Loading...
Logo TinLit
Read Story - Anikala
MENU
About Us  

"Inget pesan abang. Semangat, jangan pikirin Bunda. Nanti abang yang urus. Kamu fokus olimpiade aja," ujar Aksa sambil memegang kedua bahu Kala.


Kala mengangguk-anggukan kepala. Ia meyakinkan pada diri sendiri dengan ucapan Aksa. Kala pun segera berpamitan dengan Aksa dari pintu rumah dan berlari menuju pintu gerbang rumah. Aksa pun bergegas masuk ke dalam rumah. Memastikan sang Bunda masih sibuk memasak.

Aksa menyembunyikan perihal Kala yang hari ini mengikuti olimpiade. Ia bedalih pada sang Bunda menyita ponsel Kala dan mengurung Kala supaya tidak masuk sekolah untuk sementara waktu. Pokoknya semua hal yang berhubungan dengan Kala, Aksa yang menanganinya. Beruntung Dalisha—sang Bunda percaya.

Kala menarik napas panjang. Jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Tapi, Kala sudah bersiap untuk pergi ke sekolah bersama dengan Banu. Sebelum akhirnya berangkat bersama dengan Bu Loli menuju tempat olimpiade.

Seulas senyum tercipta diwajah Banu. Saat melhat Kala keluar dari pekarangan rumahnya. Ada ketenangan hati yang tercipta. Senyuman Kala adalah hal kedua yang ia suka setelah mie ayam yang menjadi makanan favoritenya. Banu menganggap Kala sebagai teman namum, seiring berjalannya waktu kebersamaan mereka Banu menyadari ada debar aneh dihatinya. Ia mencintai sepertinya mencintai Kala.

Tanpa banyak basa-basi, Banu langsung mengenakan helm di kepala Kala. Meskipun Kala sebenarnya kebingungan dengan sikap Banu.

"Ya udah, yuk naik," ujar Banu.

Kala menganggukkan kepala, segera ia menaiki motor Banu.

"Lo udah sarapan?" tanya Banu disela perjalan menuju sekolah.

"Belum, kamu udah?"

"Belum juga."

"Kalo gitu, kita sarapan dulu ya! Otak takut bego kalo perut kosong," ujar Banu.

"Bukannya lapar galak, kenyang bego ya?" jawab Kala.

"Lah iya ya?"

"Tapi kayaknya gua kebalikannya deh. Nah itu sampe salah. Berati kalo lapar gua bego," kata Banu.

Kala memilih tidak menjawab. Dan hanya ikut tertawa saat Banu mengatakan itu. Pikiran Kala sebenarnya masih carut marut. Takut kalau tindakannya diketahui oleh Namira.

"Mau makan apa?"

"Ha?"

"Mau sarapan apa? Makasudnya."

"Oh, terserah kamu aja. Aku ikut," cetus Kala. Mendengar itu gantian Banu yang memilih tidak menjawab jawaban Kala.

Saat sampai di sekolah, suasana masih terlihat sepi. Sampai-sampai suara langkah sepatu mereka terdengar dilorong-lorong. Selama perjalanan menuju ruang guru, senandung lagu merdu keluar dari mulut Banu. Membuat Kala mengalihkan perhatiannya. Banu yang menyadari jika Kala memperhatikannya lantas ikut menoleh dan menaikkan sebelah alis kemudian tersenyum. Kala dibuat menjadi keki. Tidak lama mereka pun sampai di ruang guru.

"Akhirnya kalian datang juga.." ujar Bu Loli.

"Ya udah ayo, kita langsung aja ke sana. Ini udah siang. Takut jalanan macet."

"Ini, tolong bawain ya. Ibu udah siapin sedikit camilan, takut kalian lapar."

"Oh iya, kamu bawa motor kan Banu? Kita ke sana naik motor aja. Kalo naik mobil pasti macet parah. Ibu, sama suami ibu. Kamu boncengin Kala ya!"

Tanpa basa-basi Bu Loli lantas berjalan menuju parkiran dengan mengandeng suaminya. Banu dan Kala saling bertatapan kebingungan dengan tingkah Bu Loli.

Banu terkekeh. "Ya udah ayo, kita susul Bu Loli."

"Banu?" Sapa Vira yang hendak menuju kamar mandi tetapi melihat Banu dengan Kala. Vira menghampiri Banu.

Banu tersenyum lantas membuang muka. Di dalam hati Banu entah mengapa ia sangat tidak menyukai Vira. Seperti ada sesuatu hal yang membuat dirinya harus membenci Vira, tapi Banu sendiri tidak tahu.

"Sorry ya Vira. Gua sama Kala buru-buru. Sorry banget nih." Banu pun lantas merangkul Bahu Kala. Yang dengan jelasnya Kala terkejut akan perlakuan Banu.

"Sttt.." Banu memberi isyarat pada Kala, beruntungnya Kala memahami.

"Kurang ajar si Kala!" Vira menghentakkan kaki kesal.

Ia pun mengambil ponsel dari dalam tas nya. Dengan gerakan cepat Vira memotret Banu dengan Kala.

"Di sini lo ternyata.." ucap Ghani. Ia sedikit menghirup udara banyak. Akibat lelah mencari keberadaan Vira.

"Apaan si lo! Ngagetin aja!" protes Vira

"Ayo, kita dicariin Pak Eko. Kita juga harus siap-siap berangkat olimpiade," Ghani pun menarik lengan seragam Vira.

"Ish... Apaan si!"

"Bentar gua mau ke toilet dulu."

"Pegangin nih, tas sama ponsel gua!"

***


Banu menarik Kala mengubah posisi ketika hendak ingin menyebrang jalan. Banu dengan sigap melihat ke kanan dan kiri untuk menyebrang jalan. Refleks Kala memegang ujung jaket Banu supaya tidak tertinggal ketika menyebrang jalan. Saat sudah sampai Kala masih saja memegangi ujung jaket Banu. Banu otomatis melihat tangan Kala yang berada diujung jaketnya.

"Eh-maaf aku refleks." Kala melepaskan tangannya dari ujung jaket Banu. Bukannya ilfil. Banu malah tersenyum gemas.

"Ini kita kemana bu?" tanya Banu pada Bu Loli.

"Ayo kita ke aula dulu, buat registrasi."

Usai berucap Bu Loli lantas jalan terlebih dahulu bersama suaminya. Sementara Kala berjalan dibelakang Banu. Hampir satu menit menuju aula Banu baru nyadari ada yang aneh. Kepala Banu pun menoleh ke arah belakang.

Gerakan tiba-tiba Banu itu membuat Kala terkejut dan Kala menabrak dada Banu. Lagi-lagi Banu dibuat tersenyum gemas. Kala menampilkan wajah kaget sekaligus sebal.

"Iih.. Banu!" keluh Kala.

"Sorry...sorry.."

"Ya abis lo jalan pake dibelakang gua. Kayak lagi marahan aja kita," ujar Banu.

"Ya abis kamu sama Bu Loli jalannya cepat banget. Kaya nguber jadwal kereta."

Banu hanya cengengesan. Tidak menjawab. Ia malah menarik lengan baju Kala dan mereka pun berjalan beriringan. Belum lama melangkah, ada seseorang yang berteriak memanggil nama Banu.

"BANU!" Terlihat dihadapan mereka seorang cowok dan cewek yang mengenakan seragam sama dengan mereka.

Cewek itu melambaikan tangan dan tersenyum semringah. Dan cewek yang memanggil nama Banu.

"Ih ga nyangka ketemu lagi di sini!"

"Lo, kok di sini? Sama Ghani?" tanya Banu bingung.

"Iya! Ghani yang gantiin lo. Yang seharusnya lo yang jadi patner gue!" sindir Vira sambil menatap Kala. Ia lantas merangkul lengan Banu bermanja-manja. Banu terlihat risih. Ia berusaha untuk melepaskan tangannya dari Vira.

Ghani yang merupakan teman dekat Banu paham jika Banu merasa tidak nyaman. Ia lantas menarik Vira—sepupunya.

"Vir, ayo kita udah dicariin Pa Eko nanti!"

"Ish apa sih lo!" Vira menepis tangan Ghani.

"Ayok Vir.. Kita udah telat, lo sih lama tadi di toilet nya! Ujiannya udah mau dimulai nanti kita telat!"

Ghani pun menarik paksa Vira. Meskipun Vira masih berusaha untuk memeluk Banu.

"Ayok, cepat ih!"

"Nu, sorry gua duluan." Ghani menepuk pundak Banu. Setelah itu ia berjalan menjauh dari Banu.

"Ayo Kala. Kita juga langsung ke aula. Bu Loli pasti udah di sana." Kala tidak menjawab ia hanya menganggukkan kepala.

Banu menghentikan langkah kaki ketika sampai tepat di depan sebuah gedung Auditorium universitas Bimasakti tempat untuk Technical meeting. Ia mengeluarkan ponsel dan memfoto gedung tersebut kemudian mengirimkannya pada Bu Loli.

Ibu, digedung ini bu?

Iya, benar. Kamu tinggal tunjukkin kartu peserta aja ya. Nanti isi daftar hadir.

Baik bu

"Ayo Kal, kita isi daftar hadir dulu."

Banu dan Kala pun lantas menaiki tangga untuk masuk ke dalam auditorium. Mereka pun berbafis untuk antre mengisi daftar hadir.

***


Usai mengikuti Technical meetig di gedung auditorium. Banu dan Kala diantar oleh Bu Loli menuju ruangan untuk mengikuti ujian olimpiade.

Mereka berbeda ruangan Banu di ruangan satu sementara Kala di ruangan dua. Sebelum masuk Banu dan Kala meminta doa pada Bu Loli supaya dipermudah dan lancar mengikuti olimpiade.

Kala, memberikan kartu tanda peserta pada panitia yang mengenakan almet biru dongker. Selepas itu Kala memasuki ruangan mencari nomor tempat duduk sesuai yang tertera dikartu peserta.

"assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Selamat pagi." ucap panitia yang menjadi pengawas olimpiade.

"waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.. Pagi Kak," jawab semua peserta.

"Oke, disini kakak akan membacakan tata tertib sebelum ujian berlangsung. Mohon didengarkan baik-baik."

"Tata tertib olimpiade geografi.

1.Peserta/tim diharapkan hadir 15 menit sebelum acara dimulai.
2.Peserta/tim yang terlambat hadir tidak diberi perpanjangan waktupengerjaan soal.
3.Peserta tidak diperbolehkan masuk ruang seleksi sebelumdiizinkan oleh pengawas.
4.Peserta/tim wajib menunjukkan/mengenakan tanda peserta.
5.Peserta/tim tidak boleh diwakilkan.
6.Peserta/tim wajib membawa alat tulis masing-masing.
7.Peserta/tim yang telah menyelesaikan pengerjaan soal TIDAK diperbolehkan meninggalkan ruangan hingga batas waktupengerjaan soal selesai.
8. Peserta/tim tidak boleh keluar masuk ruangan seleksi, meminjam alat tulis, menggunakan alat komunikasi, membuka buku catatan.
9.Peserta/tim yang melanggar akan diberikan sanksi, berupa pengurangan poin."

"Oke, ujian akan kakak mulai lima menit lagi. Tolong dipersiapkan alat tulis dan kartu pesertanya ya."

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Wannable's Dream
45054      7573     42     
Fan Fiction
Steffania Chriestina Riccy atau biasa dipanggil Cicy, seorang gadis beruntung yang sangat menyukai K-Pop dan segala hal tentang Wanna One. Dia mencintai 2 orang pria sekaligus selama hidup nya. Yang satu adalah cinta masa depan nya sedangkan yang satunya adalah cinta masa lalu yang menjadi kenangan sampai saat ini. Chanu (Macan Unyu) adalah panggilan untuk Cinta masa lalu nya, seorang laki-laki b...
Langit-Langit Patah
67      58     1     
Romance
Linka tidak pernah bisa melupakan hujan yang mengguyur dirinya lima tahun lalu. Hujan itu merenggut Ren, laki-laki ramah yang rupanya memendam depresinya seorang diri. "Kalau saja dunia ini kiamat, lalu semua orang mati, dan hanya kamu yang tersisa, apa yang akan kamu lakukan?" "Bunuh diri!" Ren tersenyum ketika gerimis menebar aroma patrikor sore. Laki-laki itu mengacak rambut Linka, ...
Andaikan waktu bisa diperlambat
974      613     11     
Short Story
kisah dua sahabat bernama Bobby dan Labdha yang penuh dengan tawa dan tantangan soal waktu.
FAYENA (Menentukan Takdir)
1970      1301     2     
Inspirational
Hidupnya tak lagi berharga setelah kepergian orang tua angkatnya. Fayena yang merupakan anak angkat dari Pak Lusman dan Bu Iriyani itu harus mengecap pahitnya takdir dianggap sebagai pembawa sial keluarga. Semenjak Fayena diangkat menjadi anak oleh Pak Lusman lima belas tahun yang lalu, ada saja kejadian sial yang menimpa keluarga itu. Hingga di akhir hidupnya, Pak Lusman meninggal karena menyela...
The Past or The Future
503      406     1     
Romance
Semuanya karena takdir. Begitu juga dengan Tia. Takdirnya untuk bertemu seorang laki-laki yang akan merubah semua kehidupannya. Dan siapa tahu kalau ternyata takdir benang merahnya bukan hanya sampai di situ. Ia harus dipertemukan oleh seseorang yang membuatnya bimbang. Yang manakah takdir yang telah Tuhan tuliskan untuknya?
THE DARK EYES
919      591     9     
Short Story
Mata gelapnya mampu melihat mereka yang tak kasat mata. sampai suatu hari berkat kemampuan mata gelap itu sosok hantu mendatanginya membawa misteri kematian yang menimpa sosok tersebut.
Cincin dan Cinta
1482      902     22     
Short Story
Ada yang meyakini, jika sama-sama memiliki cincin tersebut, kisah cinta mereka akan seperti Vesya dan Zami. Lalu, bagaimanakah kisah cinta mereka?
The Red Eyes
28631      5282     5     
Fantasy
Nicholas Lincoln adalah anak yang lari dari kenyataan. Dia merasa dirinya cacat, dia gagal melindungi orang tuanya, dan dia takut mati. Suatu hari, ia ditugaskan oleh organisasinya, Konfederasi Mata Merah, untuk menyelidiki kasus sebuah perkumpulan misterius yang berkaitan dengan keterlibatan Jessica Raymond sebagai gadis yang harus disadarkan pola pikirnya oleh Nick. Nick dan Ferus Jones, sau...
The Diary : You Are My Activist
16442      3125     4     
Romance
Kisah tentang kehidupan cintaku bersama seorang aktivis kampus..
Janji-Janji Masa Depan
21117      6707     12     
Romance
Silahkan, untuk kau menghadap langit, menabur bintang di angkasa, menyemai harapan tinggi-tinggi, Jika suatu saat kau tiba pada masa di mana lehermu lelah mendongak, jantungmu lemah berdegup, kakimu butuh singgah untuk memperingan langkah, Kemari, temui aku, di tempat apa pun di mana kita bisa bertemu, Kita akan bicara, tentang apa saja, Mungkin tentang anak kucing, atau tentang martabak mani...