Loading...
Logo TinLit
Read Story - Ksatria Dunia Hitam
MENU
About Us  

 

 

Gerutuan pelan menemani langkah kakinya menyusuri jalan setapak yang mulai sepi. Tubuhnya menggigil menahan hembusan angin yang membuat bulu kuduknya meremang. Saat inilah ia menyesali keinginannya untuk ikut serta dalam sebuah organisasi. Berangkat saat langit gelap begitupun pulangnya. Yang lebih ia sesali adalah melewati jalan pintas dan kini melihat seorang lelaki tengah dihajar oleh sekumpulan pria bertubuh kekar. Ia segera menyembunyikan diri dibalik dinding terdekat. Dirapalkannya doa agar pria-pria itu segera pergi, setidaknya tidak membuat lelaki itu mati dan membuatnya mendapat masalah yang besar. Benar saja, selang beberapa saat pria-pria itu melintasi jalanan   disisi dinding tempat persembunyiannya. Ia menahan nafas ketika melihat satu persatu wajah kelima pria kekar yang sangat menyeramkan baginya.

   Bergegas ia menghampiri lelaki yang bersimbah darah itu, setelah memastikan mereka benar-benar tidak terjangkau oleh pandangannya. Sungguh tragis kondisi lelaki itu, tubuhnya seolah berselimut darah. Tak dapat dibayangkannya betapa sakitnya dia saat sadar nanti. Diambilnya ponsel dari saku baju seragamnya yang sedikit lusuh akibat bersembunyi dibalik dinding tadi. Tangannya bergegas lincah mengetikkan nomor darurat. Setelah tersambung, ia menyebutkan alamat lengkap daerah yang kini dipijakinya. Dengan terpaksa, ia harus menunggu datangnya ambulans yang akan membawa serta lelaki itu. Kakinya melangkah mengelilingi tubuh itu, dipikirkannya segala kemungkinan yang menyebabkan lelaki itu dipukuli oleh pria yang ia tebak adalah preman. Apakah dia orang jahat, atau mungkin dia berhutang, atau dia menolong seseorang yang diganggu para pria itu? Suara sirine itu membuyarkan lamunannya, ia segera berdiri mempersilahkan para petugas medis menangani lelaki itu.

"Maaf, bisakah anda ikut dengan kami?" Raut wajahnya menunjukkan keterkejutan ketika seorang petugas bertanya padanya.

"Saya tidak ada hubungannya dengan dia" ia menelan ludah kasar tidak ingin disangkutpautkan dengan lelaki itu. Namun petugas itu tak peduli dan memaksanya untuk ikut.

"Kami tahu, tapi setidaknya ikutlah dengan kami untuk memberi keterangan" ia mengangguk pasrah mengikuti hingga rumah sakit.

       Kejadian malam itu sungguh membuatnya trauma pulang malam. Ia ingin mengumpat pada seluruh perawat yang ada disana. Benar dugaannya, setelah meminta penjelasan mereka menanyakan tanggungan biaya dan memojokkannya. Beruntungnya ia karena lelaki itu segera sadar dan membayar seluruh biaya perawatannya.

       Diarahkan langkahnya ke sebuah minimarket yang tidak jauh dari tempatnya berdiri menunggu seseorang yang berjanji menjemputnya. Ia berpikir untuk menunggu dengan ditemani minuman dingin yang menyegarkan. Tatapannya berbinar saat bertemu pandang dengan minuman kesukaannya. Namun harus menelan kekecewaan ketika ada yang mengklaim itu telah menjadi seorang lelaki bertudung jaket.

"Hey tunggu, bolehkah itu untukku?" Biarlah orang mengiranya tak punya malu daripada harus kehilangan sebotol minuman itu. Lelaki yang merasa diajak berbincang kemudian berbalik menghadapnya, Keduanya terkejut. 

"Hai, kita ketemu lagi" senyum menawan itu membuat hatinya sedikit meleleh. Ia tersipu melihat wajah rupawan yang beberapa hari lalu dijumpainya bersimbah darah. Lantas lelaki itu mengambil sebuah kartu dari dompetnya, kemudian melirik gadis dihadapannya.

"Ini KTP-mu, terima kasih karena telah menolongku" ujarnya sembari menyerahkan KTP yang sekarang diingat gadis itu diserahkan pada petugas medis sebagai jaminan di rumah sakit.

"Hey? Bolehkah aku meminta nomor teleponmu Altafia?" Ia mengangguk pelan. Diterimanya ponsel lelaki itu dan mengetikkan 12 digit nomor yang telah ia hafal. Lalu diserahkan kembali kepada pemiliknya.

"Oh ya, ini untukmu saja, sepertinya kau kehausan" hatinya bersorak senang saat botol dingin itu telah berpindah ke tangannya.

"Terimakasih" Lelaki itu pergi dengan segera dari hadapannya. 

   

     Sejak hari itu, ia semakin intens berhubungan dengan lelaki itu. Tidak pagi, siang ataupun sore, selalu menghubunginya. Terkadang ia tersenyum saat lelaki itu melontarkan kata-kata manisnya. Ataupun kata bijak, bahkan tebak-tebakan lucu yang membuatnya terbahak-bahak sendiri. Dia tidak seperti lelaki kebanyakan yang meminta bertemu. Justru sebaliknya, ketika gadis itu ingin bertemu ia malah menolak. Tidak ada alasan pasti yang dikemukakan padanya. Terkadang hal ini membuatnya kesal.  

     Minggu pagi ini ia habiskan dengan berjalan di taman kota. Melepas kepenatan setelah seminggu ini dihadapkan banyak tugas sekolah maupun osis, juga memikirkan lelaki yang tidak ia ketahui namanya. Jika dibilang takut atau tidak berhubungan dengan lelaki tidak beridentitas itu, maka ia menjawab tidak, ia yakin lelaki itu adalah orang baik. Semua ini disaksikannya sendiri. Lelaki itu menghentikan tangis seorang gadis kecil yang es krimnya terjatuh dengan menggantikannya yang baru. 

"Hai, akhirnya kita bertemu" sontak ia bergeming. Lantas berbalik menghadap gadis itu. 

"Hai Altafia, aku senang bertemu denganmu" dalam hatinya, Alta berdecak kesal. Bagaimana seseorang yang awalnya tidak ingin bertemu dengannya, sekarang malah berkata sebaliknya. 

"Mengapa kau tidak ingin bertemu denganku tuan misterius?" Awalnya lelaki itu mengernyit bingung, beberapa detik kemudian langsung tertawa lepas. 

"Kau sangat lucu, Alta! Dapat darimana julukan itu?" Ia masih saja tertawa, mengabaikan gadis yang kini mulai melangkah meninggalkannya. Ia tersadar segera menyamai langkah kecil Alta.

"Bukannya kau memang misterius, buktinya sampai sekarang aku tidak tahu namamu" langkah mereka berdua terhenti disebuah kursi taman dibawah pohon rindang. Tempat itu dirasa cocok untuk melanjutkan perbincangan.

"Namaku tidaklah penting, yang terpenting kini aku bisa melihatmu lagi" kata-kata sederhana itu mampu membuat Alta tersipu. Lelaki itu tersenyum kecil tanpa sepengetahuan gadis itu. Ia merasa bahagia setelah sekian lama. Gadis dihadapannya adalah jawaban atas segala kebahagiaan dan kegelisahannya selama ini.

"Lalu mengapa kau tidak ingin bertemu denganku?" Tanyanya menuntut. 

"Karena aku percaya takdir, tak perlu janji untuk bertemu, buktinya sekarang kita sedang bertatap muka"

"Mungkinkah kita jodoh karena bertemu tiga kali karena takdir?" 

"Aku harap tidak, aku ingin berjodoh karena cinta, bukan takdir" 

"Sama saja"

"Tidak, jika kita berjodoh karena takdir, kita akan cenderung selalu mengikuti gerak takdir tanpa ada usaha bersatu, namun jika kita berjodoh karena cinta, walau ditentang, kita akan tetap memperjuangkannya" gadis itu terkesima dengan cara pandang lelaki itu. 

"Filosofi yang indah, aku suka" mereka saling melemparkan senyuman. 

 

"Tunggulah disini, aku akan kembali" dengan secepat kilat lelaki itu menghilang dari hadapannya. Ia mendengus kesal, lelaki itu penuh teka-teki. Tak lama kemudian, ponselnya berdering, ia telah menebak jika sang kakak menghubunginya.   Selesai menelepon, ia beranjak dari tempat itu. Setelah mengedarkan pandangannya mencari lelaki itu. Alta tidak mengetahui, seorang lelaki l terluka dari balik pepohonan.

"Maafkan aku, Alta" bisiknya lirih yang hanya didengar oleh angin. Jika kalian pikir ia meninggalkan gadis itu untuk membeli es krim lalu memakannya berdua dibawah pohon rindang, maka kalian salah besar. Itu tidak mungkin dilakukannya.

       Alta mendesah pasrah. Sudah berulang kali ia menghubungi lelaki itu, selalu berakhir sama. Tak ada satupun pesan yang dibalasnya. Memang, sejak tiga hari lalu, pertemuan ketiganya di taman, seolah menjadi akhir hubungan mereka.

      Ia beranjak mendekati sang kakak yang sedang asik memandangi laptopnya. 

"Kak, ngapain sih, serius banget" sang kakak menatapnya dengan tatapan yang menurutnya sedih. 

"Ada apa kak?" Arfan menuntun adiknya untuk duduk disebelahnya. Mata Alta menajam kala ia melihat foto siapa yang ada di layar monitor.

"Kau pasti mengenalnya bukan?" Tanyanya perlahan. Tangan gadis itu mengusap ragu layar monitor yang terdapat gambar lelaki yang ia rindukan. Ia mengangguk setelah benar-benar memastikan jika yang ada di layar itu adalah seseorang yang sama dengan yang dirindukannya.

"Dia Rauf, sahabat kakak" Alta menatap kakaknya dengan terkejut. Jantungnya berdegup berkali-kali lipat lebih cepat dari sebelumnya.

"Dia telah menceritakan semuanya tentang perkenalan kalian" ia masih diam, menyimak dengan serius semua ucapan kakaknya.

"Kau tahu, dia adalah seorang intel negara, hidupnya selalu dikejar bahaya, bahkan hubungan pertemanan kami harus putus karena dia tidak ingin keluarga kita menjadi sasaran, dia tidak ingin kau mengenalnya lebih jauh, kau akan terkena dampaknya, bahkan saat pertemuan kalian di taman kemarin, dia memintaku menghubungimu untuk menjauhkan kalian, dia punya perasaan ke kamu, tapi dia juga tidak ingin kamu tersakiti" sesekali Arfan mengusap air mata adiknya yang terus mengalir dalam pelukannya. Ia dapat merasakan betapa hancurnya hati adik yang selama ini disayanginya.

"Kedua orang tuanya dibunuh sewaktu ia remaja, dan ia akan tetap menjadi seorang intel sebelum ia menyeret pembunuh orang tuanya ke penjara" ia mencium puncak kepala adiknya, menyalurkan kekuatan untuknya.

"Kau bisa menunggunya jika perasaanmu masih ada, tapi ingat selalu jika kau memiliki kehidupan yang masih panjang, jangan sia-siakan itu hanya untuk menanti dia yang tidak tahu kapan akan kembali ke hidupmu" Alta mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya pada sang kakak. Ia berharap mereka akan berjodoh karena cinta. Walau menantang bahaya, ia tidak akan gentar.

 

        

 

Tags: romance

How do you feel about this chapter?

0 0 1 0 0 2
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
LELAKI TANPA NYALI
19      8     1     
Inspirational
Sepuluh tahun lebih berumah tangga tapi belum juga dikaruniai momongan membuat Samsul ingin menikahi Sundari sekretarisnya. Tentu saja Dita-istri Samsul tak setuju. Lantas mereka pun sepakat tes kesuburan ke dokter. Hasilnya, justru Samsul yang dinyatakan mandul. Samsul menolak hasil tes itu. Ia yakin dirinya normal, sebab dari istri pertamanya ia bisa memiliki seorang anak. Untuk pembuktian, Sa...
(not) the last sunset
735      536     0     
Short Story
Deburan ombak memecah keheningan.diatas batu karang aku duduk bersila menikmati indahnya pemandangan sore ini,matahari yang mulai kembali keperaduannya dan sebentar lagi akan digantikan oleh sinar rembulan.aku menggulung rambutku dan memejamkan mata perlahan,merasakan setiap sentuhan lembut angin pantai. “excusme.. may I sit down?” seseorang bertanya padaku,aku membuka mataku dan untuk bebera...
Oh, My Psychopaths CEO!
1811      1342     2     
Romance
Maukah kau bersama seorang pembunuh gila sepertiku?
Cinta Semi
3284      1600     2     
Romance
Ketika sahabat baik Deon menyarankannya berpacaran, Deon menolak mentah-mentah. Ada hal yang lebih penting daripada pacaran. Karena itulah dia belajar terus-menerus tanpa kenal lelah mengejar impiannya untuk menjadi seorang dokter. Sebuah ambisi yang tidak banyak orang tahu. Namun takdir berkata lain. Seorang gadis yang selalu tidur di perpustakaan menarik perhatiannya. Gadis misterius serta peny...
29.02
533      317     1     
Short Story
Kau menghancurkan penantian kita. Penantian yang akhirnya terasa sia-sia Tak peduli sebesar apa harapan yang aku miliki. Akan selalu kunanti dua puluh sembilan Februari
The Alter Ego of The Ocean
661      489     0     
Short Story
\"She always thought that the world is a big fat unsolved puzzles, little did she knew that he thought its not the world\'s puzzles that is uncrackable. It\'s hers.\" Wolfgang Klein just got his novel adapted for a hyped, anticipated upcoming movie. But, it wasn\'t the hype that made him sweats...
SAMIRA
469      330     3     
Short Story
Pernikahan Samira tidak berjalan harmonis. Dia selalu disiksa dan disakiti oleh suaminya. Namun, dia berusaha sabar menjalaninya. Setiap hari, dia bertemu dengan Fahri. Saat dia sakit dan berada di klinik, Fahri yang selalu menemaninya. Bahkan, Fahri juga yang membawanya pergi dari suaminya. Samira dan Fahri menikah dua bulan kemudian dan tinggal bersama. Namun, kebahagiaan yang mereka rasakan...
Hoping For More Good Days
635      473     7     
Short Story
Kelly Sharon adalah seorang gadis baik dan mandiri yang disukai oleh banyak orang. Ia adalah gadis yang tidak suka dengan masalah apapun, sehingga ia selalu kesulitan saat mengahadapinya. Tapi Yuka dan Varel berhasil mengubah hidup Sharon menjadi lebih baik dalam menghadapi segala rintangan.Jujur dan saling percaya, hanya itu kunci dari sebuah tali persahabatan..
Segaris Cerita
726      462     3     
Short Story
Setiap Raga melihat seorang perempuan menangis dan menatap atau mengajaknya berbicara secara bersamaan, saat itu ia akan tau kehidupannya. Seorang gadis kecil yang dahulu sempat koma bertahun-tahun hidup kembali atas mukjizat yang luar biasa, namun ada yang beda dari dirinya bahwa pembunuhan yang terjadi dengannya meninggalkan bekas luka pada pergelangan tangan kiri yang baginya ajaib. Saat s...
My SECRETary
615      406     1     
Romance
Bagi Bintang, menjadi sekretaris umum a.k sekum untuk Damar berarti terus berada di sampingnya, awalnya. Tapi sebutan sekum yang kini berarti selingkuhan ketum justru diam-diam membuat Bintang tersipu. Mungkinkah bunga-bunga yang sama juga tumbuh di hati Damar? Bintang jelas ingin tahu itu!