Loading...
Logo TinLit
Read Story - The Hospital Lokapala (Sudah Terbit / Open PO)
MENU
About Us  

Malas berpikir siapa yang memberikannya buket bunga mawar putih, Alana hanya meletakkan buket itu di atas meja. Dan meminta tolong kepada Suster Luna untuk membantu dirinya membasuh diri.

 

Namun, Poci mengikuti gadis itu ke kamar mandi.

 

“Kenapa kamu ikut? Sana keluar!” ucap Alana melalui telepati dengan gaya yang mengangkat kaki kiri yang tak dibalut perban itu.

 

Suster yang mendorong menggunakan kursi roda itu lagi-lagi kebingungan atas perlakukan pasiennya ini.

 

Menyadari hal itu, Alana langsung mengklarifikasi. “Hehe, maaf sus, saya hanya menggerakkan otot-otot kaki saya agar tidak hilang rasa.”

 

Setelah sudah bersih, dan mengganti pakaian Alana meminta Suster Luna untuk mengantarnya ke lobi depan. Sontak permintaan itu menjadi pertanyaan untuk suster cantik ini, mengapa pasiennya tidak meminta ke tempat yang lebih indah? Mengapa harus di lobi depan, bukannya di sana tempat orang yang berlalu lalang?

 

Tanpa ingin mengira-ngira, Suster Luna langsung melontarkan pertanyaan itu. “Kenapa di lobi depan, Mbak Alana? Di sana banyak pasien yang baru datang dan juga tamu yang berdatangan untuk menjenguk sanak-saudara yang dirawat di rumah sakit ini.”

 

Wanita yang mengenakan pakaian khusus pasien ini pun tersenyum, ia berucap, “Apa yang sudah suster katakan tadi, itu adalah jawabannya. Saya memiliki harapan besar mengenai keluarga saya ada yang menjenguk saya di sini. Tapi itu mustahil, saya yakin harapan besar saya hanya sebuah angan-angan belaka. Namun, kita tidak bakal tahu kan mungkin saya kali ini ada keluarga saya yang datang kemari.”

 

‘Terutama orang tua saya,’ kalimat ini tidak ia lontarkan, ucapan itu ia simpan di dalam hatinya.

 

Suster Luna tidak ingin bertanya lebih dalam, karena ia melihat manik mata Alana yang berkaca-kaca, mungkin saja wanita itu sangat terluka dengan apa yang ia harapkan saat ini.

 

Alana dan Suster Luna duduk di tempat duduk ruang tunggu. Poci tak ikut, karena tadi ia bilang ada urusan mendadak. Entah apa yang menjadi urusan mendadak sosok makhluk gentayangan?

 

Tidak ada kata yang keluar sejak tadi. Suster Luna memang membiarkan hal ini, bukannya tidak ingin berbincang dengan pasiennya. Hanya saja suster itu tahu diri, ia ingin Alana bisa menyatu dengan dirinya, memberikan ruang untuk wanita tersebut berpikir.

 

Sudah terlewat tiga jam sejak tadi, Suster Luna pun memulai perbincangan, “Mbak Alana, apakah sebaiknya kita ke ruangan untuk Anda  beristirahat? Jika Anda masih ingin di sini tidak apa-apa. Tapi Anda harus makan, biar saya yang membawakan makanannya kemari.”

 

Wanita yang berusia 23 tahun itu hanya mengangguk.

 

“Tapi tidak apa saya tinggal sebentar, Mbak Alana?” tanya Suster Luna kembali, menolehkan badannya karena khawatir dengan pasiennya.

 

Alana kembali mengangguk dan tersenyum, lalu berkata, “Tidak apa sus, saya sudah biasa sendiri. Terima kasih banyak karena sudah mengkhawatirkan saya sebelumnya.”

 

Baru beberapa menit, Alana ditinggal oleh Suster Luna. Ia kini mendengar suara tangisan anak kecil yang sangat menyayat hati.

 

Tidak jauh dari dirinya terdiam, semakin dekat ... lebih dekat ... dan ...

 

Hah!

 

Alana menghembuskan napas lega, ia pikir dirinya akan melihat sosok yang sangat mengerikan lagi. Tapi ini begitu berbeda dengan sosok lainnya. Sangat jauh berbeda, sosok itu adalah anak kecil usianya sekitar 5 tahun. Padahal wajahnya sangat menggemaskan, tapi sayang ia tak berhenti untuk menangis.

 

Melihat lobi sangat ramai, ia berbisik menyuruh sosok itu menunggunya sebentar. Alana menggunakan kursi roda yang ia dorong sendiri ke arah resepsionis.

 

“Mbak, bisa saya minta selembar kertas dan pinjam pulpen sebentar?”

 

Alana menulis dengan cepat, apa yang ia tulis. Ternyata tulisan surat untuk Suster Luna, ia tak ingin membuat susternya semakin khawatir akan keberadaannya.

 

Ini isi suratnya :

-Suster Luna, maaf saya meninggalkan tempat ini lebih dulu karena ada urusan mendadak. Suster jangan khawatir ya, saya akan balik ke ruangan sebelum jam 5 sore-

 

Hati wanita cantik ini bergerak ingin membantu anak kecil itu, meskipun ia sendiri tak tahu bagaimana cara menghentikan tangisan anak kecil atau bagaimana cara agar anak kecil itu terdiam.

 

Setelah meletakkan surat dengan batu yang ada di atasnya (batu itu ia ambil di salah satu tamanan hias yang ada di dekat resepsionis). Lalu ia menggendong anak itu untuk dipangkunya, walaupun dengan kaki sakit ia mampu menahan tubuh anak kecil tersebut dipangkuannya.

 

Ada beberapa yang melihat sikap aneh Alana, dan mereka pun mencibir gadis malang ini.

 

“Apa yang dilakukan wanita itu? Kasian ya cantik-cantik tak waras!”

 

“Dia sedang menggendong siapa? Aneh sekali gadis itu.”

 

“Mungkin dia adalah ibu muda yang kesehatan mentalnya rusak, karena anaknya mungkin sudah meninggal. Maka dari itu dia bersikap layaknya menggendong seorang anak kecil. Duh kasian sekali.”

 

Masih banyak lagi pendapat manusia yang melihatnya, tapi hal itu tidak dipedulikan sama sekali oleh Alana. Ia hanya fokus mendorong kursi roda yang semakin berat ia jalankan menggunakan kedua tangannya karena sosok anak kecil yang berada di pangkuannya.

 

Merasa sudah aman, dan di koridor ini tidak banyak orang yang berlalu lalang. Alana pun bertanya dengan suara lembut dan berharap ia bisa menenangkan tangisan anak kecil yang begitu sakit ini.

 

“Dik, kamu kenapa? Bisakah kamu menceritakan hal yang membuat kamu sedih seperti ini? Tolong janganlah menangis, hal ini membuatku sakit juga. Jadi bisakah kamu berhenti menangis?” Air mata Alana bergelimang air mata, ia tak sanggup melihat anak kecil menangis seperti itu.

 

Anak kecil itu tak menjawab, ia hanya berjalan seperti menunjukkan kepada Alana jika sumber kesedihannya ada di sana.

 

“Ruang Melati,” gumam Alana ketika diajak ke ruangan itu.

 

“Di sini? Memang ada apa di ruang ini, dik?” tanya Alana yang tak tahu apa.

 

Sosok itupun menghilang menuju ke dalam ruangan. Alana pun menghela napas terlebih dahulu, lalu membuka pintu dengan mengucapkan salam penuh sopan santun.

 

“Selamat siang, Pak ... Bu ... saya ke sini hanya,” ucapannya terhenti ketika melihat Poci ada di sana sedang bermain dengan sosok anak kecil lainnya.

 

“Lah, kok kamu di sini Poci?”

 

Apa ini adalah urusan mendadak yang disebut hantu dan juga manusia?

 

Bersambung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Dunia Sasha
9624      3919     1     
Romance
Fase baru kehidupan dimulai ketika Raisa Kamila sepenuhnya lepas dari seragam putih abu-abu di usianya yang ke-17 tahun. Fase baru mempertemukannya pada sosok Aran Dinata, Cinta Pertama yang manis dan Keisha Amanda Westring, gadis hedonisme pengidap gangguan kepribadian antisosial yang kerap kali berniat menghancurkan hidupnya. Takdir tak pernah salah menempatkan pemerannya. Ketiganya memiliki ...
SURGA DALAM SEBOTOL VODKA
12084      3615     6     
Romance
Dari jaman dulu hingga sekarang, posisi sebagai anak masih kerap kali terjepit. Di satu sisi, anak harus mengikuti kemauan orang tua jikalau tak mau dianggap durhaka. Di sisi lain, anak juga memiliki keinginannya sendiri sesuai dengan tingkat perkembangan usianya. Lalu bagaimanakah jika keinginan anak dan orang tua saling bertentangan? Terlahir di tengah keluarga yang kaya raya tak membuat Rev...
GAUNG SANGKARA
2165      1122     0     
Action
Gaung Sangkara, mendapatkan perhatian khusus mengenai pengalamannya menjadi mahasiswa Teknik paling brutal di kampusnya. Dimana kampusnya adalah sebuah universitas paling top di Indonesia, ia mendapatkan banyak tekanan akan nama-nama besar yang berusaha menindas bahkan membunuh dia dan keluarganya. Hal tersebut berpengaruh terhadap kondisi sosial dan psikologis-nya. Lahir dari kalangan keluarga d...
Buku Harian
1193      757     1     
True Story
Kenapa setiap awal harus ada akhir? Begitu pula dengan kisah hidup. Setiap kisah memiliki awal dan akhir yang berbeda pada setiap manusia. Ada yang berakhir manis, ada pula yang berakhir tragis. Lalu bagaimanakah dengan kisah ini?
Ayugesa: Kekuatan Perempuan Bukan Hanya Kecantikannya
8414      2812     204     
Romance
Nama adalah doa Terkadang ia meminta pembelajaran seumur hidup untuk mengabulkannya Seperti yang dialami Ayugesa Ada dua fase besar dalam kehidupannya menjadi Ayu dan menjadi Gesa Saat ia ingin dipanggil dengan nama Gesa untuk menonjolkan ketangguhannya justru hariharinya lebih banyak dipengaruhi oleh keayuannya Ketika mulai menapaki jalan sebagai Ayu Ayugesa justru terus ditempa untuk membu...
Dunia Saga
7194      2177     0     
True Story
There is nothing like the innocence of first love. This work dedicated for people who likes pure, sweet, innocent, true love story.
Cinta Wanita S2
9690      3054     0     
Romance
Cut Inong pulang kampung ke Kampung Pesisir setelah menempuh pendidikan megister di Amerika Serikat. Di usia 25 tahun Inong memilih menjadi dosen muda di salah satu kampus di Kota Pesisir Barat. Inong terlahir sebagai bungsu dari empat bersaudara, ketiga abangnya, Bang Mul, Bang Muis, dan Bang Mus sudah menjadi orang sukses. Lahir dan besar dalam keluarga kaya, Inong tidak merasa kekurangan suatu...
HURT ANGEL
190      150     0     
True Story
Hanya kisah kecil tentang sebuah pengorbanan dan pengkhianatan, bagaimana sakitnya mempertahankan di tengah gonjang-ganjing perpisahan. Bukan sebuah kisah tentang devinisi cinta itu selalu indah. Melainkan tentang mempertahankan sebuah perjalanan rumah tangga yang dihiasi rahasia.
Semu, Nawasena
13369      4293     4     
Romance
"Kita sama-sama mendambakan nawasena, masa depan yang cerah bagaikan senyuman mentari di hamparan bagasfora. Namun, si semu datang bak gerbang besar berduri, dan menjadi penghalang kebahagiaan di antara kita." Manusia adalah makhluk keji, bahkan lebih mengerikan daripada iblis. Memakan bangkai saudaranya sendiri bukanlah hal asing lagi bagi mereka. Mungkin sudah menjadi makanan favoritnya? ...
Elevator to Astral World
4126      2090     2     
Horror
Penasaran akan misteri menghilangnya Mamanya pada kantornya lebih dari sedekade lalu, West Edgeward memutuskan mengikuti rasa keingintahuannya dan berakhir mencoba permainan elevator yang dikirimkan temannya Daniel. Dunia yang dicapai elevator itu aneh, tapi tak berbahaya, hingga West memutuskan menceritakannya kepada saudara sepupunya Riselia Edgeward, seorang detektif supernatural yang meny...