Loading...
Logo TinLit
Read Story - Nina si Gadis Penjual Kue
MENU
About Us  


Mentari mulai merangkak di ufuk timur. Suara kokokan ayam jantan dari penjuru kampung mungkin baru saja membangunkan seseorang dari tidur lelapnya. Tidak denganku. Aku sudah bangun sejak subuh tadi dan kini aku berada di halte. Menunggu bus yang biasa membawaku menuju sekolah. Namun tampaknya supir bus hari ini sedkit terlambat. Karena sudah lima belas menit aku berdiri di sini namun tak ada bus yang lewat. Aku merapatkan jaketku. Udara pagi ini terasa menusuk tulangku. Aku melirik sekitar halte. Syukurlah sudah ada beberapa orang di halte. Meski mulai ramai, aku tetap saja merasa kesepian. Mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

"Kue...kue... kuenya, bu."

Pandanganku teralih saat sebuah suara menarik perhatianku. Kepalaku memutar mencari sumber suara. Di sana, seorang anak kecil berumur sekitar tujuh tahun tampak menjajakan barang dagangannya pada seseorang yang berada tak jauh dariku. Mataku melihat ibu yang ditawari tersenyum dan menggeleng. Anak itu tersenyum dan segera meninggalkan ibu tersebut. Begitu ketika ia menawari yang lain. Hanya sebuah penolakan.

"Kuenya, kak."

Lamunanku buyar. Entah sudah berapa lama aku melamun. Yang jelas kini anak yang sedari tadi kuperhatikan tengah berdiri di depanku dan menawari dagangannya. Aku melirik dagangannya. Aneka jajanan pasar terlihat menggiurkan.

"Boleh. Lima ribu, ya."

Tak ada salahnya membantu anak itu. Toh lumayan untuk bekal di sekolah. Lagipula sedari tadi anak itu belum dapat penglaris. Anak itu tersenyum senang dan segera membungkus pesananku. Kuperhatikan senyum itu. Tulus. Sekilas anak ini sama dengan anak yang lainnya. Hanya saja penampilan gadis itu terlihat lusuh dan memprihatinkan dengan pakaian yang kotor dan sendal jepit yang sudah menipis.

"Ini kak kuenya." Ia menyerahkan beberapa kue dagangannya padaku dengan senyum tulus. Aku menerimanya seraya berterima kasih. Tangannya terlihat banyak luka seperti goresan.

Aku meraih tangannya dan mengamati luka goresan bekas sayatan pisau tersebut. Tanganmu kenapa? tanyaku padanya.

Ia menarik tangannya kembali dan menggeleng. Ini kemarin bekas berantem sama preman yang mau mengambil uang aku. Preman itu ngelukai tangan aku pakai pisau. Tapi udah nggak sakit kok.

Aku tersenyum pedih mendengarnya. Kulirik arloji di tanganku. Masih ada waktu sepuluh menit untuk mengobrol dengannya. "Namamu siapa?"

"Nina."

Aku mengangguk mengerti. "Nina nggak sekolah?"

Nina terdiam. Senyumnya berganti menjadi tatapan kesedihan di sana. Rasa bersalah menyergap diriku. Tetapi kurasa tak ada yang salah dengan pertanyaanku. Aku hanya bertanya yang wajar. "Nina udah nggak sekolah. Nggak ada biaya."

Aku terdiam mendengar pernyataannya. "Orang tua Nina ke mana?"

"Nina nggak punya orang tua. Tante Hesti bilang aku dibuang oleh orang tuaku."

Aku menatap Nina pedih. Anak sekecil itu harus merasakan beban yang berat. Bersyukurlah bagi mereka yang masih mempunyai orang tua. Aku langsung teringat orang tuaku yang jauh di Bogor. Aku sendiri tinggal di Jakarta bersama paman. "Nina tinggal sama siapa?"

Nina terdiam lagi. Ia mengambil posisi duduk di sampingku. Dagangannya ditaruh di pangkuannya. Ia menatap lurus ke depan. "Dulu Nina tinggal sama Tante Hesti. Dia baik sekali. Meskipun Nina bukan anak kandungnya. Tapi semenjak Tante Hesti meninggal Nina tinggal sendiri."

Aku merangkul bahunya. Berusaha menguatkannya. Hanya ini yang bisa kulakukan. "Jadi ini alasan Nina menjual kue?"

Nina mengangguk. "Iya. Nina menjual kue untuk biaya hidup Nina."

"Nina tidak mau sekolah?" Pertanyaan yang sedari tadi kutahan akhirnya meluncur juga.

Nina tersenyum. "Itu impian terbesar Nina. Tapi sayang Allah punya takdir yang lain. Nina harus mengubur impian Nina untuk sekolah dan lebih menjadi penjual kue."

Aku dibuat terdiam oleh perkataannya. Disaat yang lain sibuk bermain, Nina justru sibuk mencari uang untuk menyambung hidup. "Nina nggak ngerasa kalau Tuhan itu nggak adil buat Nina?"

"Nggak kok. Tuhan itu adil. Nina yakin Tuhan punya jalan sendiri buat Nina. Nina juga sadar kalau Tuhan itu sayang banget sama Nina. Nina bisa tahu gimana kerasnya kehidupan. Dengan itu Nina bisa menjadi gadis yang tegar nanti."

"Kalau seandainya ada orang baik yang nyuruh Nina sekolah, apa Nina mau?"

Nina tersenyum dan melirikku. "Nina yakin semua anak yang bernasib seperti Nina juga bakal mau. Karena itu merupakan impian besar Nina. Dan Nina berjanji akan belajar sungguh-sungguh untuk menjadi orang yang sukses kelak. Nina nggak mau Indonesia masih ada orang miskin. Nina nggak mau ada yang bernasib seperti Nina."

Aku menatap takjub Nina. Pikirannya benar-benar dewasa di usianya yang bisa kutebak tujuh atau delapan tahunan.
"Kadang Nina suka heran sama anak-anak di luar sana yang sering tawuran. Orabg tua mereka susah payah nyekolahin tetapi mereka malah nyia-nyiain. Apa mereka tidak sadar kalau banyak anak-anak yang ingin sekolah tetapi tidak mempunyai biaya? Mau jadi apa negara ini jika anak-anaknya seperti ini."

Aku terdiam. Tak sanggup membalas perkataan Nina. Jauh di lubuk hatiku, aku berdecak kagum. Jarang kutemui anak seusia Nina yang mempunyai pikiran dewasa tersebut. Nina boleh minta tolong nggak, kak?

Keningku mengernyit. Apa?

Nina meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Ada rasa hangat yang menjuluri tubuhku. Nina benar-benar mengingatkanku pada Fatimah, adikku yang saat ini berada di Bogor. Nina minta tolong, kakak jangan berhenti buat belajar ya? Kakak harus rajin belajar supaya bisa menjadi kebanggan keluarga dan Negara. Nina titip semangat Nina untuk kakak ya. Jangan seperti mereka yang nyia-nyiain kesempatan sekolah itu. Kalau Nina sudah dewasa pasti Nina bakal nasehatin mereka. Tetapi sayang, Nina Cuma anak kecil.

Nina. Kamu benar-benar insiprasi bagi anak-anak. Bahkan aku saja tidak mempunyai urusan seperti Nina. Bagiku itu adalah urusan mereka. Yang penting aku tidak seperti itu. Di ujung jalan, bus kuning yang biasa kunaiki mulai terlihat. Aku mendesah kecewa. Padahal aku masih ingin berlama-lama mengobrol dengannya.

"Kakak salut Nina punya pikiran seperti itu. Semoga Tuhan mendengarkan doa Nina. Yang penting Nina jangan patah semangat. Hidup itu untuk dijalani bukan untuk disesali."

"Iya kak. Nina selalu ingat ucapan kakak. Nina bersyukur kakak mau dengerin cerita Nina. Selama ini nggak ada yang peduli sama Nina. Bahkan untuk menbelu dagangan Nina saja tidak mau. Kakak baik sekali."

Aku tersenyum mendengarnya. Aku bisa merasakan ucapannya tulus dari hati. Anak itu tidak mungkin berbohong. Aku membelai lembut rambutnya. "Kakak juga senang Nina mau cerita sama kakak. Nina tidak boleh ngomong gitu. Masih banyak yang sayang sama Nina. Percaya, takdir Tuhan pasti indah."

Nina mengangguk. "Nina senang bisa kenal sama kakak."

"Kakak juga senang kenal Nina."

Bus kuning yang mengantarkanku menuju sekolah berhenti. Itu berarti aku harus menyudahi obrolanku dengan Nina. Anak inspiratif. Aku merapikan pakaianku. "Kakak pergi dulu ya? Doakan kakak semoga kakak bisa mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Semoga kita juga bisa bertemu lagi ya?" ucapku seraya beranjak dari dudukku.

Nina ikut berdiri. Ia tersenyum. "Semangat ya kak. Semoga kita ketemu lagi. Nina masih mau cerita banyak."

"Iya pasti."

Aku mencium kening Nina dan segera masuk ke dalam bus. Sejenak kutoleh kepalaku ke belakang. Nina masih berdiri di sana. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku membalasnya sebelum benar-benar masuk ke dalam bus. Pagi ini aku mendapat pelajaran berharga dari Nina. Si penjual kue cilik tapi ucapannya mampu menyihir orang dewasa semacamku. Nina, semoga kelak kita bisa bertemu lagi. Terima kasih atas pembelajarannya pagi ini. Semoga engkau selalu baik-baik saja, doaku dalam hati.

Tags: Sad

How do you feel about this chapter?

1 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Dandelion
1046      587     0     
Short Story
Sepasang gadis kembar, menjalani masa muda mereka dengan saling mengisi. Lika-liku kehidupan menjadikan mereka gadis-gadis yang berani layaknya bunga dandelion.
Behind The Spotlight
10530      5956     622     
Inspirational
Meskipun memiliki suara indah warisan dari almarhum sang ayah, Alan tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang penyanyi, apalagi center dalam sebuah pertunjukan. Drum adalah dunianya karena sejak kecil Alan dan drum tak terpisahkan. Dalam setiap hentak pun dentumannya, dia menumpahkan semua perasaan yang tak dapat disuarakan. Dilibatkan dalam sebuah penciptaan mahakarya tanpa terlihat jelas pun ...
Dendam
612      460     3     
Short Story
Dulu, Helena hidup demi adiknya, Kiara. Setelah Kiara pergi, Helena hidup demi dendamnya.
Nothing Like Us
40390      7011     51     
Romance
Siapa yang akan mengira jika ada seorang gadis polos dengan lantangnya menyatakan perasaan cinta kepada sang Guru? Hal yang wajar, mungkin. Namun, bagi lelaki yang berstatus sebagai pengajar itu, semuanya sangat tidak wajar. Alih-alih mempertahankan perasaan terhadap guru tersebut, ada seseorang yang berniat merebut hatinya. Sampai pada akhirnya, terdapat dua orang sedang merencanakan s...
Andaikan waktu bisa diperlambat
1054      680     11     
Short Story
kisah dua sahabat bernama Bobby dan Labdha yang penuh dengan tawa dan tantangan soal waktu.
Bimbang (Segera Terbit / Open PO)
7993      2982     1     
Romance
Namanya Elisa saat ini ia sedang menempuh pendidikan S1 Ekonomi di salah satu perguruan tinggi di Bandung Dia merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara dalam keluarganya Tetapi walaupun dia anak terakhir dia bukan tipe anak yang manja trust me Dia cukup mandiri dalam mengurus dirinya dan kehidupannya sendiri mungkin karena sudah terbiasa jauh dari orang tua dan keluarganya sejak kecil juga ja...
TENTANG WAKTU
2261      1028     6     
Romance
Elrama adalah bintang paling terang di jagat raya, yang selalu memancarkan sinarnya yang gemilang tanpa perlu susah payah berusaha. Elrama tidak pernah tahu betapa sulitnya bagi Rima untuk mengeluarkan cahayanya sendiri, untuk menjadi bintang yang sepadan dengan Elrama hingga bisa berpendar bersama-sama.
Sad Symphony
512      399     0     
Short Story
Aku ingin kamu ada dalam simfoni hidupku. Tapi kamu enggan. Aku bisa apa?
When Home Become You
482      372     1     
Romance
"When home become a person not place." Her. "Pada akhirnya, tempatmu berpulang hanyalah aku." Him.
My Selenophile
875      628     2     
Short Story
*Selenophile (n) : A person who love the moon Bagi Lasmi, menikmati keheningan bersama Mahesa adalah sebuah harapan agar bisa terus seperti itu selamanya. Namun bagi Mahesa, kehadiran Lasmi hanyalah beban untuk ia tak ingin pergi. \"Aku lebih dari kata merindukanmu.\"