Loading...
Logo TinLit
Read Story - Dandelion
MENU
About Us  

Malam itu angin berhembus dengan kencang, tubuh-tubuh kuat pepohonan juga turut bergoyang mengikuti arah angin membawanya. Dengan ikhlas pohon-pohon renta itu mengugurkan daunnya satu persatu. Daunnya yang mulai menguning dan akhirnya kering terbawa oleh angin kembali. Tak hanya para pohon tua itu yang harus melepas daunnya, bunga-bunga dandelion juga turut pasrah menerima perlakuan sang angin yang membawa dirinya terbang bersama untuk menemukan tempat peristirahatannya.

            Seorang gadis menatap keluar melalui celah jendela dengan matanya yang kosong. Gadis itu yang hanya dengan baju hangat putihnya dan celana training senada terpaku menatap bagaimana kelopak-kelopak bunga dandelion terbang dengan pasrahnya. Matanya yang sipit menatap lemah untaian kelopak dandelion itu harus hancur dan akhirnya kembali jatuh ke tanah. Air mata telah menggenang di pelupuk mata indahnya, seolah membayangkan bahwa tubuhnyalah yang ikut terbang bersama angin seperti sang bunga dandelion.

“Andin… cuaca sedang dingin, jangan coba-coba membuat dirimu sakit dengan membuka lebar jendela seperti itu.” Ucap sesosok wanita tambun dengan nada sinisnya.

            Gadis itu, Andin hanya diam dan perlahan menutup jendela yang ia buka tadi. Kini ia tak bisa melihat apapun, karena hujan angin berhasil membuat kaca jendelanya berembun dan samar. Wanita tadi adalah ibunya, wanita yang melahirkannya dengan penuh rasa penyesalan. Benar, ia bukanlah anak dari hasil penikahan atas dasar cinta seperti orang pada umumnya. Ia dan kakaknya Anggi adalah anak kembar yang terlahir dari hasil tindakan kriminal, pemerkosaan.

            Bicara soal luka, Andin dan Anggi-lah yang paling mengetahui rasa sakitnya apalagi saat luka itu meninggalkan bekas dan tak bisa disembuhkan. Sosok ibu yang mereka idamkan hanyalah fantasi dongeng anak kecil bagi mereka. Mereka terbiasa hidup mandiri, melakukan dan belajar soal segala hal seorang diri. Namun hidup mereka tak seburuk itu. Di luar sana mereka juga memiliki sahabat yang selalu ada untuk mereka.

“Hai…kalian berdua datang lebih awal.” Sapa sesosok pemuda tampan pada sepasang anak kembar itu.

“Kau juga datang lebih awal Alfa… tak seperti biasanya.” Jawab Andin dengan senyum khasnya. Sedangkan Anggi hanya terdiam dengan senyum kecil.

“Melihat kalian berdua berjalan di pagi hari serasa melihat bunga-bunga cantik sedang bersemi disampingku.” Ucap Alfa lagi dengan senyum menggodanya.

“Oh ayolah Alfa, rayuanmu tak berpengaruh untukku. Pemuda sepertimu yang seperti lebah kesana kemari mendengungkan rayuan, tak akan berhasil membuat hatiku luluh.” Ucap Andin dengan senyum mengejek.

“Kalau begitu, aku akan dengan Anggi saja. Hush… sana pergi jauh-jauh… dasar bunga bangkai.” Ucap Alfa sambil menggerakkan tangannya seolah mengusir Andin dan berusaha mendekati Anggi.

“Apa kau bilang ? Dasar lebah berisik… sini kau…” akhirnya terjadilah adegan rutin tiap harinya yaitu adegan dimana Andin menjewer telinga Alfa dan mengomeli pemuda itu dengan berapi-api. Ini merupakan pemandangan yang biasa dilihat bagi para penghuni kelas X IPA 1 SMA K YOSEPH itu. Andin dan Alfa memang sudah bersahabat sejak kecil, hingga kini mereka tetap bersahabat dan tentunya tetap seperti anak kecil. Terkadang Anggi yang harus menanggung malu saat pergi dengan mereka berdua lantaran tingkah mereka yang sungguh sangat childish.

“Andin… Alfa… kalian lagi ternyata yang berulah ya.” Ucap Pak Guru. Saat itu di tengah-tengah pelajaran fisika, dengan jahil Alfa menarik rambut Andin dari belakang, dan jadilah mereka saling berdebat dan ribut satu sama lain hingga menjadi pusat perhatian di kelas fisika yang sunyi itu.

“Kalian berdua, keluar dari kelas saya.” Ucap guru itu dengan galak, membuat Alfa dan Andin tak punya pilihan untuk pergi meninggalkan kelas yang sesungguhnya sangat membosankan itu.

“Lihat gara-gara kau kita jadi begini.” Sesal Andin dengan wajah cemberut.

“Sudah jangan menyesal, kau pasti akan senang jika ikut denganku. Ayo…” Ucap Alfa tanpa basa-basi lalu menarik tangan gadis dengan kulit seputih susu itu bersamanya.

“Lihat …” Ucap Alfa sesampainya mereka di green house milik sekolah. Andin terpaku melihat hamparan bunga berbagai warna ada disana dan tumbuh dengan sangat terawat. Cantik, itu kata yang begitu saja terbesit di hati Andin.

“Alfa… kau bagaimana kau tahu tempat ini ?” Tanya Andin dengan kagum.

“Aku merawatnya setiap sepulang sekolah, lihat ini adalah bunga dandelion kesukaanmu yang sudah tumbuh dengan cantik.” Ucap Alfa sambil menunjukkan pot bunga berisi bunga berwarna kuning yang cantik sekilas mirip bunga krisan.

“Ini bunga dandelion ?” Tanya Andin dengan kagum.

“Hmm… yang biasa kau lihat yang seperti kapas itu adalah benihnya. Dia memang ditakdirkan harus ikut bersama angin dan mencari tempat yang baru untuk tumbuh. Akhirnya benih-benih dandelion yang berani itu akan tumbuh seperti ini. Cantik bukan ?” Ucap Alfa dengan senyumnya yang berbeda dari biasanya. Senyum indah yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain.

“Aku tahu Alfa, maka dari itu aku belajar banyak dari dandelion. Aku berharap bisa seperti benih-benih dandelion yang rela hancur dan berani terbang mengarungi angkasa untuk membentuk kehidupan baru yang akan membawanya pada keabadian. Aku… aku ingin suatu saat aku juga akan pergi untuk  membentuk kehidupan baru yang akan membawaku pada keabadian. Aku berharap saat itu tiba, kau adalah orang pertama yang akan mendukungku. ”

Andin turut tersenyum melihat pancaran mata pemuda tampan itu menunjukkan kebahagiaan. Mereka terlarut dalam urusan soal bunga dandelion dan bunga-bunga lainnya walau sesungguhnya dalam hati silet tajam tengah mengiris-ngiris hati Andin perlahan-lahan.

            Entah mengapa tiba-tiba saja sepulang sekolah langit sedang tak bersahabat, warna kelabu menghiasinya dengan bingkai petir dan titik-titik hujan yang mulai turun. Andin dan Anggi yang selalu pulang sekolah dengan berjalan kaki terpaksa harus menunggu hujan reda di sekolah. Sedangkan Alfa biasa membawa motor pribadinya, begitu juga teman-teman mereka yang lain.

“Huuhh… dinginnya… aku rasa hujannya akan lama berhenti.” Ucap Anggi sambil memeluk tubuhnya sendiri.

“A..aa… aakkk..akku… ingin cepat pulang.” Ucapan Andin terputus-putus menahan dingin dengan bibirnya yang bergemeletuk karena dingin. Terlihat wajah Andin yang pucat pasi dengan bibirnya yang terus bergerak kedinginan.

BRUK

            Dengan wajah kaget Anggi segera menoleh kesampingnya dan mendapati Andin telah terkulai lemas di sampingnya dengan mata terpejam dan wajah pucatnya.

“Andin… bangun… ya tuhan… apa yang harus aku lakukan. Penyakitnya kumat lagi…ambulan… oh ya, ambulan.. aku harus telpon ambulan.” Anggi dengan tergesa langsung merogoh sakunya mengetik nomor ambulan dengan cepat. Tak lama kemudian, ambulan datang dan segera membopong tubuh lemah Andin ke dalamnya. Anggi yang melihat saudaranya hanya bisa menangis dengan pilu. Ini bukan pertama kalinya Andin jatuh pingsan, justru ini kesekian kalinya sejak mereka mulai masuk ke bangku sekolah. Namun ibu mereka tak pernah tahu, atau bahkan mungkin tak ingin untuk tahu mengenai segala hal itu.

            Di rumah sakit, Anggi hanya bisa memegang tangan saudaranya itu dengan sisa-sisa air mata yang mongering di pipinya. Andin, dia hanya menutup matanya dengan pembantu oksigen di mulutnya. Awalnya dokter bilang ini penyakit vertigo, penyakit yang menyebabkan dunia Andin terasa berputar dan akhirnya gelap. Namun nyatanya vertigo hanyalah gejala dari penyakitnya yang sebenarnya selama ini bersembunyi dengan apik di otaknya, Andin mengidap tumor otak. Penyakit sialan yang berhasil membuatnya takut untuk meninggalkan Anggi sendirian, juga Alfa sahabatnya.

“Anggi… bangun…” Ucap Andin dengan suara seraknya. Anggi yang tak sengaja tertidur dengan posisi duduk di samping Andin perlahan membuka matanya dan otomatis tersenyum melihat adik kembarnya itu sudah membuka mata.

“Jangan tidur dengan posisi seperti itu, nanti kau sakit pinggang.” Ucap Andin dengan suara seraknya.

“Kau sudah bangun, syukurlah… aku sangat mengkhawatirkanmu.” Ucap Anggi menghiraukan omelan saudaranya itu.

“Aku baik-baik saja, lihat aku masih membuka mataku dan masih bisa melihatmu di depanku. Tenanglah Anggi, aku tak akan pergi tanpa membuatmu bahagia terlebih dahulu.” Ucap Andin penuh arti. Anggi hanya menatapnya dengan pandangan bertanya, namun hatinya menahan untuk menanyakan lebih jauh mengenai perkataan ngelantur adik kembarnya itu.

            Telah lebih dari seminggu Andin tak masuk sekolah, sedangkan Anggi tetap sekolah seperti biasa walau dengan hati harap-harp cemas karena harus meninggalkan saudaranya sendirian di rumah sakit. Alfa tak tahu menahu soal penyakit Andin, karena ini permintaan gadis itu sendiri. Alfa dibuatnya berjanji untuk tak bertanya apapun saat dia sedang tidak masuk ke sekolah. Namun naluri hati seorang sahabat tak mampu dipungkirinya, ia khawatir pada Andin. Maka dari itu berbekal niat nekatnya, ia mengikuti Anggi sepulang sekolah, dan kini sampailah ia di sini, Rumah Sakit Umum Medika. Sebuah rumah sakit besar satu-satunya di kota mereka. Jika sampai masuk ke rumah sakit ini, penyakitnya pastilah bukan hal yang main-main.   

            Alfa melihat Anggi memasuki sebuah ruangan, dari celah pintu ia bisa melihat tubuh gadis yang beberapa hari ini dicemaskannya sedang terbaring dengan selang-selang aneh yang menunjang hidupnya. Tak kuasa melihat itu semua tubuh Alfa merosot ke lantai dan menimbulkan suara yang cukup keras. Anggi yang terkejut langsung mnege-check keluar. Betapa terkejutnya ia saat melihat tubuh pemuda yang biasa dilihatnya tersneyum konyol kini tengah menangis dalam diam.

“Alfa… kau… bagaimana kau tahu aku dan Andin disini ?” tanya Anggi dengan suara gemetar menahan sedihnya juga.

“Kenapa ?... kenapa Andin yang harus seperti ini… KENAPA??? Hiks… hiks… hiks…” Tangis Alfa pecah sejadi-jadinya. Anggi hanya bisa menangis dalam diam.

            Siang berganti dengan malam, . Waktu berlalu begitu cepat, hingga 1 bulan telah berlalu dengan sangat membosankan bagi Andin. Bau etanol khas rumah sakit selalu menjadi aroma pagi yang menyambutnya, dengan ruangan serba putih yang membuatnya benar-benar merasa telah di surga, hanya saja bedanya ia masih merasa bernapas dengan alat bantu pernapasan dan segala alat aneh yang menunjang hidupnya. Satu saja dari alat itu yang dilepas, maka bau etanol tak akan bisa dihirupnya lagi tiap pagi.

“Ini untukmu…bunga dandelion cantik yang akan menemanimu hari ini?” Tanya Alfa yang baru saja datang  dan duduk disampingnya.

“Kenapa kau datang lagi ? aku kan sudah bilang aku tak mau bicara padamu kalau kau sampai melanggar janjimu waktu itu.” Ucap Andin dengan wajah dingin.

“Kau kenapa sih ? kemarin kau masih mau disuapi olehku saat makan. Kenapa tiba-tiba mengusirku ?” Tanya Alfa berusaha meredam kesalnya pada gadis itu.

“Alfa... kau ini sadar tidak ? Aku ini hanyalah gadis tak berguna yang menggantungkan hidupnya pada alat-alat ini. Ahhh… Intinya harusnya kau tak disini untuk membuang waktumu.” Ucap Andin dengan suara seraknya.

“Lalu kenapa memangnya ? kau juga sahabatku sebelum kau terbaring di ranjang ini. Kau juga satu-satunya gadis yang kusukai sebelum kau terbaring dengan alat bantu pernapasan ini, bahkan sampai detik ini.” Ucap Alfa dengan lirih sambil menutup wajahnya lelah.

TIIT… TIIITT… TIIITT…

            Lonceng kematian datang begitu saja tanpa permisi, Alfa tak menyangka ungkapan perasaannya saat itu adalah kesempatan terakhirnya untuk bicara dengan sang gadis pujaan. Dengan diiringi kereta kencana Andin pergi dengan tenang, tubuhnya tak kuat lagi sehingga sang jiwa meninggalkan raga itu untuk menyatu bersama angin dan membawanya menuju keabadian. Anggi hanya bisa mematung melihat tubuh sang adik terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit itu. Ibu mereka sudah tahu soal penyakit Andin, dan wanita tambun itu tetap tak peduli meski kini sang putri telah tiada.

“Anggi.. aku ingin kau tetap disampingku selamanya. Jangan pernah meninggalkanku… aku tak ingin patah hati dua kali…” Ucap Alfa sambil menggenggam tangan Anggi yang tengah terdiam menatap gundukan tanah bertuliskan nama saudaranya yang penuh dengan bunga dandelion cantik. 2 tahun berlalu sejak hari dimana dandelion Andin menemukan tempat peristirahatannya. Kini mereka telah kelas 3 SMA dan sebentar lagi akan lulus.

“Aku… aku akan bersamamu.” Jawab Anggi sambil tersenyum lembut.

            Angin membawa kelopak dandelion Andin menuju tanah tempat dimana ia akan tumbuh lagi menjadi sosok baru yang lebih cantik. Ditemani kaum bunga lainnya, dandelion Andin tak sendiri, ia tetap bersemi walau alamnya telah berbeda. Ia telah melewati angkasa dan menunjukkan keberanian dirinya yang dianggap lemah oleh orang-orang. Dandelion Andin telah bersemi di keabadian.

 

Kubutambahan, 14 Agustus 2017

Oleh : Ni Putu Jayanti Putri Prasita          

 

Tags: school family sad

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 1
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Pupus
607      438     1     
Short Story
Jika saja bisa, aku tak akan meletakkan hati padamu. Yang pada akhirnya, memupus semua harapku.
My World
1084      759     1     
Fantasy
Yang Luna ketahui adalah dirinya merupakan manusia biasa, tidak memiliki keistimewaan yang sangat woah. Hidup normal menyelimutinya hingga dirinya berusia 20 tahun. Sepucuk surat tergeletak di meja belajarnya, ia menemukannya setelah menyadari bahwa langit menampilkan matahari dan bulan berdiri berdampingan, pula langit yang setengah siang dan setengah malam. Tentu saja hal ini aneh baginya. I...
Pilihan Terbaik
5348      1766     9     
Romance
Kisah percintaan insan manusia yang terlihat saling mengasihi dan mencintai, saling membutuhkan satu sama lain, dan tak terpisahkan. Tapi tak ada yang pernah menyangka, bahwa di balik itu semua, ada hal yang yang tak terlihat dan tersembunyi selama ini.
BIYA
3849      1541     3     
Romance
Gian adalah anak pindahan dari kota. Sesungguhnya ia tak siap meninggalkan kehidupan perkotaannya. Ia tak siap menetap di desa dan menjadi cowok desa. Ia juga tak siap bertemu bidadari yang mampu membuatnya tergagap kehilangan kata, yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Namun kalimat tak ada manusia yang sempurna adalah benar adanya. Bidadari Gian ternyata begitu dingin dan tertutup. Tak mengij...
Let me be cruel
27116      11172     545     
Inspirational
Menjadi people pleaser itu melelahkan terutama saat kau adalah anak sulung. Terbiasa memendam, terbiasa mengalah, dan terlalu sering bilang iya meski hati sebenarnya ingin menolak. Lara Serina Pratama tahu rasanya. Dikenal sebagai anak baik, tapi tak pernah ditanya apakah ia bahagia menjalaninya. Semua sibuk menerima senyumnya, tak ada yang sadar kalau ia mulai kehilangan dirinya sendiri.
Roger
2432      1133     2     
Romance
Tentang Primadona Sial yang selalu berurusan sama Prince Charming Menyebalkan. Gue udah cantik dari lahir. Hal paling sial yang pernah gue alami adalah bertemu seorang Navin. Namun siapa sangka bertemu Navin ternyata sebuah keberuntungan. "Kita sedang dalam perjalanan" Akan ada rumor-rumor aneh yang beredar di seluruh penjuru sekolah. Kesetiaan mereka diuji. . . . 'Gu...
To You The One I Love
957      589     2     
Short Story
Apakah rasa cinta akan selalu membahagiakan? Mungkinkah seseorang yang kau rasa ditakdirkan untukmu benar benar akan terus bersamamu? Kisah ini menjawabnya. Memang bukan cerita romantis ala remaja tapi percayalah bahwa hidup tak seindah dongeng belaka.
Because We Are Family
534      424     0     
Short Story
Prakerin
9376      2877     14     
Romance
Siapa sih yang nggak kesel kalo gebetan yang udah nempel kaya ketombe —kayanya Anja lupa kalo ketombe bisa aja rontok— dan udah yakin seratus persen sebentar lagi jadi pacar, malah jadian sama orang lain? Kesel kan? Kesel lah! Nah, hal miris inilah yang terjadi sama Anja, si rajin —telat dan bolos— yang nggak mau berangkat prakerin. Alasannya klise, karena takut dapet pembimbing ya...
When I Found You
3530      1293     3     
Romance
"Jika ada makhluk yang bertolak belakang dan kontras dengan laki-laki, itulah perempuan. Jika ada makhluk yang sanggup menaklukan hati hanya dengan sebuah senyuman, itulah perempuan." Andra Samudra sudah meyakinkan dirinya tidak akan pernah tertarik dengan Caitlin Zhefania, Perempuan yang sangat menyebalkan bahkan di saat mereka belum saling mengenal. Namun ketidak tertarikan anta...