Di tengah kebisingan café, aku dan Devan bergeming di depan pintu masuk café. Banyak orang yang berlalu lalang, dengan tawa dan suara yang keras. Namun waktu kayak berhenti untuk kami berdua.
“Devan! Kirain kamu nggak dateng…” sebuah suara dari belakangku menyadarkan kami. Dian bergegas ke arah Devan.
“Kenapa nggak dateng? I hate Papi, not you,” jawab Devan sambil tersenyum. Ia lalu mengangkat sebuah tas kertas yang berisikan balon kecil ucapan selamat.
“Mami mana? Kok nggak ikut?”
“Mami titip salam, katanya nggak bisa ikut…”
“Oh gitu… Eh, Devan! Kamu harus ketemu Vienna, udah gede lho dia sekarang!” Dian lalu menarik tangan Devan. Mereka berdua menghilang di kerumunan orang, walaupun mata Devan tetap terpaku padaku.
Papi, Mami? Apa hubungan mereka berdua ya…? Ah, bodo amatlah. Masih banyak dokumentasi yang harus kurekam buat bahan konten.
Sekitar jam 14:00 café sudah tak sepenuh saat jam makan siang. Namun meja dan kursi di café masih lumayan penuh dengan tamu-tamu yang masih bercengkrama sambil memakan dessert.
Aku dan beberapa videografer istirahat makan siang di pojok meja café. Kami mendiskusikan tipe konten yang cocok dari video-video dokumentasi grand opening hari ini. Arif, Mas-Mas Videografer Freelance itu minta izin untuk mengambil beberapa footage lagi. Aku pun terduduk sendirian di meja sambil membuka social media.
“Hey,” sebuah suara kembali menyapaku. Aku mengangkat kepala dan melihat Devan yang berdiri di sampingku.
“Eh, duduk, Van,” entah mengapa aku agak gugup dan suaraku sedikit bergetar. Semoga aja dia nggak notice.
Kayaknya terakhir kami ngobrol itu waktu dia menegurku saat tiduran di pantry pas perutku sakit, deh… saat itu kami sedang mengecek kerjaanku dan aku dituduh malas olehnya karena ‘kabur’ ke pantry. Iya kan…? Seingatku kami nggak pernah ngobrol lagi setelahnya, bahkan setelah kabar tentang resignku mencuat.
Oh iya, saat hari terakhirku kerja pun, Devan dan beberapa staff sedang meninjau proyek di daerah Tangerang. Jadinya aku belum sempat berpamitan dengannya.
“Nggak nyangka, sekarang kamu kerja sama Kakakku?” Devan memulai pembicaraan.
“Kakakmu? Maksudmu, Kak Dian?” tanyaku bingung.
Devan mengangguk. “Aku baru ketemu setelah dia pulang dari Austria.”
“Oh gitu… pantesan tadi kalian nyebut Papi dan Mami.”
“Orangtua kita divorce pas gue lulus kuliah. Papi ikut istri barunya ke Austria, Kak Dian juga ikut. Gue stay disini sama Mami.”
Umur Devan lebih tua 3 tahun dariku, usianya kini 24 tahun. Di kantor kami dulu beberapa orang yang usianya nggak beda jauh biasanya nggak manggil Kak, begitupula antara aku dan Devan.
“Hmm… gitu ya…” komentarku. Aku baru menyadari kemiripan wajah Devan dan Kak Dian. Keduanya sama-sama good looking, berwajah khas Indonesia dengan kulit kuning langsat, raut wajah yang tegas, hidung agak mancung, mata yang besar dan bibir yang berwarna merah muda alami. Apalagi Kak Dian berambut bob pendek, mudah melihatnya mirip dengan Devan yang berambut side part.
“Lo sendiri…?” gantian Devan yang bertanya.
Aku pun menjelaskan semuanya. Soal aku yang switch career dari nol lagi, ikut bootcamp, apply-apply ke beberapa perusahaan, hingga diterima disini.
“Wow,” ujar Devan. “Aku kira kamu pindah ke perusahaan kontraktor atau owner. Nggak pernah nyangka kamu pindah bidang.”
“Nggak kayak lo, gue gak tahan lagi di teknik sipil.”
“Lo baru berapa lama kerja di AEP ya, Therra? Dua tahun?”
“1,5 tahun sih.”
“Kenapa lo udah mutusin buat pindah bidang? Apa ngga terlalu cepat?”
Aku menghela napas. “Gue udah riset ke beberapa temen gue yang kerja di perusahaan kontraktor, owner, vendor… baik di swasta atau BUMN. Kira-kira jobdesknya sama aja sama di AEP. And I hate the jobdesk. Jadi gue nggak usah kerja 20 tahun lagi buat mutusin bahwa gue pengen pindah bidang.”
“Kata Dian, lo… di… apa, Digital Marketing?”
Aku mengangguk. “Iya, kayak Marketing tapi lebih ke ngurusin websitenya, socmednya, ads, promosi di online lah kira-kira.”
“Kenapa pilih itu?”
“Habis resign gue sempet test minat bakat dan coba belajar dikit-dikit bidang lain… kayaknya ini yang gue paling cocok saat ini.”
Devan hanya manggut-manggut.
“Nggak nyangka gue ketemu lo disini lagi, Van.”
“Iya ya, pas lo last day gue juga lagi nggak di kantor kan.”
“Iya… kayaknya kita terakhir ngobrol pas gue lagi sakit perut di pantry, inget ngga?”
Alis Devan menekuk ke atas, pertanda bingung. “Sakit perut? Waktu kapan?”
“Itu lho… yang lo ngatain gue—” aku segera menghentikan diriku sendiri. Mengingat ucapan Devan saat itu saja membuatku sakit lagi.
Devan terdiam sebentar, kemudian dia memandangku dengan rasa bersalah. “Sorry… waktu itu lo sakit perut ya… gue nggak tau.”
“It’s okay,” jawabku. “Bukan lo doang yang nganggep gue males.”
Devan hanya terdiam mendengarkanku. Nggak tau kenapa aku ingin menceritakan banyak hal kepadanya.
“Banyak yang nganggep gue aneh… ngapain udah kuliah dan lulus, tiba-tiba mau switch career? Tapi gue nggak mau hidup autopilot lagi, terjebak dalam rutinitas yang gue benci. Bahkan gue melakukan banyak kesalahan dalam pekerjaan gue… nggak, gue yakin gue bisa lebih baik dari itu. Pasti ada bidang yang gue jago disana dan bisa bermanfaat buat orang banyak.”
Aku baru tersadar dan malu sendiri setelah melihat wajah serius Devan. Kayaknya aku udah oversharing deh…
“Therra! Bisa bantuin kesini ngga?” Tiba-tiba terdengar Arif memanggilku.
“Eh gue duluan ya, Van,” ujarku sambil bangkit dari duduk dan bergegas ke arah Arif yang berada di dalam café. Lumayan lega, karena momen awkward tadi bisa terinterupsi. Walaupun aku masih bisa merasakan Devan yang masih menatapku dari jauh. Apa hanya perasaanku saja…?
tiarahan17







