Loading...
Logo TinLit
Read Story - Psikiater-psikiater di Dunia Skizofrenia
MENU
About Us  

 

 

Hari ini, Mama Papa mengajak Lala pergi naik mobil. Mama duduk di sebelah Papa yang menyetir dan Lala duduk di belakang. Mama mengenakan gaun merah sama seperti dengan sebuah foto yang pernah Lala temukan di meja belajarnya. Waktu itu, Lala mengambil kertas HVS, pensil karbon, dan pensil warna. Ia mendapat ide untuk melukis Mama dan menunjukkannya. Mama memujinya, "Aduh, cantik sekali! Lebih cantik daripada yang di foto."

 

Lala merasa Mama menjadi baik sekali. Entah mengapa, kadang Mama terasa jahat, kadang Mama terasa baik. 

 

“Kita mau ke mana?” tanya Lala, kembali ke masa sekarang.

 

“Makan,” sahut Mama, singkat. Mereka tidak banyak bicara dalam perjalanan.

 

Sekitar setengah jam kemudian, Papa menepikan mobilnya di sebuah rumah makan kecil. Atapnya coklat dan bangunannya berbentuk seperti pendapa dengan tiang-tiang penyangganya. Tidak terdapat plang apa pun yang memberitahu nama rumah makan itu.

 

Terdapat konter yang memajang beberapa makanan seperti ikan goreng, ayam goreng, sayur gori, sayur asam, dan sayur jipan. Nasi bisa diambil sendiri di mesin penanak nasi yang ditaruh di sisi sebelah kanan.

 

Mama, Papa, dan Lala mengambil piring dari tumpukan piring yang sudah disediakan di atas sebuah meja kayu berwarna cokelat. Piring-piring itu bermotif bunga-bunga berwarna biru. Mereka juga mengambil sendok di antara sendok-sendok yang diletakkan di sebelah tumpukan piring. Lalu, mereka bertiga menyendok nasi dari mesin penanak nasi. Nasi itu mengepul karena masih panas. Rupanya, mesin penanak nasi disetel dalam mode menghangatkan.

 

Mama memesan ikan goreng dan sayur gori dari mbak penjaga rumah makan yang berkuncir ekor kuda dan berkulit sawo matang. Papa memesan ayam goreng dan sayur asam. Lala memesan ikan goreng dan sayur jipan. Lalu, mereka duduk di kursi-kursi kayu berwarna cokelat yang mengelilingi sebuah meja kayu yang berwarna cokelat juga.

 

Ketika makan, terdapat beberapa butir nasi yang susah untuk disendok. Lala teringat kepada anak-anak Afrika yang kelaparan sampai tubuh mereka tinggal tulang berbalut kulit. Ia merasa tidak boleh menyia-nyiakan makanan. Maka, ia mendekatkan piring ke mulutnya untuk menjilatinya.

 

"Lala! Apa yang kamu lakukan?! Kamu membuat Papa malu," bentak Papa.

 

Lala terkejut dan menurunkan piringnya. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Lalu, ia membela diri, "Aku hanya ...."

 

"Jangan seperti itu lagi!" potong Papa.

 

Selesai makan, Mama menggandeng tangan Lala untuk menyeberang jalan menuju ke sebuah bangunan dengan plang yang bertuliskan Rumah Sakit Lokipili di atasnya. Lala tidak merasa nyaman.

 

Mama menarik tangan Lala dengan setengah memaksa karena Lala menolak untuk masuk ke rumah sakit itu. Perasaan Lala tidak enak. Lalu, Mama mengajak Lala duduk di bangku kayu panjang berwarna cokelat yang tersedia di depan sebuah ruangan yang di pintunya terdapat tulisan 'Dokter Hadi'.

 

Seorang laki-laki setengah baya berambut hampir botak, berkacamata, dan memakai pakaian putih keluar dari ruangan dan mempersilahkan Mama dan Lala untuk masuk, "Mari masuk!"

 

Setelah mereka berada di dalam, laki-laki itu duduk di sebuah kursi di belakang meja seraya mempersilahkan Mama dan Lala duduk di dua kursi di depannya, "Silahkan duduk!" 

 

“Lala … ini adalah dokter Hadi.” Mama memperkenalkan.

 

“Dokter ini pasti hendak menyiksaku seperti kisah para martir itu. Tempo lalu saja, ia sudah menyetrum kepalaku,” pikir Lala.

 

Dokter itu menanyakan banyak pertanyaan kepada Lala yang tidak dijawabnya karena ia tidak bisa berkonsentrasi pada pertanyaan-pertanyaan itu. Hanya beberapa pertanyaan saja yang bisa ia tangkap.

 

“Apakah anak ibu sudah mau mandi?” tanya Dokter Hadi.

 

“Sudah, Dok! Saya membelikannya berbagai jenis sabun. Mandinya jadi rajin,” sahut Mama. Lala teringat sabunnya yang berwarna-warni dengan bau harum yang berbeda-beda. Sejenak, ia merasa berbahagia dan relaks. Namun, ada rasa bersalah di hati Lala. Ia merasa telah menyusahkan Mama. Lala memandangi wajah Mama.

 

“Apakah kamu bisa tidur?” tanya Dokter Hadi lagi. Lala hanya mengangguk.

 

“Kalau tidak bisa tidur, kamu harus bilang kepada saya. Saya akan menambahkan resep obat tidur,” suruh Dokter Hadi. Lala memandang Dokter Hadi nanar. Ia tidak suka minum obat, apalagi kalau obatnya harus ditambah.

 

“Lala disuntik dulu, ya?” tawar Dokter Hadi. Lala menggelengkan kepala kuat-kuat.

 

“Kamu ini bagaimana? Disuntik biar sehat kok tidak mau?” tanya Dokter Hadi. Ia mencorat-coret selembar kertas dan menyerahkannya kepada Mama.

 

“Terima kasih, Dok!” ucap Mama, tetapi Lala bungkam seribu bahasa. Mama menggandeng Lala ke bagian farmasi untuk menebus obat yang telah diresepkan tadi. Beberapa saat kemudian, petugas farmasi memanggil dan menyerahkan kapsul-kapsul berwarna hitam merah yang telah dimasukkan dalam plastik obat berwarna merah transparan. Mama mengucapkan terima kasih.

 

Seorang perawat berseragam biru dengan pewarna kelopak mata berwarna hijau berjalan ke arah Mama dan Lala. Mama menyenggol Lala. Bisiknya, “Kamu harus menyapanya karena ia telah merawatmu.”

 

Maka, setelah perawat itu dekat, Lala berkata, “Halo, Suster?”

 

Perawat itu berlalu setelah menganggukkan kepalanya. Ternyata, ia hanya bermaksud melintas saja di depan Mama dan Lala.

 

Hari demi hari, Lala harus meminum obat berupa kapsul hitam merah itu, yang diangsurkan Mama ke tangannya. Namun, Lala merasa bahwa Dokter Hadi hendak meracuninya. Jika Mama lengah, Lala membuang obat-obatan itu. Kadang, ia membuangnya ke wastafel, kadang ke tempat sampah, dan kadang ia menguburnya di kebun depan.

 

Namun, kebanyakan dari obat-obatan itu diminum oleh Lala karena Mama mengawasinya. Lala pikir, mata Mama seperti mata elang yang tidak lepas dari mangsanya. Akhirnya, lama kelamaan, setelah mengonsumsi obat beberapa hari lamanya, Lala merasa membaik.

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
XIII-A
3424      2462     4     
Inspirational
Mereka bukan anak-anak nakal. Mereka hanya pernah disakiti terlalu dalam dan tidak pernah diberi ruang untuk sembuh. Athariel Pradana, pernah menjadi siswa jeniushingga satu kesalahan yang bukan miliknya membuat semua runtuh. Terbuang dan bertemu dengan mereka yang sama-sama dianggap gagal. Ini adalah kisah tentang sebuah kelas yang dibuang, dan bagaimana mereka menolak menjadi sampah sejar...
Buku Harian
1193      757     1     
True Story
Kenapa setiap awal harus ada akhir? Begitu pula dengan kisah hidup. Setiap kisah memiliki awal dan akhir yang berbeda pada setiap manusia. Ada yang berakhir manis, ada pula yang berakhir tragis. Lalu bagaimanakah dengan kisah ini?
Kini Hidup Kembali
217      199     1     
Inspirational
Sebenarnya apa makna rumah bagi seorang anak? Tempat mengadu luka? Bangunan yang selalu ada ketika kamu lelah dengan dunia? Atau jelmaan neraka? Barangkali, Lesta pikir pilihan terakhir adalah yang paling mendekati dunianya. Rumah adalah tempat yang inginnya selalu dihindari. Namun, ia tidak bisa pergi ke mana-mana lagi.
Looking for J ( L) O ( V )( E) B
2402      1043     5     
Romance
Ketika Takdir membawamu kembali pada Cinta yang lalu, pada cinta pertamamu, yang sangat kau harapkan sebelumnya tapi disaat yang bersamaan pula, kamu merasa waktu pertemuan itu tidak tepat buatmu. Kamu merasa masih banyak hal yang perlu diperbaiki dari dirimu. Sementara Dia,orang yang kamu harapkan, telah jauh lebih baik di depanmu, apakah kamu harus merasa bahagia atau tidak, akan Takdir yang da...
Pulang Selalu Punya Cerita
6708      4314     1     
Inspirational
Pulang Selalu Punya Cerita adalah kumpulan kisah tentang manusia-manusia yang mencoba kembalibukan hanya ke tempat, tapi ke rasa. Buku ini membawa pembaca menyusuri lorong-lorong memori, menghadirkan kembali aroma rumah yang pernah hilang, tawa yang sempat pecah lalu mengendap menjadi sepi, serta luka-luka kecil yang masih berdetak diam-diam di dada. Setiap bab dalam buku ini menyajikan fragme...
Rumah?
199      176     1     
Inspirational
Oliv, anak perempuan yang tumbuh dengan banyak tuntutan dari orangtuanya. Selain itu, ia juga mempunyai masalah besar yang belum selesai. Hingga saat ini, ia masih mencari arti dari kata rumah.
Taruhan
146      129     0     
Humor
Sasha tahu dia malas. Tapi siapa sangka, sebuah taruhan konyol membuatnya ingin menembus PTN impian—sesuatu yang bahkan tak pernah masuk daftar mimpinya. Riko terbiasa hidup dalam kekacauan. Label “bad boy madesu” melekat padanya. Tapi saat cewek malas penuh tekad itu menantangnya, Riko justru tergoda untuk berubah—bukan demi siapa-siapa, tapi demi membuktikan bahwa hidupnya belum tama...
A Sky Between Us
189      159     2     
Romance
Sejak kecil, Mentari selalu hidup di dalam sangkar besar bernama rumah. Kehidupannya ditentukan dari ia memulai hari hingga bagaimana harinya berakhir. Persis sebuah boneka. Suatu hari, Mentari diberikan jalan untuk mendapat kebebasan. Jalan itu dilabeli dengan sebutan 'pernikahan'. Menukar kehidupan yang ia jalani dengan rutinitas baru yang tak bisa ia terawang akhirnya benar-benar sebuah taruha...
DocDetec
2567      1432     1     
Mystery
Bagi Arin Tarim, hidup hanya memiliki satu tujuan: menjadi seorang dokter. Identitas dirinya sepenuhnya terpaku pada mimpi itu. Namun, sebuah tragedi menghancurkan harapannya, membuatnya harus menerima kenyataan pahit bahwa cita-citanya tak lagi mungkin terwujud. Dunia Arin terasa runtuh, dan sebagai akibatnya, ia mengundurkan diri dari klub biologi dua minggu sebelum pameran penting penelitian y...
Our Perfect Times
4893      2655     9     
Inspirational
Keiza Mazaya, seorang cewek SMK yang ingin teman sebangkunya, Radhina atau Radhi kembali menjadi normal. Normal dalam artian; berhenti bolos, berhenti melawan guru dan berhenti kabur dari rumah! Hal itu ia lakukan karena melihat perubahan Radhi yang sangat drastis. Kelas satu masih baik-baik saja, kelas dua sudah berani menyembunyikan rokok di dalam tas-nya! Keiza tahu, penyebab kekacauan itu ...