Loading...
Logo TinLit
Read Story - Psikiater-psikiater di Dunia Skizofrenia
MENU
About Us  

 

 

Entah mengapa, Lala menemukan dirinya berada di ranjang sebuah ruangan yang sepi. Sepertinya, ia sedang berada di sebuah rumah sakit karena terdapat dua ranjang lagi yang berderet di sisinya. Semuanya dilapisi seprai putih. Bantal-bantalnya tipis dan terasa keras. Lala mengetahuinya setelah menyentuhnya untuk memilih bantal yang paling enak. Ternyata, semuanya sama saja. Seketika, bau kaporit bercampur karbol menyengat hidung Lala ketika seorang petugas lewat di depan kamarnya sambil memegangi sebuah gagang pel.

 

Lala mengerling ke sudut bawah ranjangnya. Ia menemukan sehelai selimut bergaris-garis hitam putih yang tipis dan masih terlipat. Ia menggerutu karena tidak ada yang menyelimutinya. Padahal, ia mudah sekali kedinginan.

 

Lala memutuskan untuk bangun dan berjalan-jalan di lorong. Ia telah mencari-cari jaket di tas ransel yang diletakkan di sebelah kepalanya, tetapi ia tidak bisa menemukannya. Ia melihat ke bawah, ke arah pakaian yang sedang dikenakannya. Gaun hijau muda yang kaku. Entah siapa yang memasangkan gaun itu padanya.

 

Setelah beberapa langkah, Lala menemukan seorang wanita bertubuh subur dan seorang remaja laki-laki yang mengenakan gaun berwarna hijau muda sama seperti dirinya. Rupanya, gaun itu adalah seragam bagi pasien di rumah sakit ini.

 

Lala menghibur diri dengan duduk-duduk di pinggir lorong. Namun, remaja laki-laki itu menghampirinya dan duduk di sisinya. Remaja itu mulai mengeluarkan rentetan kata-kata yang tidak Lala pahami dan baru berhenti di sore hari ketika Lala memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Tidak dihiraukannya kepalanya yang sedikit pusing karena mendengar ocehan itu.

 

Di kamar Lala, makanan dan minuman sudah tersedia. Ia melahap nasi, ikan goreng, dan sayur asam itu. Lalu, ia meminum obat yang terletak di sebelah piring dengan segelas air putih. Petugas mengawasinya dan memastikan bahwa obat berhasil masuk ke dalam perutnya. Setelah itu, ia tertidur dengan pulasnya.

 

Malamnya, ia terbangun dan menemukan dirinya dikerumuni roh-roh penasaran wanita korban perkosaan. Mereka segera berhamburan menghilang di balik tembok ketika seorang perawat perempuan berseragam biru masuk ke kamarnya. Perawat itu membawa nampan putih yang di atasnya terdapat obat-obatan dan segelas air putih.

 

“Waktunya minum obat,” katanya, kaku.

 

"Tapi tadi sudah." Lala berusaha membela diri.

 

"Pokoknya harus minum, tidak ada tapi-tapian!" tegur perawat. Lala merasa takut demi melihat wajah perawat yang sangar. Ia meminum obatnya dengan segelas air putih yang diletakkan di samping obat di atas nampan.  

 

Besoknya, Mama Papa datang. Mama mengenakan gaun putih kesayangannya dan Papa memakai jas putih dokter. Mereka berdiri di balik gerbang berjeruji di luar. Seorang petugas membuka gembok gerbang yang memutus dunia pasien-pasien di dalamnya dengan dunia luar itu. Mama Papa masuk ke dalam rumah sakit melalui gerbang itu dan menuju kamar Lala. Petugas segera menggembok gerbang kembali karena takut ada pasien yang kabur. Rupanya, rumah sakit ini tidak peduli kalau pasien-pasien di dalamnya termasuk Lala merasa seperti tahanan.

 

“Halo?” sapa Mama Papa kepada Lala yang masih rebahan di ranjang. Lala bangun, duduk, dan menegakkan punggungnya di atas ranjang.

 

“Mama bawakan makanan untukmu,” sapa Mama, tersenyum. Senyum yang amat manis. Apakah hanya perasaan Lala saja kalau ia jarang melihat Mama tersenyum seperti itu?

 

“Kenapa kamu mengamuk?” tegur Papa. Lala tidak menyahut. Wajahnya dipenuhi tanda tanya. Ia tidak merasa mengamuk. Sebelum ia berada di sini, ia hanya merasakan kesedihan yang menyayat hati.

 

“Apakah kamu tidak ingat bahwa kamu telah mengamuk?” tegas papa. Lala hanya menggeleng. Ingatannya tentang kejadian sebelum di sini seakan menghilang. Ia merasa seperti orang bodoh. Apakah yang telah mereka lakukan padanya?

 

“Kami sampai membiarkan dokter menyetrum kepalamu karena kamu tidak sadar juga,” beritahu Papa. Lala merasa sedih kembali mendengarnya. Ia merasa bahwa mereka tidak benar-benar menyayanginya. Ia merasa bahwa mereka penuh dengan kepalsuan dan hanya mengenakan topeng. Mereka hanya berpura-pura manis di depannya.

 

“Bagaimana dengan kuliahku, Ma?” tanya Lala, memberanikan diri.

 

“Mama sudah memintakan cuti studi kepada pihak kampus,” terang Mama. Lala merasa sedikit lega. Setidaknya, ia tidak harus pusing memikirkan kuliahnya dan tidak usah mencemaskan tentang kegagalan yang mungkin terjadi karena dianggap membolos.

 

Namun, setelah Lala pulang dari rumah sakit dan kembali mengikuti perkuliahan, ia merasa bahwa otaknya tidak bekerja seperti semula. Ia ingat, sebelumnya, dirinya tidak sebodoh ini. Kini, ia sukar sekali mencerna perkataan dosen-dosennya.

 

Lala masuk ke kapel kampus hampir tiap hari. Tempat ini lengang. Tidak ada satu pun orang yang terlihat berada di dalamnya. Ia memilih tempat duduk di depan sendiri yang dekat dengan altar. Ia terus berdoa dan memohon kepada Tuhan di tempat itu. Tak jarang, air matanya menetes. Ia baru merasakan bahwa bebannya begitu berat ketika ia bermaksud mengistirahatkan dirinya.

 

Sebelumnya, ia pernah mencapai IPK 3,24. Kini, IPK-nya hanya 1,27. Banyak nilai D, dan terdapat satu nilai E dan satu nilai F. Nilai F hanya diberikan saat mahasiswa tidak datang sama sekali saat kuliah. Kalau nilai A termasuk angka 80-100, nilai B angka 70-79, nilai C angka 60-69, nilai D angka 1-59, maka nilai E adalah angka 0. Nilai E, mahasiswa atau mahasiswi tetap hadir, tetapi hasil belajarnya 0.

 

Dengan tertatih-tatih, Lala mencoba menyelesaikan kuliahnya sampai saatnya mengerjakan skripsi. Ia merasa otaknya tidak sanggup mencerna beban mata kuliah yang terlalu berat baginya itu. Ia merasa tidak sanggup. Ia merasa tidak akan pernah lulus walaupun hanya tinggal satu mata kuliah lagi.

 

Dengan wajah yang kusut masai dan langkah yang terseok-seok, Lala meninggalkan ruang dosen pembimbing skripsinya. Ia menuju ke kapel.

 

Sesampainya di sana, ia merenung. Ia tak tahu apa yang akan dikatakannya kepada Tuhan. Tiba-tiba, airmatanya menetes. Satu demi satu, bulir-bulir airmatanya berjatuhan. Sesaat kemudian, ia sudah menemukan dirinya menangis tersedu-sedu. Tak dipedulikannya bapak penjaga kapel yang melintas.

 

Lala mengeluarkan berlembar-lembar kertas HVS yang telah dia tulisi keluhan-keluhan dan unek-uneknya selama ini. Ia meletakkan semua itu di bawah tempat lilin yang berongga. Tempat lilin itu ada di bawah patung Tuhan Yesus.

 

Entah mengapa, setelah ia mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan, Tuhan seperti membukakan jalan. Dosen pembimbing skripsi mengizinkannya untuk membuat makalah sebagai pengganti skripsi tapi ia harus mengambil satu mata kuliah tambahan lagi. Ia memutuskan mengambil Laboratory Work, satu-satunya mata kuliah pilihan yang tersedia saat itu.

 

Saat kuliah Laboratory Work, Lala merasa bahwa dosen yang berambut hitam panjang itu adalah sejenis hantu karena rambutnya yang seperti itu dan diurai. Lala merasa ketakutan. Ia sampai menyeret masuk kakinya ke ruang kuliah. Beruntung, ia masih bisa mengikuti perkuliahan dengan konsentrasi yang dibantu obat.

 

Di akhir semester, tak disangka, Lala malah mendapatkan nilai A. Ini pasti pertolongan Tuhan untuknya. 

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Dimension of desire
814      610     0     
Inspirational
Bianna tidak menyangka dirinya dapat menemukan Diamonds In White Zone, sebuah tempat mistis bin ajaib yang dapat mewujudkan imajinasi siapapun yang masuk ke dalamnya. Dengan keajaiban yang dia temukan di sana, Bianna memutuskan untuk mencari jati dirinya dan mengalami kisah paling menyenangkan dalam hidupnya
Dalam Waktu Yang Lebih Panjang
1615      1309     22     
True Story
Bagi Maya hidup sebagai wanita normal sudah bukan lagi bagian dari dirinya Didiagnosa PostTraumatic Stress Disorder akibat pelecehan seksual yang ia alami membuatnya kehilangan jati diri sebagai wanita pada umumnya Namun pertemuannya dengan pasangan suami istri pemilik majalah kesenian membuatnya ingin kembali beraktivitas seperti sedia kala Kehidupannya sebagai penulis pun menjadi taruhan hidupn...
Wabi Sabi
825      587     2     
Fantasy
Seorang Asisten Dewi, shinigami, siluman rubah, dan kucing luar biasa—mereka terjebak dalam wabi sabi; batas dunia orang hidup dan mati. Sebuah batas yang mengajarkan jika keindahan tidak butuh kesempurnaan untuk tumbuh.
Only One
4177      2833     13     
Romance
Hidup di dunia ini tidaklah mudah. Pasti banyak luka yang harus dirasakan. Karena, setiap jalan berliku saat dilewati. Rasa sakit, kecewa, dan duka dialami Auretta. Ia sadar, hidup itu memang tidaklah mudah. Terlebih, ia harus berusaha kuat. Karena, hanya itu yang bisa dilakukan untuk menutupi segala hal yang ada dalam dirinya. Terkadang, ia merasa seperti memakai topeng. Namun, mungkin itu s...
IMPIANKU
30590      5648     14     
Mystery
Deskripsi Setiap manusia pasti memiliki sebuah impian, dan berusaha untuk mewujudkan impiannya itu. Walau terkadang suka terjebak dengan apa yang diusahakan dalam menggapai impian tersebut. Begitu pun yang dialami oleh Satria, dalam usaha mewujudkan segala impiannya, sebagai anak Broken Home. Walau keadaan keluarganya hancur karena keegoisan sang ayah. Satria mencoba mencari jati dirinya,...
AM to FM
2      2     1     
Romance
Seorang penyiar yang ingin meraih mimpi, terjebak masa lalu yang menjeratnya. Pertemuannya dengan seseorang dari masa lalu makin membuatnya bimbang. Mampukah dia menghadapi ketakutannya, atau haruskah dia berhenti bermimpi?
Ameteur
291      257     2     
Inspirational
Untuk yang pernah merasa kalah. Untuk yang sering salah langkah. Untuk yang belum tahu arah, tapi tetap memilih berjalan. Amateur adalah kumpulan cerita pendek tentang fase hidup yang ganjil. Saat kita belum sepenuhnya tahu siapa diri kita, tapi tetap harus menjalani hari demi hari. Tentang jatuh cinta yang canggung, persahabatan yang retak perlahan, impian yang berubah bentuk, dan kegagalan...
Peri Untuk Ale
6890      3011     1     
Romance
Semakin nyaman rumah lo semakin lo paham kalau tempat terbaik itu pulang
Langit Tak Selalu Biru
219      192     4     
Inspirational
Biru dan Senja adalah kembar identik yang tidak bisa dibedakan, hanya keluarga yang tahu kalau Biru memiliki tanda lahir seperti awan berwarna kecoklatan di pipi kanannya, sedangkan Senja hanya memiliki tahi lalat kecil di pipi dekat hidung. Suatu ketika Senja meminta Biru untuk menutupi tanda lahirnya dan bertukar posisi menjadi dirinya. Biru tidak tahu kalau permintaan Senja adalah permintaan...
Rania: Melebur Trauma, Menyambut Bahagia
546      394     0     
Inspirational
Rania tumbuh dalam bayang-bayang seorang ayah yang otoriter, yang membatasi langkahnya hingga ia tak pernah benar-benar mengenal apa itu cinta. Trauma masa kecil membuatnya menjadi pribadi yang cemas, takut mengambil keputusan, dan merasa tidak layak untuk dicintai. Baginya, pernikahan hanyalah sebuah mimpi yang terlalu mewah untuk diraih. Hingga suatu hari, takdir mempertemukannya dengan Raihan...