa minta maaf langsung nanti… Tapi ternyata enggak.”

Ibu menarik napas. “Manusia memang sering merasa waktunya panjang, padahal hidup ini pendek, seperti napas yang tidak kita sadari sebelum ia berhenti.”

Mereka diam. Suara angin yang menyusup lewat sela jendela menjadi latar sunyi yang menenangkan. Lalu Ibu berdiri, berjalan ke kamar, dan kembali dengan sebuah kotak kecil dari kayu. “Ini,” katanya, “Ayah meninggalkan ini untukmu.” Aluna membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada beberapa benda yang ia kenali dengan baik: jam tangan Ayah yang sudah usang, foto kecil keluarganya waktu ia masih SD, dan selembar kertas dengan tulisan tangan Ayah.

“Untuk Aluna,
Jangan menyalahkan diri sendiri. Hidup ini memang tidak selalu bisa kita rencanakan. Tapi pulang bukan hanya soal fisik, tapi soal hati. Kalau hatimu masih merasa dekat dengan Ayah, berarti kamu tidak pernah benar-benar pergi jauh.”

Tangis Aluna pecah. Tangis yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Ia merasa seperti anak kecil yang menemukan pelukan di tengah badai. Hari itu, ia berjalan sendiri ke makam Ayah. Jalan setapak menuju pemakaman desa masih sama seperti dulu, hanya lebih sepi. Di sana, di antara rumput yang mulai tinggi dan batu nisan tua, ia duduk di samping pusara Ayah.

“Yah,” katanya pelan, “aku minta maaf… karena nggak pulang waktu itu. Tapi aku harap Ayah tahu, aku selalu rindu. Aku selalu sayang. Dan sekarang, aku di sini. Maafkan aku, ya…”

Ia menutup matanya. Angin sore menyentuh pipinya dengan lembut, seperti belaian. Seolah semesta sedang berkata: “Maafmu sampai, Nak. Ayah mendengar.”

Sesampainya di rumah, langit mulai senja. Ibu sudah menyiapkan teh hangat dan pisang goreng. Di tengah-tengah duduk mereka, Ibu berkata, “Kita semua punya luka, Aluna. Tapi luka itu bukan untuk disembunyikan. Ia harus dibersihkan, dirawat, sampai pelan-pelan sembuh.” Aluna mengangguk. Ia tahu, luka itu mungkin belum sepenuhnya kering. Tapi hari ini, ia sudah mulai membersihkannya. Dan itu langkah pertama menuju pemulihan.

Malam itu, sebelum tidur, Aluna menulis di buku catatan kecil yang sudah lama tak ia buka:

Luka yang belum kering bukan berarti luka yang tak bisa sembuh. Ia hanya butuh waktu, kejujuran, dan keberanian untuk menengok kembali yang dulu pernah kita hindari. Dan saat kita punya cukup keberanian untuk menengoknya, kita akan tahu: kita tidak sendirian.

Setelah malam itu, Aluna merasa ada sesuatu dalam dirinya yang bergeser pelan. Seperti awan tipis yang perlahan-lahan membuka jalan untuk cahaya mentari masuk. Tidak langsung terang, tidak langsung hangat, tapi cukup untuk membuatnya bisa bernapas lebih lapang. Besok paginya, ia bangun lebih awal dari biasanya. Rumah Ibu masih hening. Suara jangkrik dan kokok ayam bersahutan, menyatu dengan semerbak bau tanah basah. Aluna keluar rumah, menenteng selembar kursi lipat yang ia ambil dari gudang, dan duduk di teras sambil membawa segelas kopi hitam buatan sendiri. Pagi itu ia tidak scroll media sosial, tidak membuka e-mail, tidak mengecek grup kerja. Ia hanya duduk. Menikmati sunyi yang tak membuatnya takut. Untuk pertama kalinya, sunyi itu terasa seperti pelukan, bukan ancaman.

Beberapa anak kecil lewat sambil tertawa. Salah satunya, seorang bocah laki-laki berkaus merah, melambaikan tangan padanya. Aluna membalas lambaian itu sambil tersenyum. Ada sesuatu yang hangat di hatinya saat melihat anak-anak itu. Entah kenapa, ia merasa lebih... hadir. Seolah ia kembali jadi bagian dari dunia yang nyata, bukan hanya seseorang yang terus berlari mengejar tenggat waktu dan validasi. Siangnya, Aluna memutuskan untuk membuka lemari kayu tua di kamar belakang—lemari peninggalan Ayah. Dulunya, lemari itu tempat Ayah menyimpan semua dokumen penting, serta buku-buku lamanya. Ketika ia membuka pintunya, aroma kayu tua langsung menyergap hidungnya, bercampur bau kertas lama yang khas. Di dalamnya, tersusun beberapa map, buku catatan, dan... sebuah kotak kecil berbahan logam, berkarat di beberapa sisinya.

Kotak itu berat. Ia membukanya pelan-pelan. Isinya: surat-surat lama yang ditulis tangan, kebanyakan dengan tinta biru yang mulai memudar. Beberapa ditujukan untuk Ibu, sisanya untuk dirinya—Aluna. Surat-surat itu tak pernah dikirim, hanya disimpan Ayah diam-diam.

Salah satunya tertulis tanggal tiga tahun lalu. Saat Aluna baru saja pindah kerja ke luar kota.

“Luna, Ayah ngerti kok, kamu ingin mengejar mimpi. Ayah juga dulu pernah punya mimpi, walaupun nggak semuanya kesampaian. Tapi Ayah harap, kamu nggak lupa istirahat. Jangan sampai kamu kehilangan dirimu sendiri saat sedang sibuk membuktikan diri ke orang lain. Kadang, pulang bukan hanya kembali ke rumah, tapi kembali ke diri sendiri. Dan Ayah selalu jadi tempatmu kembali, kapan pun kamu mau.”

Aluna membaca surat itu sambil menggigit bibir. Ia tak tahu, ternyata selama ini Ayah menyimpan begitu banyak kata untuknya—bukan lewat lisan, tapi lewat tulisan. Dan itu lebih jujur, lebih tulus, lebih mengoyak.

Hari-hari berikutnya, ia menghabiskan waktu membaca surat-surat itu, satu per satu. Beberapa membuatnya tertawa karena gaya menulis Ayah yang formal tapi lucu, lainnya membuat matanya basah. Dari tulisan-tulisan itu, Aluna tahu: Ayahnya bukan hanya menyayanginya, tapi juga memahami semua luka dan pencariannya, bahkan sebelum Aluna sendiri memahaminya. Suatu sore, Ibu duduk di sebelah Aluna di ruang tamu. Mereka sedang menonton sinetron lawas yang entah kenapa masih diputar ulang di TV lokal. Lalu Ibu bertanya pelan, “Kamu ada rencana pulang ke kota minggu ini?”

Aluna diam sejenak. “Ada, Bu. Tapi mungkin nggak sekarang. Aku pikir, aku butuh tinggal di sini beberapa hari lagi.”

Ibu menoleh, senyumnya samar tapi menenangkan. “Tinggallah selama yang kamu butuh. Rumah ini selalu terbuka. Dan Ibu... Ibu juga nggak keberatan kalau kamu mau mulai dari sini lagi.”

Kalimat itu, sederhana sekali, tapi terasa seperti benih kecil yang disiram dengan kasih. Tumbuh perlahan di hati Aluna. Ia tak langsung menjawab. Tapi malam itu, ia menulis lagi di buku catatannya:

Kadang, kita mengira luka akan sembuh kalau kita menjauhinya. Tapi ternyata, kadang kita harus mendekat. Menatapnya. Memeluknya. Dan membiarkannya mengajarkan sesuatu. Karena di balik setiap luka yang belum kering, selalu ada pelajaran tentang mencintai, tentang melepaskan, dan tentang memaafkan diri sendiri.

Malam itu, saat semua sudah tidur, Aluna duduk di kamar. Ia membuka jendela. Angin malam menyusup pelan. Di kejauhan, suara jangkrik beradu dengan desir dedaunan yang tersentuh angin. Aluna menatap langit.

“Ayah,” katanya dalam hati, “terima kasih karena masih ada… lewat surat-surat itu, lewat kenangan, lewat hati Ibu yang tak pernah berubah.”

Dan untuk pertama kalinya sejak Ayah pergi, ia merasa tidak lagi dikejar-kejar rasa bersalah. Bukan karena luka itu hilang, tapi karena ia sudah mulai berdamai. Luka itu masih ada, tapi tidak lagi mendikte hidupnya.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Dear Tukang Fotokopi
133      125     1     
Short Story
Kisah kocak dan hangat tentang Tami, ketua OSIS yang hidupnya mendadak penuh plot twist berkat Bang Ucup tukang fotokopi sekolah yang hobi meramal masa depan lewat mesin Canon nya.
TeKaWe
1272      735     2     
Humor
bagaimana sih kehidupan seorang yang bekerja di Luar Negeri sebagai asisten rumah tangga? apa benar gaji di Luar Negeri itu besar?
Premium
Cinta (Puisi dan Semi Novel
29634      4354     2     
Romance
Sinopsis Naskah ‘CINTA’: Jika Anda akan memetik manfaat yang besar dan lebih mengenal bongkahan mutu manikam cinta, inilah tempatnya untuk memulai dengan penuh gairah. Cinta merupakan kunci kemenangan dari semua peperangan dalam batin terluhur Anda sendiri, hingga menjangkau bait kedamaian dan menerapkan kunci yang vital ini. Buku ‘Cinta’ ini adalah karya besar yang mutlak mewarnai tero...
Katamu
3359      1400     40     
Romance
Cerita bermula dari seorang cewek Jakarta bernama Fulangi Janya yang begitu ceroboh sehingga sering kali melukai dirinya sendiri tanpa sengaja, sering menumpahkan minuman, sering terjatuh, sering terluka karena kecerobohannya sendiri. Saat itu, tahun 2016 Fulangi Janya secara tidak sengaja menubruk seorang cowok jangkung ketika berada di sebuah restoran di Jakarta sebelum dirinya mengambil beasis...
Qodrat Merancang Tuhan Karyawala
5431      3138     0     
Inspirational
"Doa kami ingin terus bahagia" *** Kasih sayang dari Ibu, Ayah, Saudara, Sahabat dan Pacar adalah sesuatu yang kita inginkan, tapi bagaimana kalau 5 orang ini tidak mendapatkan kasih sayang dari mereka berlima, ditambah hidup mereka yang harus terus berjuang mencapai mimpi. Mereka juga harus berjuang mendapatkan cinta dan kasih sayang dari orang yang mereka sayangi. Apakah Zayn akan men...
Kalopsia
928      681     2     
Romance
Based of true story Kim Taehyung x Sandra Sandra seharusnya memberikan sayang dan cinta jauh lebih banyak untuk dirinya sendiri dari pada memberikannya pada orang lain. Karna itu adalah bentuk pertahanan diri Agar tidak takut merasa kehilangan, agar tidak tenggelam dalam harapan,  agar bisa merelakan dia bahagia dengan orang lain yang ternyata bukan kita.  Dan Sandra ternyata lupa karna meng...
Ketos in Love
1290      767     0     
Romance
Mila tidak pernah menyangka jika kisah cintanya akan serumit ini. Ia terjebak dalam cinta segitiga dengan 2 Ketua OSIS super keren yang menjadi idola setiap cewek di sekolah. Semua berawal saat Mila dan 39 pengurus OSIS sekolahnya menghadiri acara seminar di sebuah universitas. Mila bertemu Alfa yang menyelamatkan dirinya dari keterlambatan. Dan karena Alfa pula, untuk pertama kalinya ia berani m...
Tepian Rasa
1519      786     3     
Fan Fiction
Mencintai seseorang yang salah itu sakit!! Namun, bisa apa aku yang sudah tenggelam oleh dunia dan perhatiannya? Jika engkau menyukai dia, mengapa engkau memberikan perhatian lebih padaku? Bisakah aku berhenti merasakan sakit yang begitu dalam? Jika mencintaimu sesakit ini. Ingin aku memutar waktu agar aku tak pernah memulainya bahkan mengenalmu pun tak perlu..
The One
352      244     1     
Romance
Kata Dani, Kiandra Ariani itu alergi lihat orang pacaran. Kata Theo, gadis kurus berkulit putih itu alergi cinta. Namun, faktanya, Kiandra hanya orang waras. Orang waras, ialah mereka yang menganggap cinta sebagai alergen yang sudah semestinya dijauhi. Itu prinsip hidup Kiandra Ariani.
Sebuah Musim Panas di Istanbul
452      335     1     
Romance
Meski tak ingin dan tak pernah mau, Rin harus berangkat ke Istanbul. Demi bertemu Reo dan menjemputnya pulang. Tapi, siapa sangka gadis itu harus berakhir dengan tinggal di sana dan diperistri oleh seorang pria pewaris kerajaan bisnis di Turki?