Loading...
Logo TinLit
Read Story - Asrama dan Asmara
MENU
About Us  

Aku pergi ke sekolah pagi pagi sekali. Aku berjalan menelusuri koridor asrama yang tak asing lagi bagiku. Sudah satu tahun aku diakrabkan dengan rute asrama-sekolah ini. Tak ada yang berbeda kecuali satu hal, siswa siswi baru lalu-lalang melewatinya. Seperti biasa, setiap tahun sekolahku menerima 100 siswa baru untuk bisa bersekolah dan berasrama di sini. Dari awal mereka masuk, mereka diperkenalkan cara beradaptasi di lingkungan ini termasuk beretika yang baik. Mereka terlihat sangat ramah bahkan sering kali aku disapa oleh mereka. Tetapi, dari sekian banyak hal baru yang terjadi di semester ini, hanya ada satu hal yang membuatku tertarik. Ismail. Anak kelas 10 berkacamata itu berhasil membuatku penasaran dengan sesuatu yang terjadi ketika sarapan.

Aku berjalan cepat menuju kantin asrama ketika 10 menit tersisa sebelum bel masuk berbunyi. Ketika makananku sudah hampir habis, ada seorang lelaki yang duduk tepat di depanku dan melahap makanannya. Dia tak berkata apa apa. Dia hanya terus makan dengan cepat. Sejenak aku terpaku. Ku lihat arlojiku menunjukkan 2 menit lagi waktu yang tersisa. Entah mengapa aku tak bisa meninggalkan lelaki itu sendiri. Aku tetap menunggunya hingga ia selesai menghabiskan sarapannya. Tetapi, ia tak mengetahuinya. Ia langsung meninggalkanku tanpa berkata.

Aku nyaris terlambat. Hanya ada sedikit celah di pintu masuk sekolah untukku sebelum ditutup rapat. Hanya gara gara lelaki yang tak pernah kukenal, aku hampir saja harus membuat surat pernyataan terlambat. Tetapi siapa dia? Apa yang membuatku terpaku ketika melihatnya? Mengapa aku tak mampu meninggalkan dia bahkan disaat yang genting?

.                                                                                   

Bel makan siang berbunyi. Aku bergegas pergi ke kantin untuk menyantap makan siangku. Tak menunggu lama, kantin dipadati siswa siswi yang ingin mendapatkan makan siang. Antrean air minum pun seolah menjadi pusat penerimaan sembako.

Awalnya aku ikut mengantre di barisan dispenser siswa. Tetapi sekilas aku melihat beberapa siswa mengisi botol air minumnya di dispenser guru. Akhirnya aku pun ikut mengantre di sana. Ketika giliranku mengisi botol, debit air yang kudapatkan sangat kecil. Ku coba untuk menggoyang goyangkan dispenser itu, tapi tak berhasil. Tiba tiba dari arah kiriku, seorang lelaki berkacamata menggerakkan galonnya.

 “Sini, biar dibantu.” Tangan kanannya meraih galon.

 Aku tak berfokus pada botol yang ku isi, melainkan dia. Aku mengenalinya. Kemeja bagian dada kanan lelaki itu bertuliskan ‘Ismail Marosy’. Pandanganku langsung kualihkan pada disepenser yang ada di depanku. Pertolongannya tak membuahkan hasil. Debit airnya masih saja kecil.

 “Pindah saja ke antrean siswa, dispenser ini rusak.” Ia menunjuk antrean panjang yang berada 10 meter di sebelah kananku. Aku mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Aku memutuskan untuk tidak mengisi botol minumku.

.

Hari hari setelah Ismail membantuku mengisi botol air minum, aku selalu bertemu dengannya. Entah apa aku hanya berfatamorgana atau ia memang selalu muncul di hari hariku. Terkadang aku ingin memulai percakapan dengannya walaupun  hanya sekedar bertanya tentang hal yang tak penting. Tapi, setiap aku bertemu dengannya, aku terpaku dan tak tahu harus apa untuk menghadapi sikap dinginnya itu. Ya, sikap itu. Sikap dingin itu yang membuatku semakin penasaran. Bahkan ia tak terlihat begitu tertarik berinteraksi dengan teman teman angkatannya. Mungkin itulah jawaban untuk pertemuan kami di kantin saat sarapan waktu itu.

.

Bulan berbentuk sempuna dan tebaran bintang tak pernah ingin kulewatkan. Setelah makan malam, aku pergi ke taman asrama untuk belajar sambil menyaksikan keindahan langit. Tak ada orang yang ingin belajar di sana karena angin malam terlalu dingin untuk dirasakan, tapi hal ini yang justru aku suka. Tak seperti malam-malam sebelumnya dimana hanya ada bangku dan pohon pinang yang menuggu kedatanganku, ada seseorang berjaket kelabu duduk sambil membaca novel. Aku perlahan mendekatinya. Lagi lagi aku mengenali wajah itu. Mengapa dia ada di sini? Apa mungkin dia tahu aku suka belajar di sini?

Ku sapa dia dengan hati berdebar. Dia membalas sapaanku tapi masih dengan sikap yang dingin dan tak sedikit pun memandangku. Aku duduk di bangku yang berada di depannya. Aku membuka buku biologiku sambil mengunyah permen karet. Pandanganku tertuju pada rangkaian tulisan di buku itu, tapi pikiran dan hatiku tidak. Aku memikirkan apa yang harus aku katakan untuk memulai percakapan kami. Aku tidak ingin kesempatan untuk berbicara padanya sia sia.

“Apa kesan pesanmu selama tinggal di asrama dan bersekolah di sini?” aku mencairkan suasana yang seakan mencekam itu.

 “Biasa saja.” Dia memandangku sekilas lalu kembali fokus kepada novelnya.

“Mengapa kau disini? Mengapa kau tak belajar bersama teman temanmu? Bahkan kau hanya menghabiskan waktumu untuk membaca novel sendirian di sini.” Aku masih mencoba berkomunikasi dengannya.

“Bukan hanya membaca novel di tempat ini, tapi aku juga menghabiskan waktuku untuk bersekolah di sini.” Kali ini dia agak melotot menatapku.

Aku terpaku dan mulai mencerna perkataannya barusan. Itu artinya dia tak betah disini. Tapi karena apa? Aku mulai kehabisan kata untuk berbicara dan membalas perkataannya.

.

.

“Tahu berita terbaru gak? Ada siswa kelas 10 yang menghadap kepala sekolah untuk mengundurkan diri. Katanya sih dia gak betah tinggal di asrama ini. Emang kelihatannya dia anak yang individualis, wajar saja kalau tak mempunyai teman,” kata Siska, teman baikku.

Pagiku dimulai dengan mendengarkan cerita Siska tentang Ismail. aku berusaha untuk menutupi ketertarikanku pada Ismail dari Siska dan seolah tak peduli dengan apa yang barusan ia ceritakan. Tapi aku tak berhasil.

“Namanya Ismail, kan? Aku tertarik padanya,” kataku membuka semuanya pada Siska.

“Apa? Kau menyukai adik kelas?” wajah kaget dari perempuan hitam manis itu membuatku menghela nafas panjang.

“Jangan tanya kenapa, karena aku juga gak tahu alasannya,” ucapku menunduk. “Aku berharap banget dia betah dan bertahan disini.”

Siska tak berkata apapun. Kekakuan mulai menjerat suasana pagi itu. beruntung segera setelahnya, bel masuk sekolah berbunyi.

.

13.00 WIB. Aku pulang ke asrama setelah dipenatkan dengan pelajaran di sekolah. Belum keluar area sekolah, aku melihat Ismail tertunduk di ruang konselor saat aku berjalan melewati ruang itu. langkahku terhenti. aku telah mengetahui alasan mengapa dia berada di sana. aku tak menginginkan dia pergi. Aku berbisik dari balik jendela, “tetaplah disini.”

Tak sempat aku berbalik badan, tiba tiba dia keluar dari ruang konselor. Aku terpaku dan tak bisa berbuat apa apa kecuali tersenyum pahit padanya. Untuk pertama kalinya ia membalas senyumku. Hanya sekilas. Ia langsung meninggalkanku yang mematung di dekat pintu.

.

.

aku berlari sekencang kencangnya ketika Echa-teman sekamarku-mengatakan bahwa anak kelas 10 yang dikabarkan ingin mengundurkan diri akhirnya pergi hari ini. Aku berhenti saat aku melihat lelaki berbaju hijau melangkah ke gerbang dengan membawa koper dan satu tas punggung. Langkahnya terhenti tepat di depan gerbang. Nafasku masih terengah engah tapi masih kupaksakan melangkah mendekatinya. Lagi-lagi aku terpaku ketika ia melihat ke arahku. Bahkan untuk melanjutkan langkah pun aku tak sanggup. Saat itu aku merasakan debaran jantungku semakin menjadi jadi.

Mobil berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Ia memasukkan koper ke bagasi. Tak lama dirinya pun hilang dari pandangan. Mobil melaju tanpa jejak. Saat itu pula ia meninggalkanku. Aku masih berdiri, menghela nafas panjang. Sulit untukku menerima kenyataan bahwa ia pergi sebelum tahu apa sebenarnya yang aku rasakan dan inginkan.

Sebuah tangan meraih bahuku. Siska. Ia menggapai tanganku dan menggenggamnya erat erat. Ia tampaknya tahu tentang isyarat hatiku. Ia mengajakku pergi ke taman asrama, tempat dimana sepintas kenangan terurai di sana.

Aku melewati koridor yang sama, tetapi sesuatu telah berbeda. Tak akan ada lagi bayang bayangnya yang berhasil membuatku tak dapat berbuat apa apa. Keheningan terjadi ketika aku dan Siska duduk di bangku taman asrama.

“Tak ada yang dapat berdusta dengan perasaan. Dari pertama aku melihat Ismail, jujur, aku tertarik padanya. Alasanku menyukainya sama denganmu. Satu hal yang berbeda, aku berani mengungkapkannya,” Siska menatapku tajam, sedangkan aku menaikkan badan tak percaya.

“Mengapa kau lakukan? Kau bahkan tak memberitahuku!” nada bicaraku sedikit naik.

“Ayla, dengar. Hari itu, aku bertemu dia disini. Aku memberanikan diri untuk mendekati dan mengajaknya berbicara karena aku suka padanya. Aku menyapanya. Dari sana kami mulai bercerita,” ucap Siska seolah olah ia sedang membayangkan kejadian saat itu.

“Kau menceritakan keberuntunganmu. Dia bahkan tak ingin berbicara padaku.” Aku mulai berkata asal-asalan dan ingin rasanya meninggalkan tempat itu.

“Ini bukan keberuntunganku. Saat itu aku berkata bahwa aku menyukainya. Dan kau tahu, dia berkata bahwa dia menyukai kak Ayla. Kamu, La!” Siska agak menjerit. “Selama dia sekolah di sini, dia tak pernah benar benar mempunyai teman. Dia menyukai hal kecil yang kau lakukan saat kalian sarapan. Ia sadar bahwa kau menunggunya saat itu. Ia benar benar ingin menjadi temanmu, La. Tapi, setiap dia bertemu denganmu, dia tak bisa mengontrol dirinya. Itulah alasan mengapa dia selalu dingin di depanmu. Sayang, dia tak sempat mengetahui perasaanmu.”

Aku terdiam kehabisan kata kata. Membayangkan setiap pertemuan dengannya. Mengingat setiap detail yang ia lakukan. Entah apa yang harus kukatakan pada Siska. Kata penyesalan tak pantas diucapkan olehku. Mengapa ia pergi meninggalkan sekolah ini dan juga aku? Benar, dia tak sempat mengetahui perasaanku....

Tags: romance

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Kebaikan Hati Naura
678      396     9     
Romance
Naura benar-benar tidak bisa terima ini. Ini benar-benar keterlaluan, pikirnya. Tapi, walaupun mengeluh, mengadu panjang lebar. Paman dan Bibi Jhon tidak akan mempercayai perkataan Naura. Hampir delapan belas tahun ia tinggal di rumah yang membuat ia tidak betah. Lantaran memang sudah sejak dilahirikan tinggal di situ.
Love Rain
23043      4279     4     
Romance
Selama menjadi karyawati di toko CD sekitar Myeong-dong, hanya ada satu hal yang tak Han Yuna suka: bila sedang hujan. Berkat hujan, pekerjaannya yang bisa dilakukan hanya sekejap saja, dapat menjadi berkali-kali lipat. Seperti menyusun kembali CD yang telah diletak ke sembarang tempat oleh para pengunjung dadakan, atau mengepel lantai setiap kali jejak basah itu muncul dalam waktu berdekatan. ...
(L)OVERTONE
2737      1115     1     
Romance
Sang Dewa Gitar--Arga--tidak mau lagi memainkan ritme indah serta alunan melodi gitarnya yang terkenal membuat setiap pendengarnya melayang-layang. Ia menganggap alunan melodinya sebagai nada kutukan yang telah menyebabkan orang yang dicintainya meregang nyawa. Sampai suatu ketika, Melani hadir untuk mengembalikan feel pada permainan gitar Arga. Dapatkah Melani meluluhkan hati Arga sampai lela...
Mahar Seribu Nadhom
5594      2102     7     
Fantasy
Sinopsis: Jea Ayuningtyas berusaha menemukan ayahnya yang dikabarkan hilang di hutan banawasa. Ketikdak percayaannya akan berita tersebut, membuat gadis itu memilih meninggalkan pesantren. Dia melakukan perjalanan antar dimensi demi menemukan jejak sang ayah. Namun, rasa tidak keyakin Jea justru membawanya membuka kisah kelam. Tentang masalalunya, dan tentang rahasia orang-orang yang selama in...
NWA
2539      1070     1     
Humor
Kisah empat cewek penggemar boybend korea NCT yang menghabiskan tiap harinya untuk menggilai boybend ini
Hyeong!
277      240     1     
Fan Fiction
Seok Matthew X Sung Han Bin | Bromance/Brothership | Zerobaseone "Hyeong!" "Aku bukan hyeongmu!" "Tapi—" "Seok Matthew, bisakah kau bersikap seolah tak mengenalku di sekolah? Satu lagi, berhentilah terus berada di sekitarku!" ____ Matthew tak mengerti, mengapa Hanbin bersikap seolah tak mengenalnya di sekolah, padahal mereka tinggal satu rumah. Matthew mulai berpikir, apakah H...
Sacred Sins
1599      711     8     
Fantasy
With fragmented dreams and a wounded faith, Aria Harper is enslaved. Living as a human mortal in the kingdom of Sevardoveth is no less than an indignation. All that is humane are tormented and exploited to their maximum capacities. This is especially the case for Aria, who is born one of the very few providers of a unique type of blood essential to sustain the immortality of the royal vampires of...
After Feeling
8141      3295     1     
Romance
Kanaya stres berat. Kehidupannya kacau gara-gara utang mantan ayah tirinya dan pinjaman online. Suatu malam, dia memutuskan untuk bunuh diri. Uang yang baru saja ia pinjam malah lenyap karena sebuah aplikasi penipuan. Saat dia sibuk berkutat dengan pikirannya, seorang pemuda misterius, Vincent Agnito tiba-tiba muncul, terlebih dia menggenggam sebilah pisau di tangannya lalu berkata ingin membunuh...
Memories About Him
4944      2216     0     
Romance
"Dia sudah tidak bersamaku, tapi kenangannya masih tersimpan di dalam memoriku" -Nasyila Azzahra --- "Dia adalah wanita terfavoritku yang pernah singgah di dalam hatiku" -Aldy Rifaldan --- -Hubungannya sudah kandas, tapi kenangannya masih berbekas- --- Nasyila Azzahra atau sebut saja Syila, Wanita cantik pindahan dari Bandung yang memikat banyak hati lelaki yang melihatnya. Salah satunya ad...
I\'m Too Shy To Say
555      395     0     
Short Story
Joshua mencintai Natasha, namun ia selalu malu untuk mengungkapkannya. Tapi bagaimana bila suatu hari sebuah masalah menimpa Joshua dan Natasha? Akan masalah tersebut dapat membantu Joshua menyatakan perasaannya pada Natasha.