Loading...
Logo TinLit
Read Story - Psikiater-psikiater di Dunia Skizofrenia
MENU
About Us  

 

Hari ini, Mama mengajak Lala naik kereta api ke Solo. Mama menyuruh Lala bersiap-siap. Mama membangunkan, menyuruh mandi, dan menyuruh Lala berganti pakaian. Kali ini, Lala menurut karena Mama terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Keningnya sampai berkerut dan matanya menatap tajam. Lala mengenakan kaos kuningnya dan celana jeans biru. Mama mengenakan gaun birunya. Lala heran, "Kenapa Mama suka sekali pakai gaun sementara aku suka pakai celana panjang?"

 

Mama memoles bibirnya dengan lipstik merah kesayangannya. Lala lebih menyukai lipstik merah muda, tetapi ia jarang memakainya. Mama menegurnya, "Jadi cewek itu harus dandan kalau mau ke mana-mana. Kok tidak pakai lipstik? Ayo bedakan!"

 

Kalau dulu, sewaktu Lala masih kecil, Mama akan menaburkan bedak begitu saja di wajah Lala. Kini, Lala sudah dewasa. Mama cuma bisa menasehatinya. Meskipun demikian, Lala bergeming. Ia tidak menggubris perintah Mama untuk dirinya berdandan. Ia malas berdandan. Ia merasa akan diganggu oleh pria hidung belang kalau ia menjadi terlalu cantik. Tadi, ia memandang wajahnya di cermin dan ia belum menemukan keriput apa pun. Ia masih terlalu cantik untuk tidak akan diganggu pria hidung belang. Namun, ia juga merasa minder dengan penampilan fisiknya sekarang. 

 

"Ah, yang penting, aku tidak diganggu. Jelek tak mengapa," gumam Lala kepada dirinya sendiri. Beruntung, Mama tidak mendengar Lala sehingga Mama belum menganggap Lala aneh. Setiap kali Mama menganggap Lala aneh, Mama akan menyodorkan obat kepada Lala. Tak jarang, Mama memaksa Lala meminum obat tambahan. Tak jarang pula, Lala menolak dan memberontak, sehingga Papa harus memeganginya untuk mereka bisa memaksanya minum obat.

 

Papa mengantar Mama dan Lala ke stasiun kereta api sebelum Papa berangkat bekerja. Mereka sampai di stasiun, dan Papa meninggalkan Mama dan Lala. Beberapa orang terlihat duduk-duduk di kursi-kursi besi yang berjajar membentuk kolom-kolom dan baris-baris di stasiun. Beberapa terlihat membeli makanan di kedai-kedai di sudut stasiun. Mama segera melangkah ke loket untuk membeli dua tiket pulang pergi Yogyakarta-Solo dan Solo-Yogyakarta. Lala mengikutinya dari belakang.

 

Lala menyadari bahwa Mama akan membawanya ke psikiater lagi. Lala tidak percaya kepada Mama dan psikiater itu. Lala berpikir bahwa keluarganya hanya mencari-cari cara agar bisa menjerumuskannya dalam masalah. Psikiater itu menyatakan bahwa Lala sakit mental hanya agar psikiater itu bisa mengeruk uang keluarganya. Pada masa itu, belum ada BPJS. Lala berobat dengan uang orang tuanya. Biaya berobat juga tidak sedikit.

 

"Kamu bisanya cuma menyusahkan." Suara Papa kembali terdengar di otak Lala.

 

"Menyusahkan bagaimana? Itu salah Papa sendiri yang melakukan hal-hal tidak perlu seperti ini. Aku kan tidak gila. Untuk apa mengeluarkan uang banyak untuk mengobatiku ke psikiater? Papa cuma mengada-ada dan sengaja memberiku masalah. Papa senang kalau melihatku banyak masalah," jerit batin Lala.

 

Lala mulai menceracau dan berteriak-teriak di stasiun. Mama memegangi tangannya untuk menenangkannya. Lalu, kata Lala, “I will always follow your commands, Mother.” (“Aku akan selalu menuruti perintah-perintahmu, Ibu.”)

 

Orang-orang di sekitar Mama dan Lala menatap mereka berdua dengan pandangan heran dan penuh selidik. Mama cepat-cepat menggandeng Lala untuk masuk ke kereta api. Hampir saja, mereka tersandung saking Mama terburu-buru. Entah tersandung apa, Lala tidak tahu, Lala tidak memperhatikan.

 

Mama dan Lala beruntung karena mereka mendapat tempat duduk. Yang tidak mendapat tempat duduk terpaksa duduk di lantai dengan beralaskan koran. Entah dari mana mereka mendapatkan koran-koran itu. Lalu, Lala melihat dari jendela kereta api, ada kios koran di sisi sebelah sana. Pasti mereka membeli koran dari sana. Lala ingin membeli majalah remaja tetapi takut Mama tidak mengizinkannya. Dulu, ia pernah minta dibelikan majalah remaja, tetapi Mama menolaknya. 

 

Setelah duduk, Lala masih saja menceracau. Kebanyakan, ia tidak mengerti ucapan-ucapannya sendiri. Salah satu ceracaunya, “Aku ini susah sekali. Jadi, aku mempelajari semua jenis Kitab Suci dari agama-agama yang berbeda-beda ….”

 

Seorang gadis yang Lala dan Mama kenal duduk tepat di hadapan mereka. Mereka saling menyapa. Gadis itu cantik dengan mata dan rambut coklatnya. Ia mengenakan kemeja kuning. Mama dan Lala tidak tahu ia hendak ke mana dan mereka tidak bertanya kepadanya. Namun, kebanyakan orang di kereta api yang berpakaian resmi akan berangkat bekerja ke Solo dan pulang lagi ke Yogyakarta di sore harinya. Mama dan Lala mengetahuinya dari berita televisi yang pernah mereka tonton.

 

Selama dalam perjalanan, gadis itu tertidur. Kadang, kepalanya mendongak ke atas dan kadang, kepalanya tertunduk. Saat kepalanya mendongak ke atas, mulutnya terbuka secara otomatis. Saat tertunduk, mulutnya mengatup secara otomatis juga.

 

Yang lain-lainnya juga banyak yang tertidur. Ada seorang ibu yang terlihat tertidur. Badannya condong ke kanan tetapi kepalanya lunglai ke kiri. Mungkin itu caranya agar tidak tertidur di bahu penumpang di sebelahnya. Lala heran mengapa mereka bisa tertidur dengan mudahnya. Bukankah tertidur di kereta api itu tidak nyaman?

 

Mama dan Lala sampai di stasiun tujuan beberapa jam kemudian. Mereka segera pergi ke tempat psikiater itu praktik dengan naik becak. Saat itu, kendaraan online belum populer.

 

Akhirnya, mereka sampai di tempat praktik psikiater. Terdapat sebuah rumah dan di depannya terdapat sebuah kantor seperti klinik. Di depan kantor itu, terdapat peti kayu cokelat yang berlubang di atasnya untuk memasukkan uang.

 

Pasien yang antri dipanggil satu per satu. Giliran Lala pun tiba. Ia masuk bersama Mama. Di meja psikiater, terdapat sebuah papan cokelat bertulisan “dr. Andini.” Lala dan Mama dipersilakan duduk di dua kursi kayu cokelat di depan meja psikiater. Lalu, Lala disuruh menyampaikan keluhannya. Keluh Lala, “Saya sering overthinking. Berkali-kali, saya melongok ke dalam tas untuk memeriksa apakah barang saya ada yang ketinggalan.”

 

“Kamu terlalu berorientasi pada barang. Berdoa saja! Serahkan kepada Tuhan! Kamu harus bersyukur karena kamu masih bisa minum obat,” ujar dr. Andini.

 

“Saya tidak suka minum obat,” sahut Lala.

 

“Kamu sendiri yang bisa merasakan enak atau tidaknya tubuhmu. Kalau rasanya sudah tidak enak, kamu harus meminum obatmu. Jangan lupa mendekatkan diri kepada Tuhan! Tulis 100 alasan di buku catatanmu tentang hal-hal yang bisa kamu syukuri!” ujar dr. Andini lagi.

 

“Dok, saya belum punya pacar sampai sekarang,” keluh Lala lagi.

 

“Tidak apa-apa. Saya juga tidak menikah. Namun, saya menikmati hidup saya karena saya suka menasihati orang,” nasihat dr. Andini. Ia mencorat-coret selembar kertas dan menyerahkannya kepada Mama. Katanya, “Ini resep obat yang harus ditebus.”

 

“Terima kasih, Dok! Ayo Lala bilang terima kasih!” perintah Mama.

 

“Terima kasih,” gumam Lala. Mereka pun keluar. Tak lupa, Mama memasukkan amplop yang berisi uang ke peti kayu.

 

Mereka pun pulang dengan naik kereta api lagi setelah sebelumnya, mampir ke sebuah pasar untuk membeli beberapa potong pakaian. Mama membelikan Lala celana jeans panjang berwarna cokelat.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Looking for J ( L) O ( V )( E) B
2402      1043     5     
Romance
Ketika Takdir membawamu kembali pada Cinta yang lalu, pada cinta pertamamu, yang sangat kau harapkan sebelumnya tapi disaat yang bersamaan pula, kamu merasa waktu pertemuan itu tidak tepat buatmu. Kamu merasa masih banyak hal yang perlu diperbaiki dari dirimu. Sementara Dia,orang yang kamu harapkan, telah jauh lebih baik di depanmu, apakah kamu harus merasa bahagia atau tidak, akan Takdir yang da...
Dunia Sasha
9627      3921     1     
Romance
Fase baru kehidupan dimulai ketika Raisa Kamila sepenuhnya lepas dari seragam putih abu-abu di usianya yang ke-17 tahun. Fase baru mempertemukannya pada sosok Aran Dinata, Cinta Pertama yang manis dan Keisha Amanda Westring, gadis hedonisme pengidap gangguan kepribadian antisosial yang kerap kali berniat menghancurkan hidupnya. Takdir tak pernah salah menempatkan pemerannya. Ketiganya memiliki ...
Finding My Way
3720      2588     3     
Inspirational
Medina benci Mama! Padahal Mama tunawicara, tapi sikapnya yang otoriter seolah mampu menghancurkan dunia. Mama juga membuat Papa pergi, menjadikan rumah tidak lagi pantas disebut tempat berpulang melainkan neraka. Belum lagi aturan-aturan konyol yang Mama terapkan, entah apa ada yang lebih buruk darinya. Benarkah demikian?
Matahari untuk Kita
5932      2092     10     
Inspirational
Sebagai seorang anak pertama di keluarga sederhana, hidup dalam lingkungan masyarakat dengan standar kuno, bagi Hadi Ardian bekerja lebih utama daripada sekolah. Selama 17 tahun dia hidup, mimpinya hanya untuk orangtua dan adik-adiknya. Hadi selalu menjalani hidupnya yang keras itu tanpa keluhan, memendamnya seorang diri. Kisah ini juga menceritakan tentang sahabatnya yang bernama Jelita. Gadis c...
That's Why He My Man
3062      1793     9     
Romance
Jika ada penghargaan untuk perempuan paling sukar didekati, mungkin Arabella bisa saja masuk jajaran orang yang patut dinominasikan. Perempuan berumur 27 tahun itu tidak pernah terlihat sedang menjalin asmara dengan laki-laki manapun. Rutinitasnya hanya bangun-bekerja-pulang-tidur. Tidak ada hal istimewa yang bisa ia lakukan diakhir pekan, kecuali rebahan seharian dan terbebas dari beban kerja. ...
Main Character
9338      5237     0     
Romance
Mireya, siswi kelas 2 SMA yang dikenal sebagai ketua OSIS teladanramah, penurut, dan selalu mengutamakan orang lain. Di mata banyak orang, hidupnya tampak sempurna. Tapi di balik senyum tenangnya, ada luka yang tak terlihat. Tinggal bersama ibu tiri dan kakak tiri yang manis di luar tapi menekan di dalam, Mireya terbiasa disalahkan, diminta mengalah, dan menjalani hari-hari dengan suara hati y...
Today, After Sunshine
2014      906     2     
Romance
Perjalanan ini terlalu sakit untuk dibagi Tidak aku, tidak kamu, tidak siapa pun, tidak akan bisa memahami Baiknya kusimpan saja sendiri Kamu cukup tahu, bahwa aku adalah sosok yang tangguh!
My Andrean
12197      2539     2     
Romance
Andita si perempuan jutek harus berpacaran dengan Andrean, si lelaki dingin yang cuek. Mereka berdua terjebak dalam cinta yang bermula karena persahabatan. Sifat mereka berdua yang unik mengantarkan pada jalan percintaan yang tidak mudah. Banyak sekali rintangan dalam perjalanan cinta keduanya, hingga Andita harus dihadapkan oleh permasalahan antara memilih untuk putus atau tidak. Bagaimana kisah...
ARRA
1442      690     6     
Romance
Argana Darmawangsa. Pemuda dingin dengan sebentuk rahasia di balik mata gelapnya. Baginya, hidup hanyalah pelarian. Pelarian dari rasa sakit dan terbuang yang selama ini mengungkungnya. Tetapi, sikap itu perlahan runtuh ketika ia bertemu Serra Anastasya. Gadis unik yang selalu memiliki cara untuk menikmati hidup sesuai keinginan. Pada gadis itu pula, akhirnya ia menemukan kembali sebuah 'rumah'...
Bisikan yang Hilang
158      141     3     
Romance
Di sebuah sudut Malioboro yang ramai tapi hangat, Bentala Niyala penulis yang lebih suka bersembunyi di balik nama pena tak sengaja bertemu lagi dengan Radinka, sosok asing yang belakangan justru terasa akrab. Dari obrolan ringan yang berlanjut ke diskusi tentang trauma, buku, dan teknologi, muncul benang-benang halus yang mulai menyulam hubungan di antara mereka. Ditemani Arka, teman Radinka yan...