Loading...
Logo TinLit
Read Story - Psikiater-psikiater di Dunia Skizofrenia
MENU
About Us  

 

 

Kembali skripsi Lala dicorat-coret oleh dosen pembimbing berkulit hitam dan berkacamata itu. Ia disuruh membenarkan kembali skripsinya seperti yang sudah-sudah, entah sudah berapa kali, ia lupa.

 

Lala terduduk di pojok kampus. Skripsi yang sedari tadi digenggamnya, ditaruh di pangkuan. Ia menatap skripsinya lekat-lekat. Ia merasa putus asa. Matanya berkaca-kaca. Dalam hati, ia berdoa, "Tuhan, tolonglah aku!"

 

Sekitar sejam kemudian, Lala memasukkan skripsinya ke dalam tas agar tidak tercecer. Dengan tertatih-tatih, ia menuju ke pemberhentian bus untuk pulang. Ia membayar ongkos bus kepada kondektur sambil menahan tangis. 

 

Sesampainya di rumah, otak Lala seakan-akan tidak bisa diajak bekerja sama untuk menyelesaikan skripsi. Ia tertidur setelah meminum obatnya.

 

Setelah bangun, Lala merasa segar kembali. Mungkin, karena pengaruh obat yang tadi diminumnya. Lalu, ia menyelesaikan skripsi pelan-pelan dan mengubahnya menjadi makalah. Ia diperbolehkan mengumpulkan makalah saja, tetapi dengan syarat mengambil satu mata kuliah tambahan. Akhirnya, ia bisa menyelesaikan makalahnya.

 

Setelah difotokopi, Lala mengumpulkan makalahnya ke dosen pembimbing dan menyimpan kopiannya untuk dipelajari dan dihafal seperti saran dosen pembimbing. Kali ini, dosen itu menyetujui makalah Lala dan menandatanganinya. Lala menarik nafas lega.   

 

Saat ujian skripsi pun tibalah. Lala mempersiapkan diri. Ia sudah menghafal skripsinya. Kini, ia mandi dan bersiap-siap. Salah satu syarat ujian itu adalah memakai pakaian resmi berupa atasan yang berkerah dan bawahan rok yang terbuat dari kain. Ia memakai blouse pink berkerah dan rok hitam panjang. Rok hitam itu tadinya sobek di bagian depan, tetapi sekarang sudah dijahit oleh Mama.

 

Lala memasang gincu berwarna merah muda di bibirnya karena seorang bapak dosen yang sudah tua pernah mengajarkannya demikian. Dosen itu berkata, "Memakai gincu adalah wajib bagi perempuan ketika menghadiri acara formal." 

 

Tak lupa, Lala menggaruk kuku-kukunya yang dilapisi kuteks berwarna merah marun itu sampai semuanya terkelupas dan kuku-kukunya kembali polos. Ia takut dianggap tidak sopan terhadap dosen penguji jika memakai kuteks seperti itu karena warnanya yang mencolok. Lalu, ia seperti mengingat sesuatu bahwa peraturan dalam mengikuti ujian pendadaran adalah tidak boleh memakai kuteks.

 

Rambutnya yang hitam dan panjang diikatnya dengan ikat rambut yang berwarna senada dengan blouse yang sedang dikenakannya. Ia baru saja membeli ikat rambut itu di supermarket kemarin. Tak lupa, ia memasang jam tangan yang seperti baru saja dibelikan oleh Papa, di pergelangan tangannya. Untung, jam tangan itu masih berfungsi walaupun sudah lama. Kemarin, ia baru saja menservisnya di toko jam tangan tempat ia membeli.

 

Lala menyandang tas hitamnya dan masuk ke mobil. Sebentar kemudian, Papa juga masuk ke mobil dan mengantar Lala sampai ke depan gerbang kampus. Tegur Papa, "Ingat, Lala, kamu harus lulus. Jangan memalukan Papa! Keturunan Papa tidak ada yang bodoh." 

 

Sejenak Lala ingat bahwa Papa pernah berkata sewaktu Lala masih SD dulu, "Kalau nilaimu bagus, kamu anak Papa. Sayang, nilaimu jelek, berarti kamu anak Mama."

 

"Ayo, Lala! Turun!" bentak Papa.

 

Lala tersentak dan kembali ke masa sekarang. Ia turun dan berpamitan. Sebelum masuk ruang ujian, ia berpapasan dengan teman kuliah laki-laki yang menyapanya. Ia cukup akrab dengan temannya itu karena ia sering curhat dengannya. Sebenarnya, ia bingung, temannya itu apakah bisa dibilang sahabat atau tidak.

 

“Halo?” sapa teman Lala. Rambutnya keriting tetapi tidak sampai kecil-kecil.

 

“Doakan aku, ya?” pinta Lala.

 

“Mau ujian pendadaran, ya?” tanya teman Lala.

 

“Iya,” sahut Lala.

 

“Good luck!” Teman Lala itu menyemangati.

 

“Terima kasih,” ucap Lala. Ia terburu-buru masuk ruang ujian.

 

Di dalam ruang ujian, tiga dosen laki-laki sudah menunggu Lala. Seorang dosen bertubuh kurus dan berkacamata mengangsurkan selembar kertas kepada Lala.

 

“Apa ini, Pak?” selidik Lala.

 

“Baca! Ini nanti akan keluar saat ujian,” kata dosen itu.

 

“Kok mendadak, Pak?” tanya Lala. Dosen tidak menyahut. Lala segera membaca artikel itu dengan terburu-buru.

 

Beberapa saat kemudian, ujian berlangsung. Lala meminta izin untuk berdoa dulu. Namun, dosen yang pertama tadi menghardiknya, “Jangan lama-lama!”

 

“Tuhan, tolong berkati kami!” seru Lala.

 

Dosen yang berkulit hitam dan berkacamata mulai menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan skripsi Lala, begitu juga dosen ketiga yang bertubuh gempal. Lala bisa menjawab semua pertanyaan mereka dengan mudah.

 

Saat giliran dosen yang kurus tadi bertanya, Lala kewalahan karena pertanyaan-pertanyaannya tidak ada hubungannya dengan isi skripsi Lala. Tanya dosen itu, “Bisa dijelaskan soal krisis?”

 

“Krisis adalah masalah kejiwaan yang terjadi di dalam diri seseorang,” jawab Lala.

 

“Bukan itu maksud saya! Maksud saya, krisis ekonomi,” bentak dosen itu. Rupanya ia dosen killer, pikir Lala. Lala heran mengapa ia baru menyadarinya sekarang.

 

Lala hendak menjawab, tetapi dosen itu mengalihkan Lala ke pertanyaan lain. Tanyanya, “Sebutkan perbedaan antara Bahasa Inggris formal dan Bahasa Inggris informal!”

 

“Contoh Bahasa Inggris formal, ‘Good morning!’ ‘How do you do?’ Contoh Bahasa Inggris informal …,” jawab Lala.

 

“Bagaimana kamu tahu?” potong dosen killer itu.

 

“Saya teringat kepada teks yang saya baca tadi,” sahut Lala.

 

“Apa yang kamu pelajari dari universitas ini?” tanya dosen itu lagi.

 

“Kepercayaan diri. Tanpa kepercayaan diri, semuanya akan salah,” sahut Lala lagi.

 

“Apakah kamu sudah bekerja seperti beberapa temanmu yang lain? Mereka bekerja sambil kuliah,” kata dosen itu.

 

“Iya. Saya mengajar anak-anak,” ucap Lala.

 

“Jenjang apakah yang kamu paling suka untuk diajar?” tanya dosen itu lagi.

 

“Anak-anak,” jawab Lala lagi.

 

“Kalau mengajar anak-anak, kamu tidak boleh melakukan kesalahan. Anak-anak masih polos,” suruh dosen itu.

 

“Iya, Pak!” sahut Lala.

 

Akhirnya, ujian pendadaran pun selesai. Dosen yang bertubuh gempal mengucapkan selamat dan berkata, “Saya pernah bertemu dengan Mama Papamu di bandara. Mereka tampak awet muda. Apa rahasianya?”

 

“Istarahat yang cukup. Minum vitamin …. Saya harap saya juga akan awet muda,” jawab Lala.

 

“Lakukan saja seperti yang orang tuamu lakukan! Minum vitamin …,” ujar dosen itu.

 

“Berbahagia! Kamu harus berbahagia! Jangan murung terus seperti itu!” potong dosen killer.

 

Lala tidak menyahut. Ia berpamitan dengan menyalami tangan dosen satu per satu dan keluar ruangan.

 

Semua yang terjadi di ruang ujian pendadaran dikatakan dalam Bahasa Inggris karena kampus Lala adalah Kampus Mrican Sanata Dharma, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Di sini, tidak peduli yang pemalu maupun yang ekstrovert dipaksa untuk bisa bersuara keras agar bisa mengajar. Lala termasuk pemalu tetapi ia merasa ragu kalau ia pemalu. Teman-temannya berkata jika ia pasti suka berteriak-teriak kalau di rumah. Apakah ada yang menyebarkan fitnah?

 

Kembali, Lala berusaha memfokuskan otaknya. Ia melihat bahwa di luar, teman laki-lakinya masih menunggunya. Maksudnya adalah teman yang berjenis kelamin laki-laki, bukan pacar. Temannya itu sedang berdiri sambil bersandar pada tembok yang tak jauh dari ruang ujian. Lala menyapanya, “Halo? Dosen itu menanyakan pertanyaan-pertanyaan sulit padaku. Lihat, ini sudah kelebihan sepuluh menit dari waktu selesai ujian yang seharusnya.”

 

Lala mengangkat tangannya dan menunjukkan jam tangan di pergelangan tangannya. Jarum pendek sudah lewat sedikit dari angka sepuluh dan jarum panjang berada di angka dua. Temannya hanya tersenyum dan Lala melangkah pergi.

 

Tak disangka, orang tua Lala sudah menunggu di luar kampus. Mereka mengajak Lala masuk ke mobil dan pergi ke warung bakso terdekat.

 

Entah mengapa, hati Lala seperti tersayat. Sepertinya, ia telah jatuh cinta kepada dosen killer yang ganteng itu. Di balik sikap kakunya itu, ia tampak memesona. Namun, ini sudah mendekati kelulusan. Lala tidak mungkin membersamai dosen itu lebih lama lagi. Sebentar lagi, mereka akan berpisah. Tidak mungkin Lala menyatakan cinta duluan karena ia gengsi dan sepertinya, dosen itu tidak menunjukkan ketertarikan padanya.

 

Lala memakan baksonya pelan-pelan dan seketika itu juga, ia menyadari sesuatu. Jahitan roknya terlepas. Roknya kembali sobek di bagian depan.

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Sebab Pria Tidak Berduka
380      305     1     
Inspirational
Semua orang mengatakan jika seorang pria tidak boleh menunjukkan air mata. Sebab itu adalah simbol dari sebuah kelemahan. Kakinya harus tetap menapak ke tanah yang dipijak walau seluruh dunianya runtuh. Bahunya harus tetap kokoh walau badai kehidupan menamparnya dengan keras. Hanya karena dia seorang pria. Mungkin semuanya lupa jika pria juga manusia. Mereka bisa berduka manakala seluruh isi s...
Seharusnya Aku Yang Menyerah
347      283     0     
Inspirational
"Aku ingin menyerah. Tapi dunia tak membiarkanku pergi dan keluarga tak pernah benar-benar menginginkanku tinggal." Menjadi anak bungsu katanya menyenangkan dimanja, dicintai, dan selalu dimaafkan. Tapi bagi Mutia, dongeng itu tak pernah berlaku. Sejak kecil, bayang-bayang sang kakak, Asmara, terus menghantuinya: cantik, pintar, hafidzah, dan kebanggaan keluarga. Sementara Mutia? Ia hanya mer...
Is it Your Diary?
623      531     0     
Romance
Kehidupan terus berjalan meski perpisahan datang yang entah untuk saling menemukan atau justru saling menghilang. Selalu ada alasan mengapa dua insan dipertemukan. Begitulah Khandra pikir, ia selalu jalan ke depan tanpa melihat betapa luas masa lalu nya yang belum selesai. Sampai akhirnya, Khandra balik ke sekolah lamanya sebagai mahasiswa PPL. Seketika ingatan lama itu mampir di kepala. Tanpa s...
Kutunggu Kau di Umur 27
7168      3242     2     
Romance
"Nanti kalau kamu udah umur 27 dan nggak tahu mau nikah sama siapa. Hubungi aku, ya.” Pesan Irish ketika berumur dua puluh dua tahun. “Udah siap buat nikah? Sekarang aku udah 27 tahun nih!” Notifikasi DM instagram Irish dari Aksara ketika berumur dua puluh tujuh tahun. Irish harus menepati janjinya, bukan? Tapi bagaimana jika sebenarnya Irish tidak pernah berharap menikah dengan Aks...
ATHALEA
1585      783     1     
Romance
Ini cerita tentang bagaimana Tuhan masih menyayangiku. Tentang pertahanan hidupku yang akan kubagikan denganmu. Tepatnya, tentang masa laluku.
Qodrat Merancang Tuhan Karyawala
5472      3166     0     
Inspirational
"Doa kami ingin terus bahagia" *** Kasih sayang dari Ibu, Ayah, Saudara, Sahabat dan Pacar adalah sesuatu yang kita inginkan, tapi bagaimana kalau 5 orang ini tidak mendapatkan kasih sayang dari mereka berlima, ditambah hidup mereka yang harus terus berjuang mencapai mimpi. Mereka juga harus berjuang mendapatkan cinta dan kasih sayang dari orang yang mereka sayangi. Apakah Zayn akan men...
Penerang Dalam Duka
6262      3119     5     
Mystery
[Cerita ini mengisahkan seorang gadis bernama Mina yang berusaha untuk tetap berbuat baik meskipun dunia bersikap kejam padanya.] Semenjak kehilangan keluarganya karena sebuah insiden yang disamarkan sebagai kecelakaan, sifat Mina berubah menjadi lebih tak berperasaan dan juga pendiam. Karena tidak bisa merelakan, Mina bertekad tuk membalaskan dendam bagaimana pun caranya. Namun di kala ...
Cinta di Ujung Batas Negara
8      5     0     
Romance
Di antara batas dua negara, lahirlah cinta yang tak pernah diberi izin-namun juga tak bisa dicegah. Alam, nelayan muda dari Sebatik, Indonesia, tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sepasang mata dari seberang. Siti Dzakyrah, pelajar Malaysia dari Tawau, hadir bagai cahaya kecil di tengah perbatasan yang penuh bayang. Mereka tak bertemu di tempat mewah, tak pula dalam pertemu...
Let me be cruel
22255      9806     545     
Inspirational
Menjadi people pleaser itu melelahkan terutama saat kau adalah anak sulung. Terbiasa memendam, terbiasa mengalah, dan terlalu sering bilang iya meski hati sebenarnya ingin menolak. Lara Serina Pratama tahu rasanya. Dikenal sebagai anak baik, tapi tak pernah ditanya apakah ia bahagia menjalaninya. Semua sibuk menerima senyumnya, tak ada yang sadar kalau ia mulai kehilangan dirinya sendiri.
Ilona : My Spotted Skin
2068      1405     3     
Romance
Kecantikan menjadi satu-satunya hal yang bisa Ilona banggakan. Tapi, wajah cantik dan kulit mulusnya hancur karena psoriasis. Penyakit autoimun itu membuat tubuh dan wajahnya dipenuhi sisik putih yang gatal dan menjijikkan. Dalam waktu singkat, hidup Ilona kacau. Karirnya sebagai artis berantakan. Orang-orang yang dia cintai menjauh. Jumlah pembencinya meningkat tajam. Lalu, apa lagi yang h...