Loading...
Logo TinLit
Read Story - Anikala
MENU
About Us  

Baru saja Kala menginjakkan kaki ke dalam pekarangan rumah. Ia sudah mendapati sang Bunda yang sudah berkacak pinggang memasang mata memincing menatap ke arahnya. Kala meneguk air liurnya sendiri.

Ia melangkahkan kaki perlahan menghampiri Dalisha. Mencoba meraih tangan untuk salim. Tapi yang dapat malah tepisan tangan sang Bunda. Hati Kala terasa teriris miris.

"Dari mana aja kamu?!" tanya Dalisha.

"Ka—"

"Kala abis dari rumah Andra Bunda. Andra sakit."

Dalisha mendelik menaikkan alis. "Benar?"

"Iya, bunda." ucap Kala sambil menganggukkan kepala.

"Ya udah masuk sana."

Kala pun masuk ke dalam rumah yang menurutnya bukan lagi rumah untuk nya pulang. Melangkah ke arah kamarnya. Tempat ternyaman satu-satunya. Ia menghela napas beratnya sebelum akhirnya merebahkan tubuh di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamarnya yang kosong.

Kalau dipikir hidupnya tidak terlalu buruk walaupun keluarganya adalah keluarga cempaka. Cemara tapi banyak luka.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Dalisha membawakan sepiring makan siang untuk Kala.

"Ini, di makan."

"Mama denger kamu diikutin buat olimpiade geografi. Bener itu?"

Kala yang masih tiduran di atas kasur langsung bangkit.

"Iya, Bun."

Dalisha menganggukan kepala. "Bagus.. Bagus.."

"Kalo bisajadi juara umum. Kaya Sandra anaknya Bu RT. Jangan ngecewain Bunda."

"Udah itu di makan. Bunda pamit dulu mau arisan."

Kala tertegun dibuatnya. Ia menatap punggung sang Bunda dan kembali menghela napas. Kali ini pundaknya harus terasa berat kembali. Berat oleh ekspektasi orang tua nya.

Kok Bunda ga pernah bersyukur punya, Kala?

Kenapa Kala selalu kurang dimata Bunda?

***

"Kalaa!!" teriak Banu dari lorong koridor yang sepi. Ia terlihat berlari dengan napas tersengal.

Kala menghentikan langkah sesaat usai melihat Banu. Ia mengangkat sebelah alis, terheran-heran.

"Kenapa"

"ANDRAA.."

"AND—" Banu terlihat menghentikan perkataanya ia masih berusaha mengatur napas.

"Andra kenapa??" Kala ikut terlihat panik usai melihat raut wajah Banu yang panik.

"Andra, asam lambungnya naik dan sekarang dia lagi sesak napas. Kita harus cepatan ke rumah Andra" Banu menarik lengan Kala. Kala berusaha menghentikan langkah.

"Ayo kal, kita ga ada waktu lagi."

"Kita mau ke mana?"

"Ke rumah Andra, Kala. Ke rumah Andra!"

"Iya aku tau. Tapi tas kita gimana? Ini masih jam sekolah," ucap Kala yang membuat Banu otomatis menghentikan langkah.

"Ikut gua."

Mereka pun berlari ke ruang guru. Bertemu dengan Bu Loli yang merupakan wali kelas Andra sekaligus wali kelas Kala. Beruntung saat mereka ingin menemui guru tersebut. Ia sedang berada di lorong kelas. Tanpa menunggu lama Banu pun memberikan penjelasan terhadap Bu Loli mengenai keadaan Andra.

Usai mendengar penjelasan Banu—Bu Loli langsung memberikan izin kepada Kala dan Andara. Mereka pun dengan cepat berpamitan pada Bu Loli dan mengambil tas yang masih berada di dalam kelas.

Mereka seperti dikejar oleh waktu. Selepas mendapat izin oleh guru piket dan Bu Loli. Banu pun mengendarai motor nya dengan kecepatan penuh. Seperti tidak ingat bahwa ia sedang membawa Kala di belakang boncengannya.

Rambut Kala yang terurai terlihat menjadi berantakan akibat aksi Banu yang mengendarai seperti ingin membawanya ke alam baka. Mau tidak mau Kala bersusah payah merapikan rambutnya supaya tidak semakin kusut dan semerawut. Lampu merah yang seharusnya Banu patuhi justru ia langgar. Separah itu kah kondisi Andra?

Dua puluh menit berlalu. Pada akhirnya Kala bisa bernapas lega, sebab Banu mengakhiri aksi ugal-ugalan nya. Kala kemudian merapikan rambutnya dan turun dari motor Banu perlahan. Sedangkan Banu lantas langsung berlari masum ke dalam rumah Andra.

Melihat tingkah Banu, Kala menjadi semakin khawatir dengan keadaan Andra. Andra sakit apa? Apa sakitnya parah?

Dengan jantung berdebar dan perasaan tidak keruan. Kala masuk ke dalam rumah Andra.

"Kala.. Kala, bantuan gua angkat Andra!" teriak Banu yang sudah membantu Andra turun dari lantai dua.

Kala yang terkejut lantas menuruti saja perintah Banu. Setelah melakukan apa yang diperintahkan Banu. Kala pun duduk di samping Andra yang wajahnya terlihat sangat pucat. Dengan napas yang tersengal-sengal.

"Dompet lu di mana cuy? Kartu...kartuansi lu, mana?!" pungkas Banu yang terlihat panik ditambah Andra yang semakin terlihat kesulitan bernapas.

Kala pun buru-buru ke dapur untuk mengambilkan segelas air panas untuk Andra. Barangkali bisa untuk meredakan sesak bapas yang Andra rasakan. Dengan cara menghirup uap nya.

Ditengah kepanikan Banu melihat kunci mobil yang berada di meja ruang tamu. Ia mengambil begitu saja kunci tersebut mencoba membunyikan remot mobil dan mobil yang terparkir di garasi pun beebunyi.  Banu memastikan apakah ada Ayahnya andra atau Cakka di dalam rumah dengan berteriak. Namun, tak ada jawaban.

"Kalaa.. Kal..."

"Ayo... Ayo... Bantuin gua bawa Andra ke dalam mobil."

Banu sudah terlebih dahulu mengambil alih lengan Andra untuk membopongnya. Kala pun segera mengikuti. Saat telah sampai Banu memasukkan Andra ke dalam mobil sementara Kala berlari ke arah pintu gerbang untuk membuka gerbang rumah Andra.

Mobil milik Andra sudah melaju keluar gerbang. Kemudian, Kala cepat-cepat menutup kembali pintu gerbang rumah Andra. Dan masuk ke dalam mobil. Beruntung jalanan lengang. Sehingga Mobil melesat dengan kecepatan kilat.

Ketika sampai di depan UGD. Kala langsung saja meminta tolong pada satpam untuk membantu menurunkan Andra yang sudah terlihat semakin pucat pasi. Satpam tersebut pun mengambilkan brankar yang tersedia di depan pintu UGD. Dengan tubuh yang lemah Andra berusaha untuk menaiki brankar tersebut.

Tanpa banyak waktu Andra pun langsung dirangani oleh dokter yang berjaga. Kebetulan juga saat itu UGD sedang sepi, oleh sebab itu Andra mendapat pelayanan yang cepat.

Takut, gugup, dan cemas itu yang sekarang Kala rasakan melihat kondisi Andra. Bagaimana pun setidak dekat apapun Kala dengan Andra tetap saja ia termasuk orang pertama yang tahu kondisi Andra.

Banu tersenyum menghampiri Kala. Yang sedari tadi sudah menunggunya di loby rumah sakit. Ia baru saja mengantarkan Andra ke kamar untuk opname selama beberapa hari ke depan.

"Kalaa."

Banu langsung duduk di samping Kala. Ia sedikit mengatur napasnya.

"Ayo, gua anter lo pulang." Kala menoleh ke sumber suara.

"Tapi, Andra gimana?"

"Udah mendingan. Tapi kemungkinan dia di opname selama seminggu."

"Terus yang jaga Andra siapa?" tanya Kala khawatir.

"Kita nitip suster dulu. Nanti gua ke sini lagi naik motor buat jaga Andra," jelas Andra berusaha menenangkan Kala.

Kala hanya menganggukkan kepala. Ia sebenarnya ingin melihat kondisi Andra. Tapi mengingat saat wajah pucat Andra sebelum ke rumah sakit ia jadi teringat kembali. Membuatnya belum berani untuk melihat kondisi Andra yang sekarang.

Setelah memberi penjelasan pada Kala. Pertanyaan yang selama ini ada di dalam kepala Kala pun akhirnya hilang. Kalau dilihat antara Kala dan Andra mereka adalah dua sosok yang hampir sama. Sosok yang butuh kasih sayang dan perhatian yang lebih.

"Ayo, gua anter lo pulang.  Tapi sebelum pulang kita makan dulu ya? Lo pasti laper kan?"

Banu pun beranjak dari tempat duduknya dan merangkul bahu Kala keluar menuju parkiran. Sedang kan Kala merasa gugup sebab ini pertama kalinya ia dirangkul oleh seseorang.

Ketika tiba di parkiran mobil, Banu lantas membuka kan pintu mobil supaya Kala lebih mudah untuk masuk ke dalam mobil. Tidak lupa juga Banu memberi bantalan telapak tangan tepat di pucuk kepala Kala, agar kepala Kala tidak terantuk mobil. Dirasa Kala sudah nyaman dengan posisi duduknya. Ia pun lantas menutup pintu mobil.

Banu pun berlari kecil menuju pintu pengemudi. Membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia sedikit menarik napas sebelum menghidupkan mesin mobil kemudian menjalankan perlahan.

"Banu?"

Banu yang fokus menyetir mobil menoleh ke arah Kala.

"Iya, kenapa?"

"Itu di depan ada polisi," ujar Kala khawatir.

Banu terlihat mengerutkan kening sedang berpikir keras. Ia terlihat merogoh saku celana seragam nya. Belum sempat mencari apa yang sedang ia cari. Seorang polisi sudah meminta Banu untuk  menepikan mobil.

Tanpa banyak kata Banu menghentikan laju mobil. Kemudian, mengambil tas sekolah yang berada di tempat duduk belakang. Banu membuka pintu mobil dan turun. Sementara Kala terlihat memainkan kuku jari, ia terlihat cemas.

Hampir lima belas menit berlalu akhirnya Banu kembali masuk ke dalam mobil. Kala menatap Banu dengan penuh tanda tanya.

"Tenang, aman." Banu menunjukkan kartu SIM yang ia pegang seraya tersenyum pada Kala.

Kala menghembus kan napas lega, kini raut wajah Kala menjadi lebih tenang.

"Jadi makan kita?"

"Em—" Kala melirik ke arah jam tangan yang ia kenakan. Terlihat sudah pukul empat sore.

Banu memandangi wajah Kala. Senyum Banu memudar saat Kala memandangi jam dipergelangan tangan nya. Dan tanpa Kala berkata Banu sudah paham apa yang akan Kala katakan selajutnya. Tanpa pikir panjang Banu pun memutuskan sendiri.

"Em.. Kayak ya lain kali ya, Kal?" Kala bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ia menjawab dengan penolakan.

"Oke, gak apa-apa.  Masih ada hari lain." ucap Banu kemudian ia kembali tersenyum manis pada Kala.

Kala lega mendengar jawaban dari Banu cowok itu seakan paham tanpa harus Kala berkata dan mencari alasan tanpa menyakiti hati. Pembicaraan mereka berhenti seketika.

Waktu lima belas menit terbilang cukup cepat. Pada akhirnya mobil yang ditumpangi Banu dan Kala telah sampai tujuan.

"Aku nunggu kamu selesai balikin mobil Andra aja baru aku pulang." Banu menggelengkan kepala.

"Lo belum pulang daritadi. Takut ortu lo nyariin. Gua gak apa-apa kok sendiri."

"Kal. Percaya sama gua."

Kala tak bisa menolak Banu akhirnya ia memutuskan untuk menuruti perintah Banu.

"Aku duluan ya. Makasih, hati-hati di jalan nanti." Andra mengangguk da tersenyum pada Kala.

 

Banu kemudian menutup pintu mobil dan membuka pintu gerbang dan masuk ke dalam rumah . Ia pun menuju rumah Andra. Untuk mengembalikan mobil Andra ke dalam garasi rumah.
 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
JAR OF MEMORIES
680      468     1     
Short Story
and story about us a lot like a tragedy now
Ti Amo
594      372     2     
Romance
“Je t’aime, Irish...” “Apa ini lelucon?” Irish Adena pertama kali bertemu dengan Mario Kenids di lapangan saat masa orientasi sekolah pada bulan Juli sekitar dua tahun yang lalu. Gadis itu menyukainya. Irish kembali bertemu dengan Mario di bulan Agustus tahun kemudian di sebuah lorong sekolah saat di mana mereka kembali mencari teman baru. Gadis itu masih menyukainya. Kenyataannya...
Hey, Limy!
1711      847     3     
Humor
Pertama, hidupku luar biasa, punya dua kakak ajaib. kedua, hidupku cukup istimewa, walau kadang dicuekin kembaran sendiri. ketiga, orang bilang, aku hidup bahagia. Iya itu kata orang. Mereka gak pernah tahu kalau hidupku gak semulus pantat bayi. Gak semudah nyir-nyiran gibah sana-sini. "Hey, Limy!" Mereka memanggilku Limy. Kalau lagi butuh doang.
Aku Ibu Bipolar
100      92     1     
True Story
Indah Larasati, 30 tahun. Seorang penulis, ibu, istri, dan penyintas gangguan bipolar. Di balik namanya yang indah, tersimpan pergulatan batin yang penuh luka dan air mata. Hari-harinya dipenuhi amarah yang meledak tiba-tiba, lalu berubah menjadi tangis dan penyesalan yang mengguncang. Depresi menjadi teman akrab, sementara fase mania menjerumuskannya dalam euforia semu yang melelahkan. Namun...
Supernova nan Indah merupakan Akhir dari Sebuah Bintang
4389      1553     1     
Inspirational
Anna merupakan seorang gadis tangguh yang bercita-cita menjadi seorang model profesional. Dia selalu berjuang dan berusaha sekuat tenaga untuk menggapai cita-citanya. Sayangnya, cita-citanya itu tidak didukung oleh Ayahnya yang menganggap dunia permodelan sebagai dunia yang kotor, sehingga Anna harus menggunakan cara yang dapat menimbulkan malapetaka untuk mencapai impiannya itu. Apakah cara yang...
Perjalanan Tanpa Peta
195      176     1     
Inspirational
Abayomi, aktif di sosial media dengan kata-kata mutiaranya dan memiliki cukup banyak penggemar. Setelah lulus sekolah, Abayomi tak mampu menentukan pilihan hidupnya, dia kehilangan arah. Hingga sebuah event menggiurkan, berlalu lalang di sosial medianya. Abayomi tertarik dan pergi ke luar kota untuk mengikutinya. Akan tetapi, ekspektasinya tak mampu menampung realita. Ada berbagai macam k...
Thantophobia
1644      973     2     
Romance
Semua orang tidak suka kata perpisahan. Semua orang tidak suka kata kehilangan. Apalagi kehilangan orang yang disayangi. Begitu banyak orang-orang berharga yang ditakdirkan untuk berperan dalam kehidupan Seraphine. Semakin berpengaruh orang-orang itu, semakin ia merasa takut kehilangan mereka. Keluarga, kerabat, bahkan musuh telah memberi pelajaran hidup yang berarti bagi Seraphine.
selamatkan rahma!
563      399     0     
Short Story
kisah lika liku conta pein dan rahma dan penyelamatan rahma dari musuh pein
Five Spinach Agent
0      0     0     
Science Fiction
Mantan pencopet junior dari pasar ikan, gak menjamin bahwa Paramitha akan hidup sengsara kan? Kalau Emak gak mungut tuh bocah jawabannya ya … bakal jadi gelandangan. Di keluarga ini, fenotipe parentalnya jauh berbeda dari anaknya, kalau dibilang unik sih enggak juga, mungkin chaos adalah padanan kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi keluarga kecil-kecilannya Emak, Babeh dan kedua anak ...
Letter From Who?
569      411     1     
Short Story
Semua ini berawal dari gadis bernama Aria yang mendapat surat dari orang yang tidak ia ketahui. Semua ini juga menjawab pertanyaan yang selama ini Aria tanyakan.